Bab 27 Surat Pengantar
Halaman (1/3)
Sesampainya di rumah, Lin Ruxue mengeluarkan rencana itu dan menelitinya dengan saksama.
Setelah membacanya dari awal sampai akhir, Lin Ruxue tak kuasa berdecak kagum.
Tak bisa disangkal, dia memang benar-benar pria teknik yang teliti. Tulisan tangannya rapi dan tegas, rencananya tersusun begitu sempurna. Bahkan cara menghadapi keributan Xu Feng dan bagaimana mengendalikannya pun sudah dipertimbangkan.
Lin Ruxue menyimpan kembali lembar rencana itu. Sudut bibirnya melengkung. Harus diakui, saat menulis dan mengerjakan sesuatu, He Zhihao memang tampak sedikit memesona.
—
Matahari pagi perlahan terbit, cahaya fajar menyebar lembut. Langit bahkan belum sepenuhnya terang, tetapi aroma masakan sudah tercium dari halaman.
Lin Ruxue membalikkan badan dan masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur ketika Lin Cuihua masuk. Dengan lembut, ia menyentuh pipi putrinya.
“Xue’er, bangunlah. Zhihao sudah bangun sejak tadi dan sedang menunggumu di halaman.”
Lin Ruxue tiba-tiba membuka mata lebar-lebar.
Teringat rencana yang mereka bicarakan semalam, rasa kantuknya seketika lenyap. Ia langsung bangkit dari tempat tidur.
Di halaman, He Zhihao sedang memberi makan ayam. Ia berjongkok sambil menggendong Huaxin dan mengusap bulu ayam itu yang berkilau.
Mendengar suara langkah kaki, ia menoleh. Begitu melihat Lin Ruxue, ia meletakkan Huaxin, lalu tersenyum sambil mengambil telur di tanah dan berjalan menghampirinya.
“Huaxin sudah bisa bertelur.”
Cepat sekali ayam itu bertelur.
Entah telur ayam hutan enak atau tidak.
Lin Ruxue spontan bertanya, “Apakah rasanya lebih enak daripada telur ayam biasa?”
Begitu mendengar ucapan itu, Huaxin mengepakkan sayap dan terbang kembali ke kandang.
Sambil tersenyum, He Zhihao menyerahkan telur ayam hutan itu kepadanya.
“Cobalah.”
Lin Ruxue memang hanya bicara sembarangan. Itu adalah telur pertama Huaxin sejak datang ke rumahnya, mana mungkin ia tega memakannya?
Ia menyerahkannya kepada Lin Cuihua.
“Ibu, simpan telur ini. Biarkan Huaxin mengeraminya sampai menetas menjadi anak ayam.”
Lin Cuihua tertawa mendengar perkataan putrinya.
“Cuma satu telur, bagaimana bisa dierami? Sarapan sudah siap. Setelah kalian pulang dari kabupaten, Ibu akan membuat sup telur untuk kalian.”
“Baiklah.”
Setelah makan, Lin Ruxue kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang.
Belum sempat masuk, ia dipanggil oleh Lin Cuihua. Di tangan ibunya terdapat sebuah tas punggung, tas yang kemarin dibawanya ke kabupaten.
“Di dalamnya ada surat nikah Ibu dan ayahmu, serta kartu identitas Ibu. Bawalah. Dengan begitu, petugas di sana baru akan memercayaimu.”
Lin Ruxue membuka kantong itu. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas, satu besar dan satu kecil.
Keduanya ditulis tangan.
Satu adalah surat nikah, dan satu lagi kartu identitas.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Hati Lin Ruxue tersentuh. Sebenarnya Lin Cuihua tidak ingin menyinggung Xu Feng, tetapi karena tahu putrinya bersikeras melakukan semua ini, ia tetap bersedia mendukungnya dalam diam.
Lin Ruxue memeluk Lin Cuihua.
“Ibu, Ibu memang yang terbaik.”
Lin Cuihua mengusap rambut putrinya.
“Anak bodoh, kalau Ibu tidak menyayangimu, lalu siapa lagi? Cepat berangkat.”
Lin Ruxue dan He Zhihao pun meninggalkan rumah bersama.
Lin Ruxue tidak langsung pergi ke kabupaten, melainkan lebih dulu menuju kantor pemerintahan desa.
Dalam rencana kemarin tertulis bahwa mereka harus membuat surat pengantar terlebih dahulu.
Pada masa itu, tanpa surat pengantar, tidak ada seorang pun yang akan memercayaimu ketika mengurus sesuatu.
Yan Jiadong belum pergi ke ladang. Ia sudah datang pagi-pagi ke kantor pemerintahan desa. Baru saja masuk dan menuangkan secangkir air, ia melihat Lin Ruxue datang bersama seorang pemuda.
Tatapan Yan Jiadong jatuh kepada pemuda itu.
Sikapnya tegap, wajahnya tampan, dan tubuhnya memancarkan semangat. Dibandingkan keponakannya, pemuda ini bahkan tampak beberapa tingkat lebih menarik.
“Paman Sekretaris,” sapa Lin Ruxue sambil tersenyum.
Yan Jiadong mengiyakan, lalu bertanya kepada He Zhihao, “Kaulah pemuda yang memperbaiki sumur desa?”
“Benar.”
“Anak muda yang baik.”
Yan Jiadong menepuk bahu He Zhihao. Bahunya terasa kokoh dan keras. Pemuda ini sungguh baik.
“Itu hanya hal kecil, Paman. Paman terlalu memuji.”
Yan Jiadong semakin puas. Anak ini benar-benar sopan.
Lin Ruxue datang karena ada urusan penting, jadi ia tidak berbasa-basi dan langsung berkata, “Paman Sekretaris, saya ingin meminta bantuan Paman untuk membuatkan surat pengantar.”
“Surat pengantar untuk apa?”
“Kemarin saat pergi ke kabupaten untuk membeli kain, saya bertemu seorang paman. Ia berkata bahwa ia mengenal saya dan tahu bahwa saya adalah putri Gu Changsheng. Katanya, selama bertahun-tahun ayah saya berada di luar, sibuk bekerja, dan ia pernah bertemu dengannya sekali.”
Untuk sementara, Lin Ruxue belum bisa mengatakan bahwa ia mengetahui Gu Changsheng mengirim uang setelah mengikuti Xu Feng ke kantor pos.
Begitu mendengar hal itu, Yan Jiadong hampir melongo.
“Apa? Ayahmu masih hidup? Xue’er, apa yang kaukatakan itu benar?”
Selama delapan belas tahun tidak pulang, seluruh warga desa mengira Gu Changsheng sudah meninggal. Bagaimana mungkin sekarang tiba-tiba ia masih hidup?
“Benar. Orang itu juga mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ayah saya bekerja dengan sangat baik. Namun, karena sifat pekerjaannya, ia tidak bisa pulang sesuka hati.”
Mata Lin Ruxue berbinar. Ia menatap Yan Jiadong tanpa berkedip, berbicara seolah-olah semuanya benar-benar terjadi.
Yan Jiadong begitu bersemangat hingga nyaris tidak bisa menahan diri.
“Ini kabar baik! Kabar yang sangat baik! Yang penting dia masih hidup. Selama dia hidup, kalian—ibu dan anak yang selama ini bergantung satu sama lain—akhirnya punya sandaran.”
Lin Ruxue mengikuti sandiwara itu. Ia menundukkan kepala dan mengusap dua tetes air mata.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
He Zhihao melihat semuanya, lalu ikut bekerja sama dengannya. Ia menundukkan kepala tanpa berkata-kata.
Melihat itu, Yan Jiadong semakin merasa iba.
“Anak baik, jangan menangis lagi. Katakan kepada Paman, surat pengantar macam apa yang ingin kaubuat?”
“Saya mendengar dari paman itu bahwa ayah saya mengirim uang kepada kami. Saya ingin membuat surat pengantar untuk pergi ke kantor pos dan menanyakan apakah hal itu benar.”
“Baik, akan kubuat sekarang.”
Gu Changsheng masih hidup adalah kabar yang sangat menggembirakan.
Dengan hati riang, Yan Jiadong menghampiri meja kayu. Dalam waktu singkat ia menulis surat pengantar, membubuhkan cap kantor pemerintahan desa, lalu meniupnya. Setelah memperkirakan cap itu telah kering, ia menyerahkannya kepada Lin Ruxue.
“Anak, cepat bawa surat pengantar ini dan tanyakan kepada mereka. Kalau kau bisa menemukan ayahmu dan membawanya pulang, itu akan lebih baik lagi.”
“Terima kasih, Paman. Kami pergi dulu.”
Dengan gembira, Lin Ruxue menerima surat pengantar itu, melipatnya, lalu menoleh kepada He Zhihao.
“Kak Zhihao, ayo kita berangkat.”
Tangan kanan He Zhihao tidak leluasa digunakan, jadi ia mengangkat tirai pintu dengan tangan kiri. Ia melindungi Lin Ruxue dan membiarkannya berjalan lebih dahulu.
Keduanya saling berpandangan dengan senyum yang memenuhi wajah.
Namun, baru saja melewati ambang pintu, mereka melihat wajah yang tidak asing.
Begitu menyadari bahwa orang itu Yan Bogu, senyum Lin Ruxue menghilang. Ia menarik lengan He Zhihao dan terus berjalan.
Tatapan Yan Bogu, seperti seekor nyamuk yang mengganggu, tertancap pada lengan He Zhihao yang ditarik Lin Ruxue. Wajahnya membeku seperti es, sementara cahaya di dasar matanya yang gelap seketika padam.
Ia tak kuasa menahan diri untuk membentak, “Berhenti!”
Lin Ruxue tidak memedulikannya dan terus melangkah.
Melihat Lin Ruxue sama sekali tidak bereaksi, Yan Bogu mengertakkan gigi. Ia berlari beberapa langkah hingga berdiri di hadapan mereka dan menghalangi jalan.
“Aku menyuruhmu berhenti. Kau tidak dengar?”
Lin Ruxue mencibir.
“Kau menyuruhku berhenti, lalu aku harus berhenti? Memangnya kau siapa sampai aku harus menuruti perintahmu?”
Yan Bogu murka. Sejak kapan Lin Ruxue berubah menjadi seperti ini?
Dulu, apa pun yang dikatakannya akan dilakukan Lin Ruxue. Hanya dengan melihat ekspresinya, gadis itu bisa mengetahui apakah ia sedang senang atau tidak. Ketika ia bahagia, Lin Ruxue ikut bahagia. Bahkan saat ia sedang tidak senang, gadis itu akan berusaha dengan segala cara untuk membuatnya kembali gembira.
Setelah memikirkannya berulang kali, ia merasa satu-satunya alasan perubahan Lin Ruxue pasti karena cemburu.
Semua itu pasti karena ia menyukai Yan Jiao. Lin Ruxue sengaja menghindarinya agar ia lebih sering memandanginya.
“Lin Ruxue, bukankah kau bersikap seperti ini hanya karena aku tidak menyukaimu dan kau ingin menarik perhatianku? Dengarkan baik-baik. Kau hanyalah perempuan buta huruf yang tidak mengerti apa-apa. Kau bahkan tidak sebanding dengan sehelai rambut Yan Jiao. Sekalipun kau berdiri tepat di hadapanku, aku tidak akan sudi memandangmu lebih dari sekali.”
Begitu selesai berbicara, Lin Ruxue mengulurkan jarinya dan langsung menusukkannya ke depan.
Saat Yan Bogu menyadarinya, jari Lin Ruxue sudah hampir mengenai matanya. Seandainya ia tidak segera memejamkan mata, matanya pasti sudah rusak ditusuk olehnya.
Meski hanya mengenai kelopak mata, rasa perih yang membakar itu tetap membuatnya kesakitan hingga air matanya mengalir deras.
Halaman (3/3)