Bab 142 Pahlawan Biasa (Tambahan untuk Aliansi Kedua [Sudut Rumah Makan Gunung Wu])
Musim gugur membuat hari semakin cepat gelap.
"Sate panggang! Mari beli sate panggang! Sate panggang hangat!"
Di usia senja, tubuh mereka sudah tidak tahan dingin. Bibi Li dan suaminya sudah mengenakan jaket katun tipis lebih awal.
Jaket katun itu adalah bekas pakai anak lelaki mereka yang sudah usang. Sepanjang hari mereka bekerja di tengah asap dan api, sehingga pakaian mereka selalu terkena cipratan minyak dan kuah. Oleh karena itu, mereka tidak pernah membeli pakaian baru—bukan demi menghemat uang, begitu alasan yang mereka berikan ketika seseorang bertanya.
Bekerja menjaga tungku di tengah terpaan angin musim gugur, rasanya dada seperti dipanggang api sementara punggung ditiup angin dingin. Sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan, tetapi mereka sudah terbiasa, terpaksa harus terbiasa.
Bibi Li mendongak menatap langit, lalu berkata kepada suaminya, "Ayah, hari sudah gelap, mari kita tutup warung."
Mendengar itu, suaminya melirik ponselnya dengan bingung. "Hari memang sudah gelap, tetapi masih terlalu dini. Ini baru lewat jam tujuh. Bukankah biasanya kita baru tutup sekitar jam sembilan?"
Bibi Li dan suaminya mendirikan warung di seberang Toko Hewan Peliharaan Qiyuan. Pagi hari mereka berjualan sarapan, dan malam hari berjualan sate panggang. Mereka bekerja keras dari pagi hingga malam demi mencari uang penghidupan. Meski tidak banyak, itu cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai anak mereka sekolah di tingkat menengah atas. Melihat putra mereka tumbuh dengan aman dari hari ke hari adalah hiburan terbesar bagi pasangan suami istri paruh baya itu.
Sekarang baru lewat pukul tujuh malam. Meskipun jam sibuk orang pulang kerja telah lewat dan sebagian besar pelajar sudah pulang ke rumah, masih ada beberapa pejalan kaki yang berlalu-lalang di jalan. Dari waktu ke waktu, seseorang berhenti di depan warung untuk membeli sate, baik untuk dibawa pulang maupun untuk dimakan di tempat.
Jika tutup lebih lambat sedikit, mereka bisa mendapatkan lebih banyak uang.
Bibi Li dengan cemas melihat ke seberang jalan, ke arah Toko Hewan Peliharaan Qiyuan. Ia memberi isyarat kepada suaminya sambil berbisik, "Keadaan akhir-akhir ini tidak aman, sebaiknya kita tutup lebih awal saja."
Toko Hewan Peliharaan Qiyuan masih menyalakan lampunya. Melalui pintu kaca transparan dari lantai ke langit-langit, terlihat masih ada beberapa orang di dalam, termasuk sang pemilik toko yang masih muda.
Dalam hatinya, ia merasa kasihan pada Zhang Zian. Mengapa pemuda itu tidak mendengarkan nasihatnya untuk segera menutup toko dan menghindari badai masalah? Mencari gara-gara dengan anjing-anjing gila itu, bukankah sama dengan menunggu untuk digigit?
Suaminya kurang sependapat. Ia menunjuk tusukan daging dan ikan di dalam gerobak dorong seraya berkata, "Belum semuanya terjual. Kalau dibiarkan semalaman, semuanya akan basi! Lagipula tidak banyak lagi yang tersisa. Kita pergi setelah semuanya habis, tidak butuh waktu lama lagi, sekarang masih cukup awal."
Kelopak mata Bibi Li berkedut tanpa henti, membuatnya merasa gelisah dan bingung. Namun, ia lupa mata sebelah mana yang bertanda rezeki dan mana yang bertanda malapetaka. Jika sudah begini, anggap saja ini pertanda malapetaka.
"Tidak bisa, cepat pergi! Hatiku sangat gelisah!" Bibi Li menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Sepertinya akan terjadi sesuatu."
Suaminya menunjuk ke arah toko hewan peliharaan itu dan berkata, "Kamu ini wanita, untuk apa panik segala? Lihat saja orang-orang di sana tidak panik, kenapa kamu yang repot sendiri? Lagian ini tidak ada urusannya dengan kita!"
Tepat pada saat itu, seorang pelanggan yang mengendarai sepeda berhenti untuk menanyakan harga sate panggang. Sang suami langsung memasang wajah tersiram senyum, dengan ceria mempromosikan dagangannya kepada pelanggan tersebut.
Bibi Li menjadi marah, suaranya pun meninggi. "Apa maksudmu tidak ada hubungannya dengan kita? Apakah kamu lupa bagaimana toko kita dulu dihancurkan?"
Begitu melihat pedagang itu bertengkar, sang pelanggan mengurungkan niatnya untuk membeli sate. Ia menginjak pedal sepedanya dan berlalu pergi.
Ketika topik tentang kejadian menyakitkan itu diungkit, sang suami membelalakkan matanya. "Aku lupa? Mana mungkin aku lupa!"
Ia dengan kasar menyingsingkan lengan bajunya, memperlihatkan bekas luka berwarna merah tua sepanjang tiga inci di lengan kirinya yang terpampang jelas.
"Coba tanyakan padanya, apakah dia lupa atau tidak!"
Itulah kenangan yang ditinggalkan oleh malam yang mengerikan itu.
Dulu, Paman Li juga seorang pria berdarah panas. Mana mungkin ia bisa tinggal diam melihat toko mereka dihancurkan orang? Seketika itu juga ia menyambar pisau dapur dan spatula untuk melawan orang-orang tersebut. Akibatnya, sepasang tinju tentu sulit melawan banyak tangan, dan dalam sekejap ia pun dirobohkan.
Pelajaran berdarah, mana mungkin begitu mudah dilupakan?
Melihat bekas luka yang panjang itu, kelopak mata Bibi Li langsung memerah. Ia menjatuhkan diri ke kursi yang disiapkan untuk pelanggan, menyeka air matanya sambil mengeluh, "Kamu bilang tidak lupa? Menurutku kamu justru sudah lupa. Hanya ingat enaknya saja tapi lupa rasa sakitnya. Keadaan sekarang seperti apa, apa kamu tidak bisa melihatnya? Pemilik toko itu sama sepertimu, telah menyinggung orang lain, entah kapan dia akan..."
Suaminya tertunduk dalam keheningan.
"Aku tahu," ucapnya dengan suara serak.
Bibi Li menepuk pahanya sendiri dan berseru, "Kamu tahu! Kalau tahu, kenapa tidak lekas pergi? Nanti kalau kita sampai ikut terseret..."
"Aku tahu, makanya aku tidak bisa pergi," sahut suaminya.
"Kamu..." Bibi Li mendongak dengan kaget.
"Toko kita dulu dihancurkan, apa kamu tega melihat toko orang lain juga dihancurkan?" Urat-urat di pelipis suaminya menegang, matanya menyiratkan kemarahan yang meluap-luap. Namun, kemarahan itu bukan ditujukan kepada Bibi Li, melainkan kepada sampah-sampah masyarakat tersebut.
Bibi Li berdiri dengan tubuh gemetar, lalu menunjuk ke arah suaminya. "Ayah... Ayah mau berbuat apa? Kuberi tahu ya, jangan coba-coba menjadi pahlawan! Waktu itu orang-orang itu menebas lenganmu, bagaimana kalau kali ini mereka menusuk perutmu? Kalau sampai terjadi sesuatu padamu, bagaimana nasib aku dan anak kita nanti!"
Suaminya menghela napas, kemarahan di matanya perlahan-lahan meredup.
"Aku tahu, aku sudah melewati usia di mana aku harus bertindak gegabah," ujarnya. "Tetapi aku tetap tidak bisa pergi. Jika aku tetap di sini, setidaknya aku bisa membantu pemuda itu menelepon polisi atau memanggil ambulans."
Bibi Li menatap suaminya dengan rasa tidak percaya. Dari keterkejutan dan ketidakpahaman di awal, tatapannya perlahan-lahan berubah menjadi rasa hormat. Selama bertahun-tahun menikah, ia pernah menatap suaminya dengan pandangan penuh malu-malu, pandangan kesal, pandangan mengeluh, dan pandangan kecewa karena suaminya tidak kunjung menjadi orang yang hebat. Namun, untuk pertama kalinya, ia menatap pria itu dengan pandangan penuh rasa hormat.
Selama ini ia hanya memikirkan keselamatan keluarganya sendiri. Baginya, memperingatkan Zian sudah cukup membuktikan bahwa dirinya telah melakukan yang terbaik. Jika Zian tidak mendengarkan nasihatnya, itu adalah urusan pemuda itu sendiri. Namun, suaminya yang biasanya pendiam dan tidak banyak bicara, pada saat ini terlihat jauh lebih gagah perkasa daripada siapa pun!
Manusia selalu mengagumi pahlawan, bahkan jika itu hanya seorang pahlawan biasa.
Suaminya merasa sedikit canggung mendapati dirinya ditatap seperti itu. Dengan salah tingkah ia memalingkan wajah dan berkata, "Pergilah duluan. Aku akan tinggal di sini sampai jam sembilan, baru kemudian pulang. Pulanglah dulu untuk menemani anak kita, biar barang-barang ini aku yang merapikannya."
Bibi Li tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya merogoh keranjang gerobak, mengambil sebatang penggilas adonan, lalu menyelipkannya ke dalam jaketnya. Pakaian mereka memang berupa jaket bekas anak mereka yang berukuran besar dan longgar. Jangankan menyelipkan satu batang penggilas adonan, menyelipkan dua atau tiga batang pun tidak akan menjadi masalah.
Ia telah menunjukkan sikapnya.
Suaminya menatapnya dalam-dalam lalu mengangguk, menyadari bahwa membujuknya pun akan percuma.
"Sate panggang! Mari beli sate panggang! Sate panggang hangat! Murah saja! Satu sate seribu rupiah!"
Pasangan suami istri itu kini menyeru pejalan kaki yang lewat dengan semangat yang lebih membara.
Selama ada cukup banyak orang yang berkumpul di sini, mungkin itu bisa membuat anjing-anjing gila tersebut merasa gentar?
Waktu berlalu detik demi detik. Sate panggang yang tersisa semakin sedikit, membuat perasaan suami istri itu perlahan-lahan menjadi lebih tenang.
Orang-orang di dalam toko hewan peliharaan semakin sedikit, hanya menyisakan sang pemilik muda dan seorang pelanggan saja. Sepertinya toko itu akan segera tutup.
Mereka pasti bisa melewati hari ini dengan selamat, bukan?
Kehidupan orang miskin memang dijalani dengan bertahan hidup hari demi hari.
Tepat pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, diiringi suara decitan rem yang tajam, sebuah mobil van tanpa pelat nomor berhenti di tepi trotoar di seberang jalan.
Jantung pasangan suami istri itu langsung berdegup kencang.