Bab 29. Xu Zhi menepis tangannya.
Mendengar hal itu, Liang Muzhi benar-benar tidak bisa duduk tenang. "Kakek, zaman apa sekarang masih bicara soal perjodohan masa kecil? Dinasti Qing sudah lama runtuh, sekarang zamannya cinta bebas!"
Tuan Besar Liang tidak mau mengalah. "Kau sudah cukup bebas. Apa kau pikir kami tidak tahu kalau kau masih diam-diam balap liar? Muzhi, kau sudah dewasa, ada beberapa hal yang harus kau pahami. Orang tidak bisa mendapatkan semua yang diinginkan. Pertunangan antara kau dan Zhizi sudah ditetapkan olehku dan Kakek Xu. Meskipun Kakek Xu sudah tiada, selama aku masih hidup, pertunangan ini tetap berlaku."
Liang Muzhi sangat marah hingga ingin mengumpat, tetapi karena yang dihadapinya adalah Tuan Besar Liang, ia terpaksa menahan diri dan memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Tiba-tiba terpikir sesuatu, ia menoleh ke arah Xu Zhizi. "Zhizi kecil, katakan sesuatu. Bagaimana bisa urusan pernikahan seperti ini..."
Ucapannya terhenti.
Xu Zhizi menunduk, air mata sebesar bulir jagung jatuh bercucuran.
Semua orang menoleh ke arahnya.
Xu Zhizi menggigit bibirnya, dengan susah payah ia bersuara, "Maafkan saya... Bibi Liang, saya tidak sengaja berniat membohongi siapa pun, saya... maafkan saya..."
Pikirannya kacau balau. Ia hanya merasa sedih dan sangat malu. Ia tidak mengerti mengapa dirinya harus duduk di sana, mengapa harus terlibat dalam jamuan makan ini, dan mengapa harus menghadapi semua tuduhan tersebut.
"Memang seharusnya kau minta maaf pada paman dan bibimu, serta Kakek Liang," ujar Xu Heping dengan kemarahan yang tertahan. "Apa lain kali kau masih berani berbohong?"
Bahu Xu Zhizi merosot, ia merasa seolah tatapan orang-orang di sekelilingnya menusuk tubuhnya.
Suaranya sangat pelan, tersendat tangis, "Saya tidak akan berbohong lagi. Saya... saya benar-benar tidak sengaja..."
Liang Muzhi terdiam. Ia merasa dadanya seolah tertusuk sesuatu yang tajam.
Xu Zhizi terlalu perasa. Baginya, teguran seperti ini mungkin bukan apa-apa, tapi Xu Zhizi selalu dikenal sebagai gadis penurut. Mungkin ia belum pernah sekalipun menghadapi interogasi dan tuduhan seperti ini.
Pikirannya kosong, hatinya terasa sesak dan nyeri, ia tak mampu berkata-kata.
Zhao Nianqiao mencoba mencairkan suasana. "Tuan Liang, dalam masalah ini Zhizi memang salah. Kami akan menasihatinya baik-baik nanti, kami jamin hal seperti ini tidak akan terulang, bagaimana?"
Liang Zhengguo sebenarnya tidak berniat menyulitkan Xu Zhizi. Kini setelah melihat gadis itu menangis, ia pun tidak enak untuk melanjutkan. "Sudahlah, jangan bahas dia lagi. Aku tahu Zhizi itu sensitif, aku juga tidak bermaksud mempersulitnya, tapi masalah ini memang harus diperjelas. Mari kita makan saja."
Meski dikatakan untuk makan, siapa yang masih punya nafsu makan?
Xu Zhizi ingin menghentikan air matanya, namun ia tidak bisa. Kelenjar air matanya seolah lepas kendali.
Rasa malu seperti ini adalah yang pertama dan terakhir baginya.
Segala kepedihan yang ia tahan selama ini muncul ke permukaan satu per satu. Ia merasa dirinya hampir runtuh.
Ia bertanya-tanya, jika saja ia tidak menyukai Liang Muzhi, apakah ia tidak akan sesakit ini? Ia bahkan belum pulih sepenuhnya dari rasa patah hati, kini harus menghadapi masalah ini lagi.
Sementara Chen Jing, gadis yang selalu diistimewakan itu, tetap berada di luar masalah. Ia tidak perlu dimarahi atau dituduh, ia bisa bermanja-manja pada Liang Muzhi, dan Liang Muzhi akan selalu memanjakannya.
Bayang-bayang yang selama ini menyelimutinya sejak kecil kembali menelannya bulat-bulat. Semua ini hanya membuktikan satu hal: ia adalah seseorang yang tidak dicintai.
Suasana meja makan entah sejak kapan menjadi sangat hening. Meskipun yang lain mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, isak tangis Xu Zhizi yang menggigit bibir akhirnya tak lagi bisa dibendung.
Xu Heping memasang wajah muram dan membentaknya, "Apa yang kau tangiskan! Kau yang berbuat salah, masih punya muka untuk menangis!"
Zhao Nianqiao mengerutkan kening, lalu dengan senyum terpaksa ia berkata kepada Tuan Besar Liang dan Liang Zhengguo, "Begini saja, jamuan makan kita sudah cukup sampai di sini. Biar saya bawa Zhizi pulang dulu, silakan kalian lanjutkan mengobrol."
Setelah berkata demikian, ia bangkit dan menarik tangan Xu Zhizi, "Ayo, kita pulang saja."
Xu Zhizi benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan dan bangkit dengan patuh.
Namun, pergelangan tangannya terasa tertahan.
Liang Muzhi menggenggam tangannya.
Ia membuka mulut, namun sebelum ia sempat bersuara, Xu Zhizi sudah menepis tangannya.
Setelah Zhao Nianqiao membawa Xu Zhizi pergi, Liang Muzhi menatap telapak tangannya sendiri dengan linglung.
Saat pergi, Xu Zhizi bahkan tidak meliriknya sedikit pun.
Tuan Muda Liang yang terbiasa angkuh itu tidak pernah tahu apa artinya introspeksi diri.
Dulu, ia tidak merasa tindakannya salah, entah itu saat berkelahi demi Chen Jing atau meminta Xu Zhizi berbohong untuk menutupi kebenaran. Namun saat ini, ia tiba-tiba ragu, apakah ia seharusnya tidak melakukan itu.
Xu Zhizi menangis dengan sangat pedih. Sudah lama sekali ia tidak melihatnya menangis sesedih itu.
Sebenarnya, Xu Zhizi adalah gadis cengeng sejak kecil, dan hanya dia yang tahu.
Xu Heping bersikap patriarkal dan selalu kasar pada Xu Zhizi. Zhao Nianqiao sesekali melimpahkan nasib buruknya pada putrinya itu dan tidak memperlakukannya dengan baik. Saat kecil, Xu Zhizi sering menangis karena merasa tidak disayangi oleh orang tuanya.
Liang Muzhi biasanya menjadi pendengar setianya.
Ia akan menepuk punggung Xu Zhizi layaknya orang dewasa dan mengatakan bahwa semuanya akan berlalu, serta berjanji bahwa ia akan selalu ada di sampingnya.
Kalimat "Kau punya aku" yang sering diucapkan seolah benar-benar ampuh. Xu Zhizi menjadi sangat bergantung padanya, ia perlahan tumbuh menjadi jauh lebih kuat dan tidak lagi terus-menerus meratapi perlakuan buruk orang tuanya.
Dalam ingatannya, sudah sangat lama ia tidak melihatnya menangis seperti ini.
Liang Muzhi tertegun cukup lama. Entah kapan jamuan itu benar-benar berakhir, ia tiba-tiba bangkit dan melangkah lebar keluar.
"Muzhi, mau ke mana kau?" Fu Wanwen buru-buru memanggilnya.
Ia tidak menjawab, tidak menoleh, dan mulai berlari keluar dari vila hingga berhenti di depan rumah keluarga Xu, lalu menekan bel dengan keras.
Zhao Nianqiao membuka kunci pintu dari jarak jauh. Begitu masuk, Liang Muzhi berlari menuju rumah utama dengan napas terengah-engah dan bertanya pada Zhao Nianqiao, "Bibi, di mana Zhizi kecil?"
"Begitu sampai, dia langsung naik ke kamarnya," Zhao Nianqiao mengangkat bahu, "Sepertinya masih menangis."
"Aku akan menemuinya." Ujar Liang Muzhi sembari melangkah ke tangga.
"Tunggu," Zhao Nianqiao memanggilnya, "Muzhi, dari maksud perkataanmu tadi, kau tidak bersedia menerima perjodohan dengan Zhizi, kan?"
Liang Muzhi terpaku.
"Benar, kan?" Zhao Nianqiao terlihat sedikit mendesak.
"Aku..." Ia terdiam sejenak, "Aku merasa perjodohan masa kecil itu adalah cara orang zaman dulu. Pola pikir generasiku dan Zhizi kecil berbeda."
Zhao Nianqiao: "Jangan berbelit-belit, katakan terus terang. Kau tidak menyukai Zhizi, kan?"
Pertanyaan itu terlalu tajam, Liang Muzhi merasa sulit menjawab. Sesaat kemudian, ia berkata, "Zhizi kecil adalah teman yang sangat penting bagiku, aku menganggapnya sebagai adik sendiri."
Zhao Nianq