Bab 160 Masuk Kembali ke Kediaman Keluarga Qin!

Menantu Kaisar Medis dan Militer Kaisar Sembilan 1911kata 2026-03-31 22:02:04

Matahari terbit, menebarkan ribuan berkas cahaya keemasan.

Kabar bahwa Panglima Tertinggi Wilayah Selatan semalam mendatangi kediaman secara langsung untuk mengobati Dewa Perang Xiling telah menggemparkan seantero kota besar itu.

Di setiap jalan dan sudut gang, orang-orang membicarakannya dengan hangat. Gelar Panglima Selatan menjadi topik utama yang menuai segala bentuk penghormatan dan pujian dari setiap insan.

Di dalam Vila Nanshan, sebagai sosok yang dipuja dan dipuji oleh begitu banyak orang, Xu Nan sebenarnya sudah terbangun sejak lama, tetapi dia tidak kunjung bangkit dari pembaringan. Dia berbaring di atas tempat tidur sambil menarik napas panjang menahan ngilu.

Alasannya sederhana: bagian vitalnya terasa sangat sakit.

Ciuman semalam, di dalam benak Xu Nan, terjadi pada waktu yang sangat tepat. Dia ingin memanfaatkannya untuk mempererat hubungan yang sebenarnya sudah berkembang pesat agar semakin harmonis.

Siapa sangka, Qin Feiyue yang tampak begitu lembut dan rapuh ternyata menyimpan sisi ketegasan yang mematikan.

Sebuah hantaman lutut yang tiba-tiba hampir membuat Xu Nan kehilangan masa depannya.

Begitulah, sang maestro agung yang tak terkalahkan di medan perang Wilayah Selatan, pada akhirnya harus takluk dengan begitu mudah di bawah gaun tidur berenda milik Qin Feiyue.

Bahkan setelah semalam berlalu, rasa sakit itu belum sepenuhnya pulih.

Tok, tok, tok...

Pintu kamar tiba-tiba diketuk, dan suara Qin Feiyue terdengar dari luar: "Xu Nan, buka pintunya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

Begitu mendengaran suara Qin Feiyue, Xu Nan langsung teringat pada hantaman lutut itu. Mengingat hantaman tersebut membuat bagian bawahnya kembali berdenyut ngilu, yang seketika memancing keringat dingin di keningnya.

"Bicaralah dari balik pintu saja!"

Xu Nan sama sekali tidak berani membiarkan Qin Feiyue masuk ke dalam kamar. Jikalau wanita itu masih menyimpan amarah dan melancarkan satu serangan lagi, usianya bisa-bisa harus berakhir di angka dua puluh enam.

"Ibumu menyuruhku pulang, dan aku berniat membawa An'an kembali bersamaku."

*Kriek.*

Begitu suara Qin Feiyue usai, Xu Nan langsung melompat membukakan pintu kamar, sambil buru-buru mengancingkan kancing terakhir kemeja putihnya. "Kapan kita akan pulang? Aku akan segera membereskan barang-barang."

"Kamu..."

Qin Feiyue tertegun sejenak. "Kamu juga berniat ikut ke rumahku?"

"Anakku pergi ke keluarga Qin, dan ibu dari anakku juga pulang ke keluarga Qin. Bagaimana mungkin aku tidak ikut? Kalau nanti mereka diculik orang bagaimana?" jawab Xu Nan tanpa ragu.

Air muka Qin Feiyue tidak berubah, dia mengangguk pelan dan berkata, "Kita berangkat setelah sarapan."

Xu Nan menangkap dengan jeli secercah kehangatan yang melintas di lubuk mata wanita itu.

"Baiklah, aku akan segera menyusul setelah membersihkan diri."

"Hm."

Qin Feiyue bergeming sejenak lalu berbalik untuk pergi, namun dia mengurungkan niatnya dan menoleh kembali. Di wajah cantiknya yang jelita tersirat rona kemerahan yang mempesona, dengan ragu-ragu dia bertanya, "Kamu... kamu sudah tidak apa-apa?"

Sudut bibir Xu Nan berkedut. "Tidak apa-apa, ke depannya aku masih bisa memberimu kebahagiaan."

"Cih!"

Qin Feiyue mendengus kecil, lalu melangkah pergi.

Langkahnya begitu ringan, menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang cukup baik.

Suasana hati Xu Nan pun seketika ikut membaik.

Wanita yang telah menderita begitu banyak cobaan karena dirinya ini, harus mendapatkan kebahagiaan di sisa hidupnya kelak.

Itu adalah janji Xu Nan, dan tidak akan ada yang bisa menghentikannya!

Tak lama kemudian, Xu Nan yang sudah selesai membersihkan diri turun untuk sarapan.

An'an sedang menggunakan garpu untuk menusuk sebutir telur mata sapi, membuat mulut kecilnya yang kemerahan tampak berminyak.

"Mirip seperti kucing comel."

Xu Nan dengan penuh kasih sayang mengambil sehelai tisu untuk menyekiti mulut putrinya, sementara An'an menyeringai lebar hingga matanya menyipit menyerupai bulan sabit.

"Hari ini kan hari Sabtu, setelah sarapan kita pergi ke taman bermain ya? Ayah sudah berjanji padaku." pinta An'an penuh harap.

"Besok saja," kata Qin Feiyue. "Kita akan pulang sebentar lagi."

"Pulang ke rumah yang mana?"

An'an mengedipkan matanya dengan bingung. "Bukankah rumah kita ada di sini?"

Qin Feiyue terdiam sejenak, lalu menatap Xu Nan. "Tempat ini, setidaknya untuk sementara waktu, bukanlah rumah kita."

"Ibu, menurutku tempat ini adalah rumah kita. Aku tidak mau pergi ke rumah nenek serigala!" ucap An'an dengan nada cemas.

"Nenek serigala?"

Qin Feiyue membelalakkan matanya. "Siapa yang mengajarimu sebutan itu?"

"Aku yang mengajarinya," jawab Xu Nan spontan.

Tanpa berpikir panjang, Qin Feiyue melayangkan tendangan di bawah meja.

Xu Nan langsung meringis kesakitan.

"Jangan berani-ani mengajari An'an yang bukan-bukan lagi!" tukas Qin Feiyue dengan alis terangkat.

Xu Nan hanya bisa menunduk melanjutkan sarapannya, namun hatinya merasa sangat tenteram.

Bukannya dia menikmati siksaan, melainkan dari gestur-gestur kecil Qin Feiyue itulah terpancar sikap aslinya terhadap Xu Nan.

Jika dibandingkan dengan masa lalu, Qin Feiyue mungkin akan memasang wajah dingin dan bahkan terlalu malas untuk memberikan reaksi apa pun, apalagi menendang Xu Nan seperti tadi.

Sekilas tindakan itu tampak lebih kejam, tetapi sebenarnya justru menunjukkan kedekatan hubungan di antara mereka.

An'an, yang telah berdandan rapi bagaikan seorang putri kecil, tetap memasang wajah cemberut saat hendak berangkat.

Namun, begitu melihat Xu Nan juga ikut pergi, kekhawatirannya mereda. Dia merentangkan kedua tangannya dan memeluk erat tubuh Xu Nan, lalu berpesan layaknya orang dewasa, "Hari ini Ibu yang menyetir, jadi aku mau digendong Paman Xu."

"Siap dilaksanakan, Putri Yang Mulia!"

Nada bicara Xu Nan yang berlebihan berhasil membuat An'an tertawa terkekeh-kekeh.

Qin Feiyue merekam pemandangan hangat itu dalam lubuk hatinya, sementara sudut bibirnya tanpa sadar melengkungkan senyuman lembut yang menenangkan jiwa. Dia duduk di kursi pengemudi, bertindak sebagai sopir, lalu perlahan-lahan melajukan mobil meninggalkan tempat itu menuju ke kediaman keluarga Qin.

Meskipun jalanan tidak macet, Qin Feiyue mengemudi dengan sangat pelan dan stabil, sehingga butuh waktu satu setengah jam bagi mereka untuk tiba di kompleks kediaman keluarga Qin dari Vila Nanshan.

Di dalam aula utama, seluruh anggota inti keluarga Qin sudah berkumpul tanpa terkecuali.

Begitu melihat kehadiran Xu Nan, ekspresi seluruh anggota keluarga Qin langsung berubah masam, seolah-olah mereka baru saja menelan lalat mati.

"Xu Nan! Tempat ini tidak menyambutmu, enyah sana!" Qin Kaihai langsung melancarkan serangan verbal.

An'an meringkuk ketakutan di dalam pelukan Xu Nan.

Xu Nan menepuk-nepuk lembut punggung putrinya, lalu tersenyum tipis. "Bukankah kita sudah membuat kesepakatan bahwa aku akan menjaga dan melindungi kediaman keluarga Qin? Aku adalah orang yang memegang teguh janji."

Qin Kailai berkata dengan geram, "Jika kamu benar-benar ingin menepati janji, seharusnya kamu enyah dari sini! Rumah leluhur keluarga Xu telah menghabiskan uang keluarga kami sebanyak satu miliar! Sebelumnya, Dewa Perang Xiling meminta agar kamu menyambutnya, jadi kamu tidak bisa pergi, itu masih bisa dimaklumi. Tapi sekarang sudah tidak ada alasan lagi, bukan? Kamu seharusnya meninggalkan kota ini dan tidak pernah kembali lagi seumur hidupmu!"