Bab 154 Semuanya Sama Saja

Grup Permainan Mematikan Aku ingin memeluk angin. 2318kata 2026-03-31 22:00:53

"Chen Xun! Tunggu dulu!" Suara itu baru saja surut ketika Chen Xun sudah melesat pergi! Shen Yu buru-buru berteriak dari belakang dan menyusulnya!
Yan Qi bertanya dengan suara keras, "Lalu bagaimana dengan kami?"
"Kau urus mereka berdua!" raca Shen Yu sambil menoleh ke arahnya.
Begitu turun ke bawah, ia akhirnya berhasil mencegat Chen Xun sebelum pria itu sempat naik ke mobil. Ia ikut masuk ke dalam mobil, dan mereka langsung melaju menuju kantor.
Chen Xun benar-benar sedang dilanda kecemasan. Ia bahkan tidak peduli saat pintu mobil belum tertutup rapat dan langsung berlari begitu turun!
Shen Yu menutup pintu dari belakang sambil berteriak, "Chen Xun, tunggu aku!"
Namun, Chen Xun tidak sempat langsung berlari naik ke lantai atas karena seseorang tiba-tiba keluar dari ambang pintu, nyaris menabraknya. "Bibi?"
"Bos Chen, ada sedikit urusan yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah aku menyita waktumu selama beberapa menit?" tanya wanita paruh baya itu.
Chen Xun menganggukkan kepalanya.
Di saat yang bersamaan, suasana di kantor sebenarnya sangat kacau. Padahal mereka semua telah meminum pil penangkal mimpi, mereka tetap ditarik masuk ke alam mimpi, dan hampir setiap orang merasa sangat ketakutan!
Ketika terbangun di meja masing-masing, sebagian besar dari mereka masih menyangka bahwa mereka masih berada di dalam mimpi. Mereka yang bernali kecil buru-buru mencari tempat untuk bersembunyi.
Han Peipei, Ye Hanshan, dan Jiang Yingying memiliki keberanian yang sedikit lebih besar. Mereka saling merangkul erat dalam satu kelompok dan berteriak dengan lantang, "Jika kau punya kemampuan, keluarlah! Kami sama sekali tidak takut padamu! Ayo kita bertarung secara jantan!"
Namun, meskipun mereka berteriak hingga suara mereka serak, sama sekali tidak ada tanggapan.
Sesaat kemudian, Ye Hanshan tiba-tiba bertanya, "Peipei, apakah kita sudah benar-benar terbangun? Kalau tidak, coba cubit aku untuk memastikannya."
"Cubit apa!" jawab Han Peipei. "Kau kan tahu betul kalau di dalam mimpi pun kita bisa merasakan sakit. Waktu kita lari tadi, kakiku sempat terbentur, dan sampai sekarang rasanya masih sakit!"
Jiang Yingying mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Lalu kita harus bagaimana? Muke dan Mingyuan entah pergi ke mana. Kita bahkan tidak tahu apakah kita ini sedang sadar atau tertidur."
Han Peipei menepuk tangan dan berkata, "Mereka berdua pasti belum tertidur. Coba kalian pikirkan, bagaimana mungkin Muke dan Mingyuan meninggalkan kita begitu saja? Pasti si pelaku tahu bahwa mereka berdua sangat kuat dan tidak ingin melibatkan mereka, makanya mereka memilih untuk menghadapi kita lebih dulu!"
"Ini... aku merasa sangat takut!" jawab Jiang Yingying. "Apa yang kau katakan memang masuk akal, tetapi karena mereka tidak ada di sini, kita bertiga mustahil bisa menghadapi Freddy."
Ye Hanshan berkata dengan geram, "Bisa atau tidak, kita harus tetap melawannya! Kita bertarung sekuat tenaga dengannya. Coba lihat para kolega yang baru bergabung itu, mereka semua sangat ketakutan. Kita harus menunjukkan keteguhan sebagai senior dan berhenti bersikap seperti pengecut!"
"Benar sekali!" Han Peipei menyetujuinya dengan antusias. "Kalau begitu, hal pertama yang harus kita pastikan adalah apakah kita masih memiliki kemampuan untuk bertarung di dunia nyata!"
"Kalian tidak perlu memastikannya lagi, kalian memang sudah terbangun!" seru Chen Xun dengan suara nyaring kepada mereka.
Mendengar suara Chen Xun, Jiang Yingying seketika merasa lega. "Chen Xun, untung kau datang!"
"Kau bilang kami sudah terbangun?" tanya Ye Hanshan kepadanya. "Apa buktinya?"
Chen Xun mendekat dan berkata, "Buktinya adalah aku akhirnya bisa kembali ke kantor dari rumah sakit. Kalau kita masih berada di dalam mimpi, bagaimana mungkin dia membiarkanku kembali dengan begitu mudah jika dia berniat mencelakai kalian?"
Han Peipei langsung menimpali, "Kalau kau berkata begitu, aku jadi teringat sesuatu. Jika memang kita sekarang sudah terbangun, apakah itu artinya aku tadi melihatmu di dalam mimpi?"
Chen Xun mengangguk kecil. "Aku tidak mengerti bagaimana orang itu bisa melakukannya, padahal jelas-jelas kita semua sudah meminum pil penangkal mimpi! Ngomong-ngomong, kenapa jumlah orangnya tidak lengkap?"
"Betul juga!" seru Jiang Yingying seketika. "Jika kita sudah terbangun, lalu di mana Muke dan Mingyuan? Jangan-jangan mereka terjebak di dalam mimpi?"
"Tidak mungkin!" tegas Chen Xun. "Jika si kecil Wen bisa menyeret orang-orang masuk ke dalam mimpi semudah itu, dia tidak perlu repot-repot melakukan cara seperti ini!"
Sambil berkata demikian, Chen Xun berseru dengan suara lantang, "Kalian semua, keluarlah! Sekarang kalian sudah terbangun, Wen kecil tidak akan muncul lagi. Cepat keluar, aku ingin memeriksa siapa saja yang tidak ada di sini! Xiong Wenxiang, Li Juefeng, Lin Ruoshi!"
Ketiga orang itu keluar dari dalam kegelapan dan dari bawah meja dengan tubuh gemetar ketakutan.
Chen Xun mengerutkan keningnya, lalu kembali memanggil, "Xiaofen, Keke! Cepat keluar!"
Namun, tidak ada jawaban sama sekali!
Chen Xun menggelengkan kepalanya. "Xiaofen dan Keke hilang, begitu juga dengan Muke dan Mingyuan!"
Setelah itu, Chen Xun segera bergerak cepat. Memanfaatkan kecepatan yang dimilikinya, ia buru-buru memeriksa seluruh sudut kantor. Ia telah mencari ke setiap juru baik di dalam maupun di luar, tetapi sama sekali tidak menemukan keberadaan mereka.
Pada akhirnya, hanya toilet yang tersisa. Tanpa ragu-ragu, Chen Xun berlari masuk ke toilet pria terlebih dahulu. Sialan, Muke dan Mingyuan tergeletak pingsan di lantai. Setelah diperiksa, ternyata hanya ada benjolan di bagian belakang kepala mereka, dan tidak ada luka yang serius.
Chen Xun berpesan kepada Shen Yu dan yang lainnya untuk membangunkan Mingyuan dan Muke.
Ia sendiri kemudian berlari menuju toilet wanita. Namun, saat ia tiba di ambang pintu, Keke tiba-tiba keluar dari dalam.
Keke berkata, "Aku baik-baik saja. Aku juga sempat dipukul hingga pingsan. Di dalam toilet hanya tinggal aku seorang diri, jadi kau tidak perlu masuk ke dalam."
Chen Xun memicingkan matanya dan bertanya, "Kapan kau dipukul pingsan?"
Keke menunduk dan menjawab, "Tadi ketika kami terbangun dari mimpi, aku melihat Muke dan Mingyuan seperti menyadari sesuatu dan berlari ke arah toilet ini. Aku pun ikut mengikuti mereka, tetapi tiba-tiba seseorang menarikku masuk ke dalam toilet dan memukul kepalaku dengan tongkat hingga pingsan!"
"Jika kau bahkan tidak melihat mereka sebelum dipukul pingsan, bagaimana kau bisa tahu kalau Mingyuan dan Muke itu hanya pingsan dan bukannya dibunuh?" tanya Chen Xun dengan suara tinggi!
Keke tampak merasa sedikit dirugikan, lalu menjawab dengan suara nyaring pula, "Itu karena aku langsung dipukul pingsan begitu masuk ke dalam toilet, dan aku pikir mereka berdua juga... ah!"
Sebelum perkataannya selesai, Keke langsung ditarik menjauh oleh Chen Xun, dan Chen Xun nekat menerobos masuk ke dalam!
Ia terpaku di tempat. Xiaofen tergantung terbalik di dalam toilet wanita! Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh darah, dan kabel lampu listrik lah yang digunakan untuk menggantungnya. Bibir Chen Xun bergetar hebat, ia nyaris menangis sejadi-jadinya.
Sebelum ia sempat mendekat, kabel lampu listrik itu tiba-tiba putus dengan suara benturan keras. Chen Xun buru-buru melompat menerjang maju untuk menangkap tubuh wanita itu, memeluknya erat di dalam dekapannya, lalu duduk di lantai sambil mengulurkan tangan untuk meriksa napasnya. Sudah terlambat!
Chen Xun kemudian mencoba mendengarkan detak jantungnya, tetapi sama sekali tidak ada!
Keke mengikuti dari belakang dan berkata, "Dengarkan aku, jangan terburu-buru panik dulu. Situasinya tidak seperti yang kau bayangkan, Xiaofen bukan karena aku..."
"Apakah kau benar-benar mengira aku tidak berani membunuhmu?!" tanya Chen Xun dengan gigi yang gemeletuk penuh kebencian! "Apa kau tahu, aku baru saja melihat seseorang yang hanya berniat membantuku justru ikut terseret dan tewas?"
Keke buru-buru berkata, "Aku tahu kau sedang sangat marah sekarang, tetapi dengarkan aku dulu, Xiaofen sebenarnya..."
"Ada atau tidak adanya dirimu sama saja!" bentak Chen Xun penuh murka. "Aku memang berniat membunuhmu untuk membalaskan dendamnya! Asal kau tahu saja, sekalipun aku tidak memiliki informasi darimu, aku tetap bisa menghabisi Feng Xiaowen! Menghabisi pemburu-pemburu lainnya!"
Keke menggelengkan kepalanya. "Permainan ini tidak pernah menetapkan bahwa orang-orang yang datang dari perusahaan kita adalah para pemburu. Begitu kau berpikir seperti itu, sejak awal kau sudah kalah... ah!"
Belum sempat Keke menyelesaikan kalimatnya, Chen Xun tiba-tiba melengkingkan teriakan histeris yang sukses membuatnya terperanjat kaget. "Siapa yang sedang bermain-main denganmu! Siapa yang menjadikan nyawa mereka sebagai taruhan sepertimu? Kau iblis!"