Bab Seratus Tiga Belas: Bai Xueyue
"Apakah kau Naga Hitam Bermata Merah?" Bai Suzhen turun dari udara dan mendarat di depan gadis itu, lalu bertanya dengan raut wajah yang cukup terkejut.
Namun, sebelum gadis itu sempat menjawab, Xu Xian dengan panik menarik Bai Suzhen menjauh dan berkata dengan serius, "Dinda, berhati-hatilah. Jangan sampai tertipu."
"Aku tidak akan menyakiti Kakak," ujar gadis penjelmaan Naga Hitam Bermata Merah itu. Ia menundukkan kepala dengan perasaan sedih, sambil menutup lukanya yang terus mengeluarkan darah dengan tangan.
"Suamiku, lihatlah, dia sudah terluka parah dan tidak mungkin bisa mencelakaiku." Bai Suzhen melepaskan genggaman tangan suaminya, lalu bergegas menghampiri gadis itu dan berseru, "Xiao Qing, cepat bawa obat penyembuh kita ke sini!"
"Ah!" Xiao Qing tertegun. Jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa takut jika gadis kecil ini tiba-tiba berubah kembali menjadi Naga Hitam Bermata Merah yang ganas dan menakutkan.
"Cepatlah!" desak Bai Suzhen.
Xiao Qing mau tidak mau menoleh ke arah Xu Xian. Xu Xian menghela napas, dengan pasrah melambaikan tangan sebagai isyarat agar Xiao Qing segera pergi.
Naga Hitam Bermata Merah itu menatap sorot mata Bai Suzhen yang penuh kasih dan kekhawatiran. Di dalam bola matanya yang merah darah, terpancar rasa terima kasih yang mendalam. Ia berbisik pelan, "Terima kasih, Kakak."
Bai Suzhen tersenyum tipis, menerima pil putih yang menebarkan aroma obat samar dari tangan Xiao Qing, lalu menyuapkannya dengan lembut ke mulut Naga Hitam Bermata Merah. Sesaat kemudian, setelah kilatan cahaya berpendar, luka di tubuh naga itu mulai pulih dengan kecepatan yang bisa dilihat dengan mata telanjang.
Melihat pemandangan itu, Xu Xian tiba-tiba menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggung. Sebuah pagoda emas sembilan tingkat yang kecil dan indah muncul, bersiap sedia jika gadis itu tiba-tiba melancarkan serangan.
Tak lama kemudian, luka yang diderita sang naga telah pulih tiga puluh hingga empat puluh persen, dan kondisinya tampak jauh lebih segar. Tepat pada saat itu, tanda ekor melengkung di antara kedua alisnya tiba-tiba memancarkan cahaya merah, dan setetes darah biru yang aneh melesat masuk ke dalam tubuh Bai Suzhen.
"Keparat, apa yang kau lakukan!"
Melihat itu, Xu Xian sangat murka. Pagoda sembilan tingkat yang memancarkan wibawa abadi melesat keluar dengan suara menderu. Gelombang emas yang tak terbatas menyapu ke segala arah, menekan dengan wibawa tertinggi, sementara untaian rune emas kuno yang misterius menyerang gadis kecil itu dengan ganas.
"Jangan, Kakak!" Tiba-tiba Pudding menghalangi di depan gadis kecil itu dengan wajah penuh keterkejutan.
"Apa kau sudah gila?" Xu Xian segera menahan kekuatan sihirnya dan berteriak keras.
"Kakak, kau salah paham. Dia tidak melukai Kakak Ipar," jelas Pudding singkat. Ia menoleh ke arah Naga Hitam Bermata Merah dan berseru kagum, "Jika aku tidak salah duga, itu tadi adalah sumpah darah, bukan?"
Gadis kecil itu mengangguk pelan, "Benar!"
Pudding menatap dengan terkejut, "Mengapa kau melakukan itu? Ini sama saja dengan menghubungkan nyawamu dengan Kakak Ipar. Jika sesuatu terjadi pada Kakak Ipar di masa depan, kau juga tidak akan selamat."
Wajah gadis kecil yang manis dan rupawan itu menunjukkan senyum tulus, "Sejak lahir, karena penampilanku berbeda dari saudari-saudari yang lain, Ibu membuangku di tempat ini. Kemudian, seorang kakak perempuan yang sangat hebat memberiku pencerahan. Aku sudah berada di sini hampir seribu tahun. Karena penghalang itu, aku tidak pernah bisa keluar. Kakak adalah orang pertama yang memperlakukanku dengan begitu baik. Tadi dia bisa saja membunuhku, tapi dia tidak melakukannya. Nyawaku ini memang sudah menjadi milik Kakak."
Mendengar itu, Bai Suzhen merasa terharu sekaligus iba. Ia segera memeluk gadis kecil itu ke dalam dekapannya dan menegur lembut, "Mengapa kau sebodoh ini? Kakak tidak membutuhkanmu melakukan hal seperti itu."
Setelah berkata demikian, ia melirik tajam ke arah Xu Xian yang berada tidak jauh darinya.
Xu Xian tersenyum getir dan dengan canggung memanggil kembali pagoda emasnya, lalu berjalan mendekat sembari menatap Pudding dengan kesal, "Kenapa kau tidak mengatakannya lebih awal?"
"Aku juga tidak menyangka dia akan mengambil keputusan seperti itu," jawab Pudding seraya mengangkat bahu tak berdaya.
Xu Xian menatap Naga Hitam Bermata Merah yang masih tampak sedikit takut padanya, lalu berkata dengan nada menyesal, "Maafkan aku, tadi Kakak terlalu gegabah."
Naga Hitam Bermata Merah menggelengkan kepala, "Tidak apa-apa, aku tahu kau juga mengkhawatirkan Kakak dan takut dia terluka."
Xu Xian tersenyum puas dan bertanya dengan lembut, "Apakah kau punya nama?"
"Aku tidak punya nama," jawab Naga Hitam Bermata Merah sambil menunduk.
"Bagaimana kalau Kakak berikan satu nama untukmu?" tanya Bai Suzhen tiba-tiba.
"Benarkah?" Wajah Naga Hitam Bermata Merah bersinar karena kegirangan.
Bai Suzhen mengangguk. Setelah berpikir sejenak, ia tersenyum, "Karena kau adalah Naga Hitam Bermata Merah yang paling dingin di dunia, mari kita ambil karakter 'Salju'. Karena kau sudah menjadi adikku, maka kau harus mengikuti margaku. Bagaimana kalau begini, mulai hari ini namamu adalah Bai Xueyue. Kakak berharap kau bisa hidup dengan bahagia selamanya, bagaimana?"
"Bai Xueyue, Bai Xueyue..." Naga Hitam Bermata Merah mengulanginya beberapa kali, lalu air mata menetes dari matanya, "Terima kasih, terima kasih Kakak. Mulai sekarang namaku adalah Bai Xueyue."
"Haha, bagus. Ini adalah akhir yang paling indah," ujar Xu Xian dengan gembira.
Setelah peristiwa pemberian nama itu, hubungan mereka menjadi jauh lebih akrab. Pudding bahkan terbang hingga hinggap di bahu Bai Xueyue sambil memegang lehernya sendiri dan tertawa, "Gigitanmu tadi hampir saja mematahkan leherku."
"Masih berani bicara, kepalan tanganmu berat sekali, dan lagi mengandung petir. Sekarang seluruh tubuhku masih terasa sakit," ujar Bai Xueyue dengan bibir mengerucut.
"Kalian ini bisa dibilang tidak kenal maka tidak sayang. Perkenalkan, aku adalah pria tertampan nomor satu di dunia yang digilai banyak wanita, Jin Shuaishuai. Panggil saja aku Tampan," ujar Jin Shuaishuai sembari menyibakkan rambutnya dan menjulurkan tangan, membentuk pose yang menurutnya paling keren.
Bai Xueyue menatapnya sejenak, lalu berkata dengan polos, "Konstitusi tubuhmu cukup bagus, tapi kekuatanmu benar-benar lemah sekali. Aku hanya perlu mengembuskan napas untuk melenyapkanmu."
Mendengar itu, Jin Shuaishuai segera tersentak kaget dan mundur beberapa langkah dengan wajah ketakutan.
"Haha!" Semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kita harus masuk ke Mata Air Spiritual. Xueyue, apakah kau pernah masuk ke sana?" Xu Xian menunjuk ke arah mulut gua yang tidak jauh di depan.
"Tentu saja pernah. Jika bukan karena mata air spiritual di dalamnya, aku tidak akan memiliki kekuatan seperti sekarang. Kakak, ayo aku antar ke bawah," ujar Bai Xueyue bangkit berdiri dan langsung melompat ke dalam lubang gua.
"Ayo kita susul," ujar Xu Xian dan rombongannya segera mengikuti.
Mulut gua itu sangat dalam. Saat perlahan mendekati dasar, hembusan energi spiritual murni yang luar biasa kental menyambut mereka. Setelah menghirupnya sedikit, mereka langsung merasa segar bugar. Xu Xian dan Bai Suzhen saling bertukar pandang dengan takjub.
"Kakak, cepatlah!" teriak Bai Xueyue dari bawah.
Setelah Xu Xian dan rombongannya mendarat, mereka menemukan bahwa dasar gua itu cukup luas, mirip seperti lapangan latihan. Di sekelilingnya terdapat beberapa lorong yang menjulur ke berbagai arah. Namun, yang paling menarik perhatian adalah sebuah kolam di tengah dasar gua yang airnya putih jernih seperti susu. Energi spiritual yang melimpah terus memancar darinya, dan aroma yang sangat harum membuat siapa pun ingin segera mencicipinya.
Bai Xueyue bertanya dengan heran, "Aneh, saat aku datang tiga ratus tahun lalu, air mata air ini masih bening dan tembus pandang."
"Jangan-jangan sudah basi?" celetuk Jin Shuaishuai.
"Basi kepalamu! Ini adalah Mata Air Spiritual Sepuluh Ribu Tahun yang sangat langka di dunia!" teriak Pudding dengan sangat antusias.