Memilih Pembimbing
Benar saja, tak lama setelah upacara selesai, Bai Yu menerima pemberitahuan untuk berkumpul di sebuah ruang kelas keesokan harinya. Pemberitahuan itu juga menjelaskan secara rinci sistem pemilihan ganda antara siswa dan mentor, serta melampirkan informasi seratus orang mentor.
Setelah menelaahnya dengan saksama, Bai Yu menyadari bahwa mentor yang sesuai dengan jurusan yang ia pelajari hanya sekitar setengahnya saja. Banyak mentor yang bidang penelitiannya cukup langka, kemungkinan memang dipersiapkan untuk peserta dari jurusan lain.
Jadi, yang disebut pemilihan ganda itu, kemungkinan banyak peserta sejatinya tidak punya banyak pilihan. Toh, mustahil memilih mentor dengan spesialisasi yang sama sekali berbeda dengan jurusan yang digeluti, bukan?
Yang paling mengejutkan Bai Yu adalah, dua mentor yang ia temui kemarin—Su Qiong dan Nangong Ziyan—ternyata adalah dua mentor paling menonjol di antara seratus mentor yang akan memilih peserta kali ini. Mereka benar-benar bersaing dalam kelas yang sama, dan informasi tentang mereka sangat mencolok.
Usia pasti Su Qiong memang tidak tertulis, tapi dari riwayat hidupnya yang terperinci, Bai Yu mendapati bahwa Su Qiong hanya membutuhkan waktu sekitar seribu seratus tahun untuk naik dari peringkat bintang empat ke puncak bintang enam baik sebagai Pengendali Spirit Mental maupun Prajurit Genetik.
Dengan kata lain, dengan kecepatan seperti itu, Su Qiong sekarang seharusnya baru berusia sekitar seribu dua ratus tahun—benar-benar luar biasa, bahkan berpeluang menembus peringkat bintang sembilan dalam kurun waktu tiga puluh ribu tahun dan mencapai tingkat dewa.
Selain itu, saat Su Qiong memperkenalkan diri pada Bai Yu tempo hari, ada satu hal yang tidak ia ungkapkan. Kenyataannya, keahliannya yang paling menonjol adalah dalam hal pembasmian—baik terhadap sesama manusia, makhluk cerdas luar angkasa, maupun binatang bintang, Su Qiong adalah ahli pembunuh sejati.
Di dalam, Su Qiong pernah beberapa kali terlibat dalam penumpasan pemberontakan dan membasmi manusia yang bermutasi menjadi binatang. Bahkan pemimpin manusia bermutasi di Bintang Aurora, yang disebut sebagai jenderal, pernah dikejar-kejar sendirian oleh Su Qiong hingga bagai anjing, bersembunyi di dunia bawah tanah. Adapun binatang bintang di Bintang Aurora, Su Qiong berkali-kali masuk ke bawah tanah untuk membasmi kawanan binatang, bahkan pernah mencetak rekor membunuh seratus tujuh puluh sembilan ekor binatang bintang enam dalam satu pertempuran. Satu koloni penuh Naga Bersayap Angin dewasa, yang tiap individunya berperingkat bintang enam, pun pernah ia basmi.
Di luar, Su Qiong sudah tiga kali ikut serta dalam perang besar melawan peradaban asing, dan pencapaian pesatnya hampir seluruhnya didapatkan setelah tiga perang besar itu.
Sementara Nangong Ziyan, tidak kalah hebat dibanding Su Qiong. Ia juga hanya membutuhkan waktu seribu tiga ratus tahun untuk naik dari bintang empat ke puncak bintang enam baik sebagai Pengendali Spirit Mental maupun Prajurit Genetik.
Walaupun Nangong Ziyan juga pernah banyak terjun ke medan tempur—maklum, dia memang andalan militer—tetapi pada dasarnya ia lebih merupakan tipe akademisi sejati.
Baik dalam hal susunan simbol, pembuatan artefak, maupun ekstraksi dan penggabungan cairan spiritual, pencapaiannya jauh melampaui Su Qiong, bahkan banyak menciptakan inovasi yang revolusioner. Jika Su Qiong adalah seorang maestro di bidang ini, maka Nangong Ziyan sudah layak disebut sebagai mahaguru. Yang satu mencapai puncak dalam mengasah keterampilan dan membentuk gaya sendiri, yang satu lagi mengembangkan dan memperbarui ilmu hingga menciptakan mazhab baru.
Namun, dalam hal mengajar murid, Su Qiong tampaknya masih kalah dibanding Nangong Ziyan.
Lebih dari seratus tahun lalu, Nangong Ziyan dan Su Qiong hampir bersamaan masuk Akademi Cahaya Perak sebagai mentor senior. Saat itu, keduanya sudah berada di puncak bintang enam—mungkin untuk memantapkan jalur masing-masing, mengumpulkan bekal demi menembus bintang tujuh.
Apalagi, dari segi sumber daya, tempat yang lebih kaya dari Bintang Aurora nyaris tidak ada. Akademi Cahaya Perak yang bersandar pada Bintang Aurora tentu termasuk institusi kelas kakap yang sangat kaya.
Dalam seratus tahun lebih terakhir, Su Qiong telah membimbing tujuh murid, semuanya lulus dengan hasil puncak bintang tiga dan dianugerahi pangkat kolonel, dengan rata-rata waktu pembinaan hanya dua puluh tahun per murid.
Sedangkan Su Qiong, benar-benar luar biasa. Ia membimbing lima murid, salah satunya Long Tingxue yang mencapai puncak bintang empat—benar-benar mengagumkan.
Dua murid lainnya juga lulus di puncak bintang tiga dengan pangkat kolonel.
Namun, dua murid lagi, semuanya tercatat gugur!
Dari sini saja sudah terlihat, tingkat kematian murid Su Qiong mencapai empat puluh persen.
Sesungguhnya, Bai Yu sama sekali tak menyangka, dari dua murid Su Qiong yang gugur itu, seorang tewas karena tubuhnya meledak saat mencoba menembus bintang empat, sedangkan seorang lagi bunuh diri tak sanggup menahan tekanan dari latihan ekstrem yang diberikan.
Jadi, istilah "gugur" di sini hanyalah eufemisme, upaya memperhalus dan menutupi kenyataan.
Karena alasan ini, para peserta yang mengetahui metode latihan ekstrem Su Qiong pun menyimpan perasaan yang sangat rumit.
Perlu diketahui, dari kelima murid Su Qiong, selain Long Tingxue dan satu yang tewas karena kegilaan saat menembus bintang empat (akibat kepribadian ganda berebut kendali tubuh), tiga sisanya bukanlah talenta teratas di antara peserta baru.
Bahkan, di dalam Akademi Cahaya Perak sendiri, ada juga peserta lain yang menjalani metode latihan ekstrem, dan tak sedikit yang akhirnya tewas atau bunuh diri. Namun, bagi yang berhasil bertahan, walau mudah menjadi gila, kekuatan mereka melonjak drastis.
Dibandingkan cara-cara umum yang sesuai aturan, metode latihan ekstrem Su Qiong jelas tergolong jalur sesat—penuh risiko dan efek samping, tapi imbalannya juga besar. Risiko dan hasilnya sebanding.
Bagi peserta yang sangat mendambakan kekuatan dan tak perduli risiko, mereka tahu itu racun yang manis, namun tetap saja akan meminumnya dengan mata tertutup.
Hanya saja, kini Su Qiong menuntut standar yang lebih tinggi. Ia ingin menembus bintang tujuh, bahkan lebih tinggi lagi, dengan metode latihan ekstrem yang ia simpulkan sendiri. Namun, talenta "biasa" sudah tidak cukup untuk membantunya melakukan verifikasi lebih lanjut. Ia butuh murid yang luar biasa seperti dirinya sendiri atau Long Tingxue.
Jelas, alasan Su Qiong begitu bernafsu mengincar Bai Yu adalah karena ia mengakui Bai Yu sebagai talenta luar biasa setara dirinya.
Sebaliknya, sebagai akademisi sejati, Nangong Ziyan sangat membenci cara Su Qiong yang menuntut hasil instan dan mengorbankan murid-murid berbakat.
Dulu, Nangong Ziyan sangat menyukai Long Tingxue, namun ia kalah dalam perebutan dengan Su Qiong. Sampai sekarang, di mata Nangong Ziyan, Long Tingxue hampir "dihancurkan" oleh Su Qiong.
Melihat Su Qiong masih ingin terus "menghancurkan" murid lain, Nangong Ziyan jelas tidak akan tinggal diam. Ia pun menjaga ketat agar rencana Su Qiong tak berhasil.
Ketika Bai Yu tiba di ruang kelas tempat pemilihan mentor dan murid berlangsung, Su Qiong dan Nangong Ziyan, selaku mentor, ternyata sudah datang lebih awal, bahkan lebih cepat dari Bai Yu yang datang setengah jam sebelum waktu yang ditentukan.
“Bai Yu! Sudahkah kau memikirkan keputusannya? Jika kau memilihku, aku jamin dalam tiga puluh tahun kau pasti bisa menembus peringkat bintang empat atau lebih, dan setidaknya lulus dengan pangkat Brigadir Jenderal Bintang Perak.”
Su Qiong langsung menyapa Bai Yu, sontak menarik perhatian puluhan peserta yang sudah hadir. Di antaranya, Mo Long menatap tajam ke arah Bai Yu, ekspresinya penuh amarah dan iri.
Mo Long mendapat nilai sangat baik dalam ujian praktik garis depan, tapi tetap saja jadi langganan juara dua. Kesempatan berendam di Kolam Transformasi Naga pun direbut Bai Yu. Mana mungkin ia tak marah?
Kali ini pun sama; dua mentor terbaik itu sama sekali tak meliriknya, sedangkan begitu Bai Yu datang, Su Qiong langsung menyapa—jelas mereka sudah saling kenal sejak sebelumnya.
Selanjutnya, ucapan yang keluar malah membuat Mo Long kian kecewa.
“Bai Yu! Jangan pilih Su Qiong, dia itu gila dan akan menghancurkan masa depanmu! Jika kau mau jadi muridku, aku akan membimbingmu sepenuh hati. Aku tak akan memberi janji apa pun tentang masa depanmu, tapi aku pasti tak akan menyia-nyiakan bakatmu,” ucap Nangong Ziyan dengan sungguh-sungguh.
“Mentor Nangong, jika saya ingin suasana belajar yang bebas, bisakah Anda menyanggupinya?” Setelah berpikir sejenak, Bai Yu pun mengajukan pertanyaannya. Soal Su Qiong, sejak awal memang tak ia pertimbangkan.
Nangong Ziyan tertegun, lalu tersenyum, “Ternyata kau sudah menemukan cara tumbuhmu sendiri! Bagus, tugasku hanya membimbing dan menjawab pertanyaanmu. Jika kau punya pemikiran sendiri, guru takkan ikut campur. Jalan itu untuk dilewati sendiri, bukan dipaksakan orang lain.”
Sambil berkata demikian, Nangong Ziyan melirik Su Qiong sambil tersenyum tipis. Jelas, pertanyaan Bai Yu tadi sudah merupakan jawaban.
“Guru! Mohon terimalah aku sebagai murid!” ucap Bai Yu sembari mengeluarkan sebotol cairan spiritual yang sudah ia siapkan sebagai hadiah penghormatan, lalu menyerahkannya dengan hormat pada Nangong Ziyan.
Nangong Ziyan menerimanya dengan senyum di wajah. Hubungan guru dan murid pun resmi terjalin. Sampai kelulusannya nanti, Nangong Ziyan adalah guru Bai Yu.