Bab 58: Tertipu olehnya
Kabupaten Yue’an—
Pagi hari, suasana kota begitu ramai, tiga kereta kuda perlahan berhenti di pinggir jalan.
Li Zhiyuan dan delapan hingga sembilan teman sekelas turun dari kereta.
“Tak disangka Guru Chen begitu ramah, bukan hanya mengajak kita makan, tapi juga mengizinkan kita menginap semalam.”
Delapan hingga sembilan orang itu berjalan di jalanan, bercakap-cakap dengan gembira.
“Oh ya.” Pria yang berjalan paling depan berwajah tampan, mengetukkan kipas lipat di sela ibu jarinya, “Pada jam segini, apakah kita bisa mencicipi Sup Pedas?”
“Benar, benar, pasti bisa! Hahaha!” Para pelajar di belakangnya matanya langsung berbinar.
Sup Pedas itu sudah dijual di kota selama setengah bulan, sejak muncul langsung jadi kegemaran seluruh kota.
Sayangnya, setiap hari mereka harus berangkat ke pelajaran pagi lebih awal. Begitu selesai belajar, sup itu sudah habis terjual.
Kalau ingin makan, harus memesan lewat keluarga, atau menunggu hari libur.
“Sekarang masih pagi, kalau segera ke sana mungkin masih kebagian.”
“Ayo!”
Delapan hingga sembilan orang itu melangkah antusias menuju lapak Sup Pedas.
Li Zhiyuan yang berjalan paling pinggir justru memasang wajah muram.
Sup Pedas itu, bukankah itu lapak perempuan hina keluarga Ye?
Ia tahu betul betapa terkenalnya sup itu, teman-teman di akademi yang sudah mencicipi semuanya memuji.
Tapi Jiao-jiao dan Zi Mo sudah pernah mencoba, lalu bilang padanya, rasanya sangat tidak enak, tak mengerti kenapa bisa begitu dibesar-besarkan.
Masakan keluarga Ye sudah ia makan selama empat belas tahun, hanya bisa dibilang biasa saja, mana mungkin Sup Pedas itu bisa enak.
Hmph, perempuan hina keluarga Ye itu masih menunggu-nunggu aku datang ke lapaknya, kalau aku benar-benar ke sana, bukankah itu sama saja membuatnya senang bukan main?
Li Zhiyuan melangkah maju sambil tersenyum, “Sup Pedas itu apanya yang enak, cuma jajanan kaki lima, mana bisa dibandingkan dengan Bubur Emas Perak di Restoran Ruyi. Lebih baik kita ke Restoran Ruyi saja!”
Para pelajar mengernyitkan dahi, tampak kurang senang.
“Hah, entah dari keluarga hartawan mana Tuan Zhiyuan ini, sampai meremehkan jajanan rakyat,” ujar Liu Gaosheng, sarjana miskin yang berasal dari keluarga sederhana.
“Kami semua merasa enak, hanya Zhiyuan saja yang merasa tidak enak, Zhiyuan sebaiknya periksa diri sendiri, barangkali lidahnya bermasalah,” sindir Qian Hai.
Pria yang memimpin rombongan itu menatap Li Zhiyuan dengan ramah, “Kami semua ingin makan Sup Pedas, kalau Zhiyuan tidak suka, boleh pulang duluan.”
Wajah Li Zhiyuan berubah, buru-buru tersenyum, “Tidak, tidak, aku juga ingin makan, hanya saja... belakangan ini terlalu sering makan, jadi ingin coba yang lain.”
Pria itu hanya tersenyum, tak berkata lagi.
Para pelajar yang lain melihat itu, akhirnya memilih diam.
Li Zhiyuan diam-diam menghela napas lega.
Pria itu bernama Zheng Nian, adik ipar bupati setempat.
Dengan status itu, Zheng Nian bisa berbuat sesuka hati di Kabupaten Yue’an.
Namun Zheng Nian berwatak ramah dan berbudi luhur, tak pernah melakukan kejahatan. Selain itu, ia juga sangat berbakat, di usia dua puluh tahun sudah lulus ujian sarjana, bahkan menjadi peringkat pertama.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir ia jatuh sakit, kalau tidak, pasti sekarang sudah lulus ujian tingkat lebih tinggi.
Karena status dan kecerdasannya, Zheng Nian menjadi ketua para pelajar di Akademi Mingyue.
“Kita harus berjalan cepat, kalau tidak nanti kehabisan,” kata Qian Hai.
“Sayang hanya ada di pagi hari, andai malam juga ada pasti lebih baik,” ujar Zheng Nian.
Li Zhiyuan tertegun, tiba-tiba mendapat ide, “Itu mudah saja. Kalau Tuan Zheng suka, nanti aku serahkan resepnya padamu, kapan pun ingin makan tinggal buat sendiri.”
Ucapannya membuat semua pelajar terdiam.
Mereka tahu betul betapa populernya Sup Pedas itu.
Banyak restoran besar ingin membeli resepnya tapi tak berhasil, sedangkan Li Zhiyuan cuma pelajar biasa, mana mungkin semudah itu memberi resep?
Zheng Nian tampak heran, “Tuan Li, kenapa berkata begitu?”
Li Zhiyuan berpikir sejenak, baru berkata, “Terus terang saja, penjualnya masih kerabatku, minta resep itu mudah, hanya satu kata saja.”
Liu Gaosheng dan para pelajar lain tampak kaget, Qian Hai mencibir, “Hah, Tuan Li jangan-jangan kepalanya kena tendang keledai? Resep itu sangat berharga, kerabat macam apa yang mau memberikannya hanya karena satu kata?”
Liu Gaosheng menimpali, “Hati-hati nanti lidahmu keseleo karena kebanyakan omong besar.”
Li Zhiyuan melirik mereka berdua, lalu mengejek, “Lihat saja nanti. Kalian tak mampu, bukan berarti orang lain juga tak mampu.”
Zheng Nian menggeleng, “Tak perlu sampai mengambil sumber nafkah orang lain. Aku tak menginginkan resep itu, hanya sekadar mengeluh saja.”
Li Zhiyuan tersenyum, “Tuan Zheng tak perlu sungkan. Aku memberimu resep hanya agar kapan pun ingin makan sup segar dan hangat, tak harus menunggu pagi-pagi. Asal tidak disebarluaskan, itu tidak merugikan mata pencaharian orang lain.”
Zheng Nian berpikir, memang masuk akal.
Li Zhiyuan menambahkan, “Tenang saja, Tuan Zheng, urusan kecil, dia pasti tak keberatan.”
Melihat Li Zhiyuan begitu percaya diri, Zheng Nian pun tersenyum dan mengangguk, “Kalau begitu, terima kasih banyak, Tuan Li.”
Mendapat ucapan terima kasih dari Zheng Nian, Li Zhiyuan diam-diam merasa bersemangat, “Urusan kecil saja, ayo, kita segera makan Sup Pedas!”
Meski ia sudah lulus ujian sarjana, namun di akademi banyak yang bilang itu hanya karena keberuntungan.
Cih, orang-orang dengki yang tak suka melihat orang lain berhasil!
Dulu, hubungan Zheng Nian dengannya tidak akrab, bahkan sekadar bertegur sapa pun tidak.
Baru setelah lulus ujian, ia bisa ikut beberapa pertemuan kecil Zheng Nian.
Tapi tetap saja ia hanya jadi orang pinggiran.
Asal bisa memberikan resep itu pada Zheng Nian, ia bisa masuk ke lingkaran Zheng Nian.
Nanti, bukan hanya pertemuan para sarjana yang bisa ia hadiri, bahkan pertemuan di kalangan pejabat pun bisa ia masuki.
Selain itu, ia juga bisa menjalin hubungan dengan para bangsawan top Kabupaten Yue’an.
Jaringan relasi seperti ini sangat menguntungkan untuk perjalanan karier ujian negerinya.
Lagi pula, dengan watak Zheng Nian, meski dapat resep juga tidak akan disebarluaskan.
Sup Pedas itu sangat laris, resepnya bisa saja terjual ratusan tael.
Memikirkan hal itu, dada Li Zhiyuan terasa panas.
Ia sama sekali tidak khawatir tak bisa mendapatkan resep, sebab penjualnya memang keluarga Ye.
Sudahlah, demi Tuan Zheng, ia akan menemui perempuan itu sendiri!
Nanti, begitu ia datang, bukankah perempuan keluarga Ye itu akan menangis sambil memohon padanya?
Asal ia bicara sedikit saja, perempuan itu pasti menyerahkan resep rahasianya dengan sukarela.
Sekalian, ia juga akan mengambil batu giok itu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Ia tidak takut perempuan keluarga Ye menyebut status mereka sebagai mantan suami istri. Begitu ia menatap saja, perempuan itu pasti langsung diam.
Bagaimanapun, Li Zhiyuan tahu, meminta resep dari mantan istri bukanlah hal yang terpuji.
Liu Gaosheng dan Qian Hai melihat kepercayaan diri Li Zhiyuan, hanya bisa mendengus dingin.
Kali ini, biarlah Si Munafik Li Zhiyuan itu pamer lebih dulu.