Bab Tiga Puluh Tiga: Kedatangan Sang Phoenix
Sekitar yang tadinya gelap gulita kini berubah warna seiring dengan pohon itu yang mulai memancarkan kehidupan. Tanah hitam di bawah kaki pun dipenuhi oleh tumbuhnya rerumputan hijau yang subur, membuat pandangan mata tertuju pada hamparan warna hijau. Di antara rerumputan itu, muncul pula berbagai tanaman obat spiritual yang diselimuti energi murni.
Para kultivator terpaku menyaksikan pemandangan tersebut, serangan yang mereka lancarkan terhenti seketika. Mereka terkejut melihat perubahan yang terjadi di sekitar, dan tak lama kemudian, seseorang menyadari bahwa tanaman-tanaman itu bukanlah tumbuhan biasa, melainkan tanaman yang telah berusia ribuan tahun. Jika dikonsumsi, tentu akan sangat membantu kultivasi mereka. Seketika itu pula, mereka melupakan apa yang terjadi sebelumnya dan berebut tanaman-tanaman itu layaknya harimau yang kelaparan.
Kejadian ini di luar dugaan Chu Yang. Namun, dibandingkan dengan tanaman-tanaman itu, perhatiannya justru tertuju pada sebuah buah. Kelopak bunga di pohon perlahan berguguran, menampakkan sebuah buah berwarna merah merona di hadapan Chu Yang. Saat ia hendak memetiknya, buah itu seolah merasakan gerakan Chu Yang dan mulai bergoyang. Tak lama kemudian, terdengar bunyi "puk", buah itu melompat sendiri dari dahannya!
Namun, bukan itu yang paling mengejutkan. Setelah mendarat, daun pada buah tersebut seolah hidup dan menopangnya untuk melarikan diri dengan cepat. Seolah tahu ada yang mengejarnya, ia berlari sangat kencang hingga membuat orang terpana. Melihat pemandangan ajaib ini, Chu Yang tidak ragu lagi dan segera mengejarnya. Buah yang bisa melarikan diri sendiri pastilah bukan benda sembarangan.
Kecepatan buah itu luar biasa, namun tetap tidak sebanding dengan Chu Yang. Saat ia hampir menangkapnya, tiba-tiba muncul kilatan cahaya putih di depannya. Chu Yang dan buah itu pun terselimuti cahaya terang tersebut. Ketika cahaya meredup dan ia bisa melihat sekeliling, ia terkejut mendapati dirinya berada di ruang yang benar-benar baru. Kotak Pola Phoenix yang tadinya bergetar hebat kini telah tenang. Hati Chu Yang menciut, ia segera meningkatkan kewaspadaannya. Ini berarti tempat ini sudah berada di luar jangkauan kendali Kotak Pola Phoenix. Ia mengamati sekitar dengan hati-hati dan mendapati dirinya berada di sebuah lorong sempit, lalu ia melangkah maju dengan mengendap-endap.
Waktu berlalu, entah sudah berapa lama ia berjalan, lorong di depannya akhirnya menjadi luas dan terang. Sebuah gua raksasa terbentang di depan matanya, dengan berkas cahaya terang yang jatuh dari atas, tepat menyinari bagian tengah gua. Namun, saat tatapan Chu Yang beralih ke titik tersebut, ia terpaku di tempat, matanya dipenuhi rasa tidak percaya.
Di bawah sorotan cahaya itu, tampak sesosok tubuh duduk diam di atas tanah, seolah menyatu dengan lingkungan sekitar. Chu Yang mendekat dengan hati-hati dan menyadari bahwa orang itu sudah tidak bernapas. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia merasa sangat akrab dengan jasad tersebut. Setelah mengingat-ingat, ia tersadar bahwa jasad itu adalah Penguasa Wilayah, Feng Laixi!
Jasad Feng Laixi tampak sangat hidup, kulitnya memancarkan kilau halus, seolah-olah ia hanya sedang tertidur lelap. Chu Yang merasa bingung; bukankah Feng Laixi dikabarkan telah lama menghilang? Tak disangka, ia justru tewas di kediamannya sendiri. Namun, mengapa setelah sekian lama jasadnya masih terlihat begitu nyata? Setelah mengamati lebih teliti, ia melihat pola samar di permukaan tanah yang menyebar ke sekitar, dan Feng Laixi berada tepat di pusat pertemuan pola-pola tersebut. Apakah ini semacam segel untuk menahan sesuatu?
Di tengah kebingungannya, buah tadi muncul kembali di hadapannya. Jaraknya tidak jauh, Chu Yang segera menerjang dan menangkap buah itu dengan sigap. Buah itu masih berusaha meronta, tetapi Chu Yang mencengkeram erat daun yang digunakannya untuk berlari.
"Hentikan! Jangan diremas lagi!"
Tiba-tiba terdengar suara halus yang muncul dari buah di tangannya. Chu Yang tertegun. "Kau makhluk hidup?" tanyanya tak percaya.
Lama kemudian baru terdengar jawaban buah itu: "Tentu saja aku hidup, cepat lepaskan aku!"
Chu Yang tidak menggubris permintaannya. Ia mengamati penampilan buah itu; memang terlihat seperti buah biasa. Mungkinkah karena energi spiritual yang terlalu melimpah sehingga membuatnya memiliki kesadaran?
"Benda apa kau ini, bagaimana bisa memiliki kesadaran?"
Melihat usahanya sia-sia, buah itu pun menyerah. Mendengar pertanyaan Chu Yang, ia menggoyangkan tubuhnya dan menjawab dengan suara kekanak-kanakan, "Aku juga tidak tahu mengapa, tapi sejak aku memiliki kesadaran, aku selalu tinggal di sini."
"Jadi, kejadian di pohon kuno tadi juga ulahmu?"
"Kenapa aku harus memberitahumu?" buah itu terdiam sejenak lalu balik bertanya.
Mendengar itu, Chu Yang diam-diam meremas kembali daunnya. Benar saja, buah itu langsung berubah sikap, "Maaf, baiklah aku akan bicara."
"Energi formasi telah habis, dan kemunculan kalian membawa energi spiritual yang cukup untuk mengisi kembali formasi tersebut, itulah sebabnya pemandangan itu terjadi."
"Mengisi energi formasi? Maksudmu pola-pola aneh di tanah ini?" Chu Yang mulai mengerti. Ia kembali menatap pola-pola itu, namun tidak ada perubahan apa pun.
"Ya, meski formasi sudah terisi energi, tetap saja masih ada bagian yang rusak. Kondisinya yang tampak redup sekarang hanyalah tipuan yang dibuat oleh Sang Penguasa." Nada bicara buah itu terdengar melankolis, seolah masalah ini telah mengganggunya cukup lama.
Chu Yang kembali menatap jasad Feng Laixi dengan rasa penasaran. Benda apa sebenarnya yang sampai membuat Feng Laixi mengorbankan dirinya untuk menyegelnya? Ia pun bertanya pada buah itu, namun si buah tidak langsung menjawab, malah tampak pasrah.
"Meski aku memberitahumu, lalu apa? Kau tidak punya cara untuk memperbaiki formasi ini. Dengarkan saranku, lupakan apa yang terjadi di sini dan kembalilah."
Ucapan buah itu seolah memiliki mantra. Chu Yang merasa kepalanya mendadak pusing, ingatannya tentang gua ini seolah sedang dihapus. Tanpa perlu berpikir panjang, ia tahu ini pasti ulah buah di tangannya. Ia kembali meremas daun buah itu sekuat tenaga, dan seiring dengan pekikan buah itu, rasa pening di kepalanya pun hilang.
"Manusia licik, jangan terus-terusan menarik daun-daunku!"
"Siapa suruh kau mempermainkanku? Karena kau yang membawaku ke sini, kau harus menjawab semua keraguanku," kata Chu Yang tanpa basa-basi, tangannya tetap mencengkeram erat karena khawatir buah itu akan berbuat curang lagi.
"Bukan aku yang membawamu ke sini! Hal-hal di sini tidak boleh diketahui dunia luar, makanya aku berencana menghapus ingatanmu," suara kesakitan buah itu terdengar.
"Bukan kau? Jika gua ini yang membawaku ke sini, pasti ada tujuannya. Siapa tahu aku justru bisa memperbaiki formasi ini?"