Bab Sembilan: Keributan di Pesta Jamuan
Ketika berbincang dengan kedua paman dan sepupu tertua, Li Hongye merasa suasana cukup akrab. Mereka menanyakan tentang pekerjaannya dan kabar keluarganya, bahkan mengingatkannya agar menjaga kesehatan selama bekerja di luar. Kakak iparnya adalah seorang petani yang jujur dan lugu; setelah berbicara sebentar, percakapan pun terputus. Ia lalu menanyakan kepada adik iparnya siapa yang menjaga ayah mertuanya hari ini, dan setelah tahu bahwa tetangga yang mengawasi, ia menyuruh adik iparnya agar cepat makan, lalu membawa sedikit makanan enak pulang untuk ayah mertuanya. Namun, sepupu keduanya bersikap dingin dan tak ramah, sehingga menimbulkan rasa aneh di hati Li Hongye. Ketika sengaja mengajaknya berbicara dan menanyai tentang pekerjaannya, berapa penghasilan per bulan, dan cukup atau tidak untuk menghidupi keluarga, Li Hongye merasa semakin tak nyaman. Bagaimana bisa bertanya seperti itu? Namun, karena dirinya adalah tamu, Li Hongye hanya menanggapi dengan tawa dan basa-basi. Tepat saat itu, tamu lain datang, jadi ia kembali sibuk.
Karena perasaan tidak nyaman terhadap sepupu keduanya, Li Hongye jadi lebih memperhatikannya. Tak lama kemudian, ia melihat pria itu pergi ke jendela di sisi selatan rumah, dan jendela pun segera terbuka sedikit, cukup untuk melihat jelas ke dalam. Apa yang ingin ia lakukan? Li Hongye berpura-pura tenang, meninggalkan meja tamu dan berjalan ke sisinya untuk melihat apa yang sedang ia lakukan. Melalui celah jendela, ia melihat wajah cantik Duan Yue’e, yang sedang hangat bercakap dengan ibu mertua dan beberapa perempuan lain, wajahnya penuh kebahagiaan dan keceriaan. Di dalam ruangan, para wanita menggendong bayi bergantian, memuji bahwa bayi itu beruntung dan rupawan. Sepupu kedua itu menatap lekat-lekat wajah Duan Yue’e, pandangan matanya jelas memendam perasaan dan ketidakrelaan yang bisa dikenali oleh siapa pun.
Li Hongye merasakan amarah membuncah dalam dadanya, tinjunya mengepal erat, bahkan hampir ingin menghajarnya saat itu juga! Namun, mengingat hari ini adalah jamuan minum selapan anak perempuannya, ia menahan diri dan memutuskan akan memberi pelajaran di meja makan nanti. Ia mendekat dan menepuk pundak sepupu keduanya, membuatnya terkejut. Ketika berbalik dan melihat Li Hongye, ia tampak kikuk, bahkan saat ditanya sedang melihat apa, ia pun menghindar tak berani menjawab dan segera pergi. Li Hongye hanya menatap punggungnya dengan senyum sinis. Saat hendak menutup jendela, ia sempat melihat seorang gadis kecil berbaju merah membelakanginya, tampaknya sepupu perempuan ketiga dari keluarga paman tertua, adik kandung sepupu kedua itu.
Matahari sudah hampir di puncak, para tamu pun hampir semuanya telah datang. Li Defu dan Nyonya Wang kembali ke halaman, mengajak para tamu untuk duduk. Para pria ditempatkan di beberapa meja depan, sementara perempuan dan anak-anak di meja belakang. Semua meja yang disiapkan, sekitar sebelas atau dua belas, terisi penuh. Bahkan, mereka harus meminjam dua set meja dan bangku dari tetangga agar semua tamu bisa tertampung. Setelah itu, mereka mulai membagikan sumpit dan sendok, membawa dan menyajikan hidangan, serta menyediakan satu kendi arak beserta setumpuk mangkuk di tiap meja pria agar bisa minum sepuasnya.
Para tamu makan dan minum dengan lahap, tak ada yang sungkan, baik kenal maupun tidak. Hidangan yang baru saja diletakkan di meja segera habis diserbu; roti jagung yang dicampur tepung terigu pun diambil satu demi satu, bahkan ada yang ingin tambah. Suasananya benar-benar seperti ingin mengembalikan semua modal hadiah yang mereka bawa, bahkan kalau bisa untung! Untung saja Nyonya Wang memang berniat membuat acara besar, mengingat putranya adalah seorang pejabat, jadi tak ingin dikatai pelit oleh sanak dan kerabat, maka segala persiapan pun sangat melimpah, cukup untuk kebutuhan hari itu.
Acara makan minum berlangsung hingga sore hari. Para tamu yang rumahnya jauh mulai pamit pada Li Defu dan Nyonya Wang, disusul tamu dari sekitar yang juga bergiliran pulang. Akhirnya, hanya keluarga Duan Yue’e dan keluarga paman yang masih tinggal. Adik ipar, Duan Yongkang, pagi-pagi setelah makan langsung membawa dua mangkuk penuh makanan pulang ke rumah untuk ayahnya.
Li Hongye duduk semeja bersama kedua paman, kakak ipar, dan beberapa sepupu laki-laki, melayani mereka dengan sangat ramah, terutama pada sepupu keduanya yang ia perlakukan dengan sangat istimewa. Baru makan sedikit, ia sudah menuang arak ke mangkuk sepupu kedua, bersikap sangat ramah di hadapan tamu, sampai membuatnya tak bisa menolak. Lama-lama, sepupu kedua menyadari bahwa Li Hongye sengaja ingin membuatnya mabuk. Ia pun tak mau kalah, mulai membalas menuangkan arak untuk Li Hongye. Keduanya pun saling bersulang, sama-sama mabuk, tapi tidak ada yang mau mengalah. Bahkan, mereka bersikeras siapa yang mengaku kalah duluan bukan laki-laki sejati! Orang-orang di sekitarnya tak ada yang bisa melerai; dua orang ini sudah keras kepala, harus sampai ada yang tumbang!
Padahal, usia Li Hongye lebih muda empat atau lima tahun dari sepupu keduanya, tapi selama bertugas di kabupaten, ia sering minum bersama rekan kerja, tukang, dan pekerja, sehingga sejak muda sudah punya kemampuan minum arak yang baik. Sampai saat itu, pikirannya masih jernih, tahu apa yang ia lakukan, hanya lidahnya mulai kaku dan tak bisa diam, bahkan berteriak, "Sepupu... sepupu... kedua, hari... hari ini... aku... aku tak buat kau... kau mabuk sampai jatuh, aku... aku... aku akan menulis nama keluargaku terbalik!" Sepupu kedua yang sejak tadi sudah banyak dipaksa minum oleh Li Hongye, akhirnya tak kuat lagi, tubuhnya miring dan hampir jatuh ke lantai, beruntung segera dipapah oleh kakaknya, lalu ayahnya ikut membantu, dan mereka pun mengangkatnya ke atas kereta kuda. Ia tergeletak tak bergerak seperti sekantong lumpur. Nyonya Gao sempat menegur Li Hongye yang membuat keributan, sekaligus meminta maaf kepada kakaknya dan istri adiknya, mengatakan bahwa Li Hongye masih muda dan kurang dewasa, mohon dimaklumi. Setelah itu, ia segera mengajak keluarganya naik ke kereta, dan diantar oleh Li Defu dan Nyonya Wang meninggalkan rumah itu. Li Hongye masih memaksa diri ingin ikut mengantar dan minta adik keduanya membantunya berjalan, siapa pun tidak bisa melarang, hingga setelah semua orang pergi, ia pun roboh di tubuh Li Hongcai dan langsung tertidur.
Nyonya Wang melihat itu tak bisa menahan diri untuk mengomel, "Apa-apaan ini? Acara jamuan malah dibuat ribut karena miras, ada ya ayah seperti ini? Cuma bikin keluarga dan kerabat jadi bahan tertawaan! Hongcai, Hongyun, bawa kakakmu pulang, buatkan teh kental satu teko dan suruh dia minum sebelum tidur, lalu segera kembali untuk membantu membereskan semuanya!" Hongcai dan Hongyun menjawab dan menggotong kakak mereka pulang.
Halaman rumah kini berantakan, harus segera dibersihkan sebelum malam tiba dan gelap sehingga tak kelihatan. Beberapa orang yang membantu diberi bingkisan besar dan dipersilakan pulang. Nyonya Wang bersama Li Hongli membawa daftar hadiah untuk menghitung barang-barang yang diberikan tamu hari itu. Li Defu membereskan meja dan bangku, mengembalikan dua set milik tetangga, lalu mulai mencuci piring, mangkuk, sumpit, dan sendok. Setelah Hongcai dan Hongyun kembali, mereka diminta membereskan makanan, roti, dan sisa lauk, dikelompokkan agar bisa dimakan keluarga sendiri satu-dua kali lagi. Jika masih ada sisa, akan dibagikan ke tetangga, daripada dibuang atau basi. Memberikan sisa makanan kepada tetangga juga sudah menjadi tradisi di sini; mereka yang menerima tak hanya tidak tersinggung, malah merasa senang karena tahu tuan rumah mengingat mereka.
Mereka sibuk hingga hari gelap, barulah semua beres. Mereka makan seadanya dari sisa makanan, membuatkan masakan khusus untuk Duan Yue’e, baru setelah itu ketiga anak disuruh pulang untuk tidur. Nyonya Wang dan Li Defu sendiri bermalam di rumah itu, karena begitu banyak barang harus dijaga. Besok, mereka akan mengembalikan meja, bangku, piring, dan sendok yang disewa dengan kereta sapi, serta membawa pulang semua hadiah dan sisa makanan, sehingga tak perlu lagi berjaga di sana. Li Shuyu yang seharian berpura-pura menjadi bayi manis pun kelelahan dan langsung terlelap. Hanya Duan Yue’e yang tampak gelisah dan semalaman tidurnya tidak nyenyak.