Bab 24: Tidak Berhak Mengajukan Syarat!
Hidup di lapisan masyarakat paling bawah, telah banyak mengalami pahit getir kehidupan, dan sudah terbiasa melihat dinginnya sikap manusia. Tak terhitung banyaknya tatapan sinis, cibiran, serta makian yang diterima setiap hari. Sudah lama sang nenek tidak lagi merasakan hangatnya uluran tangan dari orang lain.
“Nenek, kita bertemu orang baik hari ini. Nanti kalau An-An sudah besar, An-An juga mau membantu orang lain,” ucap gadis kecil itu sambil mengusap air matanya dengan suara bening.
“An-An memang anak yang baik.”
Sang nenek mengangguk sambil tersenyum, menumpukan tangannya ke tanah, perlahan bangkit berdiri, lalu memberikan dua keping uang kepada cucunya agar membeli sebotol air mineral di pedagang kaki lima. Ia menggunakan handuk lusuh dari sakunya untuk membersihkan sisa muntah di tubuhnya, baru kemudian menggandeng tangan An-An pergi menjauh.
Bagi Xu Nan, menolong seorang nenek hanyalah sebuah peristiwa kecil yang tidak ia pikirkan terlalu dalam. Setelah makan siang, Xu Nan kembali ke rumah sakit, dan perawat telah membantu Xu Bei membersihkan diri.
Wajah Xu Bei masih tampak lebam dan bengkak di beberapa bagian, namun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Xu Nan duduk di samping ranjang, tetap berbicara pada Xu Bei seperti biasa, ketika tiba-tiba ponselnya berdering.
Panggilan itu dari Yi Tianlong.
Xu Nan mengangkat teleponnya, dan Yi Tianlong langsung berkata, “Nan Shuai...”
“Aku bukan Nan Shuai lagi,” sahut Xu Nan dengan tenang.
Hening sejenak di ujung sana, barulah Yi Tianlong kembali berbicara, “Negosiasi penyerahan musuh tidak berjalan lancar. Entah bagaimana, berita kau menyalakan sinyal asap sudah tersebar, dan sikap mereka berubah drastis.”
Nada suara Yi Tianlong terdengar parau, jelas ia sedang dalam tekanan.
Alis Xu Nan mengerut tajam, matanya berubah dingin.
“Aku mengerti.”
Hanya empat kata, Xu Nan menutup telepon, lalu ia membuka daftar kontak dan memilih sebuah nomor yang belum pernah ia hubungi sebelumnya.
Nada tunggu terdengar beberapa kali sebelum akhirnya tersambung. Sebuah suara berat terdengar, “Nan Shuai?”
Sudut bibir Xu Nan melengkung tajam, “Chers, kau tahu aku bukan Nan Shuai lagi.”
“Ah, maaf, aku lupa. Kau memang bukan lagi Panglima Selatan. Lalu, kenapa kau meneleponku? Jika kau ingin mengembangkan karier di negeriku, kami sangat menyambutmu. Jujur saja, Negeri Naga benar-benar tidak adil padamu. Apa istilah pribahasanya itu? Benar, habis manis sepah dibuang, sungguh disayangkan. Percayalah, di negeriku kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Demi nama Tuhan, aku bersumpah...”
“Aku tak ingin mendengar omong kosongmu,” potong Xu Nan dengan dingin. “Segera menyerahlah. Ikuti syarat ganti rugi yang kalian ajukan sendiri sebelumnya, lalu gandakan jumlahnya. Jika kalian berani mengingkari, aku akan kembali ke Selatan sebagai prajurit biasa.”
Nada suara Xu Nan terdengar sangat tenang, namun di seberang sana, seorang pria berbaju militer langsung berubah pucat pasi.
Lama kemudian, ia menarik napas dalam-dalam. “Baik, tapi aku punya satu syarat. Kau tidak boleh kembali ke Selatan selama-lamanya.”
“Pihak yang kalah tidak berhak mengajukan syarat! Selama aku ada, jangan pernah bermimpi mengusik perbatasan Selatan lagi. Jika tak percaya, silakan coba!”
Padang tandus di perbatasan Selatan, sejauh mata memandang hanyalah pasir kuning.
Hamparan tanah luas itu telah berlumuran darah, yang setelah mengering berubah menjadi merah tua, menciptakan pemandangan yang mengguncang hati.
Sudah sepuluh tahun sejak negara musuh mulai menginvasi perbatasan Selatan.
Entah berapa banyak jiwa setia yang telah gugur dan dikubur di tanah gersang itu, tak sempat kembali ke kampung halaman, tak sempat bertemu istri, anak, ataupun orang tua mereka.
Di zona netral antara dua kubu, sebuah tenda besar dan sederhana menjadi tempat perundingan yang berlangsung tegang.
Orang-orang penting dari kedua belah pihak, yang biasanya terhormat, kini saling beradu mulut laiknya preman, mengeluarkan kata-kata tak tahu malu demi memenangkan negosiasi dan menguntungkan pihak masing-masing.
Tim negosiator negara musuh awalnya sangat percaya diri dan berniat mengulur waktu, namun mendadak menerima kabar yang membuat wajah mereka seketika berubah muram.
Setengah jam kemudian, Yi Tianlong menerima kabar bahwa negosiasi telah berakhir.
Negara musuh menyerah, dan mereka harus membayar ganti rugi dua kali lipat dari syarat awal yang mereka ajukan!
Yi Tianlong sempat tertegun, mengira itu berita palsu, namun segera wajahnya berubah aneh.
Tim negosiator negara musuh pergi dengan lesu dan penuh kehinaan, seperti ayam jantan kalah bertarung.
“Nan Shuai tak terkalahkan! Perbatasan Selatan tak terkalahkan! Negeri Naga tak terkalahkan!”
Sorak-sorai kemenangan menggema di seluruh penjuru Selatan.
Yi Tianlong memegang kontrak yang telah disepakati kedua pihak, matanya berkaca-kaca.
Sebelumnya negara musuh bahkan enggan membayar ganti rugi, kini segala sesuatu berubah begitu cepat. Tanpa perlu berpikir lebih jauh, jelas semua ini berkat langkah Xu Nan.
Meski sudah tidak berada di Selatan, pengaruh pria ini tetap luar biasa menakutkan!
Enam tahun berperang, berkali-kali nyaris kehilangan nyawa, akhirnya membawa kemenangan besar bagi Negeri Naga.
Namun, ia tak bisa menyaksikan sendiri detik kemenangan itu.
Selatan kehilangan panglima terkuatnya!
Negeri Naga kehilangan tiang penopangnya!
Di tengah euforia para prajurit Selatan, Yi Tianlong membawa kontrak negosiasi itu terbang menuju ibu kota.
Para petinggi negeri telah berkumpul di ibu kota, menantikan kabar dari Selatan.
Yi Tianlong yang datang tergesa-gesa membawa hasil negosiasi, dan di tengah senyum tertahan para tokoh penting, ia membungkuk dalam-dalam, “Semua ini adalah berkat Selatan, dan Panglima Selatan Xu Nan sangat berjasa! Saya memohon pada para pemimpin untuk mengadakan sidang negara, mengembalikan Xu Nan memimpin Selatan!”
Wajah para petinggi berubah muram, saling berpandangan, tak seorang pun menjawab.