Bab 152: Kerusuhan

Istri Sang Penguasa Ximuzi 2515kata 2026-04-01 00:07:09

Kata-kata peringatan pembunuhan dari Zhou Yu bagaikan angin musim semi di bulan Maret, berhembus tanpa pertahanan ke dalam relung hati setiap orang.

Para pengungsi yang dirundung keputusasaan, kemiskinan, dan kelaparan seolah-olah langsung menemukan secercah harapan.

Benar, sang jenderal telah memerintahkan agar pihak wihara membagikan derma, dan wihara-wiharalah yang telah mendurhakai titah pemerintah!

Terlebih lagi, pembagian derma oleh wihara seharusnya berlandaskan belas kasih untuk menolong sesama di bawah kolong langit. Mengapa sekarang mereka tega memutus jalan penghidupan rakyat? Apakah ini yang dinamakan belas kasih Sang Buddha!?

Begitu kejam, pantaskah mereka menerima persembahan dari umat selama ini!?

Ah, benar! Seperti yang dikatakan dalam titah sang jenderal, barang-barang derma yang dibagikan wihara kepada mereka pada dasarnya adalah persembahan dari para umat sendiri. Bukankah sudah sepatutnya wihara membalas budi kepada mereka sekali saja!?

Wihara memiliki begitu banyak ladang, begitu banyak perkebunan, serta harta melimpah dari sumbangan para umat. Bukankah mereka hanya perlu membagikan sebagian kecil saja kepada rakyat? Cukup sekadar apa yang telah diberikan selama setengah tahun terakhir ini!

Tetapi, mengapa! Mengapa pihak wihara memiliki begitu banyak cadangan biji-bijian, namun sedikit pun tidak rela membagikannya kepada rakyat!?

Seketika itu pula, rasa amarah dan kebencian menyelimuti segalanya. Mereka hanya tahu bahwa wihara memiliki perkebunan dan tanah yang luas, tempat di mana terdapat pakaian bersih dan makanan berlimpah yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan dingin dan kelaparan.

Ketika jeritan hati demi jeritan hati itu meletus di tengah kerumunan pengungsi yang berdesakan, mereka tanpa dikomando langsung berbondong-bondong menuju wihara-wihara besar di Liangzhou.

Pada saat itu, sama sekali tidak ada yang menyangka bahwa gelombang lebih dari sepuluh ribu pengungsi yang menghadang Kong Yan ini akan tersulut bagaikan api yang membakar padang rumput, memicu pemberontakan terhadap seluruh wihara di wilayah Hexi dalam waktu singkat, hanya sebulan saja.

Mulanya, lebih dari sepuluh ribu pengungsi yang dihasut oleh Zhou Yu itu hanya menyerbu wihara-wihara di pinggiran kota Liangzhou. Namun, di dalam kota terdapat tiga wihara yang termasyhur di dunia, yaitu Wihara Kumarajiva, Wihara Dayun, dan Wihara Qingying. Bagaimana mungkin wihara-wihara kecil lainnya dapat menandingi ketiganya? Kuil-kuil kecil itu tidak lebih dari dua atau tiga bangunan sederhana dengan total biksu seratus orang lebih. Bagaimana mereka bisa menghadapi lebih dari sepuluh ribu pengungsi yang telah hilang akal? Tak lama kemudian, wihara-wihara di pinggiran kota satu demi satu jatuh sebelum malam tiba. Namun, bagaimana mungkin persediaan makanan dari seratus biksu itu cukup untuk dibagi-bagikan kepada puluhan ribu orang?

Malam itu, Kota Liangzhou menyala oleh kobaran api yang amat besar.

Api membubung tinggi ke langit, menyala semalaman suntuk.

Pagi hari di bulan Maret di Liangzhou masih menyisakan hawa dingin musim semi yang menggigit. Langit yang kelabu pun memancarkan nuansa kesuraman.

Namun, Kong Yan berdiri di atas menara pengawas tertinggi di dalam kediamannya, membiarkan angin pagi yang sejuk menerbangkan ujung jubahnya dengan bertenaga. Ia hanya menatap kepulan asap pekat yang membubung memenuhi cakrawala, sedikit demi sedikit mewarnai langit dengan kabut kelabu.

Menarik napas dalam-dalam, ia seolah dapat mencium bau debu sisa kebakaran yang tertinggal di udara, terasa sedikit menyesakkan tenggorokan.

Begitu Yingzi menaiki anjungan menara, bagaikan embusan angin kencang yang tiba-tiba bangkit, asap pekat yang menyesakkan itu langsung menerpa wajahnya. Ia menutup wajahnya sambil terbatuk ringan, lalu berjalan cepat ke sisi Kong Yan dan berkata, "Nyonya, angin di sini terlalu kencang, sebaiknya kita kembali saja. Tuan Muda sebentar lagi juga akan bangun."

Mendengar putranya disebut, secercah senyuman lembut melintas di mata Kong Yan. Ia merapatkan jubah satin hijau di tubuhnya, dan rasa dingin yang tadinya menusuk tulang kini telah lenyap. Namun, suaranya tetap terdengar dingin dan berat, menyamai gumpalan asap tekat di langit yang tak kunjung buyar. "Bagaimana situasi di luar?"

Mendengar hal itu, pandangan Yingzi turut menggelap. Dengan nada serius ia menjawab, "Kecuali Wihara Kumarajiva yang tidak menghentikan pasokan makanannya, seluruh wihara di wilayah Liangzhou telah dijarah oleh amukan para pengungsi."

Sungguh di luar dugaan, selain Wihara Kumarajiva, semuanya benar-benar telah jatuh...

Wihara Dayun dan Wihara Qingying yang berada di dalam kota, yang memiliki ribuan biksu, ternyata juga mengalami nasib serupa...

Tubuh Kong Yan bergetar tipis. Ia sungguh tidak dapat mempercayai bahwa hanya dalam waktu semalam, wihara-wihara yang selama ini berada tepat di bawah naungan kekuasaan kekaisaran bisa runtuh begitu saja.

"Apakah berita ini sudah dipastikan?" Kong Yan tidak dapat menahan diri untuk bertanya sekali lagi guna meyakinkan hatinya.

Mengingat wihara-wihara yang selama ini begitu dihormati dan tidak tersentuh kini justru jatuh ke tangan rakyat jelata, wajah Yingzi menjadi pucat pasi dengan ekspresi bingung. "Saat Hamba datang tadi, hamba berpapasan dengan Wakil Jenderal Zhou yang sedang berpatroli. Berita ini seharusnya tidak salah lagi."

Zhou Yu?

Tatapan Kong Yan sedikit terhenti. Ia menoleh ke bawah dan melihat ke arah halaman bawah. Tidak jauh dari sana, tampak Zhou Yu yang mengenakan zirah lengkap memimpin puluhan pengawal berbaju besi berat hendak melewati menara pengawas.

Melihat Kong Yan menatap dari atas menara pengawas yang tinggi, langkah kaki Zhou Yu dan pasukannya yang tadinya begitu serempak mendadak terhenti. Mereka menundukkan kepala memberi hormat ke arah menara pengawas, barulah kemudian melanjutkan perjalanan.

Kong Yan menyelipkan anak rambut yang terhempas angin ke belakang telinganya, lalu menoleh kepada Yingzi dan bertanya, "Apakah Wakil Jenderal Zhou menyampaikan pesan lain?"

Yingzi tertegun sejenak, lalu menjawab sambil memiringkan tubuhnya, "Wakil Jenderal meminta hamba untuk menyampaikan kepada Nyonya, nanti Tuan Besar dan Tuan Ketiga akan berdiskusi bersama para pejabat mengenai masalah ini. Jika memungkinkan, mohon Nyonya sudi berkunjung ke..." Ia sempat ragu sejenak sebelum melanjutkan dengan nada bimbang, "Yaitu berkunjung ke kantor depan."

"Kantor depan?" Kong Yan memotong dengan nada terkejut. Pada masa Dinasti sebelumnya, Wu Zetian merampas tahta dan memegang kendali pemerintahan. Di masa kini, para pria sangat mewaspadai terulangnya fenomena ayam betina berkokok di pagi hari. Terlebih lagi, Wei Kang senantiasa tidak menyukai wanita yang tampil di muka umum. Mengapa tiba-tiba ia diminta pergi ke kantor depan?

Kong Yan merasa bingung, begitu pula dengan Yingzi. Gadis itu hanya mengangguk dan mengulangi perkataan Zhou Yu, "Benar, diminta pergi ke kantor depan, agar Nyonya menyampaikan maksud hati Tuan Kedua. Bahwa mereka adalah rakyat Hexi, bukanlah pengungsi yang memberontak, dan sama sekali tidak boleh dibantai."

Rakyat Hexi, ya?

Tentu saja. Karena Wei Kang hendak memanfaatkan para pengungsi untuk menghadapi wihara-wihara di Hexi, ia tentu harus melindungi keselamatan mereka.

Adakah cara agar kesepuluh ribu pengungsi ini dapat lolos dari hukuman, selain dari cara ini?

Militer dan pemerintahan Hexi memegang kendali penuh. Tugas tentara Hexi adalah menjaga perbatasan dan melindungi rakyat Hexi.

Dan dirinya, adalah sosok yang paling tepat untuk mengutarakan hal ini pada saat genting seperti sekarang!

Memikirkan kembali bagaimana Wei Kang menyembunyikan fakta dari istana mengenai pengiriman biji-bijian bencana ke Hexi, Kong Yan tersenyum tanpa suara.

Sebagai istri Wei Kang dan ibu dari satu-satunya pewarisnya, di saat Wei Kang tidak berada di tempat, dialah yang mewakili Wei Kang. Dengan adanya pembelaan darinya terhadap para pengungsi yang memberontak ini, dan kemudian mempublikasikan pengorbanan Wei Kang yang mempertaruhkan nyawa demi mendatangkan bantuan dari istana, pada saat itu Wei Kang telah memenangkan hati rakyat. Lantas, apa lagi yang perlu ditakutkan dari Wei Zhan yang sedang mengintai dengan ambisi terselubung?

Sungguh sebuah perhitungan yang sangat matang!

Tidak sia-sia dirinya bertindak bagaikan badut, ternyata semuanya berada dalam...

Sebelum pikirannya tuntas dan sementara gejolak batinnya masih berputar, tiba-tiba suara Yingzi terdengar memanggil, "Nyonya, ada apa? Raut wajah Anda tampak agak aneh." Sambil berkata demikian, ia menjadi cemas, "Apakah... apakah Anda menemukan sesuatu yang tidak beres?"

Tubuh Kong Yan mendadak menegang. Ia menarik kesadarannya kembali, dan melihat Yingzi menatapnya dengan penuh kecemasan. Ia menenangkan diri, lalu tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa."

"Tidak apa-apa...?" Yingzi mengulanginya dengan suara pelan.

Melihat tatapan penuh curiga dari Yingzi, Kong Yan segera mengalihkan topik pembicaraan dan bertanya, "Apakah masih ada pesan lain yang dititipkan oleh Wakil Jenderal Zhou?"

Meskipun merasa khawatir Kong Yan terlalu banyak memikirkan hal-hal berat, urusan penting tetaplah yang utama. Yingzi buru-buru menarik kembali pikirannya dan melanjutkan laporan, "Wakil Jenderal juga meminta hamba menyampaikan satu kalimat kepada Nyonya: hukum tidak dapat menghukum orang banyak sekaligus, mohon Nyonya agar tidak terlalu khawatir." Selesai berkata begitu, terdengar suara langkah kaki yang ramai dari arah belakang. Ia menoleh dan melihat pelayan senior Nyonya Fu sedang digiring menaikki tangga oleh pelayan dari kediaman cabang kedua mereka. Yingzi seketika mengubah pembicaraannya dan membisikkan dengan cepat tepat di telinga Kong Yan, "Selain itu, Wakil Jenderal berpesan agar Nyonya dapat menggunakan alasan situasi di luar terlalu kacau dan tidak layak keluar rumah untuk membatasi siapa pun yang ingin menjenguk Nyonya Keempat."

Suara itu baru saja mereda, bahkan belum sempat Kong Yan memberikan tanggapan, terlihat seorang gadis jelita berusia sekitar dua puluh tahun membungkuk dan melapor dengan hormat, "Para pengungsi memberontak dan membakar wihara. Nyonya Besar mengundang Nyonya Kedua untuk berdiskusi di halaman utama."

****

Catatan Penulis: Bab ini sangat sulit ditulis, kepalaku terasa seperti dijepit daun pintu, sama sekali tidak tahu bagaimana cara merangkainya. Tadi malam dari pukul 8 sampai 12 malam tidak juga selesai ditulis (sungguh sukar dipercaya, mungkin kemarin aku sedang kedatangan tamu bulanan sehingga tidak bisa berkonsentrasi, pinggangku sakit!). Untunglah sore ini setelah macet sejenak akhirnya bab ini kelar juga. Kuharap kalian bisa menikmatinya. Selain itu, jangan merasa bahwa tokoh utama wanita terlalu terkejut. Pada masa itu kekuatan para biksu sangat besar dan mereka telah menjadi golongan istimewa. Seluruh dunia percaya pada Buddha, dan sekarang tiba-tiba terjadi hal seperti ini—kalau Yan-mei tidak terkejut, itulah yang aneh.

**** (Bersambung)