Bab 118: Keluarga Qin Sungguh Murah Hati!
Mendengar ucapan Xu Nan, tubuh Xu Yaozhong bergetar. Wajahnya dipenuhi penyesalan dan penderitaan.
“Kak…”
Xu Bei masih hendak mengatakan sesuatu, tetapi Xu Nan mengangkat tangan untuk menghentikannya. “Sudah larut malam, kau masih berkeliaran di luar. Akan kusuruh Hongzhuang mengantarmu kembali ke sekolah.”
Sambil berkata demikian, Xu Nan mengeluarkan ponsel dan menelepon Hongzhuang.
Mata Xu Bei sedikit meredup, tetapi sesaat kemudian kembali berbinar. “Kak, kau datang ke sini untuk menghadiri pelelangan? Apa kau ingin membeli kembali rumah kita?”
“Cih…” Qin Kaihai mencibir. “Dia tidak mampu membelinya.”
Xu Bei hendak membantah, tetapi Xu Nan kembali mengangkat tangan untuk menghentikannya.
Setelah berbicara singkat dengan Hongzhuang, Xu Nan menutup telepon. Ia melirik Xu Yaozhong yang rambut di pelipisnya telah memutih dan wajahnya dipenuhi penderitaan, lalu berkata datar, “Sebentar lagi Hongzhuang akan datang menjemput kalian. Ayah mertua, ayo.”
“Tutup mulutmu!” bentak Qin Kaihai. “Kau bukan menantuku. Jangan panggil aku begitu!”
Setelah berkata demikian, ia tertawa karena marah, lalu mengalihkan pandangan kepada Xu Bei. Ia mengamatinya sejenak sebelum berkata, “Adik perempuanmu ini ternyata tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menawan. Ia bisa dinikahkan dengan keponakanku, Qin Yuan. Kalau begitu, aku akan membawa kalian bertiga masuk ke tempat pelelangan. Bagaimana kalau—”
Belum selesai berbicara, ia sudah tak mampu melanjutkan.
Tatapan Xu Nan begitu dingin, tajam, dan berbahaya, membuat Qin Kaihai merasa seolah-olah sedang diawasi seekor binatang buas.
Tekanan tak kasatmata yang begitu kuat membuat napasnya pun menjadi kacau.
Xu Nan berkata dengan tenang, “Jangan bercanda mengenai adik perempuanku. Itu batas terakhirku.”
“Hmph!”
Setelah tersadar, hati Qin Kaihai bergetar ketakutan. Namun, demi mempertahankan harga dirinya, ia hanya mendengus dingin dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia pun pergi dengan langkah besar.
Xu Nan memandang adiknya yang matanya penuh harapan, kemudian menatap ayahnya yang tampak kehilangan jiwa. Pada akhirnya, hatinya melunak.
“Tenang saja. Rumah leluhur kita akan dibeli kembali.”
Ucapan itu bagaikan obat mujarab penyelamat nyawa. Semangat Xu Yaozhong seketika bangkit. Ia menatap Xu Nan dengan penuh kegembiraan. “Benarkah bisa dibeli kembali? Dari mana kau mendapatkan uang?”
Xu Nan mengerucutkan bibir, lalu melangkah menyusul Qin Kaihai. “Keluarga Qin sangat dermawan. Mereka akan membelikannya untukku.”
Xu Bei: “???”
Xu Yaozhong: “???”
Qin Kaihai yang berjalan di depan nyaris menabrak pintu putar. Sudut bibirnya berkedut keras, sementara hatinya dipenuhi kemarahan.
Lift berhenti di lantai delapan. Ketika pintunya terbuka, sebuah aula perjamuan yang sangat besar terbentang di hadapan mereka.
Lantainya dilapisi karpet merah, sementara di kedua sisinya terdapat banyak kursi.
Para pelayan berjalan hilir-mudik membawa baki. Para wartawan juga terus menekan tombol kamera, mengabadikan sosok-sosok berkuasa.
Saat itu, pelelangan akan dimulai dalam waktu kurang dari setengah jam. Sudah cukup banyak tokoh ternama dari dunia bisnis yang datang dengan mengenakan setelan rapi.
Tujuan mereka bukanlah rumah leluhur keluarga Xu, melainkan berbagai aset lainnya.
Kota Chongcheng tidaklah besar. Berbagai bidang usaha sudah dipenuhi para pemain lama, sehingga pendatang baru yang ingin bangkit harus menghadapi kesulitan luar biasa.
Setiap kali sebuah perusahaan besar tumbang, kekayaan yang ditinggalkannya akan mengundang orang-orang yang tampak seperti kaum bangsawan, tetapi sebenarnya tak berbeda dari hiu, untuk berebut melahapnya.
Kedatangan Xu Nan bersama Qin Kaihai menarik perhatian banyak orang.
Meskipun kabar bahwa Xu Nan pergi ke keluarga Qin telah tersebar ke seluruh penjuru kota, orang-orang tetap merasa terkejut ketika melihat mereka berjalan bersama.
Tatapan yang tertuju kepada mereka pun mengandung makna yang sulit ditebak.
Peristiwa enam tahun lalu diketahui semua orang. Bagi keluarga Qin, Xu Nan seharusnya menjadi orang yang paling mereka benci. Namun, perkembangan situasi sekarang benar-benar membuat mereka tak mampu memahaminya.
Tentu saja, ada pula yang menduga bahwa keluarga Qin hendak menjadikan Xu Nan sebagai menantu. Hanya dengan cara itulah nama Qin Feiyue dapat dipulihkan dan skandal keluarga Qin dihapuskan.
Bisik-bisik terus terdengar, membuat wajah Qin Kaihai menjadi begitu muram seolah-olah air akan menetes darinya.
Semula ia ingin berbincang dengan beberapa kenalan, tetapi kini ia sudah kehilangan minat. Ia duduk di kursinya, menundukkan pandangan dan menjaga pikirannya tetap tenang, seolah-olah menjadi patung.
Xu Nan duduk di samping Qin Kaihai dengan raut wajah yang tetap tenang seperti biasa.
“Bukankah itu Tuan Muda Xu? Lama tidak bertemu.”
Suara penuh ejekan terdengar dari dekat telinganya.
Xu Nan mengangkat kepala dan melihat beberapa pemuda tampan berdiri di sampingnya. Mereka mengenakan pakaian dari merek internasional, memakai jam tangan bermerek, serta menata rambut dengan gaya ala bintang Korea. Seluruh tubuh mereka memancarkan kesombongan dan keyakinan diri yang berlebihan.
Mereka semua adalah kenalan lama.
Tuan Muda Keluarga Wei, Wei Xu; Tuan Muda Keluarga Gu, Gu Qingyan; serta Tuan Muda Keluarga Zhou, Zhou Zihao.
Orang-orang lainnya berjalan setengah langkah di belakang mereka. Mereka semua adalah putra-putra kaya dari lingkaran pemuda berandal Kota Chongcheng.
Qin Kaihai melirik mereka dari sudut mata, lalu bangkit dan pergi menuju toilet.
Xu Nan tersenyum dan mengangguk. “Tuan-tuan muda, memang sudah lama tidak bertemu. Lebih dari enam tahun, tetapi sepertinya kalian tidak banyak berubah.”
“Hahaha, tentu saja kami tidak banyak berubah. Namun, Tuan Muda Xu, perubahanmu sungguh besar.”
“Benar sekali. Tuan Muda Xu sekarang sudah sangat hebat. Enam tahun lalu kau melarikan diri dengan begitu menyedihkan, tetapi sekarang kau bahkan sudah tinggal di rumah keluarga Qin. Kelihatannya Tuan Muda Xu kita sudah berhasil mendapatkan hati seorang wanita cantik. Entah kapan kami bisa menghadiri pesta pernikahanmu dengan Nona Muda Qin?”
Xu Nan hanya tersenyum tanpa menjawab.
Orang-orang sering berkata bahwa manusia akan berangsur-angsur menjadi dewasa seiring berjalannya waktu. Namun, sifat dasar seseorang tidak akan berubah.
Dahulu, orang-orang ini menjadikan tindakan menindas Xu Nan sebagai hiburan.
Reputasi Tuan Muda keluarga Xu yang tidak berguna dan terkenal di seluruh Kota Chongcheng tak lepas dari jasa mereka.
Kini mereka masih sama saja.
“Kalian iri saja sesuka hati. Mana mungkin kita memiliki keberuntungan seperti Tuan Muda Xu? Meskipun keluarga Xu telah hancur, kau masih berhasil mendekati keluarga Qin. Siapa tahu dengan mengandalkan status sebagai menantu keluarga Qin, kau bahkan bisa bangkit kembali. Benar, bukan?”