Bab 77: Lebih Baik Terus Terang (Mohon Rekomendasinya!)
Dalam sekejap mata, satu minggu berlalu begitu cepat.
Sejak Uchiha Itachi pergi, tak ada lagi kabar darinya. Chu Ge pun tak tahu apa yang akan dilakukan Itachi setelah kepergiannya, dan tentu saja, ia juga tak begitu tertarik untuk mengetahuinya.
Faktanya, belum genap dua hari setelah Itachi pergi, Chu Ge sudah melupakan seluruh kejadian sebelumnya...
Selama seminggu terakhir, Chu Ge selalu bersama Jiraiya menjelajahi berbagai kota di Negeri Air Panas. Sejak Jiraiya menyadari kemampuan Chu Ge yang seolah bisa mendapatkan apa saja yang diinginkannya, ia pun terus menempel tanpa malu-malu, bersikeras ingin mengajak Chu Ge bersenang-senang keliling Negeri Air Panas.
Atas niat terselubung Jiraiya itu, baik Haibara maupun Kurama pun serempak menganggap Jiraiya memang benar-benar sampah manusia, namun tetap setuju saja dengan usulnya. Toh, yang menjadi sampah adalah Jiraiya, mereka berdua tak akan rugi apa-apa, malah bisa ikut menikmati makan, minum, dan bersenang-senang. Tak heran mereka pun senang-senang saja.
Di luar jendela, salju turun dengan halus di bawah langit malam. Haibara bersandar di jendela, menopang dagu dengan tangan, menatap diam-diam ke arah bulan purnama dengan sorot mata dingin.
Besok adalah hari ulang tahunnya. Sayang, di dunia ini tak ada seorang pun yang akan mengingatnya. Sebenarnya, di dunia sebelumnya pun tak ada yang mengingat...
Jika ini dulu, melihat pemandangan malam bersalju yang sunyi dan jernih seperti ini, hati Haibara pasti akan diliputi rasa pilu yang samar.
Sebelum bertemu Chu Ge, makna hidup bagi Haibara hanyalah dua kata: “bertahan hidup”.
Tak punya kuasa atas diri sendiri, kata-kata tak pernah dari hati, selalu hidup dalam ketakutan, meringkuk di bawah bayang-bayang kegelapan.
Itulah seluruh kehidupannya di masa lalu.
Tapi sekarang...
“Tiga!” teriak Jiraiya sambil melempar dua kartu.
Alis Chu Ge berkedut hebat, keningnya mulai berkeringat, matanya menatap serius tiga kartu terakhir di tangannya.
“...Lewat.”
Haibara hanya bisa terdiam.
Ia sungguh tak habis pikir, bagaimana Chu Ge bisa begitu mudah kalah padahal tadi memegang empat duo dan dua joker, kombinasi kartu terkuat.
“Satu empat!” seru Jiraiya, meletakkan kartu terakhir. “Aku menang! Uangku, uangku, hahahaha!”
Jiraiya terlihat sangat puas. Malam ini ia punya uang lagi untuk pergi ke tempat hiburan malam.
Kurama menaruh kartu, lalu mendorong sebuah piring ke arah Chu Ge—taruhan mereka adalah daging panggang.
“Uh... Haibara, bantu aku dong...” Chu Ge menatap Haibara dengan raut muka memelas.
Haibara hanya mendesah, menatap Chu Ge dengan pandangan sedikit kesal. Ia semula mengira Chu Ge pasti menang kali ini, jadi ia pun pergi ke jendela untuk menghirup udara segar. Siapa sangka, baru satu menit saja, Chu Ge sudah kalah...
Padahal ia tak mau meladeni si pecandu kartu yang payah ini, tapi tiap kali melihat wajah Chu Ge yang menyedihkan, hati Haibara jadi luluh juga.
Tak dewasa, bahkan sangat bodoh, dan jelas bukan tipeku, dari jenis makhluk pun berbeda, lalu bagian mana dari dia yang sebenarnya kusukai?
Memikirkan itu, Haibara menepuk dahinya pelan, pasrah.
“Ck...” Jiraiya melempar kartu yang masih di tangannya. “Sudah, nggak mau main lagi! Anak-anak zaman sekarang, main kartu saja harus nempel begitu...”
Kurama melirik Jiraiya. Jelas-jelas kau yang tak sanggup menang melawan anak gadis itu, masih saja sok benar.
Haibara tak menggubris Jiraiya yang tak tahu diri, hanya menatap Chu Ge dengan mata yang dalam.
Sejenak, suasana ruangan jadi senyap.
Setelah bertarung dalam batinnya cukup lama, akhirnya Haibara berkata datar tanpa ekspresi, “Besok ulang tahunku.”
Tanpa menunggu tanggapan dari Chu Ge, ia langsung melangkah cepat kembali ke kamarnya sendiri.
Begitu masuk, Haibara bersandar pada pintu, menarik napas panjang dengan wajah yang memerah.
Chu Ge menggaruk-garuk kepala, “Besok ulang tahun Haibara, gimana kalau kita makan daging panggang?”
“Aku sudah tahu kau pasti akan jawab begitu...” Kurama menatap Chu Ge dengan jijik. “Kau kira dia bilang begitu cuma karena ingin makan?”
“Iya, besok ulang tahunnya, dia khusus memberitahumu, tahu!” Jiraiya ikut-ikutan tersenyum nakal, merangkul bahu Chu Ge. “Gadis sepertinya, kalau bisa bilang begitu padamu, itu sudah tanda yang sangat jelas! Dasar, bodoh tapi tetap saja menarik...”
“Percuma kau bilang begitu,” Kurama mengejek. “Dengan tingkat pemahamannya, mana bisa dia mengerti maksudmu? Harus pakai cara lain.”
Sambil berbicara, Kurama menatap Chu Ge, mata merahnya penuh selidik. “Kau suka gadis bernama Haibara itu?”
Jiraiya sampai terkejut, “Langsung to the point?”
Kurama hanya mengejek, semakin jelas semakin baik! Sampai-sampai ia takut Chu Ge malah bertanya, “Maksudnya suka itu seperti apa?”
Namun, ternyata kenyataannya tak seburuk yang dibayangkan Kurama.
Chu Ge mengusap dagu, wajahnya sedikit merona, lalu tersenyum, “Ahaha... Memang, aku sangat suka padanya!”
Kurama terbelalak. Jiraiya malah tertawa terbahak-bahak, “Anak ini ternyata jujur juga ya.”
Kurama hanya menggerakkan telinganya, tapi ia tak yakin apakah suka Chu Ge pada Haibara itu setara dengan suka pada makanan enak.
Jiraiya menjelaskan, “Tadi gadis kecil itu sudah bilang besok ulang tahunnya, artinya dia ingin kau memberikan hadiah ulang tahun, dan menemaninya. Kau paham, kan?”
“Jadi aku harus kasih hadiah apa?”
“Mana aku tahu! Itu urusanmu sendiri!”
“Biar begitu, aku tetap nggak tahu harus kasih apa...” Chu Ge tampak bingung.
“Supaya aman, tanya saja gadis lain,” Jiraiya berpikir sejenak, lalu menatap Chu Ge dengan gaya sok serius. “Aku kenal beberapa kakak di tempat hiburan malam dekat sini...”
“Kalau menurutmu begitu, jangan-jangan dia malah tak sampai ulang tahunnya, malam ini bisa-bisa langsung mati ditempat,” Kurama menatap Jiraiya, malas.
“Benar juga...” Jiraiya langsung mengubah pendirian dengan wajah datar. Kalau Chu Ge mati, lalu siapa lagi yang bisa ia kalahkan dan ambil taruhannya?
Memikirkan itu, Jiraiya menatap Chu Ge, “Bukankah kau bisa berpindah tempat sekejap? Kenapa tidak langsung kembali ke Konoha dan tanya seseorang di sana? Kau kenal gadis seumuran?”
Chu Ge berpikir sejenak, merasa masuk akal dengan saran Jiraiya, lalu sekejap saja ia sudah muncul di depan restoran daging panggang Q di Desa Konoha.
Di depan pintu, Kamizuki Izumo dan Hagane Kotetsu yang baru saja makan kenyang, melihat Chu Ge berlari tanpa alas kaki dan menghilang begitu saja.
“Aku bilang, jangan-jangan anak itu sedang menantang kita?” wajah Kotetsu gelap.
“Mungkin juga...” Izumo menanggapi datar.
Alasan Chu Ge memilih restoran daging Q sebagai tujuan jelas adanya. Dalam ingatannya, rumah Tenten ada di sekitar sini. Dulu, saat berlatih bersama Maito Gai, ia juga pernah mengunjungi Tenten.
Ting-tong—
Bel pintu berbunyi, seorang ibu membuka pintu.
“Ah... Chu Ge ya.” Wanita itu, ibu Tenten, tersenyum ramah melihat Chu Ge. “Mau mencari Tenten?”
“Iya!” Chu Ge mengangguk. “Tante, Tenten ada di rumah?”
“Ada kok.” Ibu Tenten tersenyum lebar. “Wah... belakangan ini Tenten sering menyebut-nyebut namamu...”
Belum selesai bicara, suara langkah kaki tergesa dari atas terdengar. Tenten berlari turun dengan wajah agak bersemu merah, buru-buru menyingkirkan ibunya lalu menatap Chu Ge yang masih memakai baju mandi.
“Kamu baru selesai mandi?” tanya Tenten heran.
Chu Ge mengangguk, “Aku ada hal penting mau minta tolong.”
Tenten menggigit bibir, kedua tangan refleks diletakkan di belakang, matanya gelisah memandang sekeliling, “Tak perlu bilang minta tolong, kalau itu kau, pasti akan kubantu.”
“Ahaha, terima kasih banyak!” Chu Ge langsung tersenyum cerah. “Besok ulang tahun Haibara. Kau tahu, hadiah apa yang paling cocok untuknya?”
“Hah?” Tenten yang tadinya masih malu-malu langsung tertegun. “Maaf, aku kurang paham maksudmu...”
“Besok ulang tahun Haibara...”
“Double Naga Naik!”
“Wahhh—!”