Bab Seratus Dua Puluh Lima: Menyambut Kedatangan Kaisar

Istri Sang Penguasa Ximuzi 2382kata 2026-04-01 00:07:01

Dihubungkan oleh ruang luar di sebelah barat dan kamar bagian dalam di sebelah barat, hanya dipisahkan oleh dua ruangan, suara Nyonya Feng sayup-sayup terdengar, samar-samar hanya menyiratkan bunyi air basuhan.

Kong Yan memiliki sikap kaku seorang wanita dari keluarga terpelajar. Wajahnya langsung merona merah, melupakan konfrontasi yang baru saja terjadi. Di benaknya hanya terbayang bagaimana ia menemani Wei Kang makan di ruang luar, tetapi kini berakhir di atas ranjang kamar bagian dalam.

Begitu membayangkan situasi di kamar barat ini jika sampai diketahui oleh Nyonya Feng dan yang lainnya, Kong Yan merasakan darah panas menyerbu ubun-ubunnya. Ia akhirnya tidak dapat menahan rasa geramnya dan menegur dengan kesal, "Barbar tak tahu malu! Cepat lepaskan aku!" Sepasang matanya yang berkaca-kaca menatap tajam bagai memancarkan api.

"Tak tahu malu... barbar?" Wei Kang sedikit tertegun, menatap Kong Yan dengan pandangan kagum. Ia melihat di bawah cahaya remang-remang yang menembus dari ruang luar barat, wajah Kong Yan memerah bagaikan batu cinnabar, matanya terbuka lebar karena marah, jelas-jelas akibat malu yang berubah menjadi amarah. Barangkali karena keindahan samar melihat wanita di bawah temaram lampu, tiga bagian paras cantiknya berubah menjadi tujuh bagian keelokan. Wajah lembut yang dihinggapi amarah seperti ini, ketika tertangkap oleh pandangannya, berubah menjadi sesosok jelita yang begitu memesona.

Melihat ekspresi kesal dan marah yang begitu hidup dan nyata di hadapannya, manik mata hitam pekat Wei Kang sedikit menyempit. Di dalam kepalanya tanpa sadar terlintas kepingan demi kepingan kebersamaan mereka selama hampir dua tahun ini. Kelima kebajikan yaitu kehangatan, kebaikan, rasa hormat, penghematan, dan kerendahan hati semuanya terpenuhi pada dirinya. Kecantikan, latar belakang keluarga, serta kemampuannya melahirkan, semuanya ada padanya, pantas menjadi teladan bagi dunia dalam memilih seorang istri. Namun, jika dibandingkan dengan situasi saat ini, ia bagaikan wanita jelita di tengah air dalam kitab Syair Klasik, yang selamanya dipisahkan oleh perairan dalam yang tak terjangkau.

Wajah lembut yang dipenuhi amarah seperti ini... Pandangan mata Wei Kang sedikit meredup, punggung tangannya menyusur menelusuri pipi Kong Yan dan membelainya ke atas.

Kong Yan tertegun, lalu seketika semakin murka. Ia berniat meronta, namun sayangnya kedua tangannya dikunci ke belakang dan tubuhnya ditekan begitu rupa hingga tak bisa bergerak. Akan tetapi, begitu teringat bahwa Nyonya Feng pasti akan mulai menebak-nebak situasi di dalam kamar jika tidak ada sahutan dalam waktu lama, ia pun kembali diliputi rasa cemas sekaligus geram. Belum sempat ia berbicara, tangan yang tadinya membelai pipinya tiba-tiba berputar dan mengangkat dagunya, lalu berbisik rendah mengulang kata, "Tak tahu malu," seraya tiba-tiba menunduk hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Di antara suami istri... kau ingin bicara soal kesucian padaku?"

Kata-kata bernada rendah itu menyusul bersama embusan napas panas yang tak terelakkan menerpa dirinya. Tubuh Kong Yan menegang kaku. Ia mendadak teringat pada segala hal yang sempat ia lupakan karena hubungan longgar di antara mereka sepanjang tahun ini. Kenangan demi kenangan yang terjadi pada tahun pertama pernikahan mereka muncul dengan begitu jelas di benaknya. Orang di hadapannya ini pada akhirnya tetaplah seorang pria, bagaimana bisa ia melupakannya?

Tahun ini, parah paruh pertama, Wei Guangxiong terserang stroke sehingga situasi menjadi tidak stabil; di pertengahan tahun, Tianyou lahir dan ia harus menghadapi Nyonya Chen demi melindungi anaknya; dan di paruh kedua, rasa terkejut serta kagum atas perbuatan Wei Kang—semua peristiwa ini telah membuat orang-orang melupakan bahwa pria di hadapannya ini adalah seseorang yang sanggup membuatnya menanggung segala kepedihan yang tak seorang pun tahu.

Tampaknya pada saat menjelang akhir tahun lalu pula, di ruang kerja sebelah timur――
"Kenapa menangis? Ataukah masih belum terbiasa dengan keintiman antara suami istri?"

Namun, selang setahun kemudian, keadaan dunia telah berubah, tetapi situasinya begitu mirip secara mengejutkan――
"Di antara suami istri... kau ingin bicara soal kesucian padaku?"

Kong Yan bagaikan disiram air es dari puncak kepala di tengah musim dingin yang membeku. Seluruh amarah di tubuhnya seketika lenyap tak bersisa. Ia kembali memejamkan mata dengan perasaan putus asa. Sejak ia memilih jalan untuk menikah, dan dianugerahi kejutan tak terduga berupa Tianyou, maka menerima semua hal ini sekarang bukanlah masalah baginya. Bagaimanapun juga, setiap wanita yang menjadi istri di dunia ini sepatutnya mengalami hal-hal tersebut.

Tanpa memancing gelora yang lebih dalam, ia kembali memasang sikap patuh dan sabar menahan diri seperti sebelumnya. Pandangan Wei Kang sedikit meredup. Melihat kepatuhan yang selalu ia dapati dari dulu, bayangan suram kembali melintas di dasar matanya. Ia memejamkan mata sejenak, lalu sebuah desahan ringan terlepas dari bibirnya, "Yan Niang, setelah bulan pertama aku harus pergi. Meskipun masih ada waktu dua bulan sebelum itu, aku tidak akan memiliki banyak waktu untuk tinggal di kediaman."

Bibir tipisnya berbisik lembut di dekat daun telinga. Barangkali karena jarak yang terlalu dekat, suaranya terdengar parau namun lembut, sekaligus membuat rasa tak berdaya dan keengganan berpisah di balik kata-kata itu terdengar begitu jelas.

Kong Yan bergidik tipis, entah karena panggilan "Yan Niang" yang diucapkan dengan begitu lembut dari bibir Wei Kang, ataupun karena sedikit saja rasa tak berdaya dan keengganan berpisah yang hampir tak terdengar itu. Yang manapun itu, hal-hal tersebut mustahil terjadi pada diri Wei Kang, setidaknya tidak pada sosok Wei Kang yang berada dalam ingatannya.

Merasakan getaran halus dari wanita di dalam dekapannya, ia akhirnya sekali lagi memastikan apa yang secara tidak sengaja ditemukannya malam ini. Kendati demikian, sorot mata suramnya justru semakin berkurang, berubah menjadi sebersit kegetiran yang tak berdaya――Wei Kang tidak bersuara lagi. Ia hanya mendekap erat tubuh lembut dalam pelukannya, sementara bibir tipisnya menyusuri daun telinga turun menerobos ke leher, memberikan ciuman demi ciuman panas yang rapat dan penuh kekuatan. Ciuman itu membawa keterdesakan dari keintiman terakhir, seolah hendak merengkuh habis kelembutan dari hampir dua tahun belakangan ini, serta teramat ingin mengukir kehangatan yang belum pernah ada selama dua puluh enam tahun kehidupannya—meski hanya berlangsung kurang dari dua tahun—jauh ke dalam relung ingatannya.

Napas yang berangsur memburu terdengar di tubuhnya. Telapak tangan besar yang tadinya mengurung pergelangan tangan kini telah bergerak naik, jubah katunnya tersingkap seketika. Menembus sehelai pakaian sutra tipis, tangan itu merengkuh seutuhnya di telapak tangan, dengan kekuatan yang kadang lembut kadang berat, membawa ketegasan seolah ingin meremukkan wanita itu ke dalam tubuhnya sendiri. Segala hal ini terjadi persis seperti masa lalu.

Tubuh yang dirawat dengan penuh kelembutan itu, bagaimana mungkin sanggup menanggung gelombang gairah yang begitu liar? Kong Yan tak mampu menahan deheman tertahan, lalu mengatupkan giginya rapat-rapat, tidak lagi membiarkan pikirannya terombang-ambing oleh keterkejutan sesaat tadi.

Mendengar desah kenikmatan yang dahulu selalu membangkitkan gairahnya, Wei Kang justru menghentikan gerakannya. Ia tanpa sadar menunduk sekilas, melihat alis Kong Yan yang bertaut erat, lalu kembali menundukkan kepala dan melumat dalam-dalam pada titik merah delima yang merona. Di sela gesekan bibir dan giginya, ia mendengar Kong Yan kembali mengeluarkan rintihan kesakitan. Suara pria yang parau dan tak jelas itu pun turut mengalun, "Sakitkah? Kau... aku tak punya pilihan... Jika tahun depan aku bisa kembali... kita buat lebih pelan..."

Jika tahun depan bisa kembali...?
Jika, jika bisa kembali, lalu bagaimana jika tidak bisa?!

Seluruh kesadaran dikuasai oleh rasa nyeri yang merayap, membuat pikirannya hampir terjerumus ke dalam kabut kelam. Kong Yan serta-merta membuka mata, mengabaikan rasa canggung karena bertelanjang bulat seperti biasa. Ia tiba-tiba mengangkat tubuh bagian atasnya, dan tanpa berpikir panjang bersuara, "Pengiriman pengantin kali ini, kau tidak punya keyakinan?"

Benda lembut dan harum itu terlepas dari mulutnya. Ketika ia mendongak, didapatinya Kong Yan menatap dengan ekspresi cemas yang mendesak. Kehangatan melintas di mata Wei Kang, meredakan sisa-sisa kesuraman terakhir yang muncul akibat penemuan malam ini. Namun, ia tetap bergeming tanpa menjawab, hanya kembali menindih sosok seputih salju yang menyilaukan mata di bawahnya, lalu berkata lain, "Masih tidak mau? Aku sudah mandi tadi malam, dan saat kembali malam ini pun aku sudah membasuh diri."

Kong Yan tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka Wei Kang menyadari hal itu. Salah satu alasan ia merasa tidak menyukai hal tersebut adalah karena Wei Kang tidak mandi dan berganti pakaian setiap hari, terutama ketika musim dingin tiba.

Melihat pikiran Kong Yan yang mulai teralihkan, pandangan mata Wei Kang meredup, menyembunyikan kepekatan beban di dalam hatinya bersamaan dengan itu. Tangannya hanya menggenggam gumpalan lembut, sementara bibir dan giginya menangkup daun telinga yang merah ranum bagaikan tetesan darah, lalu berbisik dengan suara parau, "Sudahlah... urusan tarian Nuo itu terserah padamu saja." Sedaat ia berhenti, seulas senyum melintas di bibirnya, "Lagi pula aku memang berniat begitu dari awal."

Selesai berkata demikian, Kong Yan serta-merta membuka mata lebar-lebar. Namun, tepat pada detik itu pula, desah napas terlepas dari bibirnya. Bayangan siluet sepasang pria dan wanita yang saling berbelit terproyeksikan di atas kain kasa penyekat ruangan.

Cahaya dari lentera istana berlapis kulit domba di ruang luar barat menari-nari, sementara kamar bagian dalam barat dipenuhi kehangatan yang membaur, menepis angin kencang dan malam bersalju yang dingin di perbatasan benteng utara.

Begitulah, urusan tarian Nuo yang paling pelik di Tahun Baru Yuanxi keenam ini akhirnya terselesaikan. Dalam sekejap mata, setelah tarian Nuo pada malam pergantian tahun, Tahun Baru Yuanxi ketujuh pun tiba sebagaimana mestinya. Libur Tahun Baru selama tujuh hari berlalu dalam sekejap mata.

Hari kedelapan bulan pertama, Putri Changsheng Chonghua berangkat dari ibu kota untuk menjalani pernikahan politik ke Tuban.

Begitulah, Kong Yan kembali sibuk tiada henti, menyambut rombongan mahar Putri Chonghua yang berjumlah lebih dari seribu dua ratus orang.

****
Catatan Penulis: Maaf membuat kalian menunggu lama, sungguh meminta maaf karena sedikit tidak mahir menulis kisah percintaan. Selain itu, kalian mungkin merasa heran mengapa Kong Yan masih bersikap seperti ini padahal sudah memiliki anak. Sebenarnya, Kong Yan dan Kang Ge lebih sering terpisah daripada bersama, dan lagi Kong Yan dari lubuk hatinya yang paling dalam merasa jijik terhadap pria, atau bisa dibilang memiliki sedikit fobia terhadap pria.