Bab Delapan Puluh Lima: Waspadai Orang-orang Ini (Mohon Dukungan Suara Bulan)
Situasi berubah dengan sangat cepat. Pihak yang semula tampak lemah, setelah Kakak Keempat maju, keadaan langsung berbalik. Kakak Keempat mengalahkan Kakak Ma hanya dengan satu jurus, kecepatannya luar biasa, sama sekali tidak memberi kesempatan kepada keempat orang lainnya...
Keempat orang yang mundur ke belakang itu saling berpandangan, Kakak Ma saja sudah tergeletak di tanah hanya dengan satu serangan, mana mungkin mereka masih mau bertarung? Lebih baik kabur saja! Mereka pun menyeret Kakak Ma yang terkapar di tanah dan lari terbirit-birit, tak peduli lagi soal harga diri, lari mereka sangat cepat, seperti kelinci, sampai-sampai Kakak Keempat jadi merinding melihatnya...
“Mereka ini lucu sekali, ya?” Kakak Keempat hampir saja tertawa keras. “Tak kusangka mereka berlima ternyata penakut semua~ Aku padahal belum puas bertarung, eh, malah sudah kabur duluan...”
“Kakak Keempat, kamu belajar bela diri dari siapa sih? Kok hebat banget...” tanya Lu Hai penasaran.
“Dulu, waktu sekolah sering berkelahi tapi selalu kalah dan dibully, akhirnya aku ikut kelas bela diri bebas, belajar tiga tahun, jadinya seperti sekarang ini, deh~” Kakak Keempat tidak menyembunyikan apa pun, ia menceritakan dengan jujur alasan dia pandai bertarung.
Memang benar, mereka yang pernah berlatih jelas berbeda dengan yang tidak. Yang sudah berlatih, bertarungnya efektif dan langsung mematikan, tidak bertele-tele. Sementara seperti Lu Hai dan kawan-kawannya, kalau bertengkar paling cuma saling peluk, pukul-pukul dan tendang asal saja, benar-benar hanya indah di permukaan, bahkan tidak bisa dibilang indah.
“Ayo, jangan urus mereka lagi. Sekarang sudah jam satu, jam dua nanti kita harus tanding,” si Monyet mengingatkan.
“Iya juga, sudah buang-buang waktu dengan mereka, lebih baik segera kembali, pertandingan ini penting,” Lu Hai mengangguk, mengikuti langkah si Monyet meninggalkan tempat itu. Tiga orang lainnya juga ingat masih ada pertandingan, mereka pun buru-buru mengikuti dari belakang.
Pertandingan sore masih memakai sistem satu ronde, dari enam belas tim yang tersisa, akan diundi secara acak. Si Monyet maju ke meja panitia untuk mengambil undian, dan mendapat lawan sebuah tim bernama “Keluarga Gue”.
Si Monyet sampai tak bisa menahan tawanya, sambil tertawa dia berkata, “Kok nama-nama tim sekarang makin aneh ya? Satu lebih aneh dari yang lain... Bikin aku hampir ngakak habis.”
“Kamu tadi lihat mbak cantik di meja panitia itu enggak?” Yang Bo mendekat, matanya tak berkedip.
Si Monyet melihat tatapan Yang Bo yang agak aneh, matanya penuh nafsu. “Lihatlah, kenapa? Aku malah sempat ngegoda dikit, kenapa emangnya?”
“Sok banget! Waktu itu Mbak Lu malah nggak lirik kamu sama sekali, dia cuma sempat melirik Lu Hai sebentar, kamu masih sempat-sempatnya ngegoda... Emangnya dia mau tanggapi kamu?” Yang Bo tanpa basa-basi menyiram air dingin ke muka si Monyet.
“Terus kenapa? Kamu juga nggak lebih baik, muka kayak kamu gitu mana mungkin dia tertarik? Kecuali dia buta.” Si Monyet yang tinggi 182 cm, jelas saja mengejek Yang Bo yang tingginya cuma 175 cm.
“Kamu sendiri kayak monyet, kalau sampai dia suka sama kamu, itu baru namanya buta beneran.”
Adu mulut antara Yang Bo dan si Monyet makin seru, sementara Lu Hai, Kakak Keempat, dan Danu sama sekali tidak bisa ikut campur, akhirnya mereka memilih diam saja...
Saat mereka berdua masih saling adu mulut, tiba-tiba Mbak Lu masuk ke ruangan. Seketika itu juga, dua orang yang tadinya ribut langsung berhenti, tangan yang saling genggam pun perlahan dilepaskan. Pandangan mereka berdua pun serempak tertuju pada Mbak Lu. Soal bagian mana yang mereka perhatikan, tak perlu dijelaskan lagi...
“Kalian sedang apa?” Mbak Lu masuk dan melihat dua orang itu seperti sedang main-main, dalam hati ia menahan tawa, tapi wajahnya tetap tenang. Bagaimanapun, mereka asyik sendiri, bukan urusannya, kalau ia sampai tertawa, rasanya kurang sopan...
“Kami... kami...” Yang Bo jadi gugup, mengulang kata “kami” dua kali tanpa tahu harus bicara apa.
“Kami cuma pemanasan, kok~” Si Monyet yang tinggi menundukkan kepala Yang Bo, posisi mereka benar-benar terlihat ambigu...
“Aku mengerti... aku mengerti~” Mbak Lu menutup mulut menahan tawa, buru-buru mengatur ekspresi lalu berkata, “Cepat siap-siap, ya. Pertandingan tetap di ruangan ini, aku yang buat room, kalian semua langsung masuk.”
Si Monyet langsung menjawab dengan nada menjilat, “Siap, siap~”
Sebelum pergi, Mbak Lu sempat melirik Lu Hai lagi, sorot matanya seolah mengandung arti tertentu. Namun Lu Hai sama sekali tidak menyadari, pikirannya masih sibuk memikirkan pertandingan berikutnya. Soal perempuan ini, ia belum merasakan apa-apa, bahkan ia merasa, suatu saat nanti pasti akan kembali menemui Fang Qing untuk minta maaf. Perempuan lain, baginya tak ada hubungan apa-apa...
Mbak Lu sudah membuat room, tinggal menunggu kedua tim masuk...
Markas Keluarga Gue letaknya persis di sebelah ruangan tim Lu Hai, hanya dipisahkan satu dinding. Namun kedap suara di Warung Internet Abad Ini sangat bagus, meski hanya dipisahkan satu tembok, suara kasar dari satu sisi tak akan terdengar dari sisi lain.
Dalam ruangan Keluarga Gue, beberapa pria berbadan besar masuk...
“Kalian siapa? Ngapain masuk sini?” Bos Keluarga Gue merasa ada yang aneh, beberapa orang yang masuk ini berwajah garang, tampak seperti hendak membuat keributan.
“Kami datang cuma mau kasih tahu, lawan kalian di pertandingan nanti sangat kuat, hati-hati dengan mereka.”
Orang yang datang itu ternyata adalah anggota tim “Om Datang Main” yang kalah di pertandingan pagi tadi. Mereka berlima tahu bahwa pemenang pagi hari akan bertanding lagi sore harinya, maka mereka sengaja datang untuk membantu tim lain mengalahkan musuh dan membalas kekalahan.
Walaupun bukan membalas secara langsung, tetapi bisa menang lewat tangan orang lain pun sudah cukup memuaskan.
“Mereka hebat? Seberapa hebat? Setahuku, nama tim mereka itu apa ya?” Bos sempat lupa nama tim lawan.
Wakilnya menambahkan, “Hajar Mid.”
“Ya, ya, tim Hajar Mid itu. Nilai rata-rata mereka bahkan nggak sampai 4000, hebatnya di mana?”
“Nggak sampai 4000? Rata-rata tim kita saja 4500, masak bisa dihajar sama mereka? Tapi anehnya, tiap posisi mereka memang biasa saja, tapi midlaner mereka, benar-benar bisa bikin lawan menderita...” Si Hitam mengingatkan, sudah ia kasih tahu, kalau mereka tidak percaya, ya sudah.
“Serius? Sampai segitunya?” Bos masih ragu.
“Nanti waktu BP (ban-pick), kalian lihat saja cara mereka memilih hero. Midlaner mereka pasti pilih terakhir, semua hero sebelumnya akan disesuaikan dengan midlaner. Kami berlima datang khusus untuk bantu BP, sepuluh orang BP, masak kalah sama mereka berlima?” Kakak Ma yang tak percaya, kini siap turun tangan membantu.
Kakak Ma sesekali memegang hidungnya, baru saja rahangnya kena hantam dan hidungnya juga kena, sakitnya masih terasa. Ia tak akan membiarkan tim Lu Hai menang lagi!