Bab 52 Membakar Sampai Bersih
Luo Heng mengajarkan ilmu bela diri kepada Mu Qingwan, yang dinamai "Tarian Sang Jelita".
Meski namanya mengandung kata 'tarian', pada kenyataannya ini adalah jurus tinju sejati. Konon, jurus ini diciptakan oleh seorang cendekiawan dinasti sebelumnya, terinspirasi dari kisah para wanita cantik yang tercatat dalam sejarah. Setiap gerakan mewakili sebuah kisah tentang seorang wanita legendaris.
Jurus yang baru saja dipertunjukkan Luo Heng bernama "Seribu Musim, Seribu Salam". Kisahnya bermula sekitar tiga ratus tahun silam, tentang seorang gadis bernama Qianqiu yang menggantikan ayahnya dalam dinas militer dan, berkat jasanya, naik pangkat menjadi jenderal. Namun, pada akhirnya ia dijebak oleh pejabat korup di istana dan mengalami kekalahan. Merasa bersalah kepada rekan-rekan seperjuangannya yang gugur sia-sia, ia mengenakan kembali pakaian wanitanya, memberi penghormatan di depan altar arwah mereka, lalu dengan tenang menghadapi kematiannya.
Singkat kata, gadis Qianqiu ini bisa dikatakan merupakan versi dunia ini dari Hua Mulan.
"Perhatikan baik-baik, jurus ini dinamakan 'Angsa Pulang ke Selatan'!"
Meski agak canggung memperagakan "Tarian Sang Jelita", Luo Heng tetap melanjutkan. Lambat laun, satu rangkaian penuh jurus itu ia tampilkan dari awal sampai akhir.
Mu Qingwan, gadis kecil itu, sudah sejak tadi terpana. Bahkan Ye Wan’er, yang di samping tengah berlatih "Tinju Agung Leluhur Xiang", tanpa sadar menghentikan gerakannya dan menatap Luo Heng yang meliuk-liuk menampilkan jurus.
"Sudah kau hafal semua?" Setelah selesai, Luo Heng menarik napas panjang dan bertanya pada gadis itu.
Gadis itu tergagap, matanya membelalak beberapa kali, lalu cepat-cepat mengangguk.
"Indah sekali," katanya dengan wajah berseri-seri, jelas sekali ia menyukai jurus ini.
Memang benar, ia sangat menyukainya. Saat pertama kali melihat jurus “Seribu Musim, Seribu Salam”, ia sempat merasa gerakan Luo Heng agak aneh dan membuatnya kurang nyaman. Namun setelah melihat seluruh rangkaian jurus, ia benar-benar terpesona oleh keindahan jurus itu.
Dalam benaknya, seakan sosok para wanita agung yang tercatat dalam sejarah terus bermunculan. Mereka, ada yang memesona dan anggun, ada yang gagah berani, ada pula yang penuh wibawa dan keluhuran...
Masing-masing adalah teladan wanita, meninggalkan jejak mereka sendiri dalam lembaran sejarah.
"Memang indah," Ye Wan’er di samping mereka ikut menimpali, dengan ekspresi penuh harap di wajahnya. Jelas, ia pun sangat menyukai jurus ini.
"Kini tenaga dalammu masih lemah, tunggu sampai kau benar-benar mantap, baru biarkan Wanwan mengajarkan 'Tarian Sang Jelita' padamu," kata Luo Heng setelah melirik Ye Wan’er.
Bakat Mu Qingwan lebih tinggi, ia lebih dulu mulai berlatih, dan ilmu yang dipelajarinya juga lebih unggul. Saat ini, gadis itu boleh belajar "Tarian Sang Jelita", tapi bukan berarti Ye Wan’er juga bisa. Setidaknya tenaga dalamnya masih kurang.
"Tarian Sang Jelita" merupakan aliran jurus dalam, kekuatannya bergantung pada seberapa besar tenaga dalam yang dimiliki.
Jika tenaga dalam belum cukup lalu memaksa diri untuk belajar, hasilnya justru akan buruk.
"Baik, aku mengerti," jawab Ye Wan’er sambil mengangguk. Sembari tersenyum, ia berjalan mendekati Mu Qingwan dan menggandeng lengannya.
"Wanwan, nanti aku belajar padamu, ya."
Ucapan itu membuat Mu Qingwan merasa seperti seorang guru. Alisnya langsung melengkung, matanya bersinar-sinar penuh semangat dan kebanggaan.
Aku juga bisa jadi guru, ya! Senangnya, hihihi!
Gadis itu tersenyum sendiri memikirkan hal itu, sampai Luo Heng ikut tersenyum geli. Gadis kecil ini, kenapa bisa semanis ini?
...
Bulan sudah tinggi di barat, malam pun kian larut.
Di sebuah tanah pertanian di pinggiran Kota Kabupaten Shangxi, di ruang samping dari aula utama yang biasa dipakai pemilik lahan menjamu tamu agung, tampak beberapa lelaki berpakaian petugas keamanan tergeletak sembarangan.
Para petugas itu, ada yang teler karena mabuk, ada yang tertidur pulas, semuanya tampak sudah benar-benar kebanyakan minum.
Di ruang utama, bupati setempat juga terkapar di atas meja, tak bergerak sedikit pun. Meja berantakan dengan gelas dan piring, wangi alkohol pekat masih tercium. Jelas sang bupati pun minum tak sedikit.
"Luo Shanren, bagus kerjamu. Kau adalah pahlawan berjasa bagi Ajaran Suci. Sang Ibu Kehidupan akan menganugerahkan pahala, melindungi seluruh keluargamu menuju kebahagiaan abadi."
Seorang lelaki tua berjubah putih, berwajah bijak dan berwibawa, berjalan perlahan masuk ke aula utama. Setelah mengamati sekeliling, ia menepuk pundak seorang pria paruh baya yang tampak seperti bangsawan.
Pria bangsawan itu mengangguk patuh, meski dalam hatinya terasa getir.
Kemarin, istrinya dan para petani bodoh di lahan itu mengundang "Dewa" dan mendatangkan utusan suci dari Ajaran Teratai Putih. Sebagai bangsawan terdidik, ia tentu tak percaya takhayul Ajaran Teratai Putih.
Ia sempat mengira utusan itu akan membunuhnya. Namun siapa sangka, bukan hanya ia selamat, sang utusan bahkan secara terbuka, atas nama Sang Ibu Kehidupan, menganugerahinya gelar "Orang Baik Seratus Generasi" dari Ajaran Suci.
Dikatakan bahwa ia telah berbuat baik selama seratus kehidupan, dan jika di kehidupan ini ia menuntaskan satu kebajikan besar lagi, ia dan seluruh penghuni lahan akan menikmati kebahagiaan abadi di dunia lain.
Istrinya beserta para petani pun menjadi gila, menatapnya bak harta karun dunia. Ia sadar, masalah besar menantinya.
Ia sempat ingin membongkar kebohongan utusan itu, bahkan melawan, tetapi akhirnya sadar semua usahanya sia-sia.
Dirinya dan keluarganya sudah terlalu terikat dengan ajaran itu. Istri dan para petani pun telah dicuci otak. Apa pun yang mereka lakukan setelah ini, sama saja dengan ia yang melakukannya sendiri.
Ia pun tak berdaya, akhirnya memilih menyerah.
Utusan Teratai Putih kemudian memintanya, atas namanya, mengundang bupati dan para pejabat ke pesta jamuan. Orang lain mungkin tak bisa mengundang bupati, tetapi ia bisa. Ia adalah seorang sarjana, cukup ternama di daerah itu.
Hari ini, bupati benar-benar datang dan, setelah didesak minum berkali-kali, akhirnya teler berat.
"Utusan..." pria itu berbisik ragu.
Ia tak tahu apa niat utusan itu, namun firasat buruk menggelayuti hatinya.
Utusan yang berwajah bijak itu hanya tersenyum samar dan kemudian menepuk tangan ringan.
Terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari kejauhan. Sekelompok petani membawa obor, dengan wajah penuh semangat fanatik, berlari mendekat.
"Dunia fana ini laksana penjara, semua makhluk menderita. Reinkarnasi tiada henti, duka tak pernah usai...
Sang Ibu Kehidupan melihat, melihat anak-anaknya bergulat dalam dunia yang kejam dan penuh dosa ini.
Para pejabat lalim, hidup berkelimpahan, perut penuh lemak, sementara rakyat baik hati kelaparan, kedinginan, merintih dan mati dalam sengsara...
Adilkah dunia yang penuh keburukan ini?"
Mendadak, utusan Teratai Putih berbalik menghadap para petani. Di balik wajah ramah dan bijaknya, tampak sekilas kebengisan.
Para petani menjerit histeris, seperti orang gila.
"Tidak adil!"
Tubuh pria bangsawan itu bergetar, hatinya langsung tenggelam dalam keputusasaan. Apa yang ingin mereka lakukan? Apa yang diinginkan para pengikut Teratai Putih? Apakah mereka ingin mengubah para petani menjadi perusuh?
Ia semakin putus asa. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat istrinya, dengan ekspresi fanatik, juga bergabung.
Selesai sudah!
Dunia terasa gelap, tubuhnya ambruk tak berdaya. Dalam sekarat, samar-samar ia mendengar suara:
"Sang Ibu Kehidupan berkata, Api Kebajikan akan membakar habis segala keburukan dunia ini!"
"Bakar! Bakar pejabat keparat pemakan manusia itu!"
"Bakar sampai bersih, jangan sisakan apa pun!"