Bab Empat Puluh: Kudapan Inti Siluman
Pada saat Chu Yi masih diliputi kebingungan, sebuah gelombang kesadaran yang samar-samar pun mengalir masuk. Meski kata-katanya tak jelas, maknanya begitu nyata: penyerahan diri. Sumber gelombang kesadaran itu jelas berasal dari Kera Raksasa Liar yang kini bersimpuh di hadapan Chu Yi.
“Seekor makhluk buas yang mampu berkomunikasi lewat kesadaran!” Dalam pengetahuan Chu Yi, dan sesuai catatan kronik, hanya Binatang Roh yang mampu melakukan hal tersebut. Tak disangka, Kera Raksasa Liar yang baru mencapai tingkat ketujuh ini pun mampu berkomunikasi lewat kesadaran dengan manusia, meski masih kaku, namun kemampuan itu benar-benar ada padanya.
Sebenarnya, ada hal yang belum diketahui Chu Yi: pada umumnya, makhluk buas, bahkan yang telah mencapai tingkat kesembilan, sangat sulit memiliki kemampuan berkomunikasi lewat kesadaran dengan manusia. Namun, ada pengecualian: mereka yang mewarisi darah purbakala.
Makhluk buas seperti itu memiliki bakat luar biasa, hanya saja usia yang muda membuat mereka belum sepenuhnya mampu mengeluarkan kekuatan dalam darah mereka. Potensi mereka beberapa kali, bahkan belasan kali, lebih tinggi dari makhluk buas biasa. Sebagian besar makhluk buas yang berevolusi menjadi Binatang Roh adalah mereka yang mewarisi darah purbakala.
Kera Raksasa Liar ini baru berusia seribu tahun. Jika tidak ada kejadian luar biasa, saat ia mencapai usia lima ribu tahun, ia kemungkinan besar akan berevolusi menjadi Binatang Roh.
Sejak lahir, kera ini selalu berada di puncak rantai makanan di Lembah Awan Api. Belum pernah ia terdesak hingga separah ini oleh manusia. Yang lebih penting, ia dikalahkan dengan cara yang paling dikuasainya—pertarungan fisik. Kekuatan luar biasa dan semangat tempur Chu Yi yang membara secara tak kasatmata telah membuat kera raksasa yang sebenarnya masih dalam masa pertumbuhan itu benar-benar tunduk.
Di dunia para kultivator, yang kuatlah yang berkuasa. Demikian pula di antara makhluk buas, bahkan konsep kekuatan lebih tegas dan lugas.
“Kera besar ini telah bersumpah setia padaku!” Dengan minat yang besar, Chu Yi menatap Kera Raksasa Liar yang bersujud di hadapannya, lalu menyampaikan pesan sederhana melalui kesadaran, “Mulai sekarang, ikutlah tuanmu.”
Kera Raksasa Liar itu benar-benar pantas disebut pewaris darah Kera Petir Purba. Tubuh besarnya perlahan tegak berdiri, melangkah mendekat dengan langkah-langkah yang mengguncang tanah, lalu berdiri di sisi Chu Yi, menampilkan sikap patuh.
“Menarik sekali. Kau memang menggemaskan. Jika kau kini jadi pengikutku, tentu tak boleh kubiarkan kau kelaparan. Ambil ini.” Chu Yi terkekeh, lantas mengeluarkan sebuah inti kristal sebesar kepalan tangan dari kantong penyimpanan ruang.
Melihat inti kristal itu, mata Kera Raksasa Liar membelalak, sudut mulutnya meneteskan air liur, tampak tak sabar.
“Lihatlah dirimu, betul-betul tak tahu malu. Ambil saja, dasar belum pernah lihat dunia.” Chu Yi tertawa geli melihat tingkah kera itu, lalu melemparkan inti kristal ke arahnya.
Kera Raksasa Liar segera menangkap dan menelannya bulat-bulat dengan kecepatan luar biasa, bisa dibilang sebanding dengan Babi Besar yang melahap buah ginseng dalam legenda.
Setelah menelan inti kristal, kera itu tampak sangat menikmati sensasi yang dirasakannya. Tak lama kemudian, ia meraung dengan keras, menepuk-nepuk dadanya yang sebesar gunung. Perlahan tubuhnya pun tampak bertambah besar.
Rambut hitamnya semakin lebat, bahkan luka-luka yang dideritanya saat bertarung melawan Chu Yi pun sepenuhnya sembuh tanpa bekas.
Dari kejauhan, seorang lelaki tua bermarga Peng telah menatap dengan iri sejak Chu Yi mengeluarkan inti kristal itu, bergumam, “Itu adalah inti monster tingkat tujuh yang butuh waktu seribu tahun untuk terbentuk! Harganya setidaknya belasan ribu batu roh, dan kini hanya dimakan begitu saja oleh kera itu. Sungguh pemborosan.”
“Saudara Peng, apakah itu inti monster? Mengapa makhluk buas yang kita buru tidak memilikinya?” tanya seorang rekannya.
“Inti monster adalah hasil pemurnian darah dan energi hidup makhluk buas yang telah mencapai bentuk sempurna. Hanya makhluk tingkat tujuh ke atas yang memilikinya, dan jika belum berumur seribu tahun, makhluk tingkat tujuh pun belum tentu memilikinya,” jelas Peng. “Itu barang berharga, bahan utama untuk meracik pil langka. Konon, inti monster tingkat sembilan bisa ditukar dengan pil kelas lima.”
Sementara itu, Chu Yi melihat Kera Raksasa Liar menelan inti monster dan tubuhnya benar-benar bertambah kuat. Ia pun semakin mantap menjadikan kera besar ini sebagai peliharaannya.
“Ikutlah tuanmu, makan dan minum enak!” Pesan itu ia sampaikan lewat kesadaran kepada Kera Raksasa Liar.
Kera yang telah mencicipi nikmatnya inti monster itu pun mengangguk dengan semangat, bahkan di wajah galaknya tersungging senyum lebar, menampakkan deretan gigi setajam pisau yang memutih. Tak diragukan lagi, raksasa ini kini terlihat begitu ceria.
Chu Yi tahu persis nilai inti monster, namun ia tak peduli. Selama seratus hari terakhir, ia telah membantai sedikitnya tiga puluh hingga seratus makhluk tingkat tujuh. Bahkan beberapa di antaranya hampir menembus tingkat delapan. Hasil panen dari tubuh-tubuh makhluk itu sungguh luar biasa—inti monster saja sudah lebih dari enam puluh butir.
“Saudara senior, kami adalah kultivator lepas dari Negeri Tang Agung. Atas bantuan mulia saudara tadi, kami benar-benar sangat berterima kasih.” Pada saat itu, lelaki bermarga Peng bersama empat rekannya menghampiri Chu Yi dan memberi hormat dengan penuh takzim.
Setelah menyaksikan kekuatan menakjubkan Chu Yi, mereka pun secara alami menganggapnya sebagai “senior” di antara mereka berlima.
Dengan kekuatan kesadaran Chu Yi saat itu, ia mampu menjangkau area seluas lima li. Sejak awal ia sudah mengetahui keberadaan kelompok Peng yang bersembunyi tak jauh dari situ.
Mereka berlima datang dan memberi hormat. Chu Yi membalas dengan senyum ramah, “Bertemu di alam liar seperti ini juga sebuah takdir. Tak perlu sungkan.”
Sikap santai Chu Yi membuat kelima kultivator itu merasa lega dan semakin bersimpati padanya. Sebab, kekuatan Chu Yi sudah jelas, dan di alam liar seperti ini, pertikaian antar kelompok bukanlah hal langka.
“Senior, jenis Kera Raksasa Liar seperti ini sangat sulit dijinakkan. Meski kini sudah tunduk, belum tentu selamanya demikian. Saya sarankan senior menggunakan Jimat Penjinak untuk memasukkannya ke dalam ruang penyimpanan dan perlahan mengikis sifat liarnya. Dengan begitu, ia akan lebih mudah dikendalikan di masa depan.” Seorang kultivator muda mencoba mencari muka.
Namun, belum selesai ia bicara, Kera Raksasa Liar yang berdiri di sisi Chu Yi tiba-tiba melompat menyerang. Dengan satu gerakan cepat, ia menjepit si kultivator muda dalam genggamannya. Sedikit saja ia menambah tenaga, tubuh pemuda itu pasti hancur lebur.
“Lepaskan!” Melihat itu, Chu Yi segera menghantam punggung Kera Raksasa Liar dengan tinjunya. Pukulan keras itu membuat tubuh sang kera mundur tiga langkah dan terduduk, menimbulkan debu beterbangan.
“Uwu…” Kera itu dengan wajah sedih melepaskan pemuda yang masih setengah sadar karena ketakutan, lalu meraung pilu seperti anak kecil yang menangis.
“Orang lain boleh membuli aku, tapi aku tak boleh balas? Sungguh tak adil.” Pesan kesadaran itu membuat Chu Yi tersenyum geli. Tak disangka, sosok raksasa ini begitu kekanak-kanakan.
Chu Yi pun menegaskan lewat kesadaran, “Tanpa perintahku, jangan lukai manusia. Ikutlah tuanmu, hari-harimu yang baik baru saja dimulai.”
Tampaknya, konsep “hari baik” diartikan oleh Kera Raksasa Liar sebagai kesempatan makan inti monster lezat tanpa batas. Begitu teringat inti yang baru saja disantap, air liur pun kembali mengalir di sudut mulutnya, sambil mengangguk penuh semangat.
Pemandangan ini sekali lagi membuat Peng dan rekan-rekannya terperangah. “Makhluk buas ini bisa paham bahasa manusia… dan juga pendendam… Memang, sebutan makhluk buas sudah tak cocok lagi, dia lebih pantas disebut siluman!”
Saat itu, seorang kultivator wanita bertanya dengan penuh harap, “Kera Raksasa Liar sudah tunduk pada senior. Lalu, bagaimana rencana senior atas ‘Batu Darah Jingga’ itu?”
Mendengar sebutan “Batu Darah Jingga”, Kera Raksasa Liar segera menampakkan taring putihnya dan menatap tajam pada sang wanita. Namun, belajar dari kejadian barusan, kali ini ia menahan diri dan tidak bertindak gegabah.