Bab 138: Pertempuran Sengit yang Sulit
"Apa kau tidak membiarkannya pergi tadi karena jika dia mati, kau pun akan mati?" tanya Shen Yu.
Kele tersenyum getir. "Memangnya apa lagi? Aku... tidak punya hubungan dekat dengan kalian."
Setelah berkata demikian, tubuhnya merosot jatuh. Meski enggan, Shen Yu tetap menahannya.
"Aku dan Chen Xun benar-benar bodoh! Bisa-bisanya kami percaya pada wanita sepertimu," gerutu Shen Yu dengan kesal.
Leng Yiyuan datang menghampiri untuk membantu memapah Kele. "Sudahlah, Nyonya Bos, bawa dia ke rumah sakit dulu."
Shen Yu menoleh ke arah lubang besar itu, lalu bergumam pelan, "Kau tidak boleh mengingkari janji, kau harus kembali dalam keadaan hidup!"
Sementara itu, saat terjatuh, Chen Xun sebenarnya sempat memerintahkan Pedang Kecil Dua untuk terbang ke bawah kakinya. Namun, pedang itu tampak tidak sanggup menahan beban tubuhnya sehingga tidak bisa menopangnya sepenuhnya.
Akibat kendali yang terputus-putus dan kehilangan keseimbangan, ia akhirnya jatuh ke dasar terdalam.
Begitu mendekati bagian dasar yang miring, Chen Xun langsung meluncur hingga ke titik paling bawah.
Berbaring di dalam pipa yang berbau busuk, ia bahkan kesulitan bernapas. Belum lagi punggungnya yang terasa perih akibat bergesekan dengan dinding pipa saat terjatuh tadi.
Tiba-tiba, sebuah wajah muncul tepat di atasnya. Chen Xun tersentak hingga napasnya memburu!
Namun, ia sudah mempersiapkan mentalnya. Ia terus mengingatkan diri sendiri untuk menghadapi wajah mengerikan itu. Setelah berhasil menenangkan diri, ia menyadari bahwa sosok itu benar-benar Akun. Wajahnya masih sama menjijikkan dan mengerikannya, hanya saja kepalanya tampak sedikit lebih pipih, sehingga mereka bisa berhimpitan di dalam pipa yang sempit itu.
"Sepertinya aku tidak pernah melakukan kesalahan padamu..."
"Ugh, argh!"
Chen Xun yang berbicara lebih dulu, tetapi saat Akun hendak membalas, Chen Xun tanpa ampun menusukkan Pedang Kecil Dua tepat ke dahi makhluk itu!
Darah menetes, mengaburkan pandangan Chen Xun hingga ia tidak bisa memastikan apakah makhluk itu sudah mati atau belum.
Chen Xun mencabut pedangnya dan hendak menusuk lagi, tetapi serangan itu meleset! Terdengar dentang keras saat pedang itu menghantam dinding pipa.
"Keluar kau!" teriak Chen Xun sambil mengusap matanya dengan tangan kiri.
"Sialan! Berani-beraninya kau bermain licik!" Suara Akun muncul dari belakang kepalanya.
Tanpa sempat bereaksi, Akun menjambak rambutnya dan menyeret Chen Xun dengan mudah ke arah belakang!
"Ah! Sial!" teriak Chen Xun kesakitan. Ia mencoba meraih balik, namun tangannya justru menghantam dinding pipa.
Dalam kepanikan, ia lupa bahwa dirinya sedang berada di dalam pipa.
Chen Xun terangkat melayang di dalam pipa vertikal. Darah yang mengalir di wajahnya sebagian berasal dari kepalanya sendiri.
"Kau tidak bisa membunuhku!" seru Chen Xun sambil mengertakkan gigi.
Krak! Kali ini, Chen Xun telah memperhitungkan posisinya. Ia mengayunkan pedang untuk memotong rambutnya sendiri, lalu ia pun kembali meluncur turun!
Ia segera membalikkan tubuh agar bisa berhadapan langsung dengan lawannya.
"Kau harus mati! Kenapa kau yang hidup sementara kami harus mati? Mati!" teriak Akun histeris.
Chen Xun menunduk, tubuhnya seketika lenyap dari pandangan!
Akun merayap dengan cepat layaknya laba-laba. Tubuhnya kini jauh lebih kecil sehingga ia bisa bergerak bebas di dalam sana.
Namun, saat sampai di bawah, Chen Xun sudah tidak ada.
Dalam kebingungan, ia teringat kejadian di dalam bus. Akun tertawa terbahak-bahak sambil menendang ke segala arah. "Hanya menghilang saja, bukan berarti kau lenyap! Kau tidak bisa lari!"
Bugh! Sebuah tendangan mendarat di kepala Chen Xun. Tanpa mengeluh, Chen Xun menahan sakit dan mencengkeram pergelangan kaki Akun, lalu menusuk paha makhluk itu berulang kali.
"Aaaah! Sialan kau!" teriak Akun kesakitan.
Namun, Chen Xun tidak melepaskan cengkeramannya. Betapa tajamnya Pedang Kecil Dua itu? Dengan tebasan membabi buta, kaki itu nyaris terputus. Hal ini juga dipicu oleh ukuran tubuh Akun yang kini menyusut, sehingga kakinya hanya sebesar lengan orang dewasa.
"Akan kubunuh kau!" teriak Akun. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari dalam pipa.
Chen Xun tidak peduli. Ia berhasil memotong satu kaki Akun dan menggenggamnya erat-erat.
Tiba-tiba, tubuhnya terasa melayang. Pipa itu mulai dipenuhi air yang terus mengalir dari atas.
"Mati!" Akun menerjang dengan tangan yang kini berubah menyerupai cakar elang!
Satu cakaran itu meninggalkan luka dalam di kepala Chen Xun!
Chen Xun segera mundur! Akun mengejarnya seperti orang gila, wajahnya yang semula menyeramkan kini tampak jauh lebih mengerikan dengan otot-otot yang berkedut.
Makhluk itu terus mengejar, sementara Chen Xun hanya bisa mundur. Ditambah hambatan air, gerakannya menjadi lambat!
Melihat cakar itu kembali mendekat, Chen Xun mengayunkan pedangnya dua kali untuk mengusir lawannya, lalu mundur dengan segenap tenaga yang tersisa!
Melihat jarak yang semakin menjauh, Chen Xun menahan rasa sakit yang luar biasa, namun ia terus menyemangati dirinya sendiri untuk terus mundur, yakin bahwa ia pasti bisa keluar!
Tiba-tiba, kakinya yang sedang menekuk tidak sengaja menendang sesuatu ke belakang.
Saat menoleh ke arah kegelapan pekat di belakangnya, ia melihat Akun dengan wajah muram sedang memeluk kaki kanannya!
"Mau kabur? Akan kubantu!" Akun menyeret kaki Chen Xun dan berlari kencang ke arah belakang!
Chen Xun tidak bisa berbuat apa-apa, ia terus terseret mundur di dalam pipa itu!
Air ini memiliki satu keuntungan: menciptakan gaya apung yang membuat Chen Xun tidak bergesekan dengan dinding pipa. Namun, kerugiannya adalah ia terus-menerus tenggelam dan mengapung. Ini adalah air yang diciptakan oleh Akun; sekali saja air itu masuk ke tenggorokannya, ia tamat!
"Menyenangkan, bukan?" Akun tiba-tiba berhenti. "Sebentar lagi air ini akan menenggelamkanmu. Saat orang lain menemukanmu, tubuhmu pasti sudah membusuk!"
Sambil berkata demikian, Akun mencakar paha Chen Xun. Entah seberapa dalam lukanya, tapi rasanya seperti menyentuh tulang!
Di ambang kematian, Chen Xun tidak punya pilihan lain. Saat Akun mengangkat tangannya, ia segera menekuk tubuhnya, membalikkan posisi, lalu menerjang dan menekan Akun ke dalam air. Ia mengangkat Pedang Kecil Dua dan menusuk jantung makhluk itu berkali-kali!
"Aaaaah! Gluk... gluk..."
Suara jeritan dan suara tersedak air bergema di dalam pipa!
Di luar, langit sudah gelap. Dari lubang pembuangan pipa, air menyembur keluar dengan deras disertai tumpukan sampah, jatuh ke dalam aliran sungai.
Boom! Guntur menggelegar di langit, kilat menyambar tiada henti!
Di sungai yang kotor itu, sesosok tubuh tangguh tiba-tiba berdiri! Tubuhnya tampak sekuat baja, dan meski ia terengah-engah, sosoknya tetap terlihat begitu kokoh!
Pekerja kebersihan sungai yang biasa lewat pada jam itu melihat ke arah sungai.
"Ada orang di sungai?" tanya salah satu pekerja.
"Jangan bodoh, siapa yang mau berada di tempat seperti ini?" sahut rekannya sambil tertawa.
Duar! Sambaran petir kembali menerangi langit. Sosok itu berdiri sambil menggenggam erat sesuatu di tangannya. Meski hanya bayangan, sosok itu terlihat nyata.
"Monster! Monster!" Keduanya ketakutan dan lari tunggang langgang.