Bab Lima Puluh Tujuh: Terperangkap dalam Formasi Rahasia
Zhong Ziyue menatap Xuan Ming di hadapannya dengan rasa heran yang amat sangat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa pria itu juga menyimpan niat membunuh terhadap si keparat Chu Yang.
Meskipun merasa penasaran, ia tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih jauh. Namun, prospek menyingkirkan Chu Yang tentu membuat kerja sama ini sangat menguntungkan baginya.
Tanpa perlu berpikir panjang, keduanya langsung sepakat.
Sementara itu, Chu Yang tidak dapat merasakan kehadiran Xuan Ming. Ia pun memperlambat langkahnya, berjalan lagi selama kurun waktu yang kurang lebih sama dengan waktu pembakaran satu batang dupa, tetapi ia masih berputar-putar di dalam hutan. Selain suara kicauan burung, tempat itu tampak begitu lengang.
Tak lama kemudian, ia berpapasan dengan seorang murid dari sekte yang sama. Murid itu tampak kebingungan saat menyusuri hutan, dan sempat terperanjat begitu melihat Chu Yang secara tiba-tiba.
Chu Yang mengambil inisiatif untuk mendekat. Setelah bertukar beberapa patah kata, keduanya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama.
Kendati demikian, mereka tetap saja berputar-putar di tempat yang sama. Bahkan, suara kicauan burung di sekitar perlahan-lahan menghilang, seolah-olah mereka telah sepenuhnya terjebak di dalam hutan belantara ini.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakak Perguruan?"
Murid muda di sampingnya tampak kebingungan. Tatapannya penuh dengan rasa gamang sekaligus pengharapan, tertuju lurus pada Chu Yang.
Pada saat itu, Chu Yang justru tenggelam dalam pikirannya sendiri dan tidak langsung menjawab pertanyaan sang murid muda.
Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba membungkuk, memungut sebuah batu dari tanah, lalu berjalan menuju pohon terdekat dan membuat sebuah tanda sederhana pada batangnya menggunakan batu tersebut.
"Aku curiga kita terjebak dalam suatu formasi susunan sihir. Mari kita lanjutkan perjalanan, semoga kita tidak lagi menemui tanda ini," ucap Chu Yang dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan.
"Baik, Kakak Perguruan."
Murid muda itu lekas mengangguk dan berjalan mengikuti langkah Chu Yang dengan erat.
Namun, tidak lama berselang, mereka kembali mendapati tanda yang dibuat oleh Chu Yang sebelumnya!
Padahal, mereka berjalan lurus ke depan sepanjang waktu dan sama sekali tidak berbalik arah!
Sejak saat itu, dugaan Chu Yang terbukti benar: mereka benar-benar telah terjebak.
"Kakak Perguruan, bisakah Anda memecahkannya?"
Murid muda itu mendongak menatap langit di atas sambil melontarkan pertanyaan kepada Chu Yang.
"Butuh waktu."
Ia menjawab dengan ekspresi datar, lalu mulai mengamati sekelilingnya dengan cermat.
Bagaimanapun juga, jika ini adalah formasi yang mampu memerangkap seseorang, pasti ada titik kunci untuk memecahkannya. Asalkan titik pusat formasi itu ditemukan, mereka bisa keluar dari perangkap ini.
Ia meminta murid muda itu untuk tetap tinggal di tempat, sementara ia sendiri melangkah lurus ke arah yang berbeda, seraya meninggalkan tanda di pepohonan di sepanjang jalan. Ketika ia kembali menemui murid muda tersebut, ia membuat guratan terakhir pada pohon di dekatnya.
Kemudian, ia mengubah arah dan terus melangkah dengan metode yang sama, hingga ia telah menjelajahi kedelapan arah mata angin utama sebelum akhirnya berhenti.
Murid muda itu memasang ekspresi bingung, tetapi sesaat kemudian Chu Yang membuka suara untuk menjelaskan, "Aku baru saja memperkirakan luas formasi ini. Jangkauannya seharusnya tidak lebih dari seratus meter, kita hanya perlu mencari di dalam area ini. Kita berpencar agar bisa mempercepat proses pencarian."
Mendengar hal itu, murid muda tersebut kembali mengangguk tanda mengerti, lalu berbalik dan berjalan menuju arah yang lain. Sementara itu, Chu Yang mundur beberapa langkah untuk mengamati hutan tersebut dengan teliti, berusaha menemukan kejanggalan di dalamnya.
Setelah menyisir area seluas seratus meter itu beberapa kali tanpa menemukan petunjuk apa pun, ia merasa tanpa pilihan dan berniat menanyakan situasi di pihak murid muda tersebut.
Namun, setelah mencari cukup lama, sosok murid muda itu sama sekali tidak terlihat.
Mungkinkah dia sudah menemukan titik pusat formasi dan pergi lebih dulu? Chu Yang mengernyitkan dahi, lalu mulai menyusuri area bagian murid muda itu.
Saat ia sedang fokus mengamati pepohonan demi mencari kelainan, sang murid muda tiba-tiba muncul dari samping.
"Kakak Perguruan, aku sudah mencari di setiap sudut, tetapi tetap tidak menemukannya. Mungkinkah formasi ini benar-benar tidak bisa dihancurkan dengan kekuatan kasar?" tanya murid muda itu dengan kening berkerut dan wajah penuh kebingungan.
Mendengar perkataan tersebut, Chu Yang menolehkan kepalanya, menatap murid itu dengan senyum penuh makna selama beberapa saat, sebelum menjawab dengan nada santai, "Kalau begitu, coba kau buktikan sendiri."
Murid muda itu tampak ragu-ragu, menggertakkan giginya sejenak, lalu menghunus pedang yang terselip di pinggangnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengerahkan seluruh tenaganya, dan mulai menebas ke segala arah secara asal-asalan tanpa pola yang jelas.
Seberkas energi pedang melesat ke berbagai penjuru, namun ketika energi pedang itu menghantam berbagai permukaan, sama sekali tidak memicu reaksi apa pun.
Tepat saat murid muda itu hendak berbalik untuk bertanya lagi kepada Chu Yang, tiba-tiba sebersit energi pedang yang sangat kuat melesat dari arah punggungnya.
Energi pedang itu meluncur dengan kecepatan luar biasa, bahkan membuat sang murid muda tidak sempat bereaksi sebelum akhirnya menembus tubuhnya.
Murid muda itu membelalakkan matanya, memperlihatkan ekspresi terkejut dan tidak percaya di wajahnya.
Seteguk darah segar memuncrat keluar dari mulutnya, tubuhnya beroyang beberapa kali, hingga akhirnya ia jatuh tersungkur ke tanah dengan keras.
Bibirnya bergetar pelan, seolah ingin menanyakan sesuatu, namun karena luka yang dideritanya terlalu parah, ia hanya mampu mengeluarkan suara yang terdengar samar.
Menghadapi murid muda yang telah terkapar di tanah itu, Chu Yang sama sekali tidak menunjukkan rasa iba.
Sebaliknya, ia mendengus dingin dan berkata dengan nada menusuk, "Berhenti berpura-pura. Kau sama sekali bukan murid Istana Xuantian."
Usai berkata demikian, ia menatap lekat-lekat sosok di hadapannya, seolah tengah menunggu kelanjutan sandiwara orang tersebut.
Namun, ekspresi tidak percaya masih terukir di wajah sang lawan, dengan sorot mata yang menyiratkan rasa sakit.
Pemandangan itu membuat Chu Yang merasa geram, hingga ia melangkah maju dan menggeser leher orang itu dengan bilah pedangnya.
Seketika murid itu menghembuskan napas terakhirnya, Chu Yang merasakan suatu aura di sekitarnya mendadak lenyap, menandakan bahwa formasi sihir tersebut telah buyut.
Melihat mayat di hadapannya perlahan-lahan berubah menjadi abu dan menyatu dengan tanah, Chu Yang tersenyum sinis.
Awalnya ia tidak menaruh curiga, namun kecurigaannya mulai muncul saat ia gagal menemukan anak itu ketika kembali tadi. Memintanya menyerang secara langsung juga bertujuan untuk mencari celah kelemahannya. Benar saja, saat mengayunkan pedang, tatapan mata orang itu kosong seolah kehilangan kesadaran, dan hanya bergerak berdasarkan insting tubuh semata.
Jelas sekali orang normal tidak akan bertindak seperti itu, sehingga ia bisa menyimpulkan bahwa orang di hadapannya inilah yang menjadi pusat formasi tersebut.
Meskipun saat tebasan itu dilancarkan orang tersebut memuntahkan darah, sama sekali tidak tercium aroma amis darah sedikit pun.
Ia melanjutkan langkahnya ke depan dan berhasil keluar dari hutan tersebut dengan mulus. Namun, pemandangan yang menyambut matanya tetaplah sebuah danau yang sangat luas—sepertinya mereka terjebak di sebuah pulau di tengah danau?
Menduga demikian, Chu Yang terus menyusuri tepian danau.
Tidak lama kemudian, ia mengendus bau amis darah yang sangat pekat, yang berasal dari balik pepohonan di sampingnya.
Baru saja ia melangkah beberapa langkah lebih dekat, ia melihat seseorang tergeletak di balik pohon. Tanah di sekitarnya telah basah oleh genangan darah. Meskipun tubuh orang itu hanya terlihat separuh, dari pakaiannya masih bisa dikenali bahwa ia adalah seorang murid Istana Xuantian.
Chu Yang terkejut bukan kepalang. Mengingat banyaknya darah yang keluar, orang ini dipastikan tewas.
Ketika ia mendekati mayat tersebut, emosi di dalam hatinya menjadi semakin rumit dan keningnya berkerut dalam.
Jika itu adalah murid biasa, ia mungkin hanya akan merasa penasaran mengenai penyebab kematiannya. Namun, melihat bahwa orang yang tewas di hadapannya ternyata adalah Zhong Ziyue, rasa penyesalan di hatinya seketika lenyap.
Yang tersisa justru secercah rasa sayang.
Ia tadinya berniat mencari kesempatan untuk menyingkirkan si keparat itu, tetapi tidak menyangka bahwa orang lain telah mendahuluinya. Dari kondisinya, tampak jelas bahwa lehernya ditebas sekali hingga tewas.