Bab Lima Puluh Delapan: Iblis Bayangan Angin
...
Pegunungan Emas Baru kedatangan seorang penguasa luar biasa, yang dengan satu anak panah membunuh tiga kepala suku dari Suku Kura! Berita ini segera menyebar luas di seluruh Pegunungan Emas Baru. Tiga kepala suku Kura telah menduduki pegunungan ini entah berapa lama, namun kini mereka justru menyinggung seorang kuat sehebat itu.
Saat itu, di Suku Kura.
Baal untuk sementara diangkat menjadi “kepala suku” Suku Kura. Walaupun ia hanyalah dewa tingkat rendah, kedahsyatan serangan panah Fang Yun sebelumnya masih terpatri dalam ingatan semua orang, tak seorang pun berani melanggar kata-katanya. Lagi pula, jelas sang penguasa tengah menjalani pertapaan di suatu tempat di Pegunungan Emas Baru.
Baal sendiri pun merasa seperti bermimpi. Tak lama lalu ia masih berpikir apakah ia harus meninggalkan Pegunungan Emas Baru, namun kini ia justru mendapat “kedudukan” seperti sekarang...
“Baal, bicaralah. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya seorang lelaki tua berjanggut putih di sampingnya.
Ia adalah salah satu dewa tingkat menengah yang dikenal baik oleh Baal. Namun kini, ia memperlakukan Baal setara dengan dirinya.
Mendengar itu, Baal tersadar, lalu menatap lelaki tua itu dan tersenyum pahit, “Brett, kau pun tahu, aku tak terlalu mengerti seluk-beluk Suku Kura. Disuruh mengatur, aku pun bingung... Lagi pula, sang penguasa tidak memberi petunjuk yang jelas...”
Baal merasa ini memang peluang baginya, namun tiba-tiba harus “mengelola” suku sebesar ini, ia benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Brett termenung sejenak, lalu berbisik, “Apa kau tahu di mana tepatnya sang penguasa bertapa?”
Baal mengerutkan dahi.
Brett buru-buru menambahkan, “Jangan salah paham. Karena sang penguasa memang berpesan agar jangan diganggu selama bertapa, maka wajar kita menjaga kawasan itu, supaya tak ada yang mengganggu beliau.”
Baal berpikir sejenak, lalu mengangguk, “Tempat itu tak jauh dari Suku Baal.”
Brett mengangguk, “Kalau begitu, jadikan Suku Baal sebagai wilayah terlarang sementara, tak seorang pun boleh keluar masuk sembarangan. Hanya kau dan Kalaka yang boleh tinggal di sana, bagaimana?”
Baal mengangguk tanpa menolak, “Lalu, bagaimana pengaturan Suku Kura?”
“Meski sang penguasa tidak mengatakan apa-apa, namun karena beliau telah membasmi para kepala suku sebelumnya, maka segalanya di sini secara otomatis menjadi milik beliau,” kata Brett dengan pasti. “Kita jalankan seperti sebelumnya saja, nanti setelah sang penguasa selesai bertapa, baru kita tentukan langkah selanjutnya.”
Ia menambahkan, “Tapi, sebelumnya urusan bisnis Suku Kura dipegang oleh tiga kepala suku. Kini mereka telah tiada, tentu bisnis akan terganggu...”
“Bisnis?” Baal mengerutkan dahi, lalu berkata, “Lebih baik dihentikan dulu, tunggu sampai sang penguasa selesai bertapa.”
Ketiga kepala suku Suku Kura adalah dewa tingkat tinggi. Tujuan bisnis mereka pasti juga kekuatan yang tak kalah dari Suku Kura. Tanpa sang penguasa, mereka tak mungkin bisa menjamin bisnis tetap berjalan normal.
...
Meski Suku Kura kehilangan tiga kepala suku, kemunculan seorang “penguasa” yang jauh lebih kuat justru membuat keadaan tetap terjaga. Bahkan, mereka kini jadi lebih bersatu. Kekuatan seorang penguasa memang inti sebuah kekuatan.
Namun, beberapa orang yang sebelumnya pernah berselisih dengan Baal dan kelompoknya, diam-diam meninggalkan Pegunungan Emas Baru.
Karena itu, kabar tentang adanya penguasa baru di Pegunungan Emas Baru pun tersebar ke luar.
...
Lima puluh tahun kemudian.
Kota Bestar.
Di pusat Kota Bestar, tiga bangunan paling mencolok adalah Kastil Iblis, Kastil Karkasa, dan Kastil Pasir Hitam.
Yang paling ramai adalah Kastil Pasir Hitam, disusul Kastil Karkasa, dan paling sepi adalah Kastil Iblis.
Namun, yang keluar masuk Kastil Iblis hampir semuanya adalah iblis yang mengenakan lambang kehormatan iblis—mereka ini para elite dari neraka.
Kastil Iblis terutama digunakan untuk penerbitan dan evaluasi misi iblis. Selain itu, di sini juga bisa membeli beberapa barang tertentu.
Tentu saja, barang-barang yang dijual di Kastil Iblis semuanya sangat berharga.
Contohnya, rekaman pertarungan para kuat.
Di dalam Kastil Iblis.
Seorang pria bertubuh pendek dengan pedang raksasa di punggung masuk ke dalam, seketika menarik perhatian semua orang di aula lantai satu.
Tinggi pria itu hanya sekitar satu setengah meter, tampak seperti anak kecil. Namun pedang besar yang disandangnya hampir dua meter panjangnya, lebarnya bahkan melebihi tubuhnya sendiri, sekilas tampak seperti papan pintu raksasa.
“Itu si Iblis Pedang Raksasa!”
Banyak orang berseru kaget.
Di Kota Bestar, banyak sekali kuat, namun yang paling terkenal adalah Iblis Pedang Raksasa.
Iblis Pedang Raksasa adalah iblis bintang enam yang sangat kuat! Banyak yang mengatakan ia adalah yang terkuat setelah Penguasa Kota Bestar, bahkan di seluruh Prefektur Tianhua namanya sangat besar.
Setelah masuk, Iblis Pedang Raksasa langsung menuju ke meja depan.
Ia mengeluarkan lambang darah khusus dan lambang iblis miliknya, lalu meletakkannya di atas meja, “Saya ingin menyerahkan misi.”
“Tunggu sebentar, Tuan,” kata petugas meja, seorang pria berkepala plontos. Dengan sangat hati-hati, ia memeriksa lambang darah dan lambang iblis itu, lalu melakukan beberapa operasi pada lambang iblis.
Kemudian, dengan sikap makin hormat, ia mengembalikan lambang itu, “Tuan, ini lambang milik Anda, selamat telah menyelesaikan misi.”
Petugas tersebut benar-benar terkejut, ini sudah kedua kalinya Iblis Pedang Raksasa menyelesaikan misi iblis bintang enam! Sungguh luar biasa!
Untuk menjadi iblis bintang tujuh, seseorang harus menyelesaikan ujian iblis bintang tujuh. Namun, untuk bisa mengambil misi tersebut, harus menuntaskan sepuluh misi iblis bintang enam.
Perlu diketahui, setiap misi bintang enam sangatlah berbahaya.
Iblis Pedang Raksasa mengambil kembali lambangnya dengan santai, lantas langsung menuju aula lantai dua.
Barulah setelah ia naik ke lantai dua, orang-orang mulai berani berbicara.
“Iblis Pedang Raksasa kembali! Sepertinya misi iblisnya sudah selesai!”
“Benar-benar hebat!”
“Mungkin Kota Bestar kita akan melahirkan satu lagi iblis bintang tujuh yang kuat!”
“Katanya misi bintang enam sebelumnya adalah membunuh Penguasa Kastil Pasir Iblis! Itu kuat yang sudah terkenal selama miliaran tahun!”
...
Kastil Iblis, lantai dua.
Hanya mereka yang minimal iblis bintang empat yang berhak naik ke lantai dua.
Lantai dua jauh lebih sepi dan tenang.
"Tuan Roz, Anda kembali!" sapa seorang lelaki tua di lantai dua. Ia adalah petugas yang bertanggung jawab di lantai itu.
“Tren, kau tidak berangkat ujian iblis bintang lima?” tanya Iblis Pedang Raksasa, tampak agak terkejut.
Sebab terakhir kali lelaki tua ini memang berencana mengikuti ujian. Jika sudah menjadi iblis bintang lima, ia tak mungkin lagi bertugas di lantai dua.
Orang tua berambut putih itu tersenyum pasrah, “Ah, ujian bintang lima pertama gagal, untung masih bisa selamat. Aku akan berlatih lagi sebelum mengambil misi. Kekuatan sekarang masih kurang...”
Iblis Pedang Raksasa mengangguk, “Berlatih dulu juga baik, setelah kau benar-benar menyatu dengan dua kekuatan misteri, baru coba lagi, peluang berhasil akan jauh lebih besar.”
Ujian iblis bintang lima umumnya adalah misi buronan, dan targetnya minimal iblis bintang lima lama, bahkan jika kurang beruntung bisa bertemu iblis bintang enam. Tingkat kematiannya sangat tinggi.
Lelaki tua itu mengangguk, namun tetap menghela napas, “Tapi langkah terakhir ini benar-benar sulit kutembus.”
Kedua kekuatan misterinya sudah hampir menyatu, tapi tetap terhambat pada tahap akhir.
“Roz,” lelaki tua itu mengalihkan pembicaraan, “Anda ingin membeli rekaman pertarungan?”
Di lantai dua Kastil Iblis memang dijual rekaman pertarungan dan barang-barang langka yang harganya di luar jangkauan para dewa biasa.
Roz mengangguk, “Tolong beri saya rekaman pertarungan terkuat yang terbaru.”
“Mohon tunggu sebentar.”
Tak lama, lelaki tua itu mengeluarkan belasan rekaman, “Ini adalah rekaman pertarungan terkuat terbaru di Benua Karkasa.”
Setiap kota memiliki rekaman pertarungan yang diperbarui secara berkala.
Lelaki tua itu menjelaskan, “Salah satunya adalah pertarungan antara dua iblis bintang enam.”
“Iblis bintang enam...” Roz mengangguk. Inilah yang ia butuhkan.
“Tapi, selain itu, ada juga satu rekaman yang diduga pertarungan iblis bintang tujuh, dan itu terjadi di luar Kota Bestar,” tambahnya sambil tersenyum.
“Kota Bestar? Iblis bintang tujuh?!” Mata Roz langsung berbinar.
Pertarungan iblis bintang tujuh sangat langka dan setiap rekamannya amat berharga.
Setiap iblis bintang tujuh adalah tokoh termasyhur di benua, bahkan bisa mengguncang seluruh neraka. Iblis bintang tujuh punya hak menantang penguasa prefektur!
Sudah bermiliar tahun ia berlatih, tapi kini baru mencapai bintang enam.
Lelaki tua itu mengangguk, “Tapi ini bukan pertarungan antara dua iblis bintang tujuh, melainkan lima puluh tahun lalu, rekaman seorang kuat yang diduga iblis bintang tujuh menghancurkan satu suku. Rekaman ini dibuat oleh seorang dewa rendah, sangat terburu-buru, hanya merekam satu segmen dari kejauhan. Bahkan wujud iblis bintang tujuh itu pun agak kabur.”
Ia pun merasa sayang, andai saja bisa merekam keseluruhan, rekaman itu pasti jauh lebih berharga.
“Iblis bintang tujuh menghancurkan sebuah suku?”
Mendengarnya, Roz agak kecewa.
Jika itu pertarungan iblis bintang tujuh, tentu lebih baik. Tapi rekaman semacam itu memang sangat langka. Hanya bisa berharap beruntung.
Lelaki tua itu mengangguk, “Kuat yang diduga iblis bintang tujuh itu menggunakan busur panjang. Dalam rekaman hanya tampak samar-samar bayangan serangannya, jadi sekarang banyak orang menyebutnya Iblis Bayangan Angin.”
Meski Fang Yun belum pernah mengikuti ujian iblis, kekuatannya tak ada yang meragukan.
“Busur panjang? Iblis Bayangan Angin?” Roz agak terkejut.
Iblis kuat memang kerap mendapat julukan tersendiri, seperti dirinya yang dijuluki Iblis Pedang Raksasa. Namun yang mengejutkan, senjata kuat ini adalah busur panjang?
Para dewa kuat biasanya memilih senjata jarak dekat seperti pedang, golok, atau sarung tinju, sebab senjata jarak jauh kurang efektif dalam pertempuran jarak dekat. Pengguna busur panjang sangat jarang.
Yang paling terkenal adalah kaum Elf. Jangan-jangan kuat ini juga seorang Elf?
“Yang mana rekaman iblis bintang tujuh itu?”
Roz langsung bertanya. Walau hanya potongan, namun tetap layak ditonton, apalagi jika pelakunya Elf—kekuatan Elf di neraka sangat langka.
Lelaki tua itu memilih satu dari belasan rekaman, meletakkannya di depan Roz, “Pertarungan ini terjadi di Pegunungan Emas Baru. Saat rekaman ini muncul, bahkan Penguasa Kota pun sampai terkejut.”
Kehadiran iblis bintang tujuh baru memang layak menggegerkan penguasa kota.
“Penguasa Kota?” Roz mengangguk.
Itu wajar, karena kejadiannya di sekitar Kota Bestar.
“Saya ambil rekaman iblis bintang tujuh dan yang pertarungan iblis bintang enam itu saja, yang lain tidak perlu,” kata Roz.
Pertarungan di bawah bintang enam tak berarti baginya.
“Total lima puluh ribu batu tinta,” kata lelaki tua itu sambil tersenyum.
Rekaman pertarungan iblis bintang tujuh memang sangat mahal, tapi karena ini hanya rekaman potongan, harganya jauh lebih rendah.
Setelah membeli dua rekaman itu, Roz langsung pergi.
...
Sesampainya di kediaman, Roz segera menonton rekaman “Iblis Bayangan Angin”.
Rekamannya sangat kabur, hanya terlihat samar seorang pemuda memegang busur panjang, melepaskan satu anak panah yang melesat seperti bayangan, lalu menghancurkan sebuah puncak gunung.
Setelah itu, rekaman pun selesai.
Roz menonton berulang kali. Meski tak bisa menilai tingkatannya, dari kekuatan serangannya sudah bisa menduga kemampuannya.
“Retakan ruang angkasa!”
Wajah Roz serius, “Paling tidak, ia sudah setara iblis bintang enam yang ahli serangan!”
“Kapan Kota Bestar kedatangan kuat semacam ini...” Roz penasaran, matanya berbinar menatap rekaman itu, “Iblis Bayangan Angin, sepertinya aku harus berkunjung ke Pegunungan Emas Baru.”
Hanya saja, ia tak tahu apakah kuat itu hanya melewati saja. Kalau benar hanya lewat, sungguh disayangkan.
...
Pegunungan Emas Baru.
Suku Kura.
“Tuan Baal, ini batu emas baru yang baru saja ditambang,”
Seorang dewa tingkat rendah menyerahkan sebuah cincin ruang pada Baal, suaranya bergetar penuh semangat, “Tambang baru ini jauh lebih besar dari perkiraan, menurut perhitungan, nilainya bisa melebihi lima ratus juta batu tinta!”
Lima ratus juta batu tinta, baginya adalah kekayaan yang tak terbayangkan. Karena kekayaan inilah, belakangan ini sudah banyak yang nekat mencoba mencuri batu emas baru, dan semuanya berakhir tewas.
Mendengar itu, Baal pun merasa haus.
Namun ia menahan gejolak hatinya, lalu berkata, “Suruh Tuan Brett berjaga, jangan sampai ada yang berani menyelewengkan batu emas baru.”
“Baik,” jawab dewa tingkat rendah itu, lalu pergi.
Setelah orang itu pergi, Baal baru bisa sedikit menenangkan kegembiraannya dan bergumam, “Lima ratus juta batu tinta...”
Kalau tidak tergiur, itu bohong. Tapi teringat Fang Yun, ia paksa menekan keinginan itu. Menurutnya, mengabdi pada seorang kuat jauh lebih berharga daripada lima ratus juta batu tinta.
Batu emas baru adalah mineral istimewa dari dunia para dewa, sangat fleksibel dan merupakan bahan utama pembuatan makhluk logam.
Karena itu, batu emas baru selalu laris.
“Tuan Baal, ada tamu datang!”
Tiba-tiba, seorang dewa rendah berlari masuk dengan wajah panik.
“Ada apa panik begitu!” tegur Baal.
Dewa itu menahan paniknya dan berkata, “Tuan Baal, ada seorang iblis yang ingin bertemu Iblis Bayangan Angin!”
“Ingin bertemu sang penguasa?!”
Wajah Baal langsung serius.
Julukan Iblis Bayangan Angin sudah lama mereka dengar. Selama bertahun-tahun, banyak dewa tinggi datang hendak menemui sang penguasa, namun tak satu pun berhasil.
“Sang penguasa sedang bertapa, tidak menerima tamu,” kata Baal tegas.
Karena Fang Yun, kedudukannya naik pesat. Dewa menengah atau tinggi pun kini tak berani meremehkannya.
“Tuan Baal, kali ini yang datang adalah Iblis Pedang Raksasa!” bisik dewa itu dengan hati-hati.
Iblis Pedang Raksasa, kuat utama Kota Bestar—mereka tentu tahu siapa dia.
“Apa?! Iblis Pedang Raksasa!” Baal pun gugup, buru-buru berjalan keluar.
Di depan gerbang suku, seorang pria dengan pedang raksasa berdiri diam.
Benar-benar Iblis Pedang Raksasa!
Baal gemetar dalam hati.
...
Merasa ada yang mendekat, Roz membuka matanya dan menatap lawan bicara.
Melihat mata Roz, Baal langsung tersentak, keringat dingin membasahi dahinya. Ia segera melangkah maju, “Baal menghaturkan salam, Tuan.”
Roz langsung to the point, “Aku datang untuk menemui Iblis Bayangan Angin.”
Peristiwa lima puluh tahun lalu di Pegunungan Emas Baru bukanlah rahasia, ia cukup mencari tahu, maka ia pun sampai ke Suku Kura.
Baal tidak berani berbohong, “Tuan, Iblis Bayangan Angin masih bertapa, dalam waktu dekat belum bisa menerima tamu.”
“Berarti Iblis Bayangan Angin masih ada di Pegunungan Emas Baru?” tanya Roz tenang.
Baal menjawab, “Benar, Tuan sama sekali belum pernah pergi. Kami juga dipesankan untuk tidak mengganggu beliau.”
“Bagus.”
Roz mengangguk, lalu langsung terbang ke sebuah puncak gunung dan duduk bersila di sana.
Melihat Iblis Pedang Raksasa duduk di puncak tak jauh dari sana, Baal dan yang lain saling berpandangan. Tampaknya, iblis besar ini berniat menunggu sampai sang penguasa keluar dari pertapaannya.
“Tuan Baal...” bisik seorang dewa rendah, “Apa yang harus kita lakukan?”
Dari sekian banyak tamu yang datang, baru kali ini ada yang benar-benar berniat menunggu seperti Iblis Pedang Raksasa ini.
Baal pun menggeleng dan menghela napas, “Lakukan seperti biasa. Puncak itu tidak boleh ada yang mendekat. Jika sampai ada yang dibunuh, jangan salahkan siapa-siapa.”
Menghadapi iblis bintang enam yang kuat, mereka benar-benar tak berani berbuat macam-macam.