Bab Dua Puluh Delapan: Menguras Segala Kekayaan
Setelah berjalan-jalan lagi di antara stan-stan, ia membeli beberapa barang yang menarik hati. Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk, Su Xingyu membuka kanal komunikasi.
"Hei, Bang Yu, orangnya sudah kubawa ke tempat biasa."
"Baik, tunggu beberapa menit, aku segera datang."
"Oke, siap."
Su Xingyu meninggalkan jalan tempat stan-stan berjejer, berjalan lurus hingga tiba di rumah yang disewa Wang Dong. Setelah sekian lama, Su Xingyu sudah bukan lagi pemula yang tidak tahu apa-apa saat pertama kali masuk. Melalui kanal informasi, ia kini punya gambaran umum tentang Kota Para Dewa.
Contohnya saja rumah ini. Menyewa satu hari di Kota Para Dewa menghabiskan 50 Sumber Dewa, lima puluh kali lipat dari sekadar berdagang di luar, sangat mahal. Namun, tetap saja banyak yang menyewa, terutama para pedagang. Alasannya hanya satu: waktu di dalam rumah bisa diatur sesuka hati, bahkan bisa disamakan dengan waktu di dunia nyata.
Menyewa rumah semacam ini dapat menghemat banyak waktu bagi para pemain.
Saat ini tubuh Su Xingyu lebih besar daripada pintu rumah, namun ketika ia melangkah masuk, seluruh rumah tampak berubah luas, seolah segala sesuatu di dalamnya ikut membesar.
"Bang Yu, kau jadi makin kuat," Wang Dong yang berada di ruang tamu segera menyadari kehadirannya, lalu keluar menatap sosok Dewa Kegelapan yang tinggi besar, tak bisa menahan rasa kagum.
Setelah berbulan-bulan berinteraksi, ia tahu Su Xingyu bukan tipe yang suka pamer atau sengaja memperbesar tubuh agar mencolok. Satu-satunya alasan tubuhnya sebesar itu adalah karena kekuatan tumbuh terlalu cepat, sulit dikendalikan, sehingga meluap.
"Sedikit kemajuan," Su Xingyu mengangguk sambil tersenyum.
Setelah basa-basi sebentar, Wang Dong mengajak Su Xingyu masuk ke dalam. "Orangnya sudah datang, ada di dalam."
Mereka masuk ke ruang tamu, seorang pemain dari ras manusia sudah menunggu. Melihat Wang Dong membawa seseorang, ia bangkit dan tersenyum, "Hei, Blackstar, ini pelanggan besar yang kau maksud?"
"Benar," jawab Wang Dong. Blackstar adalah nama yang ia gunakan, semacam nama alias. "Ini Li Qing, Dewa jalur agama, dan ini Xingyu, Dewa jalur penguasa."
"Salam," kata Li Qing.
"Salam," balas Su Xingyu.
Mereka saling mengangguk.
"Menurut Blackstar, Saudara Xingyu ingin membeli buku sihir. Kebetulan aku punya satu, semoga cocok dengan keinginanmu." Karena sebelumnya belum saling kenal, mereka tidak banyak basa-basi dan langsung ke inti pembicaraan.
Dipengaruhi oleh para pemuja, wujud Dewa juga berubah. Penampilan Dewa Li Qing tampak sedikit tua, memancarkan aura penuh kasih.
Li Qing memunculkan sebuah buku tebal di tangannya, lalu menyerahkannya kepada Su Xingyu. Di buku itu ada tanda pengesahan sistem. Su Xingyu membalik halaman, menelusuri isi secara singkat, lalu mengangguk.
"Bagus. Berapa harga yang kau tawarkan?"
"Buku ini memuat seribu lebih ilmu sihir, termasuk belasan sihir tingkat menengah. Mengumpulkannya butuh usaha besar," jawab Li Qing, tidak langsung menyebut harga, melainkan menjelaskan isi dan kesulitan mengumpulkan buku tersebut.
Baru kemudian ia menyebutkan, "Sepuluh ribu Sumber Dewa."
Su Xingyu mengerutkan kening, tidak langsung menjawab, malah balik bertanya, "Menurutmu, ada berapa pemain yang mau mengeluarkan sepuluh ribu Sumber Dewa untuk buku ini? Terlalu mahal. Kalau kau tidak memberi batasan, sepuluh ribu bisa saja aku terima."
Li Qing tetap tenang, namun dalam hati ia terkejut, menarik napas dalam-dalam. Ia sebenarnya hanya membuka harga untuk memudahkan proses tawar-menawar. Tak disangka ada yang benar-benar bisa membayar sepuluh ribu Sumber Dewa di saat seperti ini.
"Saudara, kau bercanda. Aku cari nafkah dari ini," jawab Li Qing sambil tersenyum, mengalihkan pembicaraan.
Batasan yang dimaksud adalah kontrak sistem, di mana dalam waktu tertentu, pembeli tidak boleh menyebarkan isi sihir tersebut ke pemain lain dengan cara apa pun.
"Lima ribu Sumber Dewa, itu harga yang sudah sangat murah," lanjut Li Qing.
Su Xingyu menggeleng, "Tiga ribu saja. Memang sulit kau kumpulkan, tapi kau tidak hanya menjual ke aku, dan beberapa sihir di dalamnya aku sudah punya, hanya belum tersusun."
Li Qing ragu sejenak, lalu mengangguk menyetujui tawaran Su Xingyu, "Baik, tiga ribu. Tapi kau punya Batu Kristal Darah? Tukar saja dengan Batu Kristal Darah, pakai kurs pasar, 1:100 bagaimana?"
"Setuju," jawab Su Xingyu. Ia memang tidak kekurangan Batu Kristal Darah. Meski anggota sukunya terus bertambah, dengan banyaknya tambang Batu Kristal Darah yang ia miliki, persediaan tetap berlimpah, gudang pun sudah penuh.
Tidak bisa dihindari, para prajurit luar biasa menyerap Batu Kristal Darah lebih lambat daripada kecepatan suku menambang.
"Terima kasih," kata Li Qing.
Transaksi berlangsung cepat.
"Sepertinya kau ingin mengembangkan sistem sihir, ya? Penyihir tak cukup hanya punya buku sihir, aku juga punya dasar meditasi delapan cabang utama. Tak berani mengklaim terbaik, tapi efeknya pasti bagus. Kalau mau, seribu Sumber Dewa, pakai Batu Kristal Darah dapat diskon lima persen."
Su Xingyu agak kaget, tapi setelah melihat barangnya, akhirnya ia tak tahan juga dan membeli. Di Suku Malam memang ada penyihir, namun cara mereka berlatih sangat mengandalkan keberuntungan, tidak bisa menjadi metode yang bisa diwariskan.
"Sudah ada meditasi, ada buku sihir juga, rasanya para penyihir perlu tongkat, bukan? Aku punya tongkat sihir kelas besi hitam, satu tongkat 150 Batu Kristal Darah, bagaimana?"
Su Xingyu terdiam.
"Diskon sepuluh persen."
"Ambil."
"Tongkat hanya menambah kekuatan tempur penyihir, kalau mau mempercepat latihan, butuh jubah sihir. Jubah sihir kelas besi hitam, bisa dipakai semua cabang, mempercepat penyerapan elemen sepuluh persen. Kalau beli banyak, aku beri bonus satu jubah kelas emas."
"Beli."
Melihat Su Xingyu begitu kaya, Li Qing langsung mengeluarkan semua barang simpanannya, semuanya berkaitan dengan sihir.
Setelah setengah jam, Li Qing tersenyum lebar melihat Batu Kristal Darah memenuhi ruang penyimpanan.
"Saudara, ayo tambah kontak. Kalau butuh barang sihir lain, bisa cari aku lagi, aku kasih harga khusus."
Mereka saling menambah kontak, Li Qing pergi dengan puas.
Su Xingyu berdiri diam, entah sedang memikirkan apa.
"Bang Yu, kau tidak apa-apa?" Wang Dong yang tadi terkejut melihat kekayaan kedua orang itu baru tersadar, lalu bertanya pelan.
"Tidak apa-apa," Su Xingyu menggeleng, lalu berkata, "Aku tak menyangka kau kenal pemain sehebat ini, persediaan sihirnya benar-benar luar biasa."
"Eh... sejujurnya, aku sendiri juga terkejut."
Meski tumpukan alat sihir milik Li Qing membuat Wang Dong kagum, kekayaan Su Xingyu justru lebih mengejutkan.
Menurut yang ia tahu, jabatan dewa Li Qing adalah 'Kebijaksanaan'.
Li Qing memang bisa menyediakan buku sihir dan meditasi, itu sudah sesuai dengan jabatan dewanya. Tapi alat sihir yang lain, jelas bukan milik Li Qing sendiri, setidaknya tidak semuanya. Tanpa dewa penempaan dan banyak murid penempaan, mustahil bisa menghasilkan alat sihir sebanyak itu.
Belum lagi soal bahan, Li Qing seorang Dewa jalur agama tidak mungkin bisa mengumpulkan begitu banyak bahan sihir. Kemungkinan besar ada tim di belakangnya.
Sedangkan Su Xingyu, puluhan ribu Batu Kristal Darah ia berikan begitu saja tanpa berkedip, benar-benar membuat Wang Dong terkejut.
Benar-benar kaya!