Bab Lima: Sang Cendekiawan (Bagian Satu)
Miao Yi menatap lebar ke arah kedalaman kabut, lalu kembali menunjuk ke sana dengan kaget, “Ada seseorang di dalam sedang memainkan kecapi!”
“Kecapi?” Yan Beihong tampak tak percaya. Melihat Miao Yi sepertinya tidak berbohong, ia buru-buru membersihkan telinganya dengan kelingking, menenangkan diri, lalu berkonsentrasi mendengarkan.
Namun, sudah lama ia mencoba, bahkan suara kentut pun tak terdengar, apalagi suara kecapi. Ia pun menatap penuh curiga, “Saudaraku, kau jangan-jangan terlalu berkhayal?”
Namun, Miao Yi yakin dirinya tak salah dengar. Ia menunjuk ke depan dengan semangat, “Ada orang di depan memainkan kecapi, itu berarti di sana juga wilayah aman. Mari kita ke sana, di depan sana pasti lebih sedikit orang yang menjejakkan kaki, jadi kemungkinan menemukan Rumput Abadi lebih besar.”
Saat ia menoleh, ia melihat wajah Yan Beihong berubah semakin muram. Miao Yi tidak tahu apa yang salah dengan ucapannya.
Ia tak tahu bahwa Yan Beihong sama sekali tidak mendengar suara apapun. Yan Beihong adalah orang yang sangat tegas dan lugas, tak suka basa-basi ataupun tipu daya.
Jika ingin memintanya menjadi pengawal, katakan saja terus terang, pasti mudah dibicarakan. Namun, alasan yang dibuat-buat Miao Yi membuat Yan Beihong merasa niat Miao Yi tidak tulus.
Yan Beihong sudah pernah merasakan kecerdikan Miao Yi yang suka memanfaatkan orang lain. Kini, ia sendiri membawa Rumput Abadi. Jika anak muda ini punya niat jahat, bisa-bisa dirinya celaka.
Karena itu, kepercayaan yang susah payah tumbuh terhadap Miao Yi langsung sirna. Ia segera melepaskan bungkusan hasil rampasan dari tubuhnya, mengambil sedikit makanan untuk dirinya, lalu melemparkan sisa makanan beserta bungkusan itu ke kaki Miao Yi.
“Kalau kau memang tak mau mendengarkan, ini saja yang bisa kulakukan. Sampai jumpa!”
Setelah berkata demikian, Yan Beihong berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi.
Tingkah ini membuat Miao Yi kebingungan, kenapa tiba-tiba jadi bermusuhan?
Bahkan setelah bayangan Yan Beihong benar-benar menghilang di balik kabut, ia masih tak paham apa penyebabnya. Ia hanya bisa mengira Yan Beihong memang tidak mau lagi menemaninya bertualang.
Sudah lebih dari setengah bulan berlalu, dan ia belum menemukan satu pun Rumput Abadi. Apakah ia harus mengejar Yan Beihong, atau melanjutkan pencarian? Dengan kemampuan Yan Beihong, perjalanan pulang bersama pasti lebih aman...
Miao Yi berdiri ragu di atas puncak bukit, memikirkan masa depan adik-adiknya. Ia menoleh ke arah asal suara kecapi, lalu bergumam, “Tempat yang berani didatangi orang lain, masa aku sendiri tidak berani?”
Ia menengadah, menarik napas dalam-dalam, menenangkan hati, menguatkan tekad, lalu memungut bungkusan di tanah dan memanggulnya. Dengan langkah tegas, ia berjalan menuruni bukit menuju arah datangnya suara kecapi.
Begitu ia sampai di kaki bukit, suara kecapi yang samar-samar terdengar tiba-tiba bergetar tidak beraturan, namun segera kembali normal.
Miao Yi berjalan cukup jauh, dan menyadari medan di sini sangat datar.
Ia mengikuti arah suara kecapi, namun seberapa jauh pun ia berjalan, suara itu selalu terdengar tak jauh di depan, seolah-olah tak pernah bisa didekati. Ia pun mulai meragukan pendengarannya sendiri, jangan-jangan itu bukan suara kecapi.
Miao Yi pun berhenti, berdiri ragu.
Tak jauh darinya, di puncak gunung yang diselimuti kabut, terdapat sebuah dataran kecil. Di atas sebuah meja batu, tergeletak sebuah kecapi kuno raksasa, panjangnya lebih dari tiga meter.
Pada permukaan kecapi kuno itu, terukir relief matahari, bulan, bintang, lautan luas, dan perubahan zaman.
Tiga kepala naga muncul dari lautan, menoleh garang menatap matahari, bulan, dan bintang.
Tubuh ketiga naga itu menjadi senar kecapi, masing-masing berwarna berbeda, sangat indah dan detail.
Jika diamati dari dekat, bisa terlihat sisik naga dan keempat cakar yang menggulung di atas senar, serta kepala naga yang dipahat sangat hidup. Sekilas, orang bisa saja mengira senar itu adalah naga yang diperkecil.
Tampak jelas, kecapi kuno ini seharusnya memiliki delapan senar naga, namun entah kenapa, lima di antaranya telah rusak, hanya tersisa tiga.
Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di samping kecapi di atas meja batu itu. Ia mengenakan jubah panjang putih sederhana ala cendekiawan, di luarnya tersampir mantel tipis berwarna biru kehijauan yang tampak telah luntur, bahannya pun tampak biasa saja. Kalau bukan karena tatanan rambutnya, orang mungkin akan menyangka ia hanya seorang pelajar miskin yang berpakaian rapi.
Rambut panjangnya terurai rapi sampai ke pinggang, dahi bersih dan lebar.
Sayangnya, di balik rambut hitam berkilauan itu, di kedua pelipisnya tampak memutih.
Rambut putih di kedua pelipis itu, masing-masing ada satu helai yang menjuntai di dada, dan satu helai lain dikumpulkan ke belakang, dikepang kecil di tengkuk, menahan rambut hitam di punggung agar tak berantakan.
Wajah ‘cendekiawan’ ini menampilkan kematangan pria paruh baya, namun ketampanannya hampir tak terlukiskan.
Hidungnya mancung, raut wajahnya tegas namun juga lembut, matanya tajam bak mata burung phoenix, sorotnya dingin laksana bintang musim dingin. Di pipinya yang tegas terpatri kelembutan, garis bibirnya yang tegas dan lentur mampu memabukkan siapa pun.
Sulit dijelaskan bagaimana kesan yang ia pancarkan, dalam sekali pandang, ia memadukan wibawa dan pesona, kebangsawanan dan kesederhanaan, keperkasaan dan kelembutan, jiwa ksatria dan kasih sayang, bahkan dalam lirikan matanya acapkali tersirat aura menguasai dunia.
Ada istilah ‘penuh pesona’, namun pesona yang dimilikinya jauh berbeda dengan pesona seorang wanita.
Ada pula istilah lain yang biasanya digunakan untuk wanita, namun sangat cocok untuknya: ‘anggun tiada tara’!
Inilah seorang pria yang keanggunannya tiada duanya di dunia!
Di puncak gunung yang diselimuti kabut, ‘cendekiawan’ itu berdiri tegak di samping kecapi di atas meja batu, menatap ke kejauhan. Satu tangan bersedekap di belakang, satu tangan lagi dengan lima jarinya dengan santai memetik tiga senar kecapi. Suara kecapi yang didengar Miao Yi berasal dari tangannya.
Dalam radius dua puluh li dari puncak gunung ini terbentang sebuah lembah, suara kecapinya memancar laksana gelombang suara kelelawar, sehingga siapa pun yang memasuki wilayah ini takkan luput dari pendengarannya.
Ia tak bisa memastikan apakah Miao Yi memang tertarik datang karena suara kecapi, atau sekadar tersesat, namun ia bisa merasakan keraguan Miao Yi yang berdiri terpaku.
Jari-jarinya tetap santai memetik senar, namun tangan yang di belakang perlahan diangkat ke dada, dengan lembut ia menarik simpul mantel dan melepaskannya.
Mantel itu pun terlepas, melayang dari bahunya, terbang menjauh dan lenyap ke dalam kabut.
Miao Yi yang ragu-ragu tiba-tiba terkejut, merasa suara kecapi berpindah arah.
Ada apa ini? Miao Yi menggaruk kepala, cemas memandang sekitar, namun akhirnya tetap memberanikan diri melangkah ke arah asal suara kecapi.
Di puncak, ‘cendekiawan’ itu menundukkan mata, sorotnya berkilat, perlahan menoleh ke arah Miao Yi.
Ia memastikan Miao Yi benar-benar terpengaruh oleh suara kecapi. Wajahnya tetap tenang, namun pikirannya tampak terganggu, jari-jarinya memetik lebih cepat, suara kecapi jadi terdengar lebih mendesak.
Suara kecapi beberapa kali berubah arah, seolah-olah ada seseorang membawa kecapi berlari, membuat Miao Yi terpancing mempercepat langkah, ingin melihat siapa gerangan yang sempat-sempatnya bermain kecapi di sini.
Mungkin ia sendiri belum menyadari, ia telah berlari mengikuti rute zig-zag mengikuti suara kecapi.
Sementara di luar jalur zig-zag itu, makhluk-makhluk menyeramkan sebesar raksasa, belalang sembah hitam legam bertubuh seperti ‘sabit’, dengan kaki bersendi berduri tajam, tampak seperti mengenakan zirah, saling bersinggungan antena. Ada yang sedang kawin, ada pula yang sedang melahap mayat berdarah hasil buruan dengan rahang mengerikan mereka.