Bab Satu: Seorang Gadis Kembali
Musim panen telah tiba, membuat wilayah selatan yang makmur begitu sibuk. Shen Yinqiu, yang tumbuh besar di kediaman keluarga Liu sebagai keponakan yang diakui, kini berjalan lesu di taman belakang, wajahnya suram dan langkahnya lambat seperti kura-kura, bergerak sedikit demi sedikit ke depan.
Gadis pelayan di sampingnya, Qianyun, sudah membagi satu langkah menjadi lima, dan melihat hari mulai sore, ia tak tahan untuk berkata, “Nona, kita sudah berjalan di taman belakang selama satu batang dupa…”
Shen Yinqiu mengenakan gaun brokat berwarna biru air, di tepi roknya terselip motif daun bambu hijau yang samar. Rambutnya disanggul dengan gaya gadis muda, beberapa helai rambut dibiarkan terurai sebagai hiasan, di atas kepalanya terselip tusuk rambut merah dengan tiga butir mutiara bening bergantung di sana, yang menyoroti matanya yang jernih di bawah poni, semakin menambah pesona dan rasa iba.
Wajahnya yang masih menyimpan sedikit kepolosan, memancarkan kecantikan yang sulit dilukiskan. Aura dirinya bak seorang peri, bening dan anggun, sekali tersenyum saja rasanya seperti bidadari turun ke dunia, membuat orang langsung tersentuh.
Namun, secantik apapun, suasana hatinya tengah suram. Bibirnya terkatup, matanya redup. Ia melirik ke sekeliling, memastikan tak ada orang lain, lalu berhenti dan berbisik, “Aku tidak ingin bertemu nenek.”
Qianyun terkejut, “Nona, siang ini kita harus berangkat ke ibu kota. Memang benar Nona enggan berpisah dengan Nyonya Tua, tapi Anda tetap harus berpamitan padanya.”
Nona mereka memang sejak kecil dibawa dan dibesarkan oleh Nyonya Tua, tercatat sebagai keponakan namun disayang luar biasa. Segala kebutuhan makan, minum, dan pakaiannya serba istimewa. Ilmu dan bakatnya pun tak tertandingi; bahkan saat harus bersaing kecerdikan dengan para gadis di rumah, ia tak pernah tersakiti.
Mendengar kata "ibu kota", wajah Shen Yinqiu tetap datar, tanpa sedikit pun rasa antusias. “Keluarga Shen hanya ingin mengambil untung. Nenek membesarkanku dengan penuh kasih sayang, tapi mereka hanya mengatakan, ‘Putri kedua sudah genap empat belas, saatnya mencari jodoh’, lalu memintaku pulang.”
Padahal sebelumnya, keluarga itu tak pernah menanyakan kabarnya.
Qianyun pun paham betapa tidak menyenangkannya nasib kembali ke keluarga Shen, tapi bahkan Nyonya Tua pun tak bisa berbuat banyak. Ia masih ingin menenangkan nona mudanya, namun Shen Yinqiu tiba-tiba menegakkan punggungnya, menghapus kemuraman dan memasang senyum ramah penuh sopan santun, seperti gadis bangsawan sejati.
Tiba-tiba, suara dibuat-buat terkejut terdengar dari depan, “Eh, sepupu masih di sini rupanya. Kakak kira sepupu sudah pulang ke rumah sendiri.”
Maksud tersembunyi di balik kata-kata itu sudah sering Shen Yinqiu dengar, hingga ia tak lagi peduli. Ia tersenyum samar, pura-pura bingung, “Kakak ketiga, nenek bilang sebelum aku berangkat, semua saudari harus berkumpul. Apa kakak belum menerima pesan nenek?”
Kalau kakak ketiga bilang belum, bukankah itu berarti ia mengaku bukan bagian dari keluarga? Liu Yulin merasa geram. Sama-sama anak dari istri selir, setidaknya ia cucu kandung Nyonya Tua, sedangkan Shen Yinqiu hanya yatim piatu yang menumpang! Namun justru yatim piatu inilah yang mendapat kasih sayang nenek, hidupnya lebih baik dari mereka semua…
Sekarang akhirnya gadis itu bakal pergi, Liu Yulin ingin lihat apakah saat kembali ke keluarga Shen, Shen Yinqiu masih bisa tersenyum seperti dulu. Hmph.
Dengan pikiran itu, Liu Yulin tersenyum manis, “Tentu saja, nenek sudah mengirim pesan. Semua sudah berkumpul di paviliun nenek.”
Shen Yinqiu mengangguk, lalu menatap Liu Yulin penuh kekhawatiran, “Kalau begitu, mengapa tadi kakak begitu terkejut aku masih ada di rumah? Kakak ketiga harus periksa ke tabib, masih muda kok pelupa, nanti kalau tua bagaimana jadinya? Maaf ya, kata orang nasihat kadang menyakitkan.”
Selesai berkata, ia melangkah melewati Liu Yulin. Ia sedang tak ingin banyak bicara. Namun, hari ini tampaknya ia harus bersabar. Baru melangkah dua langkah, sudah ada lagi yang menghadang. Shen Yinqiu berhenti, tetap tersenyum ramah.
Mungkin karena tahu ia akan segera pergi, mereka ingin puas-puasin mengusik sebelum kehilangan kesempatan?
Shen Yinqiu menatap Liu Ziqi, kakak tertua dari pihak keluarga Liu, dengan santai dan percaya diri. Neneknya selalu mengajarinya, kadang harus mengalah, tapi jika perlu, jangan ragu untuk balik melawan, apalagi jika ada yang mencari gara-gara. Selama masih hidup, ia tak akan membiarkan diri diinjak.
Shen Yinqiu tumbuh dalam lingkungan tanpa kasih sayang orang tua, hanya nenek yang memberinya kehangatan. Walau dimanjakan, ia tak pernah buta akan status dirinya. Selama orang lain tidak mencari masalah, ia akan tetap patuh dan tenang.
Kakak sepupu Liu Ziqi, di depan Shen Yinqiu, pura-pura mengusap air mata dengan saputangan, ekspresi sendu, “Sepupu, dengar-dengar kau akan kembali ke ibu kota hari ini. Kami semua sedih. Perjalanan jauh, jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit. Hati-hati juga dengan roda kereta, kalau hujan deras, jalan longsor, roda terjebak, di tengah hutan, memanggil pun tak ada yang dengar, bisa sengsara. Nanti kalau sudah tiba di ibu kota, tak peduli paman dan bibi memperlakukanmu seperti apa, tetaplah berbakti, jaga nama baik, sebab jika nama buruk, akan sulit menemukan jodoh.”
Shen Yinqiu menatap kakak sepupunya yang hari ini benar-benar all-out, biasanya demi menjaga citra, ia selalu menyuruh orang lain untuk menjahilinya. Kini langsung turun tangan sendiri untuk melampiaskan kekesalan.
Shen Yinqiu justru merasa puas, ia bukan tipe pendendam, lalu berkata seolah ragu, “Kakak, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kusampaikan…”
Liu Ziqi langsung menghapus air matanya, menatap dalam-dalam dan berkata tegas, “Tidak usah dikatakan!”
Shen Yinqiu tampak menyesal, “Kakak, kau—”
“Ikuti aku, Nyonya Tua sudah menunggu lama, lebih baik segera menemui beliau,” Liu Ziqi memotong ucapan Shen Yinqiu, berbalik pergi. Setelah mengucapkan semua itu, ia merasa lega! Tidak akan memberi kesempatan lawan membalas.
Qianyun, yang selalu melindungi tuannya, berseru, “Kakak sepupu, tunggu dulu! Tadi Anda terlalu sedih, sampai-sampai sapu tangan yang dipakai untuk mengusap air mata membuat riasan Anda luntur…”
Saat itu semua orang seolah hanya latar belakang. Liu Ziqi menoleh ke pelayannya, dan tanpa banyak kata, dari sorot mata yang membelalak, ia tahu ada noda di sudut matanya, sangat mencolok! Kebanggaannya baru saja berubah jadi rasa malu.
Shen Yinqiu melihat punggung kakak sepupunya yang sedikit bergetar itu, tersenyum samar, “Mungkin kakak terlalu sedih karena aku akan pergi, sampai-sampai terburu-buru keluar rumah. Masih ada waktu, kakak bisa memperbaiki riasannya dulu. Aku benar-benar terharu atas perhatian kakak.”
Liu Ziqi menggertakkan gigi, tak ingin memperlihatkan wajah seperti itu lagi, lalu menutupi wajah, memarahi pelayannya, dan pergi cepat-cepat.
Shen Yinqiu menegakkan alis, berbalik menatap Liu Yulin yang terpaku, lalu menghadiahinya senyum besar dan melangkah ringan.
Tentu saja, di perjalanan ia bertemu beberapa saudari lain yang mencoba menjegal, namun Shen Yinqiu dengan sopan dan tenang menghadapi mereka satu per satu, hingga akhirnya sampai di hadapan neneknya. Ia langsung memeluk sang nenek dengan kasih.
“Nenek…”
Nyonya Liu sangat menyayangi Shen Yinqiu, sampai-sampai yang lain tak berani menjelek-jelekkannya di depan beliau. Beliau mengelus punggung cucunya dengan penuh kasih, “Kenapa datang terlambat, Nenek sudah menunggu lama.”
“Siang ini akan berangkat ke ibu kota, perjalanan panjang. Nenek sudah menyiapkan dua puluh pengawal untuk menemani, semua sudah menandatangani kontrak, jadi kau bisa mempercayai mereka. Semua barang sudah diserahkan pada Qianguang, kereta pertama untuk hadiah kepada orang tua keluarga Shen, kereta kedua untuk para muda-muda, sisanya untukmu. Simpan baik-baik, jangan biarkan dirimu tersakiti. Nanti di rumah Shen, berhati-hatilah, kau anak yang cerdas, Nenek akan menunggu kepulanganmu. Jadilah anak baik.”
Ucapan nenek yang lembut dan penuh kasih membuat matanya perlahan basah. Shen Yinqiu segera menempel manja dan berjanji, “Nenek, jangan khawatir. Meski aku anak dari istri selir, aku tetap putri kedua keluarga perdana menteri, tidak akan ada masalah. Kalau ibuku tidak bisa diandalkan, aku masih punya nenek!”
Nyonya Liu teringat ibu Shen Yinqiu, hatinya kembali pilu. Anak sulung dan kedua menjadi pejabat penting, si bungsu kaya dari berdagang, namun putrinya yang cantik dan berbakat itu malah bersikeras menjadi selir seorang cendekiawan yang sudah beristri! Meskipun lelaki itu kini jadi perdana menteri setelah belasan tahun, putrinya tetap hanyalah seorang selir. Sungguh malang.
Shen Yinqiu tahu neneknya sedang sedih, segera mengalihkan pembicaraan, “Tak terasa sebentar lagi musim dingin, Nenek harus jaga kesehatan. Kalau Nenek sakit, aku pun tidak akan sehat.”
“Jangan bicara sembarangan!” Nyonya Liu mengerutkan wajah, tapi tak bisa menyembunyikan kasih sayangnya.
Para gadis keluarga Liu yang masuk ke ruangan melihat pemandangan itu dan merasa iri, sangat membenci Shen Yinqiu tapi tak berani menunjukkan. Mereka satu per satu maju memberi salam pada Nyonya Liu, berpura-pura akrab dan memberikan hadiah perpisahan untuk Shen Yinqiu.
Hadiah-hadiah itu tak bisa dibilang mewah, namun Shen Yinqiu dengan manja di samping neneknya menerimanya satu per satu, kadang mengucap terima kasih dengan kata-kata yang cukup membuat hati lawan terasa perih, sebagai balasannya.
Nyonya Liu bukan tidak menyayangi cucu lain, hanya saja cinta kasihnya ke Shen Yinqiu memang lebih besar. Selain karena ia satu-satunya anak dari putrinya, juga karena sejak kecil dibesarkan olehnya, sehingga ikatan mereka sangat dalam.
Meski dikatakan pertemuan para saudari, sejatinya adalah momen Nyonya Liu memberi wejangan tanpa henti pada Shen Yinqiu, sementara yang lain hanya saling bergosip dengan hati penuh dengki. Andai dengki itu jadi nyata, mungkin Shen Yinqiu sudah gepeng.
Shen Yinqiu mendengarkan suara neneknya, gelombang rasa enggan berpisah semakin besar, namun ia tahu, itu bukan sesuatu yang bisa ia pilih. Sebenarnya ia ingin hidup rukun dengan para sepupu, namun status sosial adalah jurang yang tak bisa diseberangi. Ia hanya bisa menegakkan punggung dan tersenyum meski tahu mereka memandang rendah. Bila mereka menyakiti dengan kata-kata, ia pun tahu cara membalasnya.
Hari makin sore, Nyonya Liu dan Shen Yinqiu pun, meski berat hati, akhirnya beranjak pergi setelah diingatkan kepala pelayan.
Di depan kediaman Liu, lima kereta kuda telah siap berjajar, masing-masing dijaga empat pengawal. Selain kereta ketiga yang lebih mewah, sisanya penuh dengan barang.
Nyonya Liu sendiri mengantar Shen Yinqiu naik ke kereta, diikuti para wanita keluarga yang mengucap salam seadanya.
Shen Yinqiu memeluk neneknya dengan lembut, menundukkan kepala menutupi air mata, lalu naik ke kereta dengan tegas tanpa ragu. Kereta perlahan meninggalkan halaman, hingga akhirnya lenyap di jalanan.
Setelah keluar dari wilayah selatan, barulah Shen Yinqiu kembali bersemangat. Keempat pelayan di sampingnya pun lega. Ada yang menyajikan teh, ada yang menawarkan makanan kecil.
Shen Yinqiu mengisi perut, menaruh cangkir, lalu menopang dagu dengan tangan, bergumam, “Entah bagaimana kabar ibu selama ini.”
Qianguang dan Qianyun hanya tahu sedikit tentang nyonya muda itu dan tak berani berkata banyak, memilih menunduk sibuk dengan pekerjaan tangan. Qianshui mengantuk, Qianzao membaca, sejenak suasana hening.
Shen Yinqiu memainkan helai rambut di telinga, membayangkan kejutan apa yang menantinya di ibu kota. Kepulangannya kali ini untuk menikah, siapa tahu akan menghadapi apa.
Setelah enam hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di ibu kota. Meski wilayah selatan makmur, tetap saja tidak semegah ibu kota. Shen Yinqiu mengangkat tirai kereta, menatap keluar, dan tanpa sengaja bertatapan dengan pejalan kaki yang memperhatikan kereta mereka. Ia segera menurunkan tirai, menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali aturan sopan santun seorang gadis luhur.
Setelah melewati keramaian, suasana mulai sunyi, kereta berhenti, dan terdengar suara pengawal dari luar, “Nona, kita sudah sampai di kediaman Shen.”
Qianguang yang selalu tenang, meminta Qianyun dan Qianshui merapikan pakaian Nona, sementara ia turun lebih dulu untuk memastikan keadaan.
Begitu turun, Qianguang langsung melihat banyak kereta terparkir di depan pintu utama keluarga Shen. Ia sempat terkejut, apakah hari ini ada tamu penting? Para pengawal sedang berunding dengan pelayan di pintu gerbang.
Shen Yinqiu turun dari kereta dengan bantuan pelayannya, menatap rumah yang asing itu, lalu berbisik, “Qianguang, apakah kepala pelayan… tidak menjemput di gerbang?”
Ia memang tak berharap keluarga menyambutnya. Tapi bahkan kepala pelayan pun tak ada, rasanya hati jadi aneh.
Qianguang menggeleng pelan.
Tak lama kemudian, pengawal yang tadi berkeringat kembali dan berkata, “Nona, penjaga di sini bilang, hari ini keluarga Shen sedang menjamu banyak tamu wanita bangsawan, semua tuan rumah sibuk melayani, kepala pelayan juga sedang sibuk, harus menunggu sebentar.”
Pengawal dari keluarga Liu tentu membela Shen Yinqiu, bahkan menyebut pelayan keluarga Shen sebagai penjaga pintu, menandakan betapa kesalnya ia.
Qianguang mengerutkan kening, wajah cantiknya mulai suram. Apa maksud keluarga Shen? Sejelek-jeleknya, meski demi nama baik keluarga Liu, nona mereka tetaplah putri keluarga Shen! Perlakuan seperti ini jelas-jelas menyiratkan penghinaan.
Shen Yinqiu berpikir sejenak, lalu berkata, “Tidak apa-apa. Aku pulang ke rumah sendiri, bukan tamu.”
Qianguang ragu, “Maksud Nona, langsung masuk saja? Tapi bukankah itu bisa dianggap tidak sopan? Jika tertangkap basah, nama baik Nona bisa tercemar.”