Bab 93: Kata-Kata yang Menjadi Kenyataan
“Qin Feiyue, ikut aku!”
Xu Nan langsung menarik Qin Feiyue yang sedang hancur hatinya, lalu membawanya pergi dengan langkah cepat.
“Aku tidak mau! Aku harus mencari putriku! Aku harus mencari An-An!” Qin Feiyue tiba-tiba meronta, berteriak histeris.
“Aku akan membawamu mencari An-An!”
Xu Nan mengangkat Qin Feiyue dengan kedua tangannya, lalu berlari secepat kilat keluar dari rumah keluarga Qin. Mendengar akan dibawa mencari An-An, mata Qin Feiyue penuh harap. Ia tidak lagi meronta dalam pelukan Xu Nan. Setelah Xu Nan membuka pintu mobil dan mendudukannya di kursi penumpang depan, Qin Feiyue berkata pelan, “Xu Nan, kalau kau bisa menemukan An-An, aku tidak akan membencimu lagi.”
“Itu urusan nanti, yang penting sekarang selamatkan An-An dulu!”
Xu Nan segera masuk ke mobil, menyalakan mesin, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. Suara mesin meraung, sedan itu melesat bagaikan anak panah yang meluncur dari busurnya.
Jalanan berkelok-kelok, namun Xu Nan tetap memacu mobil di kecepatan seratus kilometer per jam. Suara rem yang melengking terdengar berkali-kali, berbagai aksi drift dan tikungan tajam ia lalui.
Beberapa kali Qin Feiyue merasa seolah akan terjun ke jurang, mobil akan remuk dan mereka mati di tempat. Namun ia menahan diri agar tidak berteriak, menutup matanya rapat-rapat. Wajah cantiknya pucat pasi tanpa sedikit pun warna darah.
Andai ada yang melihat dari udara, pasti tahu betapa luar biasanya kecepatan Xu Nan mengemudi, betapa berbahayanya! Setiap saat rasanya bisa celaka, namun setiap kali Xu Nan selalu berhasil mengendalikan situasi dan mengubah bahaya menjadi selamat. Semua ini membuktikan bahwa kendali tetap di tangannya.
Akhirnya, tanpa cedera, mereka berhasil keluar dari jalan pegunungan. Xu Nan langsung menekan pedal gas hingga ke dasar, kecepatan melonjak hingga seratus tujuh puluh delapan kilometer per jam!
Dari sorot matanya yang tajam dan dalam, terpancar hawa dingin yang menusuk.
Siapa pun itu!
Bersiaplah menerima amarahku!
...
Di bawah selimut malam, cahaya lampu mobil menembus gelap.
Sebuah van putih menembus jalan tanah yang berbatu dan berlumpur. Di dalam mobil ada tiga orang. Selain seorang anak perempuan dengan gaun putri yang kotor, mata berkaca-kaca menahan tangis—itulah An-An, ada pula seorang pria berambut acak-acakan dan mata panda.
Jika Xu Nan dan Qin Feiyue ada di sana, pasti bisa mengenali pria ini. Namanya Chen Hong'an, keponakan Bu Liu.
Di Jalan Xiao Huai, Xu Nan dulu berniat menyingkirkannya. Berani-beraninya menaruh niat jahat pada Qin Feiyue, Xu Nan takkan memaafkannya. Namun, Bu Liu memohon agar Xu Nan membiarkannya hidup. Saat itu Xu Nan sudah memikirkan, membiarkan bajingan ini hidup mungkin akan membahayakan orang-orang di sekelilingnya. Tak disangka firasat itu benar-benar terjadi!
Chen Hong'an menyalakan sebatang rokok, menghisap dalam-dalam, lalu berkata dengan suara dingin, “Sial, tadinya mau menculik orang keluarga Qin, eh malah tak sengaja menculik anak perempuan Qin Feiyue. Ini namanya rezeki nomplok! Nanti kalau sudah dapat uang, kita kabur. Dunia ini luas, takkan ada yang bisa menemukan kita.”
Supir mobil itu seorang pria gendut, satu tangannya bersandar di leher yang berbalut gips, menyetir dengan satu tangan.
Jika Xu Nan dan Qin Feiyue ada di sana, mereka pasti bisa mengenali pria gendut ini. Ia adalah teman kuliah Qin Feiyue, dulu mantan kepala HRD Grup Tian Yun.
Wajah bulatnya penuh kebencian, “Perempuan jalang itu, hanya karena punya simpanan, tanganku sampai cacat. Tak kusangka, anak ini ternyata putrinya! Sungguh, ini keadilan! Aku akan buat dia menyesal seumur hidup!”
An-An menutup mulut, diam seribu bahasa.
Sejak kecil tumbuh di Jalan Xiao Huai yang kumuh, An-An sudah jauh lebih dewasa dibanding anak-anak yang hidup berkecukupan. Ia tahu menangis dan berteriak takkan menyelesaikan apapun, malah akan membuatnya makin disakiti. Ia menahan tangis, hanya bisa berharap pada Paman Xu Nan.
“Paman sehebat itu, pasti bisa menemuiku dan menaklukkan semua penjahat!” pikir An-An dalam hati.
Setelah terguncang-guncang selama setengah jam, van putih itu masuk ke sebuah bengkel mobil yang sudah lama terbengkalai.
Di dalam bengkel penuh debu, hanya ada satu lampu yang menyala. Seorang pria duduk di kursi roda, wajahnya sangat pucat.
Jika Xu Nan ada di sana, ia juga pasti mengenal pria itu.
Dulu, pria ini adalah kaki tangan Zhou Zihao, mengumpulkan preman-preman untuk membentuk tim pembongkaran bangunan palsu, bahkan pernah mempermalukan Xu Yaozhong di depan umum. Tapi akhirnya, Xu Nan menghancurkan kedua kakinya.
Namanya Rong Kui.
Entah takdir atau apa, semua orang kecil yang pernah menderita di tangan Xu Nan, kini berkumpul di satu tempat. Dan secara kebetulan, mereka malah menculik putri Xu Nan.
Van berhenti, pintu terbuka.
Chen Hong'an dengan kasar menarik An-An turun. Gerakan ini membuatnya batuk keras, dadanya terasa sangat nyeri—sisa luka akibat tendangan Xu Nan dulu.
“Anak perempuan ini siapa?” tanya Rong Kui penasaran.
Chen Hong'an menyeringai kejam, “Putri Qin Feiyue. Kau tahu kan siapa Qin Feiyue? Heh, pernah jadi primadona Kota Chong, diperkosa, lalu tanpa malu-malu melahirkan anak untuk pria itu. Benar-benar perempuan rendah!”
“Jangan kalian hina ibuku!” An-An memang takut, tapi ia tetap menegakkan kepala, matanya penuh keberanian.
“Kurang ajar kau…” Chen Hong'an hendak menamparnya.
Rong Kui melambaikan tangan, “Sudahlah, tak usah mempermasalahkan anak kecil. Berapa banyak uang yang bisa Qin Feiyue keluarkan?”
“Tak tahu, tapi pasti tidak sedikit. Katanya sekarang punya suami kaya, tinggal di kawasan villa Nanshan, bahkan bibiku yang sudah tua juga ikut dibawa ke sana. Lagi pula dia direktur utama Grup Anyue, ratusan juta pasti bisa dikeluarkan.”
“Setidaknya lima ratus juta.”
Pria gendut itu berkata dengan nada membenci, “Tapi kita harus minta satu miliar! Kalau dia tak bisa bayar, kita…”
“Satu miliar, apa itu tidak terlalu sedikit?”
Dari kegelapan yang tak tersentuh cahaya, suara datar namun mengandung amarah luar biasa terdengar.
Begitu suara itu muncul, ketiga orang itu langsung gemetar. Dalam benak mereka terbayang wajah seorang pria.
Suara langkah kaki terdengar.
Xu Nan melangkah keluar dari dalam gelap.
Melihat Xu Nan, An-An berseru gembira, “Paman!”
Tiga penjahat itu seketika pucat pasi.
Mengapa bisa dia yang datang?