Bab 81: Adakah yang Lebih Sombong dari Aku?!
“Siapa kamu?” Chen Cheng tidak mengenal Xie Kun, namun dari ekspresi angkuh Xie Kun, ia merasakan kekuatan pria itu. Kekuatan ini bukan sekadar pura-pura, melainkan nyata adanya.
Nyata hingga ia berani memandang Chen Cheng dengan tatapan merendahkan.
“Aku bernama Xie Kun! Aku adalah Marquis turun-temurun dari Kerajaan Diporo. Senang bertemu denganmu, sekretaris kesayanganku.” Senyum Xie Kun tampak dingin di sudut bibirnya, dan nada “sekretaris kesayanganku” terdengar jelas seperti ejekan.
Ia memang punya hak untuk mengejek!
“Aku sedang berada di acara pribadi, bukan sedang bekerja. Sekalipun kau adalah Kaisar Diporo, aku tetap punya hak untuk mengabaikanmu.” Chen Cheng tak mau tunduk begitu saja, namun karena status Xie Kun yang luar biasa, ia tetap berdiri dengan sopan, menatap Xie Kun lekat-lekat.
“Bagus! Aku tak peduli apakah kau sekretaris kota, atau ayahmu sekretaris provinsi. Saat ini, aku hanya ingin kau meminta maaf.” Suara Xie Kun seolah keluar dari sela-sela giginya, penuh tekanan:
“Tunduk, membungkuk, dan minta maaf kepada temanku! Jika kau lakukan, aku janji akan memaafkanmu.”
“Bagaimana jika aku menolak?”
Mata Chen Cheng mulai dingin. Diancam di depan umum dan langsung menyerah bukanlah gayanya. Namun seorang Marquis Diporo memang punya alasan untuk membuat Chen Cheng serius.
“Aku jamin, ada seratus cara untuk menghancurkanmu. Meski aku tak bisa menyentuh ayahmu, dengan kartu yang kupegang, aku bisa menodai nama baikmu, bisa mengakhiri karier politikmu lebih cepat.” Nada bicara Xie Kun nyata-nyata penuh ancaman. Ia mengangkat kepala, menatap Chen Cheng dengan penuh keangkuhan!
Xie Kun berani mengancam wakil sekretaris kota, ini sudah melampaui batas. Namun ia bukan sekadar membual, statusnya memang memungkinkan. Kerajaan Diporo menguasai minyak, tambang emas dan bijih besi, kekayaan itu cukup membuat pejabat mana pun di negeri ini tunduk hormat padanya.
Ia terlahir untuk tidak biasa, ia ditakdirkan berdiri di puncak dunia. Orang-orang yang tahu siapa Xie Kun seperti Qiu Zheng Ling dan Xie Daifei tidak terlalu terkejut, namun para putra dan putri kaya yang tak mengenalnya langsung berubah wajah. Mereka akhirnya benar-benar menyadari bahwa selalu ada orang yang lebih hebat di luar sana.
“Sudah cukup? Kalau sudah, silakan pergi!”
Fu Qianjun berdiri tegak seperti pohon pinus tua. Suaranya pelan, tapi tak seorang pun bisa mengabaikan isi perkataannya: “Di sini, kau belum punya hak bicara.”
Jika bicara tentang arogansi, hari ini Qianjun mencapai puncaknya! Orang boleh angkuh, tapi sampai ke taraf ini, sudah seperti makhluk lain.
Inilah kali pertama Qianjun bicara sejak kelompok anak orang kaya mencari masalah pada dirinya dan Chen Cheng, dan ia jadi orang pertama yang berani mengatakan Xie Kun tidak layak bicara. Itulah Fu Qianjun; angkuh, dingin, namun tak ada yang tahu kekuatan aslinya.
Saat kata-kata itu meluncur, semua orang kecuali Chen Cheng, termasuk Zhiruo, Shen Yanyu, Qiu Zheng Ling, bahkan Xie Daifei, memandang Qianjun dengan tatapan terkejut. Zhiruo dan para sahabatnya mengira Qianjun tidak tahu siapa Xie Kun, hanya sekadar memanfaatkan status Chen Cheng. Zhiruo langsung cemas; pada kenyataannya, keluarga Zhiruo pun tak mampu menandingi orang selevel Xie Kun. Teman-teman Xie Kun justru menatap Qianjun sambil menunggu pertunjukan; di mata mereka, Qianjun hanyalah orang bodoh.
Orang boleh pura-pura hebat, boleh mengandalkan kekuatan orang lain, tapi jika sampai sebodoh ini, berarti memang sudah tak bisa diselamatkan.
Apa ia tidak sadar, bahkan wakil sekretaris kota pun menghormati Xie Kun?
Xie Daifei tercengang, sebab ia tahu siapa Xie Kun sebenarnya: Marquis Diporo, dengan jutaan rakyat dan tambang minyak serta emas. Sekalipun kekuatan Qianjun begitu besar, urusan diplomatik seperti ini sangat rumit. Salah langkah, masalah ini bisa jadi aib nasional.
Ia tak percaya Qianjun sebodoh itu sampai mencari perhatian dengan memamerkan kekuatan, tapi ia tetap khawatir Qianjun bisa menimbulkan masalah diplomatik. Meski dengan kekuasaannya Qianjun mungkin bisa terhindar, tetap saja itu merusak reputasi negara.
“Kau siapa, berani bicara begitu padaku?” Senyum Xie Kun makin dingin. Tak pernah ada yang berani berbicara seperti itu padanya. Qianjun benar-benar membuatnya marah.
“Itu pelayan kecil yang berani makan daging angsa, padahal ia hanya seekor kodok.” Seseorang di kerumunan mengejek, nadanya penuh penghinaan.
“Benarkah? Sejak kapan seekor anjing berani menggonggong pada manusia?” Xie Kun mengedipkan mata pada teman-temannya, memicu tawa liar tanpa batas.
Sejak kapan pelayan kecil berani berlaku sombong?
“Plak!”
Tanpa peringatan, suara tamparan yang keras dan jernih membelah ruangan, mendarat tepat di wajah Xie Kun. Xie Kun bahkan tak sempat bereaksi, tamparan itu begitu keras dan mendadak. Setelah menampar, Qianjun tampak seperti melakukan hal sepele, seolah hanya menampar seekor anjing.
Qianjun tersenyum, “Tamparan ini kuberikan agar kau tahu, manusia ada derajat dan martabatnya. Lain kali, buka matamu lebar-lebar, tidak semua orang bisa kau usik!”
“……”
“……”
Aku memang liar, tak terbatas kesombonganku!
Hati yang angkuh terbungkus bulu domba, namun sifat garangnya tak pernah bisa disembunyikan.
Selain Chen Cheng, semua orang terpaku menatap Fu Qianjun. Tak ada yang percaya apa yang baru mereka saksikan!
……
PS: Jangan lupa simpan, rekomendasikan, dan klik… Ada hadiah dan bingkisan nggak, ya? Asli bikin ngiler…
Saudara-saudari, teman-teman, dukung terus penulis, ya!