Bab 36 Jubah Ungu Pedang Hitam

Retorno ao Abismo em Nove Voltas Jiang Yi 1225kata 2026-08-01 02:32:26

Yuan Ling berencana untuk kembali ke Pasar Hantu hari ini.

Persediaan jimat kuning yang ia beli dari Nenek Du tempo hari hampir habis. Sebagai langkah antisipasi, ia berniat membeli beberapa lembar lagi untuk jaga-jaga bagi dirinya sendiri atau Yuan Yan.

Usai kelas, Yuan Ling membeli sepotong roti di toko stasiun kereta bawah tanah pusat kota untuk mengganjal perut, lalu kembali menaiki lift untuk turun ke Pasar Hantu. Namun, situasi di sana benar-benar berbeda dari kunjungan sebelumnya.

Seluruh jalanan Pasar Hantu tampak kosong, tidak ada satu pun manusia maupun hantu yang terlihat.

Tempat itu seperti kota mati.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanpa sadar, Yuan Ling berjalan pelan di bawah atap, menempel pada dinding.

Namun, belum lama ia berjalan, seluruh Pasar Hantu bergetar hebat seperti terkena gempa. Ia hampir terjatuh dan harus berpegangan pada gagang pintu toko yang tertutup rapat agar tetap seimbang.

Dari kejauhan terdengar suara dentuman keras yang susul-menyusul, seperti ledakan kecil dan suara bangunan yang runtuh. Selain itu, ia merasakan aura spiritual yang sangat kuat, sesuatu yang belum pernah ia temui selama berada di dunia manusia.

Yuan Ling sadar bahwa ia belum memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman yang tidak diketahui di depan sana. Ia tidak berniat mengambil risiko untuk masuk lebih dalam, pun tidak ingin menunjukkan keberadaannya melalui aura spiritual, sehingga ia mulai berniat untuk kembali lewat jalan semula.

"Keluar kau!"

Langkah Yuan Ling terhenti. Ia mendengar seseorang berteriak dengan mengerahkan aura spiritual hingga suaranya memenuhi seluruh Pasar Hantu. Sesaat kemudian, dua kilatan cahaya spiritual melesat menyerang bangunan di sisi tempatnya berada.

Atap di atas kepalanya seketika hancur berkeping-keping, tiang kayu dan genteng berserakan ke mana-mana.

Mengira serangan itu ditujukan padanya, Yuan Ling segera berlari bersembunyi ke gang belakang toko di seberang jalan, matanya waspada mengawasi sekeliling.

"Tangkap dia!"

Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang mendarat ringan di atas genteng, disusul dengan suara pertempuran. Yuan Ling mengintip. Di atas atap rumah yang masih utuh di seberang sana, seorang pria berdiri membelakanginya, dikepung oleh puluhan bayangan hitam.

Pria itu menggenggam sebilah pedang. Rambut hitam panjangnya diikat longgar dengan seutas tali, dan jubah ungu gelapnya berkibar ditiup angin. Beberapa helai rambut di pelipisnya menutupi wajah sampingnya, membuat Yuan Ling tidak bisa melihat parasnya dengan jelas.

Pedang hitam legam yang digenggamnya tampak kusam tanpa pantulan logam, lebih menyerupai meteorit yang telah dipoles; mata bilahnya pun tidak terlihat tajam.

Namun, Yuan Ling tak mampu mengalihkan pandangan dari pedang itu. Ia bisa merasakan hawa membunuh yang terpancar tiada henti darinya.

Kawanan bayangan hantu mengepung pria itu, tangan mereka diselimuti aura spiritual perak, lalu menyerang dengan gerakan cepat dari berbagai arah. Namun, pria itu seolah mampu membaca lintasan serangan lawan. Tubuhnya hanya bergerak sedikit untuk menghindar, sementara pergelangan tangannya berputar, membelah tubuh bayangan hantu dengan pedang hitamnya. Tanpa kecepatan yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari lawan dan kemampuan membaca pergerakan, hal itu mustahil dilakukan.

Pergelangan tangan dan jemarinya sangat lentur dan cekatan, seolah pedang tersebut adalah bagian dari tubuhnya sendiri. Setiap gerakan, sudut, tekanan, dan arahnya mengikuti kehendak hatinya dengan presisi; tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia.

Puluhan bayangan hantu itu segera dikalahkan satu per satu oleh pria tersebut; ada yang anggota tubuhnya terputus, ada pula yang terbelah pinggangnya. Bahkan jika mereka masih bisa bergerak, mereka telah kehilangan kemampuan untuk menyerang.

Entah karena menyadari tatapan dari arah belakang, pria itu menoleh. Yuan Ling refleks mundur untuk bersembunyi. Ia tidak tahu apakah pria itu menemukannya atau tidak, ia hanya mendengar suara makian yang sarat akan aura spiritual masih menggema di Pasar Hantu.

Yuan Ling merasakan dua aura spiritual lain sedang menyerang ke arahnya. Saat ia hendak melarikan diri, tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Pinggangnya dipeluk, lalu ia dibawa melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

Tempat ia berdiri tadi telah hancur tertimpa reruntuhan bangunan. Lingkungan di depannya berubah dengan cepat; ia dibawa pergi dari tempat tadi dengan kecepatan yang tidak wajar bagi manusia biasa.

Tidak ada niat membunuh. Orang ini... seharusnya sedang menyelamatkannya, bukan?