Bab 64: Binatang!
Krek!
Gemuruh terdengar...
Ketika langit mulai gelap, suara guntur menggelora, lalu hujan deras mengguyur.
Di luar rumah kayu tua di Pemakaman Gunung, para petugas ronda berdiri tegak di bawah payung, menjalankan tugas mereka dengan penuh kehati-hatian.
Di dalam rumah, Sri Yuwita memeluk erat anaknya, Joko, wajahnya dipenuhi penyesalan yang tak berujung.
Karena atap rumah bocor, ibu dan anak itu pun basah kuyup.
"Aku benar-benar menyesal. Seharusnya dulu aku kirim saja anak bajingan ini menyusul ibu kandungnya yang hina. Kalau begitu, kita berdua tidak akan jatuh sampai semalang ini."
Joko tak berkata apa-apa, saat ini yang ada di benaknya hanyalah keinginan untuk bertahan hidup.
Sri Yuwita mengelus kepala putranya, bicara lembut, "Jangan khawatir, Nak. Ibu akan memastikan kamu bisa tetap hidup. Dengarkan aku, di Perumahan Teluk Bukit, wilayah Sabak, aku membeli sebuah rumah dengan identitas palsu. Di dalam rumah itu ada simpanan uang darurat, lebih dari tiga ratus juta. Setelah Nanan membiarkanmu pergi, ambil uang itu, tinggalkan Kota Berat, cari kota mana saja, sembunyikan identitasmu dan hiduplah dengan baik. Dengan kemampuanmu, kamu pasti bisa segera mendapatkan hati gadis kaya, dan lewat mereka, kamu bisa bangkit lagi."
"Kalau suatu saat kamu sudah punya kemampuan, kembalilah membalaskan dendam untukku. Kalau tidak, jalani saja hidupmu dengan baik, itu pun sudah cukup. Selama ini Ibu melakukan segala cara demi mendapatkan uang, semua itu agar kamu bisa hidup lebih baik. Anakku, mana mungkin kau hidup biasa-biasa saja?"
Ada orang yang sampai mati pun tetap tak bisa mengubah tabiat aslinya.
Begitulah Sri Yuwita.
"Unit 11, lantai 12, nomor 3 di Teluk Bukit. Kunci bisa diambil di pengelola, uangnya kusimpan di sela papan ranjang. Ada identitas palsu juga yang sudah kusiapkan untukmu, kamu..."
Setelah menjelaskan dengan serius, Sri Yuwita bertanya, "Kamu dengar baik-baik, kan? Ingat baik-baik."
Joko mengangguk dengan penuh kesungguhan.
Sri Yuwita kembali bertanya, "Lututmu masih sakit?"
"Sakit, tapi sudah jauh lebih baik," jawab Joko.
"Roda hidup selalu berputar, Nak."
Sri Yuwita mengelus pipi anaknya, suara lembut menguatkan, "Kalau Nanan bisa berubah dalam enam tahun, anakku juga bisa. Ibu percaya padamu."
"Ibu..."
Joko menatap, matanya memerah.
Sri Yuwita tak kuasa menahan air mata, "Nak, nanti kalau Ibu tak ada di sampingmu, jaga dirimu baik-baik, ya?"
"Aku mengerti..."
Krek...
Saat itu juga, pintu dibuka seseorang.
Ibu dan anak itu serempak menoleh, tampak seorang petugas ronda paruh baya.
Di tangannya ada map dokumen, ia melemparnya dengan senyum sinis.
"Sri Yuwita, kau rela mengorbankan diri demi menyelamatkan Joko. Tapi setelah melihat ini, entah kau masih mau bertahan dengan keputusanmu atau tidak."
Selesai berkata, ia berbalik hendak pergi, namun sempat menoleh lagi, "Ini hasil penyelidikan khusus permintaan Tuan Nan, kau seharusnya berterima kasih."
Pintu tertutup kembali.
Sri Yuwita ragu sejenak, lalu memungut map itu, merobek segelnya. Seketika beberapa foto dan kertas tipis berjatuhan.
Tatapan ibu dan anak itu tertuju pada foto-foto tersebut.
Dalam sekejap, wajah Joko pucat pasi, sementara mata Sri Yuwita membelalak, tubuhnya gemetar hebat.
Di foto itu, tampak seorang remaja dengan raut penuh dendam, dan seorang pria paruh baya, sekitar empat puluh tahun, wajahnya penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan.
Mereka berdiri di atap sebuah gedung, remaja itu adalah Joko, kedua tangannya dalam posisi mendorong.
Pria itu adalah ayah kandung Joko, suami pertama Sri Yuwita, yang tubuhnya tampak terjungkal ke belakang, jatuh dari atap.
Adegan itu terhenti di sana.
Siapa pun yang melihat, akan tahu, Joko lah yang mendorong ayah kandungnya dari atap!
"Ini... ini..."
Tubuh Sri Yuwita bergetar hebat seolah tersengat listrik, ia memungut satu per satu foto itu.
"Jangan lihat!"
Tiba-tiba Joko menerkam, seperti orang gila merebut foto-foto itu dan merobeknya hingga hancur.
Juga kertas berisi beberapa tulisan itu, ia koyak habis-habisan.
Setelah itu, ia terduduk di lantai, terengah-engah, wajahnya bercucuran entah air hujan atau keringat.
"Kamu..."
Tatapan Sri Yuwita kosong, melihat anak yang dibesarkannya sendiri kini terasa begitu asing, hatinya kacau balau.
"Bukan aku! Bukan!"
Wajah Joko penuh kegilaan, ia berteriak keras, "Itu semua palsu! Itu rekayasa bajingan Nanan! Ibu... Ibu... Percaya sama aku!"
Sri Yuwita diam membisu, tubuhnya menggigil.
Ia sangat paham, jika itu bohong, anaknya takkan sampai bereaksi sedemikian rupa.
Foto-foto dan tulisan itu, nyata adanya!
Joko telah membunuh ayah kandungnya sendiri!
"Mengapa..."
Tiba-tiba Sri Yuwita meraung sejadi-jadinya.
"Kenapa? Ia keluar rumah tiap hari, entah berapa uang yang dihambur-hamburkan, tapi tak pernah rela memberiku! Sebulan cuma kasih aku sepuluh juta, mana cukup? Aku minta, dia malah memaki, bilang aku bukan anaknya! Ya sudah, aku pun tak mau punya ayah seperti dia!"
Tangis Sri Yuwita terhenti seketika.
Ia menatap Joko yang kini tampak begitu menyeramkan dan asing, hingga tubuhnya lemas tak berdaya.
"Hanya karena itu?"
Penyesalan luar biasa menenggelamkan seluruh dirinya.
"Andai waktu bisa diulang, aku takkan pernah memanjakan dia!"
"Andai bisa diulang, aku akan mencekiknya dengan tanganku sendiri!"
"Andai bisa diulang... Tidak! Aku harus tetap hidup! Yang pantas mati itu binatang pembunuh ayah seperti dia! Dia bukan anakku! Bukan! Bukan!"
Hati Sri Yuwita menjerit histeris.
Benar-benar telah berubah menjadi kelam dan bengkok!