Bab 45: Pada Akhirnya Harus Ada
Angin malam musim panas berhembus lembut, langit gelap dihiasi bintang-bintang yang bertaburan. Xu Nan menggendong An An, yang mengenakan gaun mengembang bak seorang putri kecil, didampingi oleh Qin Feiyue yang anggun laksana bidadari turun ke dunia. Mereka naik mobil menuju belakang jalan Tianyun yang ramai, sebuah kawasan kecil bernama Jalan Xiaohuai yang kumuh, rusak, dan menunggu untuk dibongkar.
Di nomor 558 Jalan Xiaohuai, dalam rumah tua yang reyot, cahaya lilin bergoyang lembut. Seorang nenek tua membungkuk, tengah memperbaiki pintu kayu yang rusak dengan papan dan palu, suara ketukan paku terdengar berulang-ulang.
“Nenek!”
An An melepaskan diri dari pelukan Xu Nan, berseru riang dengan suara jernih, melangkah kecil penuh semangat menuju sang nenek.
Gerak sang nenek terhenti, ia menoleh, wajah keriputnya memancarkan senyum penuh kasih. “An An sudah pulang.”
“Nenek!”
Wajah An An yang halus dan lembut berseri bahagia. Sambil berlari, ia merentangkan tangan dan langsung memeluk sang nenek.
Sang nenek terlihat gugup, “Pelan-pelan larinya... Nak, jangan, baju nenek kotor.”
Namun An An tetap menerjang ke pelukan neneknya.
“An An memang anak baik.”
Senyum nenek makin lebar, ingin menepuk punggung An An, tapi ragu untuk melakukannya.
“Ibu Liu.”
Qin Feiyue melangkah bersama Xu Nan, menyapa lembut.
Xu Nan membawa banyak hadiah di tangannya.
Dengan bantuan cahaya lilin yang redup, sang nenek memandang Qin Feiyue, tertegun sejenak.
“Xiao Rong... Kau...”
Ia terkejut sekaligus bahagia.
Gadis malang yang selama ini banyak tertimpa kesialan dan wajahnya sempat hancur, kini benar-benar sudah pulih! Cantik seperti dulu sebelum mengalami musibah, secantik bidadari.
“Ibu Liu, aku Xiao Rong.”
Sudah lama sekali Qin Feiyue tidak tersenyum bahagia seperti ini.
Tak peduli sebesar apa pun kebenciannya pada Xu Nan, kali ini kehadiran Xu Nan benar-benar membawa perubahan besar dalam hidup mereka yang pahit bersama An An.
Ia bisa saja menolak Xu Nan, tapi tak ingin membiarkan An An terus menderita.
Bagaimanapun juga, An An adalah putri Xu Nan. Mau diakui atau tidak, Qin Feiyue tak akan pernah merampas hak Xu Nan untuk menyayangi dan membesarkan An An.
“Bagus, bagus sekali!”
Air mata bahagia menggenang di mata sang nenek.
Selama bertahun-tahun, ia hidup sendiri, hanya ditemani Qin Feiyue dan An An, bagaikan keluarga sendiri.
Tanpa bantuan nenek, hidup Qin Feiyue dan An An akan jauh lebih sulit. Sebaliknya, tanpa mereka, hidup nenek akan sangat sepi dan sunyi.
Di mata sang nenek, Qin Feiyue sudah seperti anak kandungnya sendiri, dan An An seperti cucu sendiri.
Ikatan tanpa hubungan darah ini bahkan lebih mengharukan daripada ikatan keluarga kandung.
“Ibu Liu, kami datang menjengukmu,” Xu Nan tersenyum ramah, nada suaranya penuh hormat pada nenek tua itu.
Tak hanya karena kebaikannya pada Qin Feiyue dan An An, namun suami dan putranya adalah pahlawan yang gugur di selatan negeri; Xu Nan sangat menghormatinya.
“Ayo masuk, duduklah.”
Sang nenek memandang Xu Nan dalam-dalam, senyumnya penuh kepuasan.
Pria ini tidak mengingkari janji.
Qin Feiyue duduk di samping nenek, mengobrol santai. An An memeluk kaki neneknya, kadang menyela, menceritakan kehidupan indah seperti mimpi yang ia jalani belakangan ini.
Tawa penuh kebahagiaan terus terdengar dari nenek.
Xu Nan pun menggantikan nenek memperbaiki pintu kayu.
Waktu mengalir diam-diam, penuh kehangatan dan ketenangan.
Tak lama kemudian, pintu kayu selesai dipasang pada kusen. Xu Nan mencoba membukanya, terasa ringan dan tak berisik.
Qin Feiyue, untuk pertama kalinya, menuangkan segelas air untuk Xu Nan.
Xu Nan meneguknya dengan lahap. Air putih biasa yang hambar itu, terasa manis di mulutnya.
“Paman, aku mau makan permen.”
Baru saja Xu Nan meletakkan gelas, An An sudah menarik ujung bajunya sambil manja.
“An An!”
Qin Feiyue mengernyit, “Sudah malam, kok minta makan permen?”
“Nggak mau, aku mau permen,” An An merengek, bibirnya manyun.
Xu Nan tertawa, lalu menggendong An An, “Ayo, paman ajak beli permen. Di Jalan Tianyun ada, dekat kok.”
Qin Feiyue berseru tegas, “An An!”
“Tidak apa-apa, ada aku, tenang saja. Kalian lanjut mengobrol, kami sebentar lagi kembali.”
Xu Nan menggendong An An yang menjulurkan lidah ke arah Qin Feiyue, lalu pergi.
Di dalam rumah, Qin Feiyue diam dengan wajah dingin.
Nenek memperhatikan dengan seksama, lalu menggenggam tangan Qin Feiyue sambil tersenyum, “Xiao Rong, Xu Nan adalah pria yang baik, pantas kau andalkan.”
“Ibu Liu...”
“Tunggu, jangan buru-buru menyangkal.”
Nenek berbicara dengan mata keriputnya yang penuh kebijaksanaan hidup, “Aku tak tahu apa yang terjadi antara kalian dulu, tapi selama hidup, nenek sudah bertemu banyak orang. Meski sekarang sudah tua dan mata rabun, tapi hati ini masih bisa melihat. Perasaan Xu Nan padamu tulus, pada An An pun sama tulusnya. Itu sudah cukup. Seorang pria, kaya atau miskin, yang terpenting adalah bertanggung jawab.”
Qin Feiyue terdiam.
“Selama ini hidupmu terlalu berat. Sebagai perempuan, sekuat apa pun, tetap saja butuh sandaran. Dia ayah An An, itu kenyataan yang tak bisa kau hapus.”
“Lagi pula, An An juga butuh seorang ayah.”
Tatapan Qin Feiyue menjadi rumit.
Dulu, saat ia melarikan diri, Xu Nan membuat ia dan An An hidup dalam penderitaan bertahun-tahun. Sekarang Xu Nan kembali, ingin menebus kesalahan, apa ia harus diberi kesempatan? Atas dasar apa?
Ia terdiam lama, hendak bicara, tiba-tiba terdengar suara laki-laki dari luar.
“Bibi! Bibi, ada di rumah?”
Mendengar suara itu, wajah Qin Feiyue seketika berubah tegang.