Bab Seratus Dua Puluh: Percakapan Rahasia di Kamar Perempuan
Begitu Sia Tong selesai berbicara, benak Huiyuan mendadak dilanda badai pikiran.
Huiyuan tahu betul apa yang dimaksud dengan tidur sekamar. Namun, Sia Tong jelas masih memikirkan Sia Yubing, dan sekarang mungkin hendak mengatur kamar untuknya. Seharusnya ia menjawab bahwa ia pernah tidur sekamar dengan seseorang.
Tetapi, bukankah Bibi akan menganggapnya terlalu genit? Wajah Huiyuan memerah tipis.
Kalau ia bilang belum pernah… entah mengapa ia merasa agak tidak rela.
Padahal memang belum pernah…
Setelah berpikir sejenak, Huiyuan membuka mulut. Bibirnya bergetar tanpa sadar.
“Belum…”
Dalam sekejap, seolah-olah ada sesuatu yang menusuk dadanya.
Huiyuan merasa sangat menyesal.
Sial, kenapa hatinya sakit sekali…
“Oh… belum?” Secercah kekecewaan melintas di mata Sia Tong.
Huiyuan terdiam. Apakah sekarang masih sempat menarik kembali jawabannya?
“Kalau kalian belum sampai sejauh itu, untuk sementara Huiyuan bisa tidur di kamar sebelah kamar Cu Ge.” Sia Tong tersenyum lembut. “Bagaimana kalau sekamar dengan Yubing? Kalian sama-sama perempuan, pasti punya banyak bahan obrolan, bukan?”
Sebelum Huiyuan sempat menolak, Sia Yubing sudah lebih dulu membuka mulut sambil tersenyum manis.
“Menurutku boleh saja. Ai Kecil lucu sekali. Kebetulan dulu waktu kuliah aku juga tidak lama tinggal di asrama. Sekarang anggap saja ini kesempatan untuk menebusnya. Ai Kecil tidak keberatan, kan?”
Ujung mata Huiyuan berkedut. Sebenarnya ia sangat keberatan. Namun, jika ia mengatakannya sekarang, bukankah ia akan terlihat penyendiri dan picik?
“Tidak keberatan…”
Huiyuan menoleh ke arah Cu Ge, berharap pemuda itu bisa membantunya berbicara. Namun, entah sejak kapan Cu Shanhe dan putranya sudah menyalakan televisi. Mereka sibuk bermain gim dengan alat pengendali, suara tombol yang ditekan terdengar berisik.
Huiyuan: “…”
Sungguh bodoh dirinya karena berharap Cu Ge bisa diandalkan.
Beberapa belas menit kemudian, Huiyuan sudah berada dalam satu kamar bersama Sia Yubing. Sia Yubing menjatuhkan diri ke sisi ranjang, lalu dengan malas menyilangkan kaki. Pahanya yang bulat terbungkus stoking hitam, tampak begitu menggoda hingga membuat jantung berdebar.
“Sudah berapa lama Ai Kecil berpacaran dengan Cu Ge?” tanya Sia Yubing penasaran.
Sebenarnya ia tidak terlalu memusuhi Huiyuan. Jika tidak ada hubungannya dengan Cu Ge, mungkin rasa permusuhannya akan jauh lebih besar. Bagaimanapun, Huiyuan adalah kekasih yang dipilih sendiri oleh Cu Ge. Jika karena dirinya Cu Ge sampai bersedih, Sia Yubing sama sekali tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Namun, itu bukan berarti ia sudah menerima Huiyuan. Jika ada sesuatu yang membuatnya tidak senang, ia tetap akan merasa tidak senang.
Huiyuan berpikir sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Kurang lebih sudah beberapa bulan…”
“Lalu… sejauh apa hubungan kalian?” Sia Yubing mengamati Huiyuan dengan rasa ingin tahu. “Sudah berciuman?”
Huiyuan mengangguk. Ia tidak merasa malu. Bagaimanapun, Sia Yubing bukan Sia Tong. Ia tidak perlu merasa kikuk di hadapan saingan cinta.
“Oh… begitu.” Sia Yubing memandang ke luar jendela dengan acuh tak acuh.
“Kau tidak marah?” Huiyuan memiringkan kepala. “Dari sikapmu, sepertinya kau sangat peduli pada Cu Ge.”
“Untuk apa aku peduli?” Sia Yubing mengibaskan tangan. “Lagipula, ciuman pertamanya sudah kuambil.”
“!!!”
Wajah Huiyuan seketika memucat.
“Tapi Cu Ge jelas-jelas…”
“Hm?” Sia Yubing menatapnya sambil tersenyum manis. “Maksudmu, itu ciuman pertamanya? Ya, benar juga. Bagaimanapun, orang tidak akan mengingat apa yang terjadi saat sedang tidur…”
Huiyuan: “(`д′)???”
Apa sebenarnya yang telah kau lakukan, perempuan brengsek?!
Huiyuan tak kuasa menggeram dalam hati.
Sial, ia benar-benar tidak rela. Begitu membayangkan Cu Ge mungkin telah diperlakukan macam-macam oleh perempuan ini saat sedang tidur, hatinya langsung dipenuhi amarah yang menggelora.
“Kau tidak takut?” Suara Huiyuan terdengar tenang. “Berani mengatakan hal seperti itu di hadapan sosok sepertiku?”
“Apa yang harus kutakutkan?” Sia Yubing dengan santai menendang sepatu hak tingginya. “Cu Ge tidak akan membiarkanmu berbuat apa-apa kepadaku. Kalau kau membunuhku, hubunganmu dengan Cu Ge juga akan berakhir. Lagipula, bukankah kau pernah bilang bahwa Cu Ge mampu membalikkan hidup dan mati? Bagiku, mati sekali demi bisa terus berada di sisi Cu Ge adalah keuntungan besar.”
“Kau tidak takut Bibi mengetahuinya?”
“Bagaimanapun, kakakku adalah seorang pedagang. Dan pedagang adalah lambang keserakahan.” Sia Yubing melambaikan tangan dengan acuh tak acuh. “Kau juga melihat sendiri reaksinya tadi, bukan? Ia tahu semua yang kulakukan, tetapi terus diam. Ia juga sama sekali tidak keberatan Cu Ge memiliki kekasih.”
“Bagi pedagang, semua keuntungan selalu diterima tanpa ragu.” Sia Yubing menatap Huiyuan dengan penuh minat.
“Kau seharusnya bersyukur karena kau adalah gadis yang sangat cerdas. Kalau yang berada di hadapan kakakku adalah anak polos seperti Cu Ge, saat ini mungkin ia sudah mulai menjejali kepalamu dengan pemikiran-pemikiran feodal—kewajiban perempuan, misalnya—dan berharap kau mau menerima Cu Ge menikahi beberapa istri. Jangan terkejut, bagaimanapun juga dia seorang ibu. Kalau kau tidak cukup baik, mungkin sekarang kau sudah diusir dari rumah secara halus.”
“Bahkan terhadap dirimu, yang berada di pihak berseberangan denganku, selama pengaruh positif yang kauberikan kepada Cu Ge lebih besar daripada pengaruhku, aku juga tidak akan mengganggu kalian.” Sia Yubing berkata tanpa peduli.
“Kenapa?” Huiyuan tidak mengerti.
“Karena selama Cu Ge bahagia, aku sudah merasa puas.”
Sia Yubing bersandar di kepala ranjang, lalu perlahan melepaskan stokingnya dan menggantinya dengan sepasang kaus kaki putih. Ia mengenang masa lalu.
“Dulu sebenarnya aku belum begitu terobsesi pada Cu Ge. Hanya saja, anak itu seperti narkoba—membuat orang ketagihan dan tak mampu melepaskannya.”
“Waktu kecil, Cu Ge sangat menggemaskan. Ia belum memiliki pemahaman tentang benar dan salah, sehingga orang selalu ingin meremas-remasnya dan membentuknya menjadi sosok sesuai keinginan mereka. Kemudian, saat aku ditindas di sekolah, ia mengumpulkan bubuk mesiu lalu meledakkan sekolah itu.”
“Baru saat itulah aku menyadari bahwa Cu Ge ternyata seorang pria kecil yang gagah. Sejak saat itu pula aku mulai memandangnya sebagai seorang laki-laki.” Sia Yubing berganti pakaian santai yang baru saja diambilnya dari rumah.
“Setelah itu, aku pernah demam tinggi. Saat itu aku sedang berada di usia yang penuh perasaan. Dalam keadaan demam, aku berkata ingin melihat langit yang dipenuhi bintang.” Sia Yubing terus bercerita sambil merapikan pakaiannya. “Cu Ge salah mendengar dan mengira aku ingin melihat bunga bintang. Diam-diam ia membawa jip baru yang dibelikan kakakku untuk suaminya, lalu pergi ke pegunungan dan memetik satu mobil penuh bunga bintang. Ketika pulang, mobil itu sudah ringsek tak berbentuk. Saat itu anak itu baru berusia sepuluh tahun.”
“Pada usia sepuluh tahun saja dia sudah pandai menggoda…” Sia Yubing menopang dagu, tenggelam dalam kenangan. Wajahnya dipenuhi senyum penuh pesona. “Walaupun setelah itu ia dihajar habis-habisan oleh suami kakakku…”
Wajah Huiyuan menggelap.
Bajingan itu ternyata pandai sekali menggoda? Lalu kenapa ketika bersamanya, ia tidak pernah menunjukkan sisi itu?!
Namun, kalau dipikir-pikir, saat ulang tahunnya pemuda itu juga melakukan hal yang sama—bersusah payah melakukan berbagai hal yang sebenarnya tidak ia kuasai…
Yah, setidaknya bisa dianggap pandai menggoda.
Setelah itu, Sia Yubing terus menceritakan berbagai kisah masa lalu Cu Ge, seolah sedang memamerkan harta karun. Matanya dipenuhi kelembutan.
“Namun, justru karena wajahnya tampan, memperlakukan semua orang dengan baik, dan memiliki sifat yang tanpa sadar mampu membuat siapa pun tergila-gila, aku selalu menyingkirkan setiap gadis yang berada di dekatnya. Bajingan kecil itu sama sekali tidak menyadari apa yang telah dilakukannya atau luka seperti apa yang mungkin ditimbulkannya kepada orang lain. Aku melakukan semua itu demi kebaikan para gadis tersebut.”
Sia Yubing memalingkan wajah, tampak sedikit kehilangan kepercayaan diri.
Setidaknya, pada awalnya memang itulah yang ada dalam pikirannya. Namun, setelah itu, ceritanya menjadi berbeda.
Huiyuan bertanya dengan penasaran, “Lalu bagaimana ceritanya sampai kau menyewa pesawat pribadi dan mendatangkan seorang koki?”
“Ah, soal itu…” Sia Yubing terkekeh pelan. “Meskipun sebagian besar waktu anak itu begitu aktif sampai berlebihan, ada kalanya ia juga rapuh. Saat itu Cu Ge demam tinggi dan tidak sanggup memakan apa pun. Ia melihat acara kuliner di televisi, lalu berkata ingin makan masakan Prancis yang benar-benar autentik. Yang paling ingin ia makan adalah foie gras.”
Huiyuan bingung. “Kalau begitu, kenapa tidak mencari koki di dalam negeri?”
“Tidak bisa. Sejak kecil lidah Cu Ge sudah terlalu dimanjakan. Bahkan saat demam, indra pengecapnya jauh lebih peka daripada orang biasa. Masakan Prancis di dalam negeri sudah disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. Koki restoran Barat yang bagus biasanya pernah belajar di Eropa, sedangkan yang buruk bahkan belajar sendiri di dalam negeri. Sebagian besar hanya menjual nama tanpa kualitas, seperti restoran masakan Tiongkok di luar negeri. Rasanya jauh berbeda, dan sangat sulit menemukan koki yang benar-benar ahli dalam masakan Prancis.”
“Yang paling merepotkan, waktu kecil anak itu pernah bepergian ke Prancis bersama kakakku dan keluarganya. Ia sudah mencicipi hampir semua restoran di sepanjang Sungai Seine. Tidak mungkin menipunya dengan mendatangkan koki dari dalam negeri. Bahkan sepotong daging babi yang dimasukkan ke dalam sup daging sapi pun bisa ia rasakan.”
“Kalau dipikir-pikir, kejadian itu nyaris menimbulkan insiden diplomatik. Saat itu aku terlalu panik. Aku menghubungi beberapa restoran di Prancis, tetapi tidak ada koki yang bersedia datang. Karena sudah tidak punya pilihan lain, aku terpaksa menyewa tentara bayaran dari luar negeri untuk menculik seorang koki terkenal, lalu membawanya naik pesawat pada malam itu juga.”
“Setelahnya, hanya untuk membayar ganti rugi kepada koki tersebut saja aku menghabiskan dua juta euro. Ditambah biaya pesawat pribadi, tentara bayaran, dan lainnya, satu kali makan masakan Prancis untuk Cu Ge hampir menelan biaya lima puluh juta…” Mata Sia Yubing dipenuhi kenangan.
Huiyuan: “…”
Dari mana sebenarnya kebiasaan keluarga ini melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya berasal?
Tak lama kemudian, Huiyuan kembali merasa tertekan.
Dibandingkan dengan perempuan di hadapannya, apa sebenarnya yang pernah ia lakukan untuk Cu Ge?