Bab 66: Aku Tidak Merasakannya
Ibu kota Provinsi Selatan, Guangzhen!
Ini adalah pertama kalinya bagi Qianjun pergi ke sana. Duduk di dalam gerbong kereta cepat, Qianjun dengan lembut memeluk Lin Zhiruo, menikmati pemandangan yang melintas cepat di luar jendela dengan penuh ketenangan.
Kali ini, beberapa anak orang kaya itu tidak mengendarai mobil pribadi, melainkan bersama-sama naik kereta cepat.
Lin Zhiruo bersandar manja di dada Qianjun, pipinya memerah. Mesra-mesraan di tengah banyak orang memang bukan hal yang baik. Meskipun Lin Zhiruo sempat berusaha melepaskan diri beberapa kali, pada akhirnya ia tak mampu keluar dari pelukan Qianjun, dan akhirnya ia pun membiarkan dirinya dipeluk oleh ‘si nakal’ itu.
Terlebih lagi, Lin Zhiruo memang tidak benar-benar ingin meninggalkan pelukan itu. Pelukan ini membuat hatinya tenteram, bahkan lebih nyaman daripada berbaring di kasur empuk.
Qianjun mempererat pelukannya, seolah ingin menelan Zhiruo ke dalam perutnya. Zhiruo pun tak kuasa menahan desahan nyaman dari bibirnya, yang sontak menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Menyadari hal itu, Zhiruo pun menjadi sangat malu hingga telinganya ikut memerah, lalu ia segera bersembunyi di dada Qianjun dan tak ingin bangkit lagi.
Melihat Zhiruo yang begitu malu dan manja, Qianjun tak tahan untuk mencubit hidung mancung Zhiruo yang bersembunyi di pelukannya, lalu tertawa lepas.
“Dasar nakal!”
Lin Zhiruo benar-benar malu, ia membuka mulut kecilnya ingin menggigit Qianjun, tapi setelah berpikir ulang, ia urungkan niatnya, tak sampai hati membuat Qianjun kesakitan.
Di samping Qianjun dan Zhiruo yang duduk bersebelahan, ada Xie Daifei dan Liu Yang. Sementara Shen Yanyu duduk di belakang, mengobrol bersama Beibei dan beberapa teman lain dari lingkaran mereka. Banyak dari mereka yang sudah membeli rumah di Guangzhen, atau orangtuanya berbisnis atau menjadi pejabat di sana, hanya saja karena kampung halaman mereka di Zhongsan, mereka tetap tinggal di Zhongsan. Karena ini musim tahun baru, tentu saja mereka tak punya alasan untuk tidak pergi ke Guangzhen.
Qianjun dan Zhiruo asyik bercengkerama penuh kemesraan. Sementara Xie Daifei dan Liu Yang hanya berbincang sekadarnya, namun mata Daifei beberapa kali melirik pasangan di sampingnya. Entah mengapa, hatinya terasa tidak nyaman melihat kemesraan mereka. Ia tak tahan melihat kedekatan mereka.
Xie Daifei menggigit bibirnya diam-diam, berusaha sekuat tenaga agar dirinya tidak cemburu, namun itu jelas sulit dilakukan. Kecemburuannya akan mudah terlihat oleh siapa pun yang peka. Ia memang berusaha mengendalikan emosinya, tapi selalu gagal.
Meski enggan mengakuinya, Xie Daifei tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Ia telah menaruh rasa yang tak lagi bisa dibendung pada Qianjun, bahkan mungkin sudah jatuh cinta. Sehingga Liu Yang, yang dulu masih bisa ia pandang, kini jika dibandingkan dengan Qianjun, rasanya seperti anjing kecil yang hendak bersaing dengan seekor singa.
Qianjun memang tak pernah menonjolkan diri, tetapi pesona misterius yang kadang terpancar darinya selalu mampu membuat hati para wanita bergetar. Meski ia tidak sengaja memperlihatkannya, orang yang sering berinteraksi dengannya pasti bisa merasakan keistimewaan dan keunggulannya yang luar biasa, bahkan terkesan eksentrik. Lama-kelamaan, tanpa sadar, seseorang bisa saja tiba-tiba, tanpa alasan, mulai menyukai dirinya.
Perasaan itu memang aneh, sulit dijelaskan, tetapi sungguh nyata.
“Dia juga akan ke Guangzhen?”
Melihat Xie Daifei yang sesekali melirik Qianjun dan Zhiruo dengan dahi berkerut, Liu Yang pun ikut mengerutkan kening. Tadi suara desahan Lin Zhiruo pun tak kecil, dan Liu Yang langsung menangkapnya. Jujur saja, suara halus dari gadis secantik Lin Zhiruo saja sudah cukup membuat hati pria manapun bergetar. Seperti halnya Xie Daifei, Liu Yang pun tak bisa menahan rasa cemburu di matanya. Meski ia tengah mengejar Xie Daifei, bukan berarti ia tak punya hasrat pada wanita lain. Kebanyakan pria selalu punya pikiran untuk menaklukkan semua wanita cantik.
Liu Yang pun tak terkecuali.
“Iya, dia akan menemui kakek-nenek Zhiruo,” jawab Xie Daifei sambil mengangguk, suaranya terdengar lemah.
“Begitu ya? Berani juga dia menemui kakek-nenek Zhiruo. Lumayan juga nyalinya.” Ucapan Liu Yang terdengar santai, namun jelas ada nada mengejek di dalamnya. Ia kesal karena seorang lelaki biasa seperti Qianjun bisa mendapatkan wanita secantik Zhiruo, namun ia tidak memperlihatkan kekesalannya. Seorang anak keluarga terpandang, jika tak mampu menahan diri dalam hal begini, bagaimana mungkin bisa meneruskan kejayaan keluarganya?
Namun, ia tetap tidak suka melihat kemesraan mereka, seorang pelayan rendahan seperti Qianjun mendapatkan Zhiruo. Baginya, itu adalah penghinaan terhadap sesuatu yang sempurna. Seperti melumuri lukisan Monalisa dengan tinta hitam—kotor dan keji.
“Aku kira dia baru saja masuk ke rumah mereka, pasti akan langsung diusir oleh keluarga kakek-nenek Zhiruo.” Beibei, yang duduk di belakang Xie Daifei dan Liu Yang bersama Shen Yanyu, ikut tersenyum dan berkomentar. Ia tak ingin melewatkan kesempatan mengobrol dengan Liu Yang. Ia memang menyukai Liu Yang, dan hal itu diketahui oleh semua orang, termasuk Xie Daifei. Beibei pun tidak berusaha menyembunyikannya.
“Aku juga pikir begitu. Kakek-nenek Zhiruo memang galak.” Seorang gadis lain yang duduk di belakang tiba-tiba menyelipkan kepala, tertawa ringan. Ia pernah bertemu kakek-nenek Zhiruo, dan ia yakin kedua orang tua yang terkenal galak itu tidak akan pernah memberi muka pada Qianjun, sang menantu yang tak diundang.
“Kalian sebaiknya jangan membahas itu lagi.” Shen Yanyu menepuk bahu Beibei, lalu menatap gadis di belakang dengan nada sedikit menegur. Gadis itu menjulurkan lidah, lalu kembali menarik wajahnya sambil tersenyum.
Meski apa yang mereka bicarakan memang benar, Shen Yanyu tidak ingin Zhiruo mendengar pembicaraan mereka. Ia sangat tahu betapa Zhiruo benar-benar mencintai pelayan rendahan itu. Ia tidak ingin hanya karena beberapa dari mereka meremehkan Qianjun, hubungan pertemanan mereka menjadi retak. Semua orang sangat jelas melihat bahwa Zhiruo sangat peduli pada Qianjun.
“Aku tidak yakin begitu,” Xie Daifei justru menggeleng, tidak sependapat dengan teman-temannya.