Bab Empat Puluh Empat: Dibawa Pergi
He Pingping telah melihat terlalu banyak keluarga bentukan baru; ada yang hidupnya harmonis, ada pula yang penuh dengan keributan.
Di keluarga komandan peleton dua kompi tiga, gara-gara istri baru dan anak bawaan dari pernikahan sebelumnya, rumah tangga mereka sering sekali bergejolak. Setiap kali mereka datang untuk menengahi, sama sekali tidak ada gunanya.
"Liu Kecil, Qin memang pria yang tampan dan rupawan, jadi wajar saja kalau kau menyukainya." Bahkan meskipun Qin Huaijin sudah bercerai dan membawa tiga anak, masih ada banyak gadis muda di kompleks militer yang mengincarnya.
Liu Chengyu: "!"
Kenapa, sisi mata keranjangnya sudah begitu kentara?
"Kau juga harus memikirkan masa depanmu sendiri. Kita tidak bisa memastikan bagaimana anak-anak Qin kelak, tapi mumpung takdir mempertemukan kalian, tunjangan Qin juga tidak sedikit. Rawatlah anak-anak itu dengan baik, Qin adalah orang yang masuk akal, dia pasti tidak akan memperlakukanmu dengan buruk."
"Mengenai dirimu sendiri, aku sarankan, setelah si bungsu agak besar, lahirkan juga satu anak. Dengan adanya darah daging sendiri di antara kalian, hubungan kalian akan menjadi lebih dekat."
Ada satu hal lagi yang tidak sempat ia ucapkan; bahkan jika kelak ketiga bocah itu menjadi anak durhaka yang tidak peduli pada Liu Chengyu, Liu Chengyu setidaknya masih memiliki anak kandung sendiri sebagai jaminan masa depannya.
Liu Chengyu berkata dengan ekspresi tanpa kata: "Kakak Ipar, untuk apa aku menggantungkan harapan pada hati nurani Qin Huaijin? Hal yang begitu semu dan abstrak seperti itu, apa benar-benar layak untuk diharapkan?"
"Kau memang punya kemampuan dan tidak harus bergantung padanya, tapi bagaimana saat kau sudah tua nanti? Tidak memiliki anak kandung sendiri tetap saja bukan hal yang baik."
He Pingping tahu bahwa seorang wanita, begitu memiliki anak kandungnya sendiri, tentu tidak akan lagi memperlakukan anak-anak tiri dari suaminya sespesial sebelumnya.
Namun, ibu tiri juga manusia, mustahil mengorbankan kesempatan menjadi seorang ibu demi anak-anak tiri dari suaminya.
Qin Huaijin mendekati halaman dan mendengar suara He Pingping. Ia terpaku di tempat, tidak melangkah masuk.
Suara di dalam benaknya memperingatkan bahwa menguping pembicaraan orang lain adalah tindakan yang tidak etis, tetapi hatinya mendesak bahwa ia ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Liu Chengyu.
Setelah terjebak dalam keraguan, ia akhirnya berbalik dan berjalan menuruni bukit. Sampai di jarak di mana ia tidak bisa lagi mendengar apa pun, ia langsung menjatuhkan diri duduk di tanah.
Liu Chengyu sebelumnya pernah berkata bahwa ia tidak ingin memiliki anak, dan ia tidak menganggap serius perkataan itu.
Sebelumnya ia tidak pernah berniat untuk menikah lagi, tetapi sekarang setelah ia menikah lagi, ia tidak mungkin menghalangi istrinya untuk memiliki anak demi anak-anaknya sendiri.
Dirinya lah yang berhutang budi pada ketiga anaknya, bukan Liu Chengyu.
Memberikan kompensasi kepada anak-anak adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, ia tidak boleh melimpahkannya ke pundak Liu Chengyu.
Ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menyeimbangkan antara Liu Chengyu dan ketiga anaknya.
Sementara itu, di dalam halaman, Liu Chengyu merasakan jurang perbedaan yang sangat besar antara dirinya dan para wanita di era ini.
Ia berbuat baik kepada anak-anak Qin Huaijin bukan karena mengincar sesuatu, melainkan semata-mata karena ia telah memanfaatkan Qin Huaijin, dan sebagai bentuk timbal balik, ia memperlakukan anak-anak itu dengan baik.
Apakah ia dan Qin Huaijin bisa bertahan hingga akhir masih belum pasti.
"Kakak Ipar, urusan melahirkan anak dibicarakan lagi saja setelah si bungsu mulai sekolah. Saat ini, tenagaku sendiri tidak akan sanggup jika harus membagi fokus merawat dua anak."
Ia tidak mengutarakan keputusannya untuk tidak ingin memiliki anak. Itu adalah urusannya sendiri, dan ia tidak perlu menjelaskannya kepada siapa pun.
Namun, ia juga tidak ingin orang-orang terus-menerus mencampuri urusan perutnya setiap beberapa hari sekali.
"Selama kau punya rencana sendiri, itu bagus. Lagipula kau masih muda, menunda punya anak beberapa tahun lagi juga lebih baik untuk kesehatan tubuhmu. Tapi, jangan pernah dengarkan bujuk rayu laki-laki."
Sekalipun Qin Huaijin adalah seorang pria terhormat, dalam menghadapi interaksi antara anak kandung dan istri baru, akan sangat sulit baginya untuk bersikap benar-benar adil.
Nanti ia harus mencari waktu untuk meminta Lao Hao berbicara dengan Qin Kecil, menyuruhnya agar lebih sering membujuk anak-anaknya supaya mereka bisa bersikap lebih manis. Di matanya, Liu Chengyu bukanlah orang yang berhati busuk.
Selama anak-anak penurut, kehidupan keluarga yang terdiri dari lima orang itu tidak akan buruk.
Ah, keluarga bentukan ulang memang selalu merepotkan.
Sekarang kalau dipikir-pikir, keputusan Qin Huaijin untuk tidak menikah dengan Xiao Chen dari rumah sakit militer justru adalah hal yang bagus.
Dulu ia terlalu terobsesi.
Mencium aroma harum yang begitu menggugah selera dari halaman, He Pingping tidak bisa duduk tenang lagi, "Aku tidak akan mengobrol lama-lama denganmu, aku harus kembali untuk memasak."
Keahlian memasak Xiao Liu ini sungguh luar biasa. Aroma sedap yang mengepul dari dapur memenuhi seluruh halaman dengan bau daging babi. Untungnya hari ini ia juga membeli daging, jadi ia bisa memasaknya di rumah untuk anak-anaknya yang kelaparan. Kalau tidak, mencium aroma ini saja sudah bisa membuat mereka membuat keributan besar.
"Kalau begitu, hati-hati di jalan, Kakak Ipar." Liu Chengyu tidak menahannya. Ia mengantarnya sampai ke pintu gerbang, lalu kembali ke dapur, mengambil sepasang sumpah, dan menusuk-nusuk kaki babi yang berwarna cerah mengkilap itu.
Sumpit itu dengan mudahnya menembus daging. Liu Chengyu mengangguk puas dalam hati, lalu mengambil dua lembar kain lap untuk mengangkat panci tersebut.
Ia mengeluarkan wajan kecil untuk menumis sayuran.
Saat tumis buncis dan daging asap diangkat dari wajan, Qin Huaijin kembali.
Liu Chengyu meletakkan hidangan itu di atas meja kecil, meliriknya sejenak, dan bertanya, "Kenapa lama sekali? Semuanya sudah beres dibicarakan? Kapan mereka akan datang?"
Qin Huaijin menimba semangkuk air dan menuangkannya ke dalam baskom muka bergambar peony merah, "Semuanya sudah beres, besok mereka akan datang. Borong tenaga dan bahan, meja tulis seharga lima belas, rak buku seharga dua puluh. Apa ada lagi yang ingin dibuat? Besok katakan saja langsung pada mereka."
"Tukang batu akan datang besok pagi, pertama-tama mereka akan mengecat ruang tamu dan kamar anak-anak. Besok malam anak-anak akan tidur berdesakan dengan kita dulu, lusa baru kamar kita yang dicat, dan kita yang akan tidur di ruang tamu."
Qin Huaijin mencuci tangannya hingga bersih, masuk ke dalam wajan untuk mengambil mangkuk dan sumpit, sekaligus membawa keluar nasi yang sudah matang.
"Kain blacu kasar yang kau suruh cari juga sudah kudapatkan, nanti malam setelah gelap aku akan pergi mengambilnya."
Meskipun ia tidak tahu untuk apa Liu Chengyu membeli begitu banyak kain blacu kasar, Qin Huaijin tetap mencarikannya untuknya.
Liu Chengyu sangat puas, "Baguslah. Kalau begitu pesta pindah rumah kita jadikan lusa malam. Besok kau harus melapor ke kesatuan, berapa banyak rekan tentara yang akan diundang? Beritahu aku agar aku bisa menyiapkan bahan makanannya."
"Perkirakan lima belas orang."
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan porsi untuk dua puluh orang." Keluarga mereka yang berjumlah lima orang ditambah lima belas tamu, dengan porsi makanan yang agak lebih banyak, tentu tidak akan menjadi masalah.
"Uang dan kupon ada di dalam laci, belilah apa pun yang kau butuhkan. Kalau ada yang terlalu berat untuk dibawa, bilang saja pada petugas toko kebutuhan pokok, biarkan dulu di sana, nanti sepulang kerja aku yang akan mengambilnya."
Liu Chengyu tidak berniat melakukan semuanya sendiri. Mengingat pria itu bisa memikirkan hal semacam ini, tentu saja ia tidak keberatan, "Baiklah, terima kasih atas kerja kerasmu."
Qin Huaijin berhenti sejenak, mengangkat kepalanya untuk menatapnya. Di bawah temaram cahaya lampu yang redup, profil wajah samping wanita itu terlihat begitu mempesona, membuat tenggorokannya bergerak naik turun, "Sudah semestinya."
Liu Chengyu tersenyum. Semakin lama mereka berinteraksi, ia semakin merasa bahwa Qin Huaijin memiliki banyak kelebihan, yang justru membuat semakin tidak mengerti mengapa kehidupan pria itu bisa berakhir sedemikian rupa.
Menghentikan rangkaian pikirannya, Liu Chengyu melirik ke arah langit, "Aku akan membangunkan si bungsu, kau keluarlah untuk membawa pulang dua bocah nakal itu."
"Baik."
Qin Huaijin keluar untuk mencari anak-anak, sementara Liu Chengyu masuk ke dalam kamar dan dengan lembut membangunkan si bungsu, "Sayang, bangun yuk, kita waktunya makan malam."
Si bungsu di keluarga Qin itu menutup matanya rapat-rapat sambil bergumam pelan di dalam mulutnya, menolak untuk bangun.
Liu Chengyu meraba popoknya; ternyata kering dan tidak perlu diganti. Ia meremas tangan kecil si bungsu yang empuk dengan suara yang lembut.
"Anak manis, cepat bangun. Kalau tidak bangun nanti kaki babinya dihabiskan oleh Kakak Sulung dan Kakak Kedua loh."
Begitu kalimat ini dilontarkan, si babi kecil yang tadi menutup mata sambil bergumam itu langsung berbalik dengan lincah, merangkak di atas tempat tidur, dan mengulurkan tangan ke arah Liu Chengyu untuk meminta gendong.
Melihat tingkah kecilnya itu, Liu Chengyu sontak tertawa geli.
Si bungsu langsung mengerutkan kening menatap Liu Chengyu, tidak mengerti mengapa wanita itu belum juga menggendongnya.
Liu Chengyu mengulurkan tangan dan mencubit pipi kecil si bungsu, "Tidak digandong. Bibi pakaikan sepatumu, kau turunlah ke lantai dan berjalan-jalan sendiri, kalau tidak nanti kau tidak bisa makan."
Si bungsu menolak dan bersikeras bergeming dengan Liu Chengyu.
Liu Chengyu pun tidak memanjakannya. Coba pikirkan sendiri bobot tubuhnya itu; kalau dibiasakan digendong, nanti apa pun yang ingin ia lakukan selalu minta digendong, lengan Liu Chengyu bisa patah rasanya.
Lagi pula, ia tidak memiliki tenaga sebesar itu.
Qin Huaijin yang membawa kedua putranya masuk ke dalam rumah tepatnya menyaksikan pemandangan tersebut.
Melihat ketiga ayah dan anak itu sudah kembali, Liu Chengyu melambaikan tangan ke arah Qin Huaijin, "Pas sekali, aku mau membungkus setengah kaki babi untuk keluarga Xiang Xiao dan keluarga Kakak Ipar He. Biarkan kedua anak ini yang mengantarkannya."
Setelah keributan di pagi hari tadi, ia hampir lupa membawakan dua potong daging ikan untuk Xiang Xiao. Malam ini saat makan kaki babi, ia akan mengirimkan separuhnya, lihat saja apakah wanita itu bisa memakannya atau tidak.
"Pakaikan sepatu untuk si bungsu, biarkan ia turun dan berjalan-jalan sebentar untuk menyegarkan diri, kalau tidak nanti perutnya tidak nyaman untuk makan."
"Baik." Qin Huaijin menerima sepatu dari tangan Liu Chengyu, "Ayah pakaikan sepatunya ya, dengarkan kata Bibi Liu, berjalan-jalan sebentar itu bagus untuk kesehatan."
Si bungsu tidak bersuara, hanya menatap lurus ke arah Qin Huaijin.
Qin Huaijin tertua geli, "Kalau tidak mau turun juga boleh, berjalan-jalanlah di atas tempat tidur."
Si bungsu akhirnya menyadari bahwa berjalan-jalan ini adalah sebuah keharusan yang tidak bisa dihindari, sehingga dengan perasaan kesal ia pun menjulurkan kakinya agar Qin Huaijin memakaikan sepatunya.
Di sisi lain, Liu Chengyu membungkus semangkuk kacang dan setengah kaki babi, lalu menyuruh kedua anak laki-laki itu untuk mengantarkannya ke dua keluarga tersebut.
Sementara itu, ia sendiri mulai menata mangkuk nasi satu per satu.
Melihat si bungsu yang sedang berjalan-jalan di halaman, Liu Chengyu tersenyum diam-diam.
Namun, senyuman itu bahkan belum sempat pudar dari wajahnya ketika beberapa pria berseragam militer melangkah masuk dari luar pintu.
Di samping mereka tampak mengikuti seorang wanita yang terus berkata dengan lantang, "Pimpinan, semua ini saya dengar langsung dengan telinga saya sendiri. Waktu itu bukan hanya saya, ada banyak orang lain yang bisa menjadi saksi."
Orang yang datang adalah Liu Xiaohui. Saat ini ia menatap Liu Chengyu dengan ekspresi penuh kepuasan melihat penderitaan orang lain.
Melihat situasi tersebut, Qin Huaijin langsung menggendong si bungsu dan berjalan menghampiri para pria berseragam militer itu.
Setelah mendekat, kedua belah pihak saling memberikan hormat militer.
Pria berseragam militer yang memimpin di depan berbicara lebih dulu, "Komandan Qin, kami harus meminta istri Anda, Liu Chengyu, untuk ikut bersama kami sebentar."
Qin Huaijin memasang wajah suram saat melirik Liu Xiaohui di samping, suaranya terdengar dingin, "Alasannya."
"Rahasia, kami berharap Komandan Qin tidak menghalangi tugas kedinasan kami."
Melihat hal itu, Liu Chengyu bersuara, "Aku akan pergi bersama kalian."
Wajah Qin Huaijin menggelap menatap Liu Chengyu, "Xiao Liu!"
Liu Chengyu tersenyum tipis, "Tenang saja, orang yang bersih tidak akan takut bayangannya miring. Aku percaya para pimpinan tidak akan salah dalam menghukum orang baik, dan juga tidak akan melepaskan orang jahat."
Tidak punya pilihan lain, Qin Huaijin hanya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Liu Chengyu dibawa pergi.
Begitu melangkah masuk, Qin Shuo dan Qin Can melihat Liu Chengyu sedang dibawa pergi oleh orang-orang. Mereka buru-buru berlari ke halaman untuk bertanya kepada Qin Huaijin.
Qin Huaijin menyerahkan si bungsu kepada Qin Shuo, "Kalian makanlah dulu, nanti Ayah akan pergi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Qin Shuo dan Qin Can saling berpandangan, lalu duduk dengan perasaan penuh kekhawatiran di dalam hati.
Setelah menenangkan anak-anaknya, Qin Huaijin bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menyuapi si bungsu makan.