Bab 28: Sang Marquis Mengundangmu
"Nyonya Lan, setelah Tuan Muda pulang tadi malam, wanita di Kediaman Nianyun itu langsung mendatangi beliau. Kabarnya, baru pagi tadi dia beranjak pergi dari ruang kerja Tuan Muda."
Setelah mendengar laporan dari pelayan kecilnya, wajah Nyonya Ruolan yang tampak agak pucat berubah merah padam karena murka. Ia mengertakkan gigi, meremas sapu tangan di tangannya hingga nyaris koyak.
Karena takut pada kemarahan Nyonya Chen, serta khawatir akan dijadikan bahan tertawaan oleh Miao Xian dan Du Yue dari Paviliun Qinfang, ia terpaksa memendam rapat-rapat kejadian semalam. Namun, ia benar-benar tidak bisa menelan penghinaan ini!
Padahal ia sudah mencampurkan minyak perangsang ke dalam dupa aromaterapi, tetapi Tuan Muda tetap saja bergeming. Belum cukup sampai di situ, pria itu malah menahan si penggoda Jiyun di ruang kerja. Bukankah ini sama saja dengan menampar wajahnya di depan umum?
"Jiyun! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang!"
"Nyonya Lan, Anda... ada apa?" Pelayan itu terkejut melihat majikannya menggertakkan gigi hingga terdengar suara gemeretak.
Ruolan tersadar, kebencian terpancar dari sorot matanya, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. "Sejak adik Jiyun masuk ke kediaman ini, aku belum pernah berkunjung ke Kediaman Nianyun. Mumpung tidak ada kesibukan, sebaiknya aku pergi ke sana untuk minum teh dan melepas penat."
"Baik." Pelayan itu tahu suasana hati majikannya sedang buruk, jadi ia tidak berani bicara banyak. Ia segera memapah majikannya, dan mereka pun keluar.
"Adik Ruolan, hendak pergi ke mana?" Saat melewati kamar samping timur tempat Du Yue berada, wanita itu sedang menggoda burung di depan jendela. Melihat Ruolan lewat, untuk pertama kalinya ia menyapa dengan ramah.
Ruolan agak terkejut. Biasanya, jumlah percakapan mereka tidak sampai hitungan jari. Hari ini sungguh aneh, Du Yue tiba-tiba mengajak bicara. Karena sama-sama tinggal di Paviliun Qinfang, Ruolan merasa tidak sopan jika mengabaikannya. Ia mencebikkan bibir dan menjawab ketus, "Hanya ingin berkeliling taman."
Du Yue tidak ambil pusing dengan sikap ketus itu, malah mengingatkan dengan baik hati, "Hawa panas di taman belum hilang, Adik Ruolan harus berhati-hati agar tidak terkena sengatan panas."
Tumben sekali dia begitu baik? Ruolan mendengus dingin dalam hati, namun tetap membalas dengan sopan, "Terima kasih, Kakak Du Yue."
Du Yue menutup bibirnya dengan kipas bulat, tetap ramah, "Tidak apa-apa, kita kan bersaudara. Jika ingin berjalan-jalan, aku sarankan pergi ke Kediaman Nianyun."
Ekspresi Ruolan mendingin, seulas kebencian melintas di sudut bibirnya. Du Yue berpura-pura tidak melihat dan terus berkata, "Waktu itu aku tidak sengaja mampir ke sana. Meskipun kecil, tempat itu punya banyak bunga dan pepohonan. Sekarang, karena Adik Jiyun tinggal di sana, Ibu Pengurus Yang memerintahkan pelayan untuk mengirimkan beberapa tanaman bunga ke sana. Kelihatannya justru lebih anggun daripada Paviliun Qinfang kita. Lagipula, namanya saja Kediaman Nianyun, sungguh serasi dengan namanya."
Entah si pembicara sengaja atau tidak, tetapi pendengarnya benar-benar meresapinya. Tatapan Ruolan berubah, ia berhenti melangkah dan bertanya seolah tanpa maksud apa-apa, "Apa maksud perkataan Kakak?"
"Tidak ada maksud apa-apa, hanya merasa iri pada Adik Jiyun. Ada orang yang memang bernasib baik; meski datang paling terakhir, dia malah bisa mencuri perhatian Tuan Muda."
Suara Du Yue terdengar penuh sesal. Ia tampak tidak ingin meneruskan pembicaraan, lalu memberikan senyuman getir kepada Ruolan dan kembali duduk di dipan empuknya.
Ruolan yang kini terbakar amarah hanya bisa menggerutu, "Ayo, kita lihat ke sana."
Pelayan itu tidak berani membantah dan mengikuti Ruolan ke Kediaman Nianyun.
"Adik Jiyun, kau baru saja keluar dari kediaman?" Sebelum Jiyun dan Xique sampai di Kediaman Nianyun, Ruolan sudah memanggilnya.
Nadanya terdengar tidak bersahabat, Jiyun berbalik dengan heran.
Ruolan telah sampai di hadapannya. Ia memperhatikan wajah Jiyun yang tampak berseri-seri, membuat kebenciannya semakin memuncak. Ia mencibir dengan nada menyindir, "Di halaman belakang kita ini, siapa yang setiap hari bolak-balik keluar? Bahkan Nyonya Besar pun tidak sesering itu. Adik Jiyun, apa kau tidak takut jadi bahan gunjingan?"
Kedatangannya memang membawa niat buruk. Jiyun sudah mendengar dari Xique tentang kejadian di kamar samping barat semalam. Jiyun sendiri sepanjang malam berada di dapur untuk merebus sup bagi Gao Jixing, sehingga ia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Sepertinya Ruolan melampiaskan kekesalan karena Gao Jixing tidak tinggal di kamar samping barat kepadanya.
Jiyun tahu Ruolan sedang marah, tetapi ia tidak bisa disalahkan. Ia pun menjelaskan dengan sopan, "Kakak Ruolan bercanda. Cuaca semakin panas, aku hanya pergi membeli benang dan kain untuk membuat pakaian."
Ruolan tidak berniat melepaskannya, ia mendengus dingin, "Kediaman Tuan Muda sudah menyediakan jatah bulanan untuk kita semua, baik pakaian maupun bedak sudah ada ketentuannya, mengapa kau harus repot-repot keluar sendiri?"
Jiyun yang sepanjang jalan memikirkan penyakit ibunya tidak punya waktu untuk meladeni Ruolan, "Ini sama sekali bukan urusan yang perlu Kakak cemaskan."
Setelah berkata demikian, ia mengangguk sedikit dan membawa Xique kembali ke Kediaman Nianyun.
"Kau!" Ruolan gemetar karena marah melihat Jiyun sama sekali tidak menganggapnya ada. Namun, Jiyun sudah berjalan jauh.
Pelayan itu bergumam tidak puas, "Nyonya Lan, dia merasa punya sedikit kecantikan, jadi semakin tidak menghargai Anda."
Ruolan yang sedang marah semakin tersulut emosinya, ia bersumpah akan membuat Jiyun membayar perbuatannya. "Cari seorang pelayan tua yang bisa dipercaya, suruh dia mengawasi Kediaman Nianyun. Jika ada gerak-gerik mencurigakan, segera laporkan padaku."
"Baik, hamba akan segera melaksanakannya."
Pelayan itu menerima perintah, mencari seorang wanita tua yang suka minum arak, memberinya beberapa keping uang, dan menjanjikan imbalan besar jika ada laporan yang berguna. Wanita tua itu menerima uang tersebut dengan senang hati dan menyanggupi tugas itu.
Jiyun tidak tahu dirinya sedang diawasi. Begitu sampai di kamar, ia mengusir Xique keluar, lalu meringkuk di sudut tempat tidur sambil menggigit selimut agar tangisannya tidak terdengar.
Ia pergi tanpa meninggalkan pesan, ibunya dan adik kecilnya pasti khawatir. Ia juga tidak tahu apakah Lu Ren akan menepati janjinya untuk memanggil tabib bagi ibunya. Penyakit sang ibu sudah tidak bisa ditunda lagi. Namun, selain memilih untuk percaya pada Lu Ren, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Entah sudah berapa lama ia menangis hingga langit mulai gelap. Xique kembali dari dapur membawa makanan malamnya. Melihat kamar gelap gulita, ia merasa cemas dan mengetuk pintu, "Nyonya Yun, hari sudah malam, bangkitlah untuk makan sedikit sebelum beristirahat."
Jiyun tidak tidur, namun ia tidak punya selera makan. Ia terpaksa menjawab dengan suara tertahan, "Aku agak lelah, kau makan saja bagianku."
Bagaimana bisa? Tubuh Nyonya Yun sudah lemah, jika tidak makan ia bisa jatuh sakit. Lagipula, ia sudah tidur sepanjang sore, mungkinkah ia sedang merasa tidak enak badan? Xique merasa panik, "Nyonya Yun, apakah Anda merasa sakit? Hamba akan segera memberi tahu Ibu Pengurus Yang untuk meminta tabib wanita."
"Tidak perlu." Jiyun tidak sakit, ia hanya tidak ingin membuat keributan.
Apa yang harus dilakukan? Xique merasa cemas. Saat keluar tadi Nyonya Yun masih baik-baik saja, entah apa yang terjadi sampai ia berubah seperti ini sepulang dari luar.
"Di mana Nyonya Yun? Mengapa tidak menyalakan lampu?"
Yang Zhaofu diperintah untuk menjemput Jiyun. Baru saja masuk ke Kediaman Nianyun, ia mendapati kamar Jiyun gelap gulita. Melihat Xique berjalan mondar-mandir dengan cemas di luar, ia bertanya dengan dahi berkerut. Ia adalah orang kepercayaan Tuan Muda, hampir tidak pernah menginjakkan kaki di halaman belakang. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat jantung Xique berdebar kencang.
"...Nyonya... ada di dalam."
Melihat Xique yang ketakutan dan terbata-bata, Yang Zhaofu tidak ingin mempersulitnya. Ia membungkuk dan berkata ke arah dalam, "Nyonya Yun, Anda dipanggil oleh Tuan Muda."
Mengapa Gao Jixing menyuruh Yang Zhaofu menjemputnya? Jiyun bangkit dengan panik.
"Apakah Nyonya Yun mendengar?" Yang Zhaofu bertanya lagi karena tidak mendapat jawaban.
"Mohon tunggu sebentar, Kakak Yang. Aku akan bersiap-siap sebentar."
Jiyun merasa gelisah, namun ia tidak berani untuk tidak datang.