Bab Tujuh Puluh Lima: Berkah di Balik Musibah (Bab Tambahan untukmu yang Menahan Diri Tidak Membunuh!)
Pandangan Jiraiya meneliti Chu Ge dengan saksama, pikirannya berputar cepat mencari tahu asal-usul pemuda itu.
Wajahnya bahkan lebih menawan daripada Orochimaru waktu kecil, dan bisa membuat Rubah Ekor Sembilan duduk manis di sisinya.
Jiraiya teringat kabar yang baru-baru ini beredar di desa, juga gosip-gosip hangat yang mengguncang dunia ninja.
“Kau pasti Chu Ge, bukan?”
Chu Ge mengangguk, “Iya!”
“Ternyata benar…” Jiraiya agak terkejut, “Kenapa kau ada di sini? Menurut informasi yang kudapat, bukankah kau seharusnya masih di Daun?”
“Hmph…” Kurama mendengus meremehkan, “Bocah ini punya cara berpindah yang lebih praktis dari Teknik Dewa Petir, informasi macam apa yang bisa menahannya?”
“Kalau aku tak salah lihat, kau pun pasti hanya bagian dari dirimu, kan?” Jiraiya mencoba merasakan aura Kurama.
Memang benar, ini chakra Rubah Ekor Sembilan, tapi getarannya tidak terlalu kuat.
“Hal semacam ini bisa kau lihat dari ukuranku juga, bukan?” Kurama mendongakkan kepala kecilnya dengan angkuh, “Bersyukurlah, kalau aku datang dengan wujud asliku, manusia busuk seperti kau pasti sudah kucicipi Bola Binatang Ekor. Ternyata kau masih seperti dulu, suka mengintip ke mana-mana.”
Wajah Jiraiya seketika memerah menahan malu, matanya membelalak, “Itu namanya mencari inspirasi! Kau tahu apa itu inspirasi?!”
Bagaimana mungkin urusan orang berbudaya disebut mengintip? Ini riset… riset, paham?
Ia menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran itu.
“Hei~ Haibara, hati-hati ya, di sini ada kakek tua tukang intip!” Chu Ge membentuk corong dengan kedua tangan dan berteriak ke arah sebelah.
Terdengar jeritan, beberapa baskom mandi terbang melewati pagar, mendarat tepat di kepala Jiraiya.
Jiraiya: “……”
Kenapa bisa tepat sasaran seperti ini?
Kepala kecil Haibara pun muncul di atas pagar, ia menumpukan tubuh di pagar sambil menatap Chu Ge dengan senyum tipis, “Mana si tukang intip?”
Chu Ge menunjuk ke arah Jiraiya.
Jiraiya panik, “Bukan, bukan! Aku bukan…”
Haibara menatap Jiraiya sekilas, pandangannya seperti melihat sampah kimia yang tak bisa diurai, “Kakek mesum.”
Brak, brak, brak, brak…
Belasan baskom mandi lagi beterbangan, semua mendarat di kepala Jiraiya hingga ia terjungkal.
Jiraiya: “……”
Dengan senyum jahil di sudut bibirnya, Haibara menatap Chu Ge, “Jangan mengintip, ya.”
“Tenang saja, aku pasti tidak akan melakukannya!” Chu Ge mengacungkan jempol dengan semangat, “Bahkan kalau temboknya runtuh, aku tidak akan melihatmu!”
Haibara mendadak tanpa ekspresi, “Oh… Begitu ya…”
Brak!
Sebuah baskom mandi mendarat tepat di kepala Chu Ge, membuatnya langsung tercebur ke dalam air panas…
“???”
Kenapa aku yang dipukul?
Kurama menatap Chu Ge yang terendam di kolam dengan jijik, “Seharusnya di sini menyediakan pengering rambut berdaya besar, nanti coba saja, siapa tahu bisa mengeringkan air di kepalamu.”
Chu Ge: “……”
Meski tak terlalu paham maksud ucapan Kurama, nalurinya mengatakan itu bukan kalimat yang baik.
Jiraiya malah tertawa terbahak-bahak, lalu duduk di air panas, “Padahal kekuatanmu hebat, tapi ternyata kau bocah yang tak mengerti hati perempuan…”
“Ngomong-ngomong, kalian ke sini memang mencari aku?”
“Hah?” Kurama melirik Jiraiya dengan sinis, “Untuk apa mencari sampah seperti kau, untuk dipilah-pilah?”
Jiraiya: “……”
Jangan-jangan, dulu dia disegel Hokage Pertama gara-gara mulutnya yang tajam ini?
“Kami sedang bermain kereta luncur, sampai meluncur ke Negeri Air Panas,” jawab Chu Ge, hanya kepalanya yang nongol di permukaan air sambil menghela napas lega, “Begitu masuk malah lihat kau sedang mengintip!”
“Itu namanya riset! Riset!” Jiraiya membantah dengan muka merah, “Aku ke sini karena sedang membuntuti sebuah organisasi misterius.”
“Organisasi misterius yang kau maksud, jangan-jangan itu Akatsuki?” tanya Kurama, meniru posisi Chu Ge di air panas. Sembilan ekornya muncul di permukaan air membentuk ujung-ujung kecil.
“Sekelompok orang berjubah hitam dengan awan merah, kan?”
“Betul, kalian sudah bertemu?” Jiraiya menatap tajam, wajahnya berubah serius.
“Sudah, aku sempat bicara dengan mereka, dan mereka memutuskan keluar dari Akatsuki!” jawab Chu Ge dengan santai.
Jiraiya: “???”
Kau kira aku ini bodoh?
Apa aku tampak sebegitu polosnya?
Jiraiya sempat tertegun, “Kalau begitu, mereka sekarang di mana?”
“Sudah pergi!”
“Hah?”
Baru setelah beberapa saat Jiraiya menerima kenyataan bahwa dirinya benar-benar kehilangan jejak.
Ia sendiri baru tahu soal organisasi itu, dan kebetulan sempat membuntuti mereka. Tapi begitu menginap di penginapan, mereka sudah pergi.
“Kau tahu siapa mereka sebenarnya?” Jiraiya menatap Chu Ge, mulai kesal.
“Tahu dong, aku bahkan lebih paham dari kau,” Chu Ge berkedip-kedip polos.
“Kalau begitu, kenapa kau biarkan mereka pergi?” Jiraiya membelalak.
“Tenang saja, seperti kata pepatah, musibah bisa jadi berkah…”
Chu Ge terdiam sejenak, mencoba mengingat bagaimana pepatah itu diterjemahkan dalam bahasa Jepang.
“Musibah bisa jadi keberuntungan!” akhirnya Chu Ge menyimpulkan.
(Kamus versi Chu Ge: Kira-kira artinya, kuda Si Kakek Sai hilang, itu justru jadi hal baik, bukan buruk.)
Jiraiya: “???”
Kenapa malah jadi bawa-bawa pepatah kuno segala?
Tapi Jiraiya bisa melihat, Chu Ge memang tampak sangat yakin dan seolah benar-benar tahu banyak soal Akatsuki.
“Jadi kau benar-benar tahu banyak tentang mereka?” tanya Jiraiya.
“Iya.”
“Bisakah kau berbagi informasi tentang mereka padaku?” Dalam hal bertanya pada orang lain, Jiraiya cukup rendah hati, ia pun langsung merapatkan kedua telapak tangan dan menunduk.
Chu Ge mengelus dagu, berpikir lama. Soal Akatsuki sudah sering ia jelaskan, sampai-sampai malas mengulanginya lagi.
Membocorkan cerita semacam itu satu dua kali masih seru, tapi kalau harus ngasih tahu semua orang, lama-lama malah jadi tak menarik, justru makin malas untuk menceritakannya.
Menceritakan kisah Akatsuki dari awal sampai akhir juga terlalu panjang. Setelah berpikir, Chu Ge hanya tersenyum lebar.
“Aku tidak akan memberitahumu.”
Jiraiya: “……”
“Tapi semua yang kuketahui sudah kuberitahukan pada Nenek Tsunade. Kalau kau ingin tahu, kau bisa langsung balik ke Daun dan tanya sendiri padanya,” Chu Ge mengangkat bahu.
Jiraiya menghela napas dengan wajah penuh penyesalan.
Kembali ke Daun, ya…
Sebenarnya ia selalu menjaga komunikasi dengan desa. Setiap ada kejadian penting, Hiruzen Sarutobi pasti sengaja menitipkan pesan lewat katak komunikasi untuk Jiraiya.
Akhir-akhir ini, Jiraiya sudah mendengar kabar kembalinya Tsunade ke desa.
Alasan ia belum juga pulang, salah satunya karena menunggu kabar Tsunade diangkat menjadi Hokage.
Tak lama setelah itu, ia mendengar kabar pasangan Minato dan Kushina hidup kembali. Saat itu Jiraiya langsung ingin pulang, tapi setelah dipikir-pikir, ia menahan dorongan itu dan memilih menunggu sebentar.
Pertama, situasi Daun saat ini cukup rumit. Secara logika, Minato bisa saja mengambil alih posisi Hokage lagi, namun hingga kini belum ada tanda-tanda perubahan. Jiraiya menduga Daun masih dipimpin Hiruzen, sedangkan Minato mungkin sudah tak berminat pada jabatan itu.
Kalau ia pulang sekarang, bisa-bisa malah ditunjuk jadi Hokage.
Kedua, Jiraiya merasa berat berhadapan dengan pasangan Minato-Kushina.
Beda dengan Hiruzen, Jiraiya cukup menyadari diri.
Sebagai guru Minato, dulu ia sering ikut makan masakan Kushina, tapi selama bertahun-tahun bahkan belum pernah melihat anak mereka.
Mengingat hal itu, Jiraiya menatap langit dan mendesah.
Kalau ia pulang, mungkin sudah dipentung Kushina sampai nempel di tembok.
Ah, membayangkannya saja sudah terasa sakit…