Bab Empat Belas: Pertemuan Para Saudari (Mohon Dukungannya dan Rekomendasinya)
Ye Yu sempat tertegun, lalu sedikit malu menundukkan kepala. “Kakak Xu, kau terlalu memujiku. Mana mungkin aku punya kemampuan seperti bendahara Xu!”
Xu Xian hanya tersenyum samar, tak berkata apa-apa lagi. Ia sangat menyadari perbedaan di antara mereka berdua.
Saat itu, Xu Sandé menaiki tangga dari lantai bawah. Di dahinya masih meneteskan keringat, namun raut wajahnya tampak sangat bersemangat.
“Tuan Muda, semuanya sudah kuatur dengan baik,” ujar Xu Sandé dengan hormat.
“Bagus!” Xu Xian mengangguk puas.
“Tuan Muda, aku sudah selesai!” Tiba-tiba Li Changsheng naik tergesa-gesa membawa sebuah piring putih yang masih mengepulkan asap panas.
Xu Xian melirik ke arah piring itu. Di atasnya, tersusun rapi makanan berbentuk kotak yang dibungkus dengan daun ketumbar berwarna hijau. Makanan itu memiliki tiga lapisan warna: bagian luar hijau segar dari daun ketumbar, lapisan tengah putih lembut, dan lapisan terdalam berwarna kuning kecoklatan seperti saus. Hanya dari penampilannya saja, makanan itu sudah terlihat sangat menggugah selera.
“Tidak buruk. Apa nama hidangan ini?” tanya Xu Xian penasaran.
“Tuan Muda, hidangan ini bernama ‘Burung Phoenix Berbaju Emas’, bahan utamanya daging bebek, dipadukan dengan rebung musim dingin, jamur wangi, dan ketumbar,” jawab Li Changsheng dengan bangga.
“Ye Yu, coba cicipi,” perintah Xu Xian.
“Baik!” Ye Yu segera mengangguk, mengambil sumpit lalu menjepit satu potong. Begitu masuk ke mulutnya, ia langsung terkejut, “Enak sekali! Bagian luar renyah, dalamnya lembut, rasanya gurih dan segar. Ini pertama kali aku makan masakan seenak ini.”
Mendengar pujian itu, Li Changsheng yang semula tegang langsung bernapas lega dan tersenyum lebar.
“Tuan Muda, keahlian memasak Kakak Li memang luar biasa. Dulu karena jumlah juru masak terlalu sedikit, dia kewalahan, jadi cita rasa masakan pun menurun,” Xu Sandé ikut membela Li Changsheng.
Xu Xian tertawa kecil dan mengangguk, lalu menatap Li Changsheng yang tampak penuh harap. Dengan suara lembut ia berkata, “Tetaplah di sini. Mulai sekarang kau jadi kepala juru masak, gajimu dua puluh tael perak sebulan.”
“Terima kasih, Tuan Muda!” Li Changsheng sangat gembira mendengar keputusan itu.
Xu Xian melambaikan tangannya, “Ini adalah hasil dari kemampuanmu sendiri. Tapi jangan cepat puas, kau harus bekerja lebih giat lagi. Bukankah sudah kubilang, selain gaji, masih ada bonus khusus nantinya.”
“Baik, baik, tenang saja Tuan Muda! Aku pasti akan berusaha membuat masakan yang lebih lezat lagi,” janji Li Changsheng penuh semangat.
“Bagus!” Xu Xian tersenyum, lalu menoleh pada Xu Sandé. “Sandé, uang sudah aku berikan. Dalam seminggu harus sudah ada hasil. Mengerti?”
“Mengerti. Besok aku langsung hubungi tukang renovasi,” jawab Xu Sandé dengan tegas.
“Selain itu, nama rumah makan ini juga sudah kupikirkan. Mulai sekarang namanya ‘Gedung Dewa Putih’,” Xu Xian mengumumkan dengan suara pelan.
“Gedung Dewa Putih!” Xu Sandé mengulang beberapa kali, lalu memuji, “Nama yang bagus! Tamu yang datang ke sini seolah akan naik ke langit di siang bolong, sangat mewah dan penuh aura spiritual.”
Mendengar itu, Xu Xian tertawa lepas. Makna sebenarnya dari ‘Gedung Dewa Putih’ mungkin hanya ia sendiri yang tahu.
...
Di sebuah gunung tinggi berhutan lebat di luar Hangzhou, tiba-tiba semburat cahaya putih berkilat. Seorang perempuan luar biasa cantik, berpakaian sutra putih, berwajah jelita, berpenampilan anggun dan bersih, laksana bunga teratai yang baru mekar, muncul di tengah hutan. Saat menengadah, tampak jelas bahwa dia adalah Bai Suzhen, yang telah lama meninggalkan Gunung Li untuk mencari orang yang pernah menolongnya.
“Sepertinya aku sudah hampir sampai di Hangzhou,” Bai Suzhen tersenyum tipis, matanya menatap kejauhan. Ia mengibaskan lengan bajunya, bersiap terbang ke angkasa, namun tiba-tiba sehelai pita hijau melesat dari kejauhan dan melilit tubuhnya.
“Perempuan secantik ini, sebaiknya kau tinggal di sini menemaniku!” terdengar suara nakal menggoda. Dari balik semak di kejauhan, muncul seorang pemuda tampan mengenakan pakaian hijau, dengan senyum nakal di wajahnya.
Bai Suzhen menatapnya lembut, “Untuk apa seperti ini? Kita tidak saling mengganggu, bukankah itu lebih baik?”
“Asal kau mau tinggal, tentu saja semuanya akan baik-baik saja,” jawab pemuda itu sambil tersenyum.
Bai Suzhen menggeleng pelan, tubuhnya bergetar ringan, lalu kekuatan sihirnya yang besar meledak, membuat pita hijau itu langsung hancur berkeping.
Pemuda tampan itu terpaksa mundur beberapa langkah, terkejut, “Ternyata kau juga seorang ahli.”
“Aku tidak ingin melukaimu. Sampai di sini saja, selamat tinggal,” Bai Suzhen membungkukkan badan, lalu berubah menjadi cahaya putih dan melesat ke langit.
“Jangan harap bisa lari!” Melihat ini, pemuda itu berputar cepat dan berubah wujud menjadi ular piton raksasa berwarna hijau. Lidahnya menjulur, menunggangi awan, dan mengejar Bai Suzhen.
Bai Suzhen menoleh, sedikit terkejut, “Ternyata kau juga sejenis denganku.”
“Hentikan langkahmu!” Ular hijau itu menerjang ke arah Bai Suzhen dengan cepat.
Bai Suzhen berkelit dengan lincah, raut wajahnya berubah dingin, “Kalau kau masih memaksa, jangan salahkan aku.”
“Petir di Telapak Tangan!” Mendadak, di tangan kanannya muncul kilat perak yang menyilaukan, mengandung aura langit yang menggentarkan. Menatap ular hijau yang menyerang, ia mengayunkan tangannya.
Ular hijau itu langsung tersambar kilat, menjerit kesakitan, darah segar menetes ketika tubuhnya jatuh ke tanah dan berubah kembali menjadi manusia. Sebilah pedang indah bercahaya putih sudah menempel di antara alisnya, nyawanya berada di ujung tanduk.
“Kau baru mencapai tingkat Jin Dan, masih jauh untuk menjadi lawanku,” ujar Bai Suzhen seraya mengibaskan lengan bajunya, lalu pedangnya kembali ke tubuhnya.
“Mengapa kau tidak membunuhku?” tanya pemuda itu heran.
“Kita tidak pernah bermusuhan. Untuk apa harus saling membunuh? Jaga dirimu baik-baik,” Bai Suzhen tersenyum lembut, berbalik hendak pergi.
“Tunggu!” Tiba-tiba tubuh pemuda itu berpendar cahaya, berubah menjadi seorang gadis manis dan lincah. Meski tak secantik Bai Suzhen, ia tetap termasuk gadis yang sangat menawan.
“Kau perempuan?” Bai Suzhen agak terkejut.
“Benar, Kakak. Terima kasih telah mengampuni nyawaku. Aku, Xiao Qing, ingin mengikutimu seumur hidup,” kata gadis itu dengan hormat.
“Bagus, bagus. Benar, kita memang berjodoh. Lihat ini!” Bai Suzhen berputar dan memperlihatkan wujud aslinya, seekor ular putih raksasa yang memancarkan cahaya emas muncul di hadapan Xiao Qing.
“Ternyata Kakak juga seekor ular!” Xiao Qing berseru gembira.
“Benar.” Bai Suzhen kembali ke wujud manusianya, tersenyum, “Karena itu kubilang kita berjodoh.”
“Kakak, terimalah aku,” Xiao Qing membungkuk lagi dengan penuh rasa hormat dan harap.
“Adikku, tak perlu sungkan,” Bai Suzhen mengangkatnya dengan lembut.
“Kakak, kau mau ke mana?” tanya Xiao Qing penasaran.
“Aku hendak ke Hangzhou mencari orang yang pernah menolongku,” jawab Bai Suzhen jujur, lalu menceritakan pesan gurunya pada Xiao Qing.
“Oh, begitu. Kalau begitu, aku ikut, Kakak. Kalau dia lelaki baik, tak masalah. Kalau dia lelaki durhaka, akan kupukuli dia!” Xiao Qing mengepalkan tinju, tampak lucu dan menggemaskan.
Bai Suzhen menutup mulutnya sambil tersenyum, menggandeng tangan Xiao Qing, “Ayo, kita berangkat!”
“Siap!” Xiao Qing mengangguk semangat.
Keduanya pun berubah menjadi dua berkas cahaya, satu putih satu hijau, melesat cepat menuju Hangzhou.