Seratus Lima Puluh Dua: Menonton Penjara
Moqi Yan membawa Shen Yinqiu ke restoran privat yang sama seperti sebelumnya, memesan sebuah kamar pribadi dan beberapa hidangan, lalu menatapnya sambil tersenyum santai.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Shen Yinqiu merasa sedikit tegang setelah menyaksikan berbagai persiapan dan tata letak yang dilakukannya tadi.
Moqi Yan menggelengkan kepalanya, memasang ekspresi seolah-olah terluka, dan berkata, "Apakah kau sedang takut padaku?"
"Bukan, aku takut kau mempermainkanku." Shen Yinqiu menopang dagunya dengan tangan seraya berkata, "Gaya yang kau tunjukkan sekarang ini sebenarnya hanya pura-pura kasihan, kuberi tahu ya."
Moqi Yan tertegun sejenak. Ketahuan rupanya.
"Pokoknya, jika kau benar-benar berencana menggunakan Chong Ling untuk memancing si pelaku, apakah itu berarti kau sangat yakin dia memiliki hubungan dengan si pelaku? Apakah kau mencurigai si pelaku membunuh karena ingin membela Chong Ling?" tanya Shen Yinqiu. Setelah dipikirkan baik-baik, hanya kemungkinan terakhir inilah yang paling masuk akal.
"Tebakanmu bagus. Para korban ini semuanya pernah melakukan kontak dengannya, dan satu berkulit gelap sementara yang lain berkulit terang. Sang pelaku seolah-olah sedang ingin membuktikan sesuatu," jawab Moqi Yan.
Shen Yinqiu berkata, "Tebakan seperti itu terlalu gegabah. Kalau memang begitu, lalu bagaimana dengan alasan orang yang menyanderaku hari itu? Aku sama sekali tidak pernah pergi ke lapak ikan Chong Ling."
"Apakah selama ini kau menganggap orang yang menyandramu dan si pelaku pembunuhan adalah orang yang sama?" Moqi Yan tidak menyangka Shen Yinqiu secara bawah sadar mengambil kesimpulan seperti itu. Ia pun menjelaskan, "Orang yang menyandramu telah menculik Lian Xinyi, padahal mayat yang ditemukan di dalam danau bukanlah Lian Xinyi. Apakah kau bisa memastikan dari situ bahwa orang yang menyandramu adalah pelaku utama dari kasus ini?"
Shen Yinqiu terdiam mendengar pertanyaan balik itu. Ia tidak bisa memastikannya. "Tapi, mengapa mereka sengaja pergi ke lapak ikan untuk mempermalukan Chong Ling? Lagipula, bukan hanya satu orang saja."
"Hal itu sudah tidak ada artinya lagi untuk diselidiki. Dikabarkan bahwa mereka saling mengenal dan sering bermain bersama. Kau bisa membayangkan suatu hari ketika salah satu dari mereka sedang berjalan-jalan dan melihat Chong Ling, ia lalu menceritakannya kepada yang lain dengan nada mengejek, dan dari situlah awal mula mereka mencari kesenangan dan rasa unggul di atas penderitaan Chong Ling," ucap Moqi Yan dengan nada seolah-olah ia sedang membeberkan kebenaran yang sesungguhnya.
Adakah orang yang sedemikian tak ada kerjaan di dunia ini? Tentu saja ada.
Shen Yinqiu menepuk keningnya sendiri dan berkata, "Kau tahu pasti bahwa si pelaku akan datang menyelamatkannya?"
"Jika semua spekulasi tadi benar, maka itu adalah kepastian."
Shen Yinqiu menatap pria itu yang tampak begitu tenang dan santai, sama sekali tidak khawatir akan mengalami kegagalan. Sikapnya memberikan kesan seolah-olah ia telah terlahir kembali. Ah, biarlah dia menikmati pertunjukan dari seluruh persiapan yang telah dilakukannya ini.
Namun, ia tetap saja suka membantah perkataannya. Ia bertanya, "Bagaimana jika tebakanmu meleset?"
"Sayangnya, itu tidak akan meleset," jawab Moqi Yan sambil tersenyum tiba-tiba. Kepercayaan diri yang terpancar dari senyuman itu membuat mata Shen Yinqiu terkesiap.
Shen Yinqiu menatap cangkir tehnya sambil mendengus dua kali, "Anggap saja kalau tebakan itu meleset!"
"Kalau begitu, kita masih punya waktu sehari lagi yaitu besok," sambung Moqi Yan dengan santai.
Shen Yinqiu merasa sedikit kesal dibuatnya...
Untunglah pelayan segera menyajikan hidangan yang dipesan. Ia pun melampiaskan kekesalan menjadi nafsu makan dan menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Melihatnya makan dengan begitu gembira, mata Moqi Yan perlahan menyipit, dan rasa senang menyebar dari dalam lubuk hatinya ke seluruh tubuh.
Setelah memanjakan perut masing-masing, keduanya tidak berlama-lama di luar dan bersiap untuk langsung kembali ke kantor pejabat. Cuaca hari ini sangat cerah, dan matahari terbenam yang sudah lama tidak terlihat memberikan lapisan keemasan pada ubin-ubin atap bangunan.
Begitu melangkah keluar dari restoran privat tersebut, kebisingan jalanan langsung menyapa telinga mereka. Hampir setiap orang sedang membicarakan tentang Chong Ling yang dituduh sebagai pembunuh.
Shen Yinqiu sengaja memperlambat langkahnya untuk mendengarkan perbincangan mereka.
"Sudah kubilang, kematian para putri dari keluarga terpandang yang terjadi berturut-turut pasti ada hubungannya dengan dia!"
"Benar sekali! Para Nona muda itu sebelumnya selalu datang untuk mempermalukannya setiap kali melihatnya muncul. Meskipun tindakan mereka agak keterlaluan, gadis itu juga tidak seharusnya membunuh orang!"
"Tidak, tidak, kalian benar-benar mempercayainya? Aku dengar para Nona muda itu semuanya pernah dilecehkan! Bagaimana mungkin seorang pelayan sepertii Chong Ling bisa melakukan pelecehan? Jangan bicara sembarangan! Menurutku pihak berwenang hanya menangkap orang secara sembarangan saja."
"Kau yang salah. Para pengemis di kuil terbenggalai di sebelah utara kota bahkan sudah mengaku, mereka bilang akhir-akhir ini secara berkala selalu ada wanita tanpa busana yang diantar ke tempat tidur mereka, dan mereka seolah-olah dikendalikan hingga tidak bisa berhenti merasa bergairah."
"Iih, menjijikkan sekali! Dari mana kau dengar berita itu?"
Shen Yinqiu melirik sekilas ke arah wanita yang mengucapkan kata-kata tersebut, lalu menghela napas dalam hati: Betapa indahnya sekiranya informasi yang kusebarkan bisa seluas dan sebanyak berita yang kau sebarkan ini.
"Hmm? Apa yang ingin kau sebarkan? Aku dengan senang hati akan membantu," ucap Moqi Yan sambil tersenyum.
Namun, Shen Yinqiu saat ini sudah benar-benar kebal terhadap senyuman pria itu. Ia meliriknya dengan ekspresi jijik yang kentara dan berkata, "Tidak perlu."
Ia merendahkan suaranya dan bertanya, "Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan hingga membuat mereka semua percaya bahwa Chong Ling adalah pelakunya?"
"Aku menyuruh bawahanku yang mengurusnya. Suasana seperti inilah yang memang harus diciptakan, kalau tidak, bagaimana mungkin si pelaku bisa percaya?" Moqi Yan kembali memasang senyuman khasnya.
"Cara tersenyummu ini benar-benar mirip seperti seekor rubah," komentar Shen Yinqiu tanpa sungkan-sungkan.
Sekembalinya ke kantor pejabat, mereka mendapati bahwa sang hakim sedang pura-pura sakit dan telah kembali ke kediaman pribadinya untuk beristirahat. Saat ini di kantor tersebut tidak ada siapa pun selain dua petugas penangkap pelaku, belasan pesuruh kantor, serta para tahanan di dalam sel.
Moqi Yan duduk dengan tenang di depan meja tulis, membolak-balik catatan kasus di atas meja dengan santai, sementara Shen Yinqiu sibuk bermain-main dengan kura-kura peliharaannya di halaman terbuka di luar ruangan.
Hari semakin gelap, para pesuruh mulai menyalakan lentera di berbagai sudut dan bersiap untuk melakukan patroli. Shen Yinqiu lantas dipanggil kembali ke dalam ruangan untuk menemani Moqi Yan.
"Kalau kita hanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini, bagaimana kita bisa menonton pertunjukan utamanya? Apakah pelaku itu akan datang langsung ke hadapan kita?" gerutu Shen Yinqiu sambil mengintip ke luar jendela.
Hari sudah benar-benar gelap, dan bagian pertunjukan yang paling seru seharusnya terjadi di area penjara. Ia juga sangat ingin pergi ke penjara untuk melihatnya secara langsung, karena ia belum pernah masuk ke sana sama sekali!
Moqi Yan berkata, "Tunggulah kabar."
"Menurutmu jam berapa dia akan datang? Apakah dia punya komplotan?" Shen Yinqiu menarik wajahnya masam sambil mondar-mandir mengelilingi meja tulis.
Melihatnya berjalan kesana-kamari, Moqi Yan masih sempat-sempatnya menggodanya dan berkata, "Sebelum fajar tiba. Mungkin ada, mungkin juga tidak, itu semua tergantung pada seberapa baik pergaulannya dan seberapa banyak teman yang dimilikinya."
Shen Yinqiu memutar bola matanya dengan jengkel, lalu sebuah rencana muncul di benaknya. Ia menarik lengan baju Moqi Yan dan memasang wajah memelas seraya merengek, "Yang Mulia Pangeran, berbaik hatilah. Calon istri Pangeran ini ingin pergi ke penjara untuk menyaksikan pertunjukan dari jarak dekat. Jika Anda menyetujuinya, besok Anda akan mendapatkan sebuah kejutan!"
Moqi Yan tertegun. Gawat, ditatap dengan sepasang mata yang berair jernih seperti itu membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya.
Ia sengaja membuang muka ke arah lain, berpura-pura tidak mendengarnya.
Shen Yinqiu menggertakkan giginya. Trik ini selalu berhasil seratus persen saat ia gunakan pada sang nenek! Jelas sekali bahwa Moqi Yan bukanlah neneknya!
Tentu saja, pria ini jelas-jelas bukan neneknya!
Shen Yinqiu menarik napas dalam-dalam. "Kau benar-benar tidak mau mengabulkan permintaan kecilku ini?"
"Nanti akan ada pertarungan sengit di sana, tidak takutkah terkena cedera akibat salah sasaran kalau berdiri terlalu dekat?" Mendengar nada memohon yang terdengar lembut itu, Moqi Yan merasa kagum dalam hati. Jarang sekali gadis itu mau berbicara dengannya dengan nada seperti itu.
Begitu mendengar ada kesempatan, Shen Yinqiu langsung berdiri tegak dan menggunakan strategi tahap ketiganya. Ia dengan penuh perhatian memijat bahu Moqi Yan dan membujuk, "Bukankah Anda punya banyak anak buah? Utus saja dua orang untuk menghadang senjata yang beterbangan liar, dengan begitu mana mungkin bisa salah sasaran? Memangnya tidak becus sekali anak buahmu sampai-sampai menangkap lemparan benda saja tidak bisa?"
Moqi Yan terdiam sejenak. Apa yang dikatakannya memang terdengar masuk akal. Jika menolak, seolah-olah ia mengakui bahwa bawahannya tidak berguna, tetapi jika menyetujuinya... sepertinya juga tidak ada kerugian apa pun?
Shen Yinqiu memperhatikan ekspresi wajahnya dan buru-buru meyakinkan, "Pasti akan aman! Demi aku yang sudah merendahkan diri memohon seperti ini, setujui saja ya~"
"Apakah cara seperti ini yang kau sebut merendahkan diri? Baiklah, aku turuti kemauanmu. Ayo pergi, mumpung orang itu belum datang." Moqi Yan akhirnya mengalah.
Shen Yinqiu langsung melepaskan pijatannya di bahu pria itu dan melangkah cepat ke luar pintu ruangan, seolah takut pria tersebut akan berubah pikiran. Namun setelah berjalan dua langkah, ia tampak teringat sesuatu, lalu berbalik berlari kembali untuk mengambil kura-kuranya.
Moqi Yan merasa dirinya diperlakukan seperti kertas pembersih yang langsung dibuang setelah dipakai, bahkan kalah berharga dibandingkan dengan seekor kura-kura.
Begitu keluar dari ruangan, Shen Yinqiu berjalan dengan langkah riang menuju ke arah penjara. Namun setelah berjalan beberapa langkah, ia baru menyadari bahwa ia sendiri tidak tahu di mana letak penjara tersebut. Saat menoleh ke belakang, di mana Moqi Yan?
Oh—jangan-jangan pria itu marah?
Shen Yinqiu berlari kembali sambil membawa kura-kuranya, dengan lincah melompati ambang pintu, dan melihat pria itu masih duduk dengan santai di depan meja tulis. Hatinya mendadak merasa kesal.
"Pangeran? Bukankah kita tadi sudah sepakat untuk pergi ke penjara menonton pertunjukan dari dekat?" tanyanya dengan suara lembut yang bernada membujuk.
Moqi Yan menjawab tanpa mengangkat kepalanya, "Betul, kita memang sudah sepakat."
Apakah dia sedang marah atau tidak? Shen Yinqiu merasa kesulitan menebaknya karena dari nadanya sama sekali tidak terdengar kemarahan, rasanya seperti tidak marah.
Ia mendekat dan menarik lengan baju pria itu sambil berkata, "Iya benar, kalau begitu ayo kita pergi sekarang, Pangeran. Nanti kalau sudah menangkap pelakunya, Anda bisa kembali lagi ke sini untuk melanjutkan membaca, bukan?"
Moqi Yan membuka mulutnya, namun kalimat penolakan pada akhirnya batal diucapkan. Ia hanya bisa merasa jengkel dalam hati sambil menutup buku yang dibacanya. Belakangan ini ia merasa terlalu sering mengalah pada gadis itu.
Melihat pria itu bersedia bangkit berdiri, Shen Yinqiu langsung memegang kura-kura di satu tangan dan menarik tangan sang pangeran dengan tangan lainnya untuk bergegas pergi. Moqi Yan melirik sekilas ke arah kura-kura tersebut dengan ekor matanya, lalu berkata dengan suara dingin, "Tinggalkan saja hewan itu di sini, nanti diambil lagi kalau sudah selesai. Membawa-bawa binatang itu akan sangat merepotkan."
Shen Yinqiu tampak merasa berat hati. "..."
Namun, demi menenangkan sang pangeran yang bertingkah seperti Tuan Besar ini, Shen Yinqiu terpaksa meletakkan hewan peliharaan pertamanya itu, lalu menarik Moqi Yan untuk pergi dengan cepat.
Ia sudah sejak lama ingin melihat dan mengamati seperti apa bentuk penjara yang sebenarnya!
Melihat Shen Yinqiu memilih dirinya, Moqi Yan merasa cukup puas di dalam hati dan tidak membuang waktu lagi untuk membawanya langsung menuju ke kompleks penjara.
Para petugas jaga di depan gerbang penjara langsung membukakan jalan begitu melihat kehadiran Moqi Yan. Begitu melangkah masuk, Shen Yinqiu langsung merasakan hawa suram yang begitu pekat dan menyesakkan. Udara di sekitarnya terasa pengap dan tercampur dengan berbagai bau busuk yang menyengat.
Ia membatin dalam hati, sungguh luar biasa tersiksanya nasib Chong Ling di tempat seperti ini.
Moqi Yan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun untuk membuatnya membatalkan niat dan kembali ke atas. Ia berkata, "Bau sekali, kan? Lagipula tidak ada hal yang menarik di sini juga, bagaimana kalau kita kembali saja?"
"Tidak! Janji harus ditepati, aku ingin melihat ruang penyiksaan." Shen Yinqiu menahan kuat-kuat dorongan untuk menutup hidungnya, lalu mendongak menatap Moqi Yan yang memasang ekspresi sangat wajar. Ia menghibur dirinya sendiri di dalam hati, kalau sudah lama mencium bau ini nanti juga akan terbiasa.
Melihat gadis itu berusaha keras menahan napasnya, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menahannya, Moqi Yan tersenyum geli di dalam hati. Sungguh gadis kecil yang penasaran sekaligus keras kepala, dia benar-benar ingin melihat ruang penyiksaan.
Ia memperkirakan masih ada sedikit waktu tersisa. Jika ia menuruti keinginannya melihat ruang penyiksaan itu dan berkeliling sebentar tanpa ada hal menarik lainnya lagi, gadis itu pasti tidak akan mau berlama-lama tinggal di tempat ini.
Maka, Moqi Yan benar-benar membawa Shen Yinqiu menuju ke ruang penyiksaan. Melalui terali pintu sel, tampak berbagai macam cambuk tergantung di dinding bagian dalam, beraneka pisau dengan berbagai bentuk dan ukuran, alat penjepit, tongkat silang, dan yang paling besar adalah sebuah pisau algojo besar bergambar kepala harimau.
Banyak dari alat-alat penyiksaan tersebut yang masih menyisakan noda darah berwarna cokelat tua, begitu pula di lantai. Tampaknya noda-noda itu telah menumpuk dari tahun ke tahun.
Shen Yinqiu bertanya dengan suara pelan, "Apakah di penjara ini sering dilakukan penyiksaan?"
Moqi Yan menjawab dengan sangat tenang, "Tergantung apakah para tahanannya bersikap patuh atau tidak, dan tergantung bagaimana suasana hati para penjaga penjara."
Shen Yinqiu terdiam. Mengucapkan kata-kata seperti itu, apakah kau sama sekali tidak memikirkan perasaan dua orang penjaga penjara yang berdiri dengan setia di belakangmu ini...