Bab 36: Pasangan Sempurna
Meskipun hari ini mereka membuat satu ember lebih banyak, namun penjualannya justru lebih cepat dibanding kemarin. Hanya butuh satu setengah jam, tiga ember besar sup pedas sudah ludes terjual. Beberapa orang yang tak kebagian tampak kecewa.
Nyonya Tua Ye tersenyum dan berkata, "Maaf ya, hari ini sudah habis terjual. Besok datang lebih pagi, ya." Barulah kerumunan itu perlahan bubar dengan perasaan kecewa.
Ye Caiping sedang membereskan meja ketika seorang pria paruh baya bertubuh agak gemuk mendekat, sambil meletakkan mangkuk bekas makannya di depan Ye Caiping.
"Terima kasih sudah membeli," katanya.
"Eh, bukankah kau gadis penjual ginseng itu?" tanya pria gemuk itu. Ye Caiping segera mengenalinya; dia adalah pengelola toko obat Ping’an yaitu Fang, yang pernah membeli ginseng darinya. "Benar, itu aku," jawabnya.
"Sup pedas ini benar-benar enak. Pakai lada Sichuan dan merica hitam, ya?" tanya Pengelola Fang.
Gerakan Nyonya Tua Ye dan kedua bersaudari Jin’er yang sedang merapikan mangkuk langsung terhenti, wajah mereka sedikit berubah.
Namun Ye Caiping mengangguk tanpa ragu, "Ya, kata 'pedas' di sini memang merujuk pada merica."
"Oh, Nona benar-benar pintar dan kreatif, bisa memanfaatkan rempah-rempah sebagai bahan makanan. Besok aku pasti datang lagi untuk menikmatinya."
"Baik, terima kasih," jawab Ye Caiping.
Setelah Pengelola Fang pergi, Nyonya Tua Ye dan kedua bersaudari Jin’er segera mendekat dengan wajah tegang.
Nyonya Tua Ye berbisik, "Caiping, apa dia sudah tahu rahasia resep kita?"
Padahal ia sendiri tidak tahu apa itu lada Sichuan dan merica hitam.
Ye Caiping menjawab, "Tadi malam, masakan sawi putih yang dimasak kakak iparmu, Ibu bisa tahu bahan apa saja yang dipakai?"
Nyonya Tua Ye tertegun, sementara Huan’er buru-buru menjawab, "Pakai lemak babi yang sudah digoreng!"
"Apa lagi? Sebutkan semuanya."
"Hmm... yang pasti sawi putih dan lemak babi, lalu garam, minyak babi, dan kecap asin."
Jin’er menambahkan, "Aku juga merasakan asam, jadi pasti ditambah cuka."
Ye Caiping mengangguk, menatap Nyonya Tua Ye, "Lihat, itu saja sudah jelas, kan? Semua orang punya indra perasa. Bahan apa yang dipakai, sebagian besar bisa ditebak. Sup pedas ini juga begitu."
"Tapi... kita sendiri saja tidak tahu semua bubuk rempah yang kau pakai..." Nyonya Tua Ye mengerutkan kening.
Ye Caiping tersenyum, "Itu karena Ibu bukan tabib. Meski orang biasa tak kenal rempah, tapi para pengelola toko obat, pelayan, tabib, atau pencari obat, sekali cicip biasanya mereka bisa menebak sebagian."
"Lalu... bukankah resep rahasia sup pedas kita akan bocor?" Nyonya Tua Ye benar-benar khawatir, begitu pula kedua bersaudari Jin’er.
Ye Caiping berkata, "Mereka mungkin bisa menebak sebagian besar, apalagi rasa merica dan lada Sichuan yang sangat kentara, sekali cicip langsung tahu. Tapi masih ada belasan rempah lain, bahkan orang dengan indra perasa tajam sekalipun tak akan bisa menebak semuanya."
"Lagipula, meski semua bahan bisa ditebak, ada lagi masalah takaran. Itu tidak mudah didapat hanya dari rasa. Selain itu, setiap orang punya selera berbeda. Sama-sama masak sawi putih, hasil rasa tiap orang juga beda."
"Ada yang rasanya hambar, ada yang enak sekali. Jadi, tak perlu khawatir."
Mendengar penjelasan itu, Nyonya Tua Ye dan kedua bersaudari baru bisa bernapas lega.
Nyonya Tua Ye pun tersenyum, "Benar juga, aku memang terlalu khawatir."
"Eh, kalian lagi ngobrol apa?" Tiba-tiba Bibi Gemuk dari lapak sebelah datang dengan senyum lebar, membawa sepiring bakpao daging di tangannya. "Ayo, makan bakpao."
Jin’er dan Huan’er tertegun, memandangnya dengan curiga. Dua hari ini, mereka tahu persis betapa besar permusuhan Bibi Gemuk itu. Kini, tiba-tiba ia membawakan bakpao?
Suami Bibi Gemuk ikut tersenyum, "Hari ini benar-benar berkat kalian, jualan mantou dan cakwe kami habis dalam satu jam! Biasanya sampai siang pun belum tentu laku semua."
Ye Caiping tertawa, "Sup pedas memang cocok dipadukan dengan cakwe! Tentu saja mantou dan bakpao juga enak."
Suami Bibi Gemuk tiba-tiba teringat ucapan Ye Caiping kemarin, saat itu Ye Caiping bilang beberapa hari lagi dagangan mereka pasti makin laris. Dulu ia kira itu hanya basa-basi, siapa sangka baru keesokan harinya dagangannya langsung laris!
Semua itu berkat sup pedas!
"Adik, jangan salahkan Kakak, kemarin aku memang keterlaluan. Ini hadiah permintaan maaf dan ucapan terima kasih, mohon maafkan aku, ya."
Bibi Gemuk memang tipe orang yang berterus terang, cepat marah, tapi juga mudah memaafkan. Kalau sedang marah, ia benar-benar kesal, tapi kalau harus berterima kasih, ia bisa melupakan dendam lama dan tulus mengucap terima kasih.
Ye Caiping pun menerima, "Baik, terima kasih banyak."
Bibi Gemuk dan suaminya melambaikan tangan lalu kembali ke lapak mereka. Mereka masih punya setengah ember bubur beras merah, berharap sebelum siang bisa habis terjual.
Ye Caiping membagikan bakpao daging itu pada Nyonya Tua Ye dan kedua saudari.
Nyonya Tua Ye menjilat bibir lalu tersenyum, "Kemarin sudah makan, hari ini tidak usah. Aku bawa pulang saja untuk Yong'er dan yang lain."
Jin’er dan Huan’er sebenarnya ingin makan, namun teringat anggota keluarga di rumah belum pernah mencicipi, mereka pun mengembalikan bakpao itu ke piring.
Jin’er berkata, "Saudara sepupu dan kakak sepupu kita belum pernah makan, biar untuk mereka saja."
Ye Caiping tersenyum, "Tak apa, kalian makan saja! Nanti aku beli lagi beberapa, supaya semua di rumah bisa mencicipinya. Hari ini kita tutup lebih awal, Paman Delapan masih di kota, nanti kita minta dia antar pulang lebih cepat."
"Baik!"
"Kalian bereskan lapak, aku mau belanja dan menjemput dia."
Selesai berkata, Ye Caiping pun pergi dengan keranjang di punggung.
Suasana di kota saat itu sedang ramai-ramainya. Di jalan, Ye Caiping membeli dua puluh bakpao daging, sepuluh mantou, empat belas potong permen bunga osmanthus, dan lima kilogram daging perut babi.
Setelah berpikir sejenak, ia mampir ke toko gerabah lalu membeli satu panci tanah liat besar. Barulah ia pergi mencari Paman Delapan.
Di lapangan tempat kereta sapi diparkir, Paman Delapan terlihat sedang bersandar di kereta sambil menguap. Melihat Ye Caiping datang, ia sedikit terkejut.
"Caiping, kenapa ke sini? Ada apa di lapak, terjadi sesuatu?"
"Tidak kok. Sup pedas sudah habis, ayo antar kami pulang dulu!"
Paman Delapan melihat langit dan bayangan tongkat panjang di kejauhan, matahari masih pagi, sekitar jam sepuluh. Kemarin ia mengantar penduduk desa dulu baru kembali menjemput mereka, sekarang waktunya malah bisa bergantian.
"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!"
...
Di rumah keluarga Ye.
Begitu kereta sapi masuk pelan-pelan ke halaman, Ye Daquan langsung bergegas menyambut, dengan ramah membantu menurunkan barang.
"Wah, ada bakpao juga?" seru Ye Daquan terkejut, melihat keranjang penuh bakpao putih besar dan mantou.
"Itu makan siang kita hari ini," kata Ye Caiping sambil tersenyum, lalu menurunkan panci tanah liat besar.
Di dalamnya penuh dengan bubur beras merah, yang tadi sengaja ia beli di lapak Bibi Gemuk. Memikirkan makan bakpao saja terasa kurang, ia lalu membeli beberapa mantou dan sekaligus membawa satu panci bubur buat makan siang di rumah.