Bab Pertama: Asal-Usul Keluarga dan Tugas Pertama
Karena tidak puas dengan keputusan ayahnya yang memilih sang adik sebagai pewaris, sang kakak membunuh sahabatnya sendiri dan membangkitkan mata Sharingan Kalidoskop. Meskipun kemudian menyerang Ninshu, ia berhasil dihentikan oleh adiknya. Setelah itu, Indra sang kakak yang melarikan diri mendapatkan dukungan dari sebagian pengikut Ninshu dan mendirikan sebuah sekte bernama ajaran Shinobi, lalu memulai perseteruan selama puluhan tahun dengan Ninshu milik adiknya. Kedua organisasi itu baru bubar setelah keduanya meninggal dunia akibat ketiadaan pewaris yang kuat. Anggota-anggota yang tercerai-berai itu pun tidak lenyap begitu saja; mereka terikat oleh pertalian darah dan membentuk keluarga demi keluarga.
Di antara mereka, keturunan sang adik, Ashura, menamai marga mereka berdasarkan teknik terkuat milik Ashura, yaitu Klan Senju dari Hutan. Sementara itu, keturunan sang kakak, Indra, menamai klan mereka berdasarkan senjata terkuat yang dimiliki Indra semasa hidup, yaitu Klan Uchiha. Pria muda itu berkata, "Beginilah asal-usul Klan Uchiha kita."
"Begitu ya! Jadi kita ini keturunan Petapa Enam Jalan!" ucap gadis kecil itu dengan penuh antusias. "Kukira beliau hanyalah tokoh dalam legenda."
Melirik sekilas ke arah gadis kecil itu, pria tersebut menatap batu bertuliskan di hadapannya dan berujar, "Batu ini adalah prasasti peninggalan Petapa Enam Jalan yang memuat ratapan kepedihan, isinya hanya bisa dibaca oleh mereka yang memiliki mata Sharingan." Sampai di sini, nada bicara pria itu berubah menjadi serius. "Izuna, sebenarnya ayah tidak ingin kau terlalu cepat bersentuhan dengan prasasti ini. Namun, kau yang sejak lahir telah memiliki Sharingan bermata tiga tentu tidak bisa diperlakukan sama seperti anak-anak berusia enam tahun lainnya. Sebagai anggota Klan Uchiha, saat kau bersentuhan dengan prasasti ini, kau juga harus memikul tanggung jawab sebagai bagian dari klan kita."
"Izuna, jangan buat semua orang kecewa!"
Gadis kecil bernama Izuna mengalihkan pandangannya dari prasasti tersebut. Sepasang Sharingan bermata tiganya saling menatap lekat dengan Sharingan bermata tiga milik sang ayah. Ia membungkuk lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Ayah, aku tidak akan mengecewakan harapan para anggota klan!"
Mendengar kata-kata itu, sang pria menampilkan senyuman lega. Ia menepuk kepala Izuna, lalu berbalik dan pergi, membiarkannya seorang diri.
……
Keesokan harinya, gadis itu duduk di koridor kayu rumahnya sambil melamun menatap matahari yang perlahan naik ke peraduan.
"Tok... tok... tok..." Suara langkah kaki yang terburu-buru memecah lamunan Izuna. Melihat siapa yang datang, sang gadis tanpa sadar memasang senyuman di wajahnya.
"Hah... hah... hah..." Bocah lelaki yang berlari kearah Izuna berhenti tepat di sampingnya, lalu berkata dengan nada tergesa-gesa, "Kakak, aku dengar dari ayah bahwa besok kakak akan mulai menjalankan misi?"
Izuna menepuk lantai koridor di sisinya, memberi isyarat agar adiknya duduk, lalu berkata, "Benar, tidak salah! Mulai besok aku sudah harus menjalankan misi."
"Kenapa!?" Bocah lelaki itu memukul lantai dengan kesal. "Kakak baru berusia enam tahun, kenapa sudah boleh menjalankan misi seperti orang dewasa!?"
Mendengar perkataan sang adik, Izuna tersenyum kecil dan berkata, "Madara, tentu saja karena Kakak sangat hebat, makanya diakui oleh para anggota klan!"
Madara mendengus sambil memanyunkan bibirnya, lalu berseru, "Huh! Aku mau bilang pada ayah, aku juga ingin ikut menjalankan misi bersama Kakak!"
Meraih lengan Madara yang hendak bangkit berdiri, Izuna berkata, "Menyerahlah, Ayah tidak mungkin menyetujui permintaan egois semacam itu."
"Kenapa? Aku hanya lahir beberapa menit lebih lambat dari Kakak, kenapa Kakak boleh melakukan misi seperti orang dewasa, sedangkan aku tidak?"
Mendengar itu, Izuna memejamkan kedua matanya, menggenggam tangan kecil Madara, dan berucap, "Tidak, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan usia, Madara. Seseorang yang memiliki kekuatan yang diakui oleh klan secara alami akan diperlakukan seperti orang dewasa. Tanggung jawab dan kekuatan selalu berjalan berdampingan, dan terlalu dini mengenal dunia luar bukanlah hal yang baik."
"Tidak!" Madara serta-merta melepaskan genggaman tangan Izuna, membuang muka dengan sikap ngambek, lalu berkata dengan nada kecewa, "Aku juga ingin lekas menggunakan kekuasaanku untuk melindungi Kakak dan adik-adik kita."
Melihat punggung adiknya yang berpaling, Izuna dapat membayangkan rupa ekspresi yang sedang ia tunjukkan saat ini. Memikirkan hal itu, ia tiba-tiba tersenyum, melingkarkan lengannya ke leher Madara, menariknya hingga jatuh ke pangkuannya, lalu berkata, "Madara... hari ini... Kakak akan menemanimu berlatih teknik shuriken, bagaimana?"
"Tidak mau! Tiba-tiba aku tidak berminat." Madara memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan Izuna, dan berkata dengan nada tak bersemangat.
"Madara... merajuk seperti itu tidak akan membuatmu diakui oleh klan. Jika ingin mendapatkan pengakuan semua orang, kau harus menunjukkan kekuatan yang membuat mereka tunduk padanya," bujuk Izuna.
"Huh! Ti... dak mau!"
"Benar-benar tidak mau? Nanti kalau Kakak sudah punya misi, waktu untuk berlatih bersamamu akan menjadi sangat sedikit lho." Izuna berkata dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu aku akan minta Ayah mengajariku."
"Tapi teknik shuriken milikku lebih hebat daripada milik Ayah, kan?" Usai berkata demikian, Izuna melompat turun dari koridor, menarik lengan Madara, "Ayo pergi! Anggap saja Kakak memohon pada Madara, ya?"
Madara yang lengannya ditarik oleh Izuna memasang wajah angkuh seraya berkata, "Ini kan kata Kakak sendiri."
"Iya... iya..." Suara kedua kakak beradik itu perlahan-lahan menjauh dan akhirnya menghilang.
……
Malam harinya, setelah merampungkan sesi latihan tanding, Izuna menggendong Madara pulang ke rumah. Baru saja ia membaringkannya di atas tempat tidur dan menyelimutinya, terdengar suara ketukan di pintu.
"Tok... tok... tok..." Ayah Izuna, seorang pria bernama Uchiha Tajima, membuka pintu kayu tersebut dan melihat kedua anaknya di dalam kamar, lalu memberi isyarat tangan agar Izuna mendekat.
Izuna menganggukkan kepalanya, bangkit berdiri menuju meja lilin, dan meniup api lilin tersebut. Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan, hanya menyisakan cahaya bulan dari langit malam yang menembus celah daun pintu menyinari kamar. Menatap sekilas Madara yang sudah tertidur lelap, Izuna dengan lembut menutup pintu kayu itu.
Sepanjang perjalanan, ayah dan anak itu sama sekali tidak bersuara. Izuna mengikuti langkah kaki Uchiha Tajima hingga tiba di ruang kerjanya.
"Buka dan lihatlah!" Uchiha Tajima menyerahkan sebuah pedang pendek ke hadapan Izuna.
Izuna yang duduk bersila di depan meja dengan penuh rasa hormat menerima pedang pendek tersebut, lalu perlahan menarik bilah pedangnya keluar dari sarung. "Wah..." Izuna menatap bilah pedang yang berkilau mulus itu, matanya berbinar-binar penuh kagum.
"Cantik sekali!" serunya. Selepas berkata demikian, ia berdiri dan mengayun-ayunkan pedang pendek itu dengan kedua tangannya, memperagakan serangkaian jurus tikaman yang indah.
Uchiha Tajima menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya dan bertanya, "Suka? Ini adalah senjata yang secara khusus ditempa oleh Ayah untuk misi pertamamu."
Izuna buru-buru mengangguk. "Suka! Terima kasih, Ayah!" Ia lantas kembali duduk bersila di depan meja. Melihat sebuah gulokan perkamen yang tergeletak di atas meja, ia bertanya, "Ini...?"
"Buka dan lihatlah," ujar Uchiha Tajima. "Ini adalah informasi mengenai misimu kali ini..."
Mendengar hal itu, Izuna membuka gulungan tersebut, secara refleks mengaktifkan Sharingannya, dan merekam paksa isi yang tertera di dalam gulungan itu.
"Kali ini, sebagai misi pertamamu, aku akan membiarkan seorang senior dari klan pergi bersamamu." Sampai di sini, Uchiha Tajima tampak ragu-ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Kau sudah pintar sejak kecil, apa yang harus kulakukan selanjutnya tidak perlu kujelaskan panjang lebar lagi, pergilah!"