Bab Dua Puluh Sembilan: Mencurahkan Isi Hati
Halaman (1/3)
Shangguan Miaomiao menahan rasa sakit menusuk di lututnya, lalu bangkit dari tanah dan kembali berdiri melindungi Pang Yizhou. Tatapannya tegas, tanpa sedikit pun tanda-tanda gentar atau mundur.
“Apa yang telah dia lakukan kepada kalian sampai kalian memukulinya seperti ini?”
Preman yang memimpin menyeringai, memperlihatkan sederet gigi kuning, lalu berteriak, “Bajingan itu berutang kepada kami! Sudah jatuh tempo tapi tidak membayar. Memangnya kami tidak boleh memukulinya?”
“Berutang? Berapa jumlahnya? Aku yang akan membayarnya.”
Mata preman berambut pirang itu langsung berbinar. Ia menatap Shangguan Miaomiao dari atas ke bawah, lalu terkekeh. “Oh, rupanya gadis kecil ini kaya dan murah hati. Kalau kau mau membayar utangnya, sekalian saja kita hitung pokok dan bunganya hari ini.”
Ia mengangkat tangan, dan salah seorang anak buahnya segera menyerahkan kalkulator.
Setelah menghitung dengan kalkulator, preman berambut pirang itu berkata, “Totalnya dua ribu yuan, sudah termasuk pokok dan bunga. Bagaimana? Kau masih mau membayarnya? Jumlah ini bukan sedikit.”
Dua ribu?
Shangguan Miaomiao mengernyitkan dahi.
Seluruh tabungannya—uang yang berhasil dikumpulkannya sejak terlahir kembali—hanya sekitar dua ribu yuan.
Jika ia mengeluarkannya untuk membayar utang, ia akan benar-benar jatuh miskin dan tak memiliki sepeser pun di kantong.
Namun, setiap kali teringat betapa sungguh-sungguh Pang Yizhou membantunya belajar hingga nilainya meningkat, ia tetap tidak sanggup membiarkan pemuda itu begitu saja.
Dengan para preman jalanan seperti ini, tidak ada gunanya berdebat. Jika utangnya tidak dibayar, Pang Yizhou akan terus dipukuli.
“Baik, aku akan membayarnya.” Shangguan Miaomiao menggertakkan gigi dan menyetujui. “Tapi aku tidak membawa uang sebanyak itu. Bisakah kau memberiku sedikit waktu untuk pulang mengambil uang?”
“Boleh saja. Kalau begitu, kuberi kau waktu satu jam. Jika dalam satu jam kau tidak kembali, akan kupotong satu tangan bajingan ini.” Suara pemimpin preman berambut pirang itu terdengar kejam.
“Aku pasti kembali. Jangan berbuat macam-macam lagi. Saat aku kembali nanti, aku tidak ingin melihat ada luka baru di tubuh Pang Yizhou.”
Setelah berkata demikian, Shangguan Miaomiao membantu Pang Yizhou yang meringkuk di dekat dinding untuk berdiri dan membawanya duduk di tempat lain. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan, mengusap luka di pelipisnya, dan memberinya tatapan penuh keyakinan sebelum pergi.
Shangguan Miaomiao bergegas pulang secepat mungkin. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan Gu Yu.
Melihat raut wajahnya yang cemas, Gu Yu bertanya karena penasaran, “Shangguan Miaomiao, kau terburu-buru hendak pergi ke mana?”
“Aku sedang ada urusan mendesak.” Shangguan Miaomiao menjawab dengan cepat tanpa menoleh sedikit pun.
Gu Yu mengernyitkan dahi. Entah mengapa, ketika melihat sosoknya yang tergesa-gesa, ia mempercepat langkah dan mengikutinya.
Shangguan Miaomiao berlari kecil hingga tiba di rumah. Saat membuka pintu dan melihat Gu Yu berada di belakangnya, ia tertegun.
“Kenapa kau juga sudah pulang secepat ini?”
“Apa ada masalah?” Gu Yu balik bertanya.
Menyadari bahwa ia telah keceplosan, Shangguan Miaomiao menggeleng. “Tidak, tidak ada apa-apa.”
Ia masuk ke kamar, membuka laci, lalu mengambil dua ribu yuan yang disimpan di sana dan bersiap pergi.
Gu Yu bersandar di ambang pintu sambil memandangnya. “Kau mengambil uang sebanyak itu. Sebenarnya kau mau pergi ke mana lagi?”
“Menolong seseorang.”
“Siapa?”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
“Pang Yizhou.”
Gu Yu mengernyitkan dahi. “Apa yang terjadi dengannya?”
“Dia dipukuli orang. Dia juga berutang, dan mereka menyuruhnya membayar. Kalau tidak, mereka akan memotong tangannya.” Shangguan Miaomiao tak sempat menjelaskan lebih banyak dan segera bergegas turun.
Tatapan Gu Yu menggelap. Ia tidak mengatakan apa-apa, tetapi tetap mengikutinya.
“Untuk apa kau mengikutiku?” Shangguan Miaomiao bertanya dengan bingung.
“Aku tidak tenang membiarkanmu pergi sendirian.”
“Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri.” Shangguan Miaomiao menolaknya.
Pang Yizhou pasti tidak ingin lebih banyak orang melihat keadaannya yang mengenaskan.
Mendengar itu, Gu Yu menghentikan langkah dan tidak lagi mengikutinya.
Sejak awal, ia memang orang yang dingin dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Ini adalah pertama kalinya ia menunjukkan niat baik, tetapi malah ditolak.
Harga dirinya sedikit terusik, dan ia tidak mungkin mempermalukan diri dengan tetap memaksa mengikutinya.
Shangguan Miaomiao bergegas sekuat tenaga dan berhasil kembali dalam waktu satu jam.
Melihatnya datang tepat waktu, preman berambut pirang itu menampakkan senyum puas. “Oh, rupanya kau cukup menepati janji. Mana uangnya?”
Shangguan Miaomiao mengeluarkan uang dari sakunya dan menyerahkannya. “Ini dua ribu yuan. Hitunglah.”
Preman berambut pirang itu menerima uang tersebut dan menghitungnya. Jumlahnya memang tepat dua ribu yuan.
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya. Mereka pun melepaskan cengkeraman terhadap Pang Yizhou dan mundur ke samping.
Setelah memasukkan uang itu ke saku, preman berambut pirang tersebut berkata kepada Shangguan Miaomiao, “Bagus, kau cukup tahu diri. Ayo, kita pergi.”
Ia lalu membawa anak buahnya pergi.
Shangguan Miaomiao memandangi punggung mereka yang menjauh. Barulah hatinya terasa lega.
Ia berbalik menatap Pang Yizhou. Pakaian pemuda itu compang-camping, tubuhnya dipenuhi luka, dan wajahnya berlumuran darah. Ia tampak sangat mengenaskan.
Hidung Shangguan Miaomiao terasa perih, dan suaranya sedikit serak. “Pang Yizhou, kita ke rumah sakit.”
Ia maju untuk menopangnya dan hendak membawanya ke rumah sakit.
Namun, Pang Yizhou menolak. “Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.”
“Lukamu sudah separah ini, bagaimana mungkin kau tidak apa-apa? Kau harus ke rumah sakit.”
“Miaomiao, aku sungguh tidak apa-apa. Luka kecil seperti ini bukan masalah bagiku.”
“Tapi—”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
“Sudahlah, kita pulang saja.” Pang Yizhou memotong perkataannya.
Shangguan Miaomiao tidak punya pilihan selain menuruti keinginannya.
Ia menopang Pang Yizhou dan berjalan perlahan menuju rumah pemuda itu. Dalam perjalanan, ia tak kuasa menahan diri untuk bertanya, “Bagaimana kau bisa terlibat dengan mereka? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pang Yizhou terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Beberapa waktu lalu, nenekku sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Aku membutuhkan uang, tetapi tidak bisa meminjamnya dari siapa pun. Jadi, aku terpaksa meminjam dari rentenir. Aku tidak menyangka mereka akan sekejam itu. Aku hanya meminjam lima ratus yuan, tetapi belum genap sebulan mereka sudah memintaku mengembalikan dua ribu yuan.”
“Miaomiao, maaf. Aku sudah merepotkanmu,” kata Pang Yizhou dengan penuh rasa bersalah.
“Kenapa kau masih bersikap sungkan kepadaku? Kalau bukan karena bantuanmu, aku juga tidak mungkin bisa mengejar pelajaran secepat ini.”
“Miaomiao—” Pang Yizhou terdiam beberapa detik sebelum berkata, “Anggap saja uang ini sebagai pinjaman dariku. Aku pasti akan segera mengembalikannya.”
“Tidak perlu kau kembalikan. Anggap saja ini biaya les yang kubayarkan kepadamu.” Shangguan Miaomiao mengatakannya tanpa berpikir panjang.
Pang Yizhou masih seorang pelajar. Selain harus bersekolah dan mencari uang untuk biaya hidup, ia juga harus merawat neneknya yang tubuhnya lemah dan tidak dapat melihat. Beban yang ditanggungnya sudah cukup berat. Shangguan Miaomiao tidak ingin menambah tekanan dalam hidupnya.
“Tidak, aku tetap harus mengembalikannya kepadamu.” Pang Yizhou bersikeras. “Aku tidak bisa menerima kebaikanmu tanpa memberikan apa pun sebagai balasan.”
Shangguan Miaomiao memandangi tatapan keras kepalanya dan menghela napas tak berdaya. “Baiklah, terserah kau.”
Mereka berjalan dalam diam hingga tiba di rumah Pang Yizhou. Sebelum membuka pintu, Shangguan Miaomiao berkata dengan cemas, “Kalau kita masuk dalam keadaan seperti ini dan nenekmu melihat kau dipukuli, apakah itu tidak akan membuat kondisi beliau memburuk?”
“Tidak apa-apa. Pada jam seperti ini, nenek sedang tidur di kamar. Biasanya, beliau baru keluar untuk makan setelah aku memanggilnya.”
“Kalau begitu, syukurlah.” Shangguan Miaomiao mengembuskan napas lega. Ia menopang Pang Yizhou masuk dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Setelah masuk, mereka langsung menuju kamar Pang Yizhou.
Shangguan Miaomiao terlebih dahulu membantu Pang Yizhou duduk di tepi ranjang, kemudian bertanya, “Di rumahmu ada kotak obat? Aku ingin mengobati lukamu sebisanya.”
“Ada. Di laci ketiga lemari ruang tamu.”
“Baik, kau beristirahatlah sebentar. Aku akan mengambilnya.”
Shangguan Miaomiao keluar untuk mengambil kotak obat, lalu mulai merawat luka-luka Pang Yizhou.
Luka di tubuh Pang Yizhou tidak terlalu banyak. Sebagian besar berada di kepala dan wajahnya, tetapi tampak sangat mengerikan.
Dengan hati-hati, Shangguan Miaomiao membersihkan luka-lukanya dan mengoleskan salep.
Pang Yizhou memandangi wajah sampingnya yang serius. Dalam hatinya, muncul perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Shangguan Miaomiao, bagaimana mungkin dia bisa sebaik ini?
Hanya karena ia pernah membantunya belajar, gadis itu sudah rela mencurahkan seluruh ketulusannya. Ia begitu baik hingga Pang Yizhou bahkan tidak tega menyakitinya.
Halaman (3/3)