Bab 155: Amarah
"Kau benar-benar mencari mati!" Seorang lelaki bertubuh gempal meraung dan berniat menerjang maju, tetapi Li Tian-tang langsung menariknya dan berkata dengan dingin, "Berhenti!"
Lelaki bertubuh gempal itu dengan patuh menuruti perkataan Li Tian-tang. Li Tian-tang membalikkan badan, menatap Qian Jun, lalu tiba-tiba tertawa. "Kamu sangat berani. Apakah kamu tahu siapa aku? Kuberi tahu kamu, aku adalah Li Tian-tang! Pemimpin Grup Li Hong Kong. Anjing keparat, apakah kamu pikir... kamu berani bertindak terhadapku?!"
Suara Li Tian-tang terdengar sangat rendah. Di Hong Kong, tidak ada seorang pun yang tidak mengetahui bobot yang dibawa oleh nama ini. Kekuatan yang dikuasai oleh keluarga super kaya ini cukup untuk membuat seluruh Hong Kong bergetar. Bahkan jika para raja kapital dari kawasan Sungai Yangtze Delta masuk ke Hong Kong dan ingin bertarung melawan raksasa seperti keluarga Li, mereka harus mengerahkan banyak usaha.
Di hadapan musuh, Li Tian-tang tidak pernah menutupi sisi kejamnya. Jika dia bisa menghancurkan lawannya dengan kekuasaan dan status, dia tidak pernah keberatan untuk bersikap arogan. Seorang Xia Ran-xue sama sekali bukan masalah baginya. Terlebih lagi, wanita ini selalu menentangnya, dan dia tidak keberatan membiarkan wanita ini merasakan kenikmatan ditaklukkan.
Qian Jun bertindak!
Arogansi Li Tian-tang sudah lebih dari cukup untuk membuat Qian Jun bertindak. Kenyataannya, Qian Jun bahkan sudah berniat membunuh. Li Tian-tang mengulurkan sebelah tangan, berniat mempermainkan Xia Ran-xue tepat di depan Qian Jun. Ini tanpa ragu adalah penghinaan terbesar bagi pria Xia Ran-xue ini. Setiap pria yang melihat dengan mata kepala sendiri wanitanya dilecehkan oleh bajingan dan tidak berdaya, akan mengalami pukulan yang sangat telak pada fisik dan mentalnya.
Li Tian-tang sangat memahami hal ini. Dia ingin menemukan metode yang jauh lebih memberikan kepuasan daripada sekadar membunuh Qian Jun, jadi dengan sifat aslinya yang menyimpang, dia ingin menantang batas kesabaran Qian Jun. Dia mengira Qian Jun ciut karena takut akan reputasinya dan tidak akan berani melawan.
Arogansinya takdirnya berakhir dengan kesengsaraan!
Saat wajahnya hampir menyentuh Xia Ran-xue yang bersembunyi di balik punggung Qian Jun, tangan Qian Jun sudah terangkat, lalu mendaratkan sebuah tinju dengan kejam di wajah Li Tian-tang. Li Tian-tang mendengus tertahan. Terlihat jelas sebagian wajahnya cekung ke dalam, darah terciprat, dan dia terpelanting sambil meringis kesakitan.
Butuh waktu agak lama sebelum jeritan kesakitan Li Tian-tang terdengar. Beberapa pria bertubuh gempal di sekitarnya melihat tuan mereka dipukul, langsung meraung dan berniat menerjang maju. Pandangan mata Qian Jun bagaikan bilah pisau, sebelah tangannya menyapu ke depan, dan seketika dua orang lelaki tumbang sambil menjerit kesakitan, darah mengalir deras, tulang-tulang mereka hancur, tergeletak di tanah sambil merintih kesakitan.
Seorang lelaki tiba-tiba mengeluarkan pistol dan berniat mengarahkannya ke Qian Jun. Dengan tanggap dan cepat, Qian Jun berbalik memukul dadanya. Saat itu juga terdengar suara retakan tulang yang nyaring, seteguk darah menyembur keluar bersamaan dengan tubuhnya yang terpental jauh, beberapa tulang rusuknya pun patah.
Menghadapi musuh, Qian Jun sama sekali tidak kenal ampun. Tidak membantai mereka secara massal sudah dianggap sebagai bentuk belas kasih. Tinju terakhirnya menghantam pangkal paha lelaki bertubuh gempal yang lain. Di tengah jeritan kesakitan lelaki itu, Qian Jun berjalan perlahan mendekati Li Tian-tang bagaikan sesosok iblis.
Wajah Li Tian-tang berubah beberapa kali. Dia bahkan masih bisa memaksakan diri untuk tetap tenang, lalu berkata dengan suara berat, "Anjing keparat, pikirkan baik-baik konsekuensi jika kamu berani menyinggungku! Jika kamu melepaskanku sekarang, aku bisa mengampuni kesalahanmu. Tapi jika hari ini kamu berani menyentuhku, aku bersumpah akan membunuh seluruh keluargamu!"
"Bodoh, kamu mengancamku?" Qian Jun tersenyum dingin, perlahan mendekati Li Tian-tang.
"Aku memang mengancammu, memangnya kenapa? Keparat, satu jariku saja sudah bisa mempermainkanmu sampai mati! Kalau mau jadi pahlawan kesiangan pun harus lihat situasi! Aku bisa meniduri ibu wanita jalang ini, dan aku juga bisa meniduri wanita itu. Nanti kita buat tontonan ibu dan anak tidur di ranjang yang sama, bukankah itu sangat mengasyikkan?!"
Qian Jun terus mendekati Li Tian-tang secara perlahan, yang justru memicu seluruh sisi buas dalam diri Li Tian-tang. Di balik wajah tampan Li Tian-tang terdapat senyuman kotor, matanya menatap tajam penuh kebencian kepada Qian Jun. Dia sama sekali tidak percaya pria ini memiliki keberanian setinggi langit untuk membunuhnya—perbuatan itu sama saja dengan mencari mati.
Saat Li Tian-tang hendak kembali bersuara, Qian Jun kembali melancarkan serangan! Tinjunya menghantam langsung ke dalam mulut Li Tian-tang, darah terciprat, gigi tiri dan gigi depan Li Tian-tang rontok berhamburan seketika. Tinju Qian Jun yang lain menghantam perut Li Tian-tang dengan keras, sementara tangannya yang lain membungkam mulut pria itu. Cairan lambung Li Tian-tang bergolak naik turun akibat hantaman itu namun tidak bisa dimuntahkan. Kedua matanya mendadak menyipit, sebuah jeritan kesakitan lolos dari kerongkongannya, pantatnya merosot, dan dia benar-benar mengompol serta buang air besar di celana.
Qian Jun tersenyum dingin sambil mengangkat tangannya, berniat melayangkan satu tinju lagi ke kepala Li Tian-tang untuk menghabisi pria itu sepenuhnya—
"Berhentilah, apa yang kalian lakukan?!"
Tepat saat tinju itu hendak mendarat, tiba-tiba terdengar suara hardikan dari tidak jauh di sana, secara paksa menghentikan tinju Qian Jun yang tadinya berniat menghancurkan kepala lawan. Qian Jun dan Li Tian-tang menoleh secara bersamaan, dan tampaklah beberapa gadis berdiri dengan mulut ternganga, menyaksikan dengan sangat terkejut segala hal yang terjadi di lorong tersebut.
Wewangian semerbak berhembus dari salah satu sisi lorong. Ternyata mereka adalah Shen Yan-yu, Bei Bei, Xie Dai-fei, dan yang lainnya. Selain Xiao Yu-lu, ada pula Zeng Xin, wanita kesayangan di sisi Bei Ming-he. Entah mengapa mereka bisa datang ke tempat ini, bahkan menyaksikan pemandangan pertikaian yang sangat brutal ini. Li Tian-tang yang biasanya selalu tampak sangat anggun kini dipukuli hingga buang air besar dan kecil di celana. Jika mereka tidak datang dengan cepat, tinju Qian Jun barusan pasti akan mengirim Li Tian-tang ke alam baka!
Qian Jun sama sekali tidak takut menyinggung Li Tian-tang; membunuh Li Tian-tang sama mudahnya dengan membunuh seekor anjing!
Seberapa besar pun pengaruh Li Tian-tang, selama Qian Jun membereskan tempat kejadian perkara dengan bersih, tidak akan banyak orang yang berani meminta pertanggungjawabannya setelah kejadian.
Namun, kehadiran Shen Yan-yu, Xie Dai-fei, dan yang lainnya membuat Qian Jun akhirnya mengurungkan niatnya. Meskipun Qian Jun masih tetap bisa membunuh Li Tian-tang, pekerjaan pembersihan setelahnya akan menjadi sangat besar jika ada saksi mata. Jika dimanfaatkan oleh orang yang berniat buruk, hal itu dikhawatirkan cukup untuk memicu badai politik, lalu membentuk serangan balasan terhadap Fu Qing-yun. Pada saat itu, jangankan menumbangkan Fu Qing-yun seketika, menekan posisinya saja akan menjadi jauh lebih sulit.
Seberapa arogan pun Qian Jun, dia tetap menimbang untung rugi dengan sangat jernih. Qian Jun sama sekali tidak terburu-buru membunuh Li Tian-tang. Melepaskan Li Tian-tang sekarang bukan berarti tidak ada kesempatan untuk mempermainkannya sampai mati di kemudian hari. Untuk memotong tangan kanan dan kiri Bei Ming-he, Li Tian-tang adalah target pertama yang harus disingkirkan oleh Qian Jun!
Qian Jun menendang wajah Li Tian-tang dengan kejam, membuat pria itu merintih kesakitan. Shen Yan-yu berlari tergopoh-gopoh mendekati Li Tian-tang dan memeluknya. "Kamu tidak apa-apa? Kamu baik-baik saja? Ya Tuhan, kamu berdarah! Kejam sekali, bagaimana bisa dia memukulumu separah ini..." Wajah Shen Yan-yu dipenuhi rasa ngeri, lalu dia tiba-tiba menoleh dan memelototi Qian Jun. Di matanya bahkan masih menyisakan air mata berkilauan. Meskipun dia sedang membentak Qian Jun, sikapnya tetap memancarkan keanggunan. "Qi Ye, kamu keterlaluan sekali! Bagaimana kamu bisa memukul orang seperti ini? Bagaimana hatimu tega melakukannya?"
Zeng Xin juga menatap lekat-lekat ke arah Qian Jun. Dia merasa seolah pernah melihat pria kejam ini di suatu tempat; sifat jahatnya bagaikan iblis darah dari kegelapan. Perasaan yang begitu familier ini membuat jantung Zeng Xin berdegup kencang. Di dalam hatinya, Zeng Xin merasa jijik terhadap tabiat buruk yang hanya melekat pada sesosok iblis, namun di sisi lain, dorongan aneh justru muncul di dalam dirinya untuk mencari tahu—sebenarnya bagaimana proses jatuhnya pria yang seharusnya adalah iblis ini?!
Sesosok iblis, sebenarnya dibentuk dari apa?
Meminta medali emas, meminta koleksi, meminta rekomendasi, meminta klik, meminta komentar, meminta angpao, meminta hadiah, meminta apa saja! Apa pun yang ada, lemparkan saja semuanya ke sini!