Bab Lima Puluh Tiga: Lelaki Kasar
Qin Huaijin sedang terburu-buru untuk kembali, jadi dia tidak mendengarkan dengan detail apa yang dikatakan orang itu. Dia mengangguk lalu melangkah pergi dengan cepat.
Lengan Xu Ligong masih terangkat di udara. Melihat Qin Huaijin yang sudah berlari hingga tak terlihat, dia menggosok-gosok jarinya dan menoleh ke arah Hao Shanhe di sampingnya.
"Istri Pak Tua Qin ini hebat juga, baru saja menikah tapi sudah bisa mengekang Pak Tua Qin sedemikian rupa?"
Baru saja latihan baris-berbaris selesai, dia langsung pergi membelikan makanan untuk istrinya. Kenapa sebelumnya dia tidak menyadari bahwa pria ini adalah suami teladan?
Hao Shanhe meliriknya dengan jengkel. "Omong kosong apa kamu, mangnya Pak Tua Qin tidak boleh terburu-buru membelikan makanan untuk anaknya?"
Dia kemudian mengulurkan tangan dan menepuk punggung bidang Xu Ligong. "Lebih baik kamu jaga mulutmu itu. Istri Pak Tua Qin pun berani kamu gosipkan di belakang."
Setelah berkata demikian, Hao Shanhe berlari pulang tanpa menoleh ke belakang.
Masakan istrinya sangat enak; dia harus segera pulang untuk makan. Jika terlambat, semuanya akan masuk ke perut dua anak nakal di rumah.
Qin Huaijin berjalan cepat setibanya di rumah. Liu Chenyu dan ketiga anak itu belum bangun. Dia dengan hati-hati mengambil kotak makanan lalu keluar lagi.
Ketika Liu Chenyu terbangun, hari sudah pukul setengah tujuh. Berbaring tengkurap di atas selimut sambil menatap langit di luar jendela yang masih belum terang, dia menghela napas dan dengan pasrah bangkit untuk mengenakan pakaian.
Satu-satunya hal yang kurang menyenangkan dari Qin Huaijin adalah dia bangun terlalu pagi.
Situasi ini tidak bisa diubah dan hanya bisa menunggu sampai anak ketiga mulai bersekolah, barulah dia bisa tidur nyenyak dengan tenang.
Baru saja selesai mencuci muka dan menyikat gigi, Qin Huaijin sudah kembali dengan membawa beberapa kotak makanan.
Liu Chenyu membantunya meletakkan kotak-kotak makanan di atas meja kecil. "Meja ini terlalu rendah. Hari ini ketika tukang kayu datang, suruh dia membuat meja terlebih dahulu."
Meja kecil itu membuat kedua anak yang lebih besar harus membungkuk saat makan, apalagi orang dewasa.
Qin Huaijin berkata, "Tidak perlu, aku sudah melapor ke bagian logistik. Sebentar lagi satu set meja dan kursi akan dikirim ke sini." Mengingat kepribadian Liu Chenyu, dia menambahkan, "Aku membelinya, tidak menghabiskan banyak uang."
Barang-barang itu bekas dari area perumahan staf yang sudah tidak dipakai, terbuat dari kayu solid dan kokoh. Pihak logistik merapikannya hingga tampak seperti baru.
Setelah bergaul selama beberapa hari ini, Qin Huaijin sedikit banyak sudah memahami watak Liu Chenyu. Jangan lihat bagaimana dia mengeluarkan banyak uang saat berbelanja.
Namun, dia memiliki satu prinsip dalam berbelanja: barang yang tidak berguna sama sekali tidak akan dibeli.
Selama dia membeli sesuatu, itu pasti berguna.
Misalnya, permen susu dibeli khusus untuk menyuap ketiga anak tersebut.
Dan itu memang membuat ketiga anak itu menjadi jauh lebih penurut.
Liu Chenyu mengangguk. "Kalau hari ini bisa dipakai, itu tentu saja bagus."
Meskipun tukang kayu itu sangat mahir, membuat satu set meja dan kursi tetap membutuhkan waktu dua hari, ditambah waktu pengecatan dengan minyak lilin kayu dan pengeringan, tidak akan bisa dipakai dalam waktu empat atau lima hari.
Tentu saja dia merasa senang karena Qin Huaijin bisa mendapatkan satu set yang sudah jadi.
"Pergi bangunkan anak ketiga, cuci kaki, cuci pantat, dan sikat giginya," ujar Liu Chenyu sambil mengangkat kotak makanan untuk membagi bubur ke dalam mangkuk, seraya memberi instruksi kepada Qin Huaijin.
"Anak laki-laki tidak perlu dirawat begitu telaten."
Qin Huaijin bergumam dalam hati, tetapi gerakan tangannya tidak berhenti. Dia mengambil seember air hangat, membawa dua handuk kecil khusus milik anak ketiga, dan masuk ke kamar barat.
Melihat baskom kayu yang digunakan untuk mencuci wajah sekaligus mencuci pantat itu, Liu Chenyu membuka mulutnya, namun pada akhirnya tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya bertekad dalam hati bahwa hari ini ketika tukang kayu datang, dia harus meminta dibuatkan segerombolan baskom kayu!
Masing-masing satu untuk mencuci pantat, mencuci wajah, dan mencuci kaki!
Dia bahkan ingin mengukir nama pada baskom-baskom itu.
Liu Chenyu tidak tahu apa menu di kantin hari ini, tetapi makanan yang dibawa pulang oleh Qin Huaijin sangat berlimpah.
Satu kotak makanan bubur gandum campuran, satu kantong kain roti kukus tepung campuran, satu kotak makanan tahu kuah minyak cabai, dan di kotak makanan terakhir bahkan terdapat dua batang cakwe.
Kuah minyak cabai itu hampir membeku, jadi Liu Chenyu membawanya ke atas kompor untuk dihangatkan.
Qin Huaijin keluar sambil menggendong anak ketiga yang matanya masih terpejam rapat, lalu berkata, "Sudah dibereskan, anak ini tidak mau membuka mata."
Liu Chenyu menunduk melihat wajah kecil anak ketiga yang tampak merah karena tidur, lalu tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, kalau begitu oleskan sedikit krim salju padanya. Mari kita makan dulu, susu bubur yang diseduh untuknya itu, hmm, berikan saja pada anak sulung."
Si kecil Qin yang tadinya setengah sadar, seketika membuka matanya lebar-lebar begitu mendengar perkataan Liu Chenyu.
Setelah matanya terbuka, dia menatap tajam ke arah Liu Chenyu tanpa membuka mulutnya.
Jangan mengira dia tidak tahu, wanita ini sengaja mengucapkan hal itu untuk memancing emosinya.
Kakak sulung dan kakak kedua pasti tidak akan tega meminum susu buburnya.
Qin Can baru saja selesai mencuci muka dan keluar tepat saat mendengar perkataan Liu Chenyu. Mengabaikan bagian tentang mengoleskan krim salju, dia berlari kecil menghampiri Qin Huaijin.
"Ayah, hari ini aku dan Kakak sulung juga bisa minum susu bubur?"
Begitu melihat kakak kedua ikut campur, anak ketiga langsung mengabaikan niatnya untuk memelototi Liu Chenyu, dan mulutnya tidak lagi tertutup rapat seperti cangkang kerang.
Setelah menahan diri sejenak, dia mengeluarkan satu kalimat: "Punya-ku!"
Mendengar adiknya berbicara, masalah susu bubur pun terlupakan oleh Qin Can. Sambil tersenyum ceria, dia membujuk anak ketiga agar mau berbicara lebih banyak lagi.
"Anak ketiga, panggil Kakak, Kakak kedua."
"Ayo, panggil Kakak kedua coba dengar."
Sayangnya, bagaimanapun bujukan Qin Can, anak ketiga tetap bersikeras tidak mau mengucapkan satu patah kata pun lagi.
Liu Chenyu menggelengkan kepala dengan tak berdaya, lalu menyerahkan susu bubur yang suhunya sudah pas ke tangan Qin Huaijin. "Suapi dia minum."
Setelah berkata demikian, dia membalikkan badan dan kembali ke kamar untuk mencari krim salju.
Di dalam kamar, Qin Shuo sedang merapikan baskom cuci muka. Melihat Liu Chenyu masuk, dia memanggil, "Bibi Liu."
Liu Chenyu tersenyum dan mengangguk. "Buang airnya di dekat dinding selatan ya."
Qin Shuo mengatupkan bibirnya, mengangkat baskom kayu itu untuk pergi membuang air, tetapi sebelum sempat mencapai pintu ruang utama, langkahnya sudah dicegah oleh Liu Chenyu.
"Kakak sulung, kamu sepertinya belum mengoleskan krim wajah ya?" Liu Chenyu memegang wadah krim salju, melihat isinya yang masih utuh tanpa tersentuh, lalu bertanya pada Qin Shuo.
Qin Shuo berdiri dengan kaku di tempatnya. Mendengar pertanyaan Liu Chenyu, sudut mulutnya tertarik membentuk senyum canggung. "Bibi Liu, aku tidak usah pakai, berikan saja untuk adik-adik."
Dia adalah seorang pemuda jantan, bagaimana bisa mengoleskan benda yang terkesan keperempuanan seperti itu.
Jika hal itu sampai ketahuan orang lain dan dijadikan bahan tertawaan, bagaimana dia bisa menjadi pemimpin bagi adik-adiknya.
Liu Chenyu berjalan menghampiri Qin Shuo sambil memutar bola matanya. "Badanmu masih sekecil biji kedelai, apa yang kamu pikirkan sedemikian rupa? Kakak kedua dan anak ketiga semuanya pakai, masa bagianmu sampai terlewat?"
Liu Chenyu mengeruk sedikit krim salju, meratakannya di kedua telapak tangan, lalu dengan cekatan dan merata mengoleskannya ke wajah Qin Shuo.
"Ini bukan soal ingin tampil cantik, wajah yang pecah-pecah karena dingin itu rasanya sangat tidak nyaman. Anak laki-laki lain yang tidak memakai krim itu kalau bukan karena keluarga mereka yang tidak mampu membelinya, ya karena memang sekasar ayah kalian."
"Keluarga yang tidak mampu membelinya tidak punya hak untuk menertawakan kalian, sedangkan mereka yang sekasar ayah kalian sudah tidak bisa diselamatkan lagi, untuk apa memedulikan pendapat orang seperti itu."
"Pokoknya kalian bertiga bersaudara wajib memakainya, aku tidak mau kulit tangan terasa tergores saat mencubit pipi kalian nanti."
Setelah berkata demikian, tanpa menunggu reaksi dari Qin Shuo, Liu Chenyu membawa wadah krim salju itu keluar untuk mengerjai anak kedua dan anak ketiga.
Qin Shuo memegang baskom cuci muka dan melihat pantulan dirinya di dalam air. Dua hari belakangan ini, setelah mengoleskan krim salju, wajahnya memang tidak terasa gatal lagi.
Lalu dia mendengar suara tangisan histeris dari anak kedua.
"Tidak mau! Kepala boleh putus, darah boleh tumpah, tapi krim salju mutlak tidak boleh ada!"
Wajah Qin Shuo memerah. Dia membawa baskom air keluar, membuang airnya ke dekat dinding selatan, lalu melihat anak kedua yang meronta-ronta di pelukan ayahnya seperti kura-kura kecil. Secercah rasa simpat sekaligus kelegaan melintas di matanya.
Untung saja tadi dia tidak melawan, kalau tidak, bukankah orang yang tampak seperti kura-kura kecil itu adalah dirinya sendiri?
Melirik sekilas ke arah anak ketiga yang bersikap sangat realistis, Qin Shuo mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan sudut bibirnya yang ingin terangkat.
Anak ketiga berada di dalam pelukan Liu Chenyu dengan raut wajah muram seolah-olah hendak pergi berperang demi mati syahid, seolah-olah Liu Chenyu bukan sedang mengoleskan krim wajah padanya, melainkan sedang menggorok lehernya.
Setelah melewati keributan yang kacau balau, lima menit kemudian seluruh anggota keluarga akhirnya duduk di meja makan kecil.
Liu Chenyu mengambil setengah batang cakwe, lalu bertanya, "Kondisi markas kalian begitu bagus, pagi-pagi begini bahkan ada cakwe?"
Setelah anak ketiga selesai meminum susu buburnya, Qin Huaijin sedang menyuapinya bubur gandum campuran. "Ini adalah kejadian langka sekali seumur hidup, setiap keluarga paling banyak hanya bisa mendapatkan jatah dua batang."
Dia teringat saat meninggalkan kantin, kepala urusan logistik memanggilnya dan memintanya untuk menyampaikan sesuatu kepada keluarganya.
"Tadi sewaktu aku mengambil makanan, kepala urusan logistik memanggilku dan membicarakan masalah jatah ransum makananmu."
Liu Chenyu menggigit cakwe sambil menatap Qin Huaijin dengan penuh kebingungan.
Apa urusannya jatah ransum makanan miliknya dengan kepala urusan logistik?