Bab 47: Menikmati Hidup di Tepi Laut
Sebagai seorang pembawa acara siaran langsung, terutama yang berkutat di luar ruangan, pemilihan materi siaran adalah hal yang sangat penting. Lokasi yang dipilih harus menarik dan memiliki keunikan, jika tidak, mustahil membangkitkan minat dan antusiasme penonton. Antusiasme itu ibarat api di perapian, jika tidak rutin ditambah bahan bakar dan dijaga sirkulasi udaranya agar oksigennya cukup, ia akan padam dengan mudah.
Industri pembawa acara siaran berkembang sangat pesat, bahkan bisa dibilang sudah terlalu cepat. Zaman di mana cukup bermain gim atau bernyanyi di depan kamera lalu mendapat puluhan ribu penggemar sudah lama berlalu. Tanpa keunikan, seorang pembawa acara hanya akan tenggelam di antara kerumunan.
Jiang Qianxue adalah salah satu pembawa acara siaran langsung, dan ia fokus pada tema luar ruangan. Salurannya bernama “Kuliner dan Hiburan di Binhai”.
Sesuai namanya, isi siarannya adalah menjelajahi beragam tempat makan, minum, hiburan, dan hal-hal menarik yang kemudian ia perkenalkan kepada para penontonnya.
Mayoritas penggemarnya tentu saja berasal dari Kota Binhai dan sekitarnya, meski ada juga sebagian kecil dari kota lain di seluruh negeri.
Karena sasaran pemirsanya terbatas, ia memang tidak mungkin menjadi pembawa acara super dengan jutaan penggemar, tetapi justru karena itu pula persaingan yang dihadapinya tidak begitu berat. Ia tidak perlu menjual penampilan atau berlomba popularitas dengan pembawa acara nasional. Yang penting, ia cukup mengukuhkan posisinya di Binhai.
Hingga kini, belum ada pembawa acara lain di wilayahnya yang mengangkat tema “Kuliner dan Hiburan di Binhai” seperti dirinya.
Penggemar setianya sekitar dua sampai tiga ribu orang. Pada puncak siaran, jumlah penonton daring bisa mencapai lebih dari empat ribu, memang tidak terlalu banyak, namun mereka sangat loyal. Setiap kali ia mulai siaran langsung, hampir semua akan menonton dari awal hingga akhir.
Karena alasan yang sudah sama-sama dipahami, biasanya mayoritas penonton pembawa acara perempuan adalah laki-laki. Akan tetapi, di antara penggemar Jiang Qianxue, perbandingan laki-laki dan perempuan sekitar satu banding satu. Bisa dibilang, ia menarik minat kedua gender.
Banyak perempuan, setelah mengetahui rekomendasi suatu tempat dari siarannya, kemudian mengajak pacar mereka berkunjung ke sana. Sementara para pria diam-diam mencatat tempat-tempat yang ia rekomendasikan, lalu mengajak kekasih mereka ke sana saat kencan berikutnya, sehingga tak perlu lagi bingung memilih lokasi kencan.
Untuk mencari tempat makan dan wisata menarik, Jiang Qianxue sering menjelajah dunia maya demi mengetahui informasi terbaru. Forum Gedung Pandang Laut juga menjadi salah satu objek perhatiannya.
Kasus hangat antara Toko Hewan Qiyuan dan Supermarket Hewan Peliharaan Bintang Gemerlap tentu saja ia ikuti, meski ia tidak ikut berdiskusi di forum. Begitu ada yang mengajak rombongan, ia langsung mendaftarkan diri.
“Ini tema yang menarik untuk digarap,” pikirnya waktu itu, “aku belum pernah siaran di toko hewan.”
Sejak kecil, Jiang Qianxue memang lincah dan aktif. Ia tidak pernah memelihara hewan karena merasa merepotkan. Untuk mengurus diri sendiri saja sudah melelahkan, apalagi harus mengurus hewan...
Melihat waktu sudah cukup, ia mematikan komputer, berganti pakaian, lalu mengambil ponsel dan tongkat selfie sebelum keluar kamar.
Dengan berjingkat, ia menuruni tangga dan mengamati keadaan. Ayahnya sedang membaca koran di ruang tamu, sementara ibunya memanggang kue di dapur.
Dengan menunduk, ia mencoba berlari cepat melewati belakang sofa, tapi kebetulan ibunya yang sedang mengambil telur dari kulkas memergokinya.
“Xiao Xue, mau ke mana?”
Aduh! Ketahuan! Ia tahu pasti akan dimarahi lagi.
Ayahnya, Jiang Tianda, menoleh dan melihat ia membawa tongkat selfie. Seketika wajahnya menjadi masam, “Mau siaran langsung lagi? Sudah berapa kali Ayah bilang! Anak perempuan harus bersikap tenang, jangan keluyuran terus! Tidak ada masa depan di bidang itu!”
Ibunya mengelap tangan dengan celemek, lalu keluar dari dapur menasihati, “Sudahlah, jangan terlalu keras. Dia masih muda...”
“Masih muda? Sudah dua puluh tahun masih dibilang anak-anak? Semua gara-gara kamu yang terlalu memanjakannya!” ayahnya malah memarahi ibunya.
Untung saja, saat itu asisten ayahnya, Li Wen, datang mengingatkan, “Pak Jiang, waktunya rapat sudah dekat. Hari ini Senin, jalanan pasti macet...”
Li Wen sudah hampir berusia empat puluh, sejak awal merintis usaha sudah membantu ayah Jiang Qianxue. Ia nyaris menjadi seperti kakak laki-laki yang jauh lebih tua baginya.
Ayahnya menatap jam dengan dahi berkerut. Jiang Qianxue diam-diam mengatupkan kedua tangan mengucapkan terima kasih kepada Li Wen. Li Wen membalas dengan kedipan mata, sementara ibunya hanya bisa menggeleng pasrah.
“Akhir pekan ini kau harus pergi kencan perjodohan. Calonmu anak kedua keluarga Lu, dikenalkan oleh direktur utama Bank Binhai,” ujar ayahnya sambil berdiri, Li Wen membantunya mengenakan jas.
“Aku tidak mau!” Jiang Qianxue manyun.
“Mau tidak mau, kamu tetap harus pergi! Tidak ada tawar-menawar!” Ayahnya mendengus dingin, lalu bergegas keluar rumah. Li Wen pun segera menyusul.
“Fasis! Diktator! Dasar gila kekuasaan!” Begitu pintu rumah tertutup, Jiang Qianxue langsung memberontak.
“Xiao Xue, jangan bicara seperti itu!” tegur ibunya. “Bagaimanapun, kau tetap harus pergi. Keluarganya baik, orangnya juga katanya bagus. Siapa tahu kalau cocok?”
Jiang Qianxue tersenyum jenaka, “Kalau cocok, ya bareng jadi pembawa acara siaran langsung denganku saja! Aku pergi dulu, ya!” Takut dicegah lagi, ia buru-buru keluar dari vila.
Ibunya hanya bisa menghela napas di belakang, “Anak ini... Mungkin benar, aku terlalu memanjakannya...”
Begitu meninggalkan rumah, Jiang Qianxue merasa seperti burung yang lepas dari sangkar. Tubuhnya ringan seperti layang-layang, segala beban langsung sirna. Meski vila keluarganya luas dan mewah, ia selalu merasa tertekan di sana. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana ibunya bisa bertahan bertahun-tahun.
Ia memesan taksi dan tidak lama kemudian tiba di persimpangan jalan di selatan Jalan Zhonghua, tempat yang sudah ditentukan sebagai lokasi berkumpul.
Jiang Qianxue merasa agak bersemangat. Biasanya ia selalu siaran sendiri, tetapi kali ini memilih ikut rombongan karena ia sama sekali buta soal hewan peliharaan dan khawatir tidak bisa menangkap inti masalah jika sendirian.
Di sebelah barat persimpangan terdapat sebuah patung, konon menggambarkan tokoh ternama dari zaman dahulu di Binhai, namun ia tidak terlalu memedulikan detail itu. Yang penting, tempat ini mudah dikenali dan sering dipilih sebagai titik temu oleh orang-orang yang belum saling mengenal.
Saat itu, di bawah patung sudah ada dua kelompok orang.
Kelompok pertama hanya terdiri dari dua orang, salah satunya sibuk memeriksa ponsel. Sepertinya mereka bertemu untuk transaksi ponsel bekas, jadi bisa diabaikan.
Kelompok kedua berjumlah empat orang.
Ia pun berjalan mendekat dan bertanya, “Permisi, apa ini kelompok pertama Penjelajahan Qiyuan?”
Keempat orang itu sedang asyik mengobrol sambil sesekali melihat jam di ponsel. Begitu mendengar pertanyaannya, mereka serempak menoleh.
Jiang Qianxue adalah gadis muda yang ceria dan penuh pesona. Penampilannya sangat cocok dengan citra pembawa acara luar ruangan: sepatu olahraga, celana jeans, ransel, dan jaket hoodie. Gaya yang sederhana namun energik, membuat orang langsung terkesan.
Seorang laki-laki berkacamata terkejut dan berseru, “Kamu pembawa acara Xiao Xue, ya? Aku pernah menonton siaran langsungmu!”
Jiang Qianxue sudah sering mengalami hal seperti ini. Ia langsung tersenyum ramah, “Benar, itu aku. Halo!”
Laki-laki itu tampak sangat senang, “ID-ku di ruang siaran dan forum sama, ‘Kepala Suku Tebing Petir’. Aku juga pernah mengirim hadiah untukmu!”
Jiang Qianxue tidak terlalu mengingat ID itu, tetap saja ia mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Di sampingnya, seorang pria berjaket santai dan celana bahan, usianya sekitar tiga puluh tahun, bertanya heran, “Pembawa acara, ya?”