Bab Dua Puluh Enam: Bertindak
Mobil pengangkut tahanan itu melaju sekitar dua puluh menit sebelum tiba-tiba kecepatannya menurun, lalu perlahan memasuki pasar di pinggir jalan dengan sangat hati-hati.
Pada saat itulah, tangan kanan Wang Xiang yang diborgol tiba-tiba memperlihatkan seutas kawat besi. Kawat itu ia congkel dari bros milik Manajer Mo, dan Wang Xiang bersyukur sekali polisi India begitu ceroboh. Kalau di negeri sendiri, jangankan kawat, tusuk gigi pun pasti ketahuan waktu pemeriksaan.
Kawat besi yang kaku itu, di tangan Wang Xiang, lentur seolah tanah liat, berubah bentuk dengan cekatan. Ia menyelipkan kawat yang sudah dibengkokkan ke dalam lubang kunci borgol, lalu mulai mengutak-atiknya.
Terdengar suara lirih, nyaris tak terdengar, ketika borgol itu terbuka, tertutup oleh kebisingan pasar di luar mobil. Begitu tangannya bebas, Wang Xiang tersenyum tipis, lalu menatap Guo Lin.
Sejak mobil memasuki pasar, pandangan Guo Lin tak pernah lepas dari Wang Xiang. Begitu Wang Xiang tersenyum, ia langsung paham, kini gilirannya.
Pada saat itu, mobil mendadak mengerem pelan. Guo Lin pura-pura kehilangan keseimbangan dan segera bersandar ke arah Wang Xiang.
Tangan Wang Xiang, yang kini tak lagi terbelenggu borgol, bebas bergerak. Saat mobil mengerem, tangannya yang berada di belakang tubuhnya bergetar ringan. Kini, tali jerat di pergelangan Wang Xiang hanya menjadi alat kamuflase.
Di saat para polisi lengah, Wang Xiang menyelinapkan satu tangan ke belakang Guo Lin.
Terdengar lagi suara lirih. Kali ini Guo Lin pun tersenyum.
Tangan Wang Xiang hanya mampu membuka borgol dan simpul tali di tangan Guo Lin. Namun itu sudah cukup.
Mobil kembali mengerem pelan. Kesempatan itu tak disia-siikan, Wang Xiang segera bergerak.
Dengan cepat, ia menghantam leher polisi yang duduk di sampingnya. Kini tersisa dua polisi dan seorang sipir yang menyetir.
Kaget dengan situasi yang tiba-tiba berubah, dua polisi di belakang spontan bangkit, tangan kanan meraba pinggang, hendak mengeluarkan pistol untuk menaklukkan mereka.
Sayang, Wang Xiang tak memberi kesempatan. Ia menendang polisi di hadapannya, membuat polisi itu merasa rahangnya seperti dihantam palu, lalu langsung pingsan.
Setelah menjatuhkan satu polisi, Wang Xiang tak memedulikan polisi satunya, melainkan segera menubruk polisi di sampingnya.
Saat Wang Xiang mulai bertindak, Guo Lin yang tadi duduk tenang juga bergerak.
Tepatnya, ia langsung menendang! Satu tendangan telak membuat polisi di seberangnya menjatuhkan pistol yang belum sempat digenggam erat, lalu kedua tangannya refleks menutupi selangkangan.
Tak berhenti di situ, siku Guo Lin menghantam tepat di titik vital. Polisi India itu pun pingsan dengan gaya tak kalah dramatis.
Guo Lin segera mengambil pistol, membuka pengamannya, melangkah cepat ke depan, lalu mengarahkan moncong pistol ke sopir India, membentak dengan bahasa India yang fasih, “Jangan kurangi kecepatan! Jangan berhenti! Jangan lakukan tindakan mencurigakan, atau aku tak segan menarik pelatuk!”
Meski dipisahkan oleh jeruji besi, sang sopir tahu, jeruji itu tak akan banyak membantu.
“Guo Lin, cepat bergerak!” Wang Xiang mendesak dengan nada penuh tekanan, matanya tak lepas dari pengemudi.
Guo Lin tak menjawab, ia langsung menggeledah tubuh polisi India, mengambil kunci borgol, lalu membebaskan Manajer Mo, sekaligus membuka simpul tali.
Setelah itu, ia mulai mencari senjata dan amunisi dari tiga polisi yang sudah terkapar.
“Dua senapan serbu, hanya enam magazin, total 180 peluru! Pistol ada tiga, sama dengan punya kita, enam magazin, 66 peluru!” Guo Lin melaporkan.
“Kamu terbiasa pakai senapan serbu?” tanya Wang Xiang.
“Cukup bisa!” jawab Guo Lin.
“Senapan serbu, kita satu orang satu. Pistol, masing-masing bawa satu. Mo, kamu belum pernah pegang senjata, cukup bawa satu pistol dan satu magazin buat jaga diri, aku bawa satu magazin lebih,” kata Wang Xiang.
“Kamu yakin bisa menggunakannya?” Guo Lin mengerutkan kening.
“Menurutmu bagaimana? Tak usah ragu! Dalam situasi begini, tak ada jalan mundur. Percaya padaku atau jalan sendiri!” jawab Wang Xiang tegas.
Dengan tangan gemetar, Manajer Mo menerima pistol. Guo Lin melirik dan mendapati pengamannya belum dibuka. Ia pun maju, membuka pengaman, lalu berkata, “Pegang yang benar! Jangan sampai moncong pistol mengarah ke kita!”
“Beneran bisa berhasil?” tanya Manajer Mo dengan suara bergetar.
“Buang kata ‘bisa’ itu!” sela Wang Xiang tanpa menoleh.
Guo Lin tersenyum tipis, “Kalau di negeri sendiri, aku pasti bilang mustahil, atau kalau pun berhasil, pasti tetap tertangkap. Tapi ini di India, kamu lihat sendiri kualitas polisinya. Asal kita bisa lolos nanti, pasti aman.”
Guo Lin memasangkan senapan serbu di tubuh Wang Xiang, lalu menyelipkan dua magazin panjang di pinggangnya, dan menaruh dua magazin pistol di saku celana Wang Xiang.
Dirinya juga bersiap, lalu melirik, melihat Manajer Mo sedang merampas rompi antipeluru dari tubuh polisi India.
Guo Lin mengernyit, “Sedang apa kamu?”
Tanpa berhenti, Manajer Mo menjawab, “Kupakai saja, jadi lebih aman!”
Wang Xiang menoleh sekilas, “Berhenti! Tak usah! Itu sia-sia!”
Guo Lin mengangguk, “Kamu terlalu banyak nonton film. Meski itu rompi antipeluru, dalam situasi seperti ini tak ada gunanya! Kalau kena peluru, minimal empat tulang rusuk patah, dan waktu itu kamu cuma bisa menyerah. Kalau tetap dipaksa jalan, tulang rusuk bisa menusuk organ dalam, lebih parah lagi!”
“Itu cuma cocok dipakai polisi atau penyerbu. Kita ini melarikan diri, rompi itu malah memberatkan! Kalau ketembak, lebih baik pasrah. Kami tak boleh terbebani olehmu!” suara Wang Xiang berubah dingin.
Mendengar itu, Manajer Mo berhenti, wajahnya pucat, tangannya gemetar, hatinya kacau.
“Duduk yang tenang!” perintah Wang Xiang dalam bahasa Negeri Hua.
Guo Lin dan Manajer Mo paham itu ditujukan pada mereka, segera duduk dan meraih pegangan di sekitar mereka.
“Injak gas! Belokkan ke kanan, tabrak saja!” Wang Xiang mendesak, menekan jeruji besi di depan sopir dengan ujung pistol, lalu berteriak dalam bahasa India.
Sopir mendengar itu, tak berani membantah, segera menambah kecepatan dan membelok.
Mobil pengangkut tahanan yang mereka naiki berada di barisan belakang, hanya disusul satu mobil polisi tiga roda dan dua motor polisi.
Melihat mobil tiba-tiba berbelok dan menabrak kerumunan, polisi belakang kaget, lalu cepat sadar.
Pasti ada masalah di depan!
Dua motor polisi dan mobil tiga roda di belakang segera menyalakan sirine.
Polisi pengawal di depan juga mendengar sirine dari belakang, lalu satu motor polisi dan satu mobil tiga roda segera berputar arah, menyisakan satu motor polisi untuk tetap mengawal di depan dan mengawasi tahanan di dua mobil lainnya.