Bab 33: Kembali ke Gunung Membahas Jalan Kebenaran
Setelah semua orang pergi, Shanyuan membawa dua murid kecilnya untuk berpamitan dengan Ao Guang. Ia bersama Dewi Luoshui meninggalkan Istana Kristal.
“Dewi, bersediakah Anda berkunjung ke Gunung Shanyuan milik saya? Entah mengapa, saya merasa peluang saya untuk menembus tingkat Dewa Emas ada pada Anda. Mohon jangan sungkan untuk membimbing saya,” ujar Shanyuan dengan hormat di hadapan Dewi Luoshui.
“Saudara, Anda adalah murid utama Sekte Jie, menembus tingkat Dewa Emas pasti bukan persoalan sulit. Bagaimana mungkin peluang itu ada pada diriku?” Dewi Luoshui menatap Shanyuan sambil mengernyitkan dahi.
“Walaupun murid seorang Santo, tetap saja seorang Santo hanya mengajarkan pokok-pokok saja. Untuk menapaki jalan keabadian, semuanya tergantung pada peruntungan masing-masing. Mohon Dewi berkenan membimbing,” jawab Shanyuan dengan tulus.
“Baiklah, kalau begitu aku akan berkunjung ke tempatmu,” Dewi Luoshui akhirnya mengalah.
“Silakan! Saya akan memandu di depan,” ujar Shanyuan lalu melangkah di atas awan, menggandeng kedua anak kecil itu.
Bagi dua anak naga itu, ini adalah pengalaman pertama mereka keluar dari istana. Mata mereka terus-menerus memandang ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu di dunia luar.
“Saudara benar-benar sabar,” gumam Dewi Luoshui, melihat bagaimana Shanyuan dengan ramah mengikuti keinginan kedua anak naga itu tanpa mengeluh.
“Haha, Dewi terlalu memuji. Kedua anak ini sangat lucu, aku tak tega menegur mereka. Lagi pula, mereka masih anak-anak, wajar saja jika penuh rasa ingin tahu. Aku hanya ingin memenuhi rasa ingin tahu mereka. Aku sendiri tak pernah merasakan kasih sayang keluarga, jadi kini ketika surga memberiku dua anak kecil yang manis, sudah sepatutnya aku menyayangi mereka,” kata Shanyuan, menatap kedua murid kecilnya yang bermain-main di atas awan.
“Tak banyak yang memperlakukan muridnya sebaik ini,” Dewi Luoshui tersenyum.
“Kita sudah sampai, inilah Gunung Shanyuan. Mohon maaf bila tempatku tampak sederhana,” ujar Shanyuan ketika mereka tiba di sebuah gunung yang megah.
Sebuah aula besar berdiri kokoh di puncak gunung, tak terhitung makhluk roh gunung dan tumbuhan telah berubah wujud menjadi prajurit yang berjaga di depan aula. Aula ini dibangun setelah Shanyuan menjadi Kaisar, dan semua roh gunung serta tumbuhan yang dijadikan penjaga merupakan makhluk yang diberikan pencerahan oleh Shanyuan. Sebagai seorang Kaisar yang mengelola tanah dan gunung-gunung di dunia, tentu membutuhkan banyak tangan kanan, maka ia pun membimbing para roh itu.
“Yun Qian, Yun Kun, kalian boleh bermain di sekitar sini. Nanti ketika waktunya tiba, aku akan membawa kalian ke Pulau Jin'ao untuk bertemu leluhur guru dan para paman guru kalian,” ujar Shanyuan dengan penuh kasih sayang, mengelus kepala kedua anak naga itu.
“Baik, Guru!” seru keduanya dengan wajah sumringah. Dulu di Istana Naga, mereka tak boleh ke mana-mana. Kini setelah memiliki guru, mereka akhirnya merasa bebas dan berlari-lari dengan gembira.
“Dewi, silakan masuk ke kediamanku yang sederhana, jangan sungkan,” kata Shanyuan mempersilakan.
“Tempatmu ini sungguh sebuah tanah berkah, jauh lebih baik dari istanaku di Sungai Luo,” jawab Dewi Luoshui setelah masuk ke aula dan memandang sekeliling.
Keduanya duduk bersila di atas tikar rumput. Shanyuan mulai menuturkan pemahamannya tentang Jalan Gunung. Di belakangnya, tampak sebuah gunung tinggi mengambang, dikelilingi oleh aura ungu. Ada nuansa kesendirian dan kebesaran yang memenuhi puncak itu. “Satu gunung menjulang, satu jiwa berdiri tegak,” gumam Shanyuan.
Jalan Dewi Luoshui adalah Jalan Air, menonjolkan kelembutan dan ketenangan. Di belakangnya, tampak sebuah sungai yang mengalir pelan.
Gunung di belakang Shanyuan perlahan mengapung, mengarah ke sungai di belakang Dewi Luoshui, dan sungai itu pun perlahan mengalir mengelilingi gunung. Akhirnya, seluruh gunung dilingkupi oleh aliran sungai, membuatnya tampak semakin elok dan penuh kehidupan. Tumbuhan mulai tumbuh di gunung yang semula gersang, seperti sebuah lukisan alam yang selaras dan indah.
Di dada Shanyuan, lima energi utama berkumpul, membentuk bunga teratai biru dari aura Dewa Tertinggi, yang masih kuncup dan belum mekar. Begitu mekar, ia akan dapat menembus tingkat Dewa Emas.
Sedangkan di tubuh Dewi Luoshui, kabut air memenuhi sekeliling, membalut tubuhnya hingga hanya siluet anggunnya yang samar-samar terlihat, sungguh pemandangan yang memukau.
“Terima kasih, Dewi. Ternyata benar bahwa peluangku hari ini berasal darimu. Gunung tanpa air hanyalah gunung mati. Kini engkau membawakan Jalan Air, membuatku memahami energi kayu dari perpaduan gunung dan air, sehingga Jalan Gunungku menjadi semakin sempurna,” Shanyuan berdiri dan memberi hormat kepada Dewi Luoshui.
“Tak perlu sungkan, Saudara. Perbincangan kita hari ini juga memberiku banyak manfaat,” balas Dewi Luoshui sambil menghindari penghormatan Shanyuan.
Ia kemudian berkata, “Jika ada waktu, silakan berkunjung ke istanaku untuk berdiskusi.”
“Tentu, setelah aku membawa dua muridku ke Pulau Jin'ao, aku pasti akan berkunjung. Ini ada beberapa buah untukmu, silakan terima,” Shanyuan mengambil beberapa buah ginseng dari Menara Sembilan Sudut dan menyerahkannya pada Dewi Luoshui.
“Ini... lebih baik Saudara menyimpannya saja, aku tidak perlu,” jawab Dewi Luoshui, terkejut melihat Shanyuan mengeluarkan beberapa buah ginseng lagi. Dalam hatinya ia bergumam, jangan-jangan Shanyuan pernah mencuri semuanya dari Biara Wuzhuang. Mengapa aku punya pikiran seperti ini? Apakah memang gunung dan air, seperti yin dan yang, saling menarik? Wajahnya pun memerah dan ia melirik Shanyuan diam-diam.
“Dewi, jangan sungkan. Anggap saja ini hadiah pertemuan dari Shanyuan,” ujar Shanyuan, tidak menyadari perubahan sikap Dewi Luoshui, hendak meletakkan buah itu di tangannya. Namun ketika hampir menyentuh tangan Dewi Luoshui, ia ragu dan menghentikan gerakannya, agak canggung menatap Dewi Luoshui. Bagaimanapun, mereka baru saja saling kenal, belum pantas untuk menyentuh tangan seorang perempuan.
Melihat kecanggungan Shanyuan, Dewi Luoshui pun tersenyum geli, “Kalau begitu, aku terima saja.” Ia mengangkat tangan putihnya dan menerima buah ginseng itu.
“Aku tidak mau mengganggu lebih lama lagi,” ujar Dewi Luoshui ketika merasa waktunya sudah cukup, lalu berpamitan.
Shanyuan berdiri di puncak gunung, menatap Dewi Luoshui yang terbang menjauh di atas awan. Ia merasa selalu teringat pada Dewi Luoshui, namun tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan itu. Di kehidupan sebelumnya, ia hanya seorang pria lajang yang tak banyak bergaul dengan perempuan. Mungkin di kehidupan sekarang, ia akan menemukan belahan jiwanya.
Banyak hal dipikirkannya, tapi ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Sifat introvertnya di kehidupan sebelumnya membuatnya sulit mengambil langkah, dan ia pun sungkan untuk curhat kepada saudara seperguruannya.
“Ah, mungkin setelah urusan Penetapan Dewa berakhir dan aku masih hidup, barulah aku akan bicara,” ia bergumam, teringat akan nasib suram Sekte Jie dalam Penetapan Dewa.
“Yun Qian, Yun Kun, kalian kemari! Aku akan membawa kalian menemui leluhur guru. Ingat, jangan berbuat ulah di sana, paham?” serunya pada dua anak naga yang masih riang bercanda di depannya.
“Baik, Guru,” jawab mereka sambil manyun, terlihat sangat menggemaskan.
Shanyuan membungkuk dan mencubit pipi Yun Qian.
“Guru nakal, mencubitku,” protes Yun Qian.
Shanyuan pun tertawa terbahak-bahak, lalu menggandeng tangan kedua murid kecilnya. “Ayo, mari kita berangkat, murid-muridku.”