Bab 21 Anak Laki-laki yang Bercahaya
Halaman (1/3)
Setelah lelaki tua itu pergi, Lin Ruxue masuk ke rumah.
Seusai mencuci tangan, ia mulai mengatur kain-kain yang baru datang.
Berbagai warna, beragam jenis bahan, model apa yang akan dibuat, serta berapa banyak jumlahnya—semua itu sudah ia rencanakan secara garis besar.
Baru saja ia mengeluarkan buku catatan dan hendak membuat beberapa sketsa desain, suara berat nan merdu terdengar dari ambang pintu.
“Makan dulu, baru lanjut bekerja.”
Lin Ruxue mendongak dan melihat He Zhihao berdiri di pintu.
Sinar matahari menembus dari balik tubuhnya, menerangi wajah dan tubuhnya. Rambutnya yang sedikit terangkat pun berkilauan diterpa cahaya, membuat seluruh dirinya seolah memancarkan sinar—penuh semangat masa muda.
Sosoknya yang seperti itu tentu saja memukau.
Entah mengapa, Lin Ruxue seakan dapat melihat masa depannya: duduk dengan anggun dan hangat di pusat kendali, menyaksikan pesawat antariksa meluncur ke angkasa, bersama banyak peneliti lainnya menghadirkan kejayaan tak terbatas bagi tanah air.
Begitulah akhir kisah dalam novel. He Zhihao berhasil mewujudkan impian terbesarnya. Bersama rekan-rekannya, ia berkali-kali berhasil meluncurkan pesawat antariksa dan menjadi insinyur antariksa termuda sekaligus paling cakap.
Kini, Lin Ruxue seolah telah melihat kegemilangannya di masa depan.
Ia meletakkan kertas dan pena, lalu berjalan mendekat. Tanpa sadar, tatapan kagum tampak jelas di matanya.
“Kau bisa memasak?”
“Ibu sedang pergi. Kupikir kau pasti lapar setelah pulang dari kota kabupaten. Aku tidak tahu makanan apa yang kausukai, jadi kubuatkan beberapa panekuk jagung dan sedikit bubur tepung.”
Berbakat, dan juga begitu perhatian.
Lin Ruxue mengikuti He Zhihao keluar dari rumah. Sambil berjalan, ia mengangkat wajah dan diam-diam mengamatinya.
He Zhihao tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. Ia berjalan dengan kesungguhan seorang murid yang sedang mengerjakan tugas. Sesampainya di tungku, ia membuka tutup panci besar. Di dalam baskom enamel itu terbaring belasan panekuk jagung berwarna keemasan, dikelilingi uap yang mengepul seperti kabut dari negeri kahyangan.
Setelah melihat hasil masakannya, barulah ia menoleh kepada Lin Ruxue.
“Kalau dibiarkan dingin, panekuknya akan mengeras. Jadi kubiarkan tetap hangat di dalam panci.”
Lin Ruxue terkejut melihat perhatiannya.
“Kau yang membuat panekuk ini?”
Sambil berkata demikian, ia secara alami mengulurkan tangan untuk mengangkat baskom enamel dari dalam panci.
Begitu tangannya menyentuh tepian baskom, rasa panas yang menyengat membuatnya refleks menarik tangan dan tak kuasa menahan seruan kesakitan.
“Terbakar? Biar kulihat.”
He Zhihao meraih tangan kanannya dengan tangan kiri. Melihat kulit ujung jarinya memerah karena terbakar, ia mendekatkannya ke bibir dan meniupnya perlahan sambil mengingatkan,
“Di bawah panci masih ada api untuk menjaga kehangatan, jadi tentu saja sangat panas. Biar aku saja yang mengangkatnya.”
Tangan Lin Ruxue digenggam erat. Saat mengangkat wajah, ia melihat alis He Zhihao berkerut rapat. Pemuda itu mencurahkan seluruh perhatiannya pada jari-jarinya, meniupnya berulang kali. Kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya.
Perasaan itu nyaman dan menyenangkan. Untuk sesaat, Lin Ruxue sampai tertegun.
Ia tidak menyangka He Zhihao bukan hanya pandai memasak, tetapi juga begitu teliti dan penuh perhatian.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Dengan sikapnya yang seperti ini, perempuan yang kelak menikah dengannya pasti akan hidup bahagia.
Yun Yanjiao di kehidupan sebelumnya seharusnya juga bahagia.
Namun, pikiran itu justru membuat Lin Ruxue merasa bingung.
Jika pernikahan Yun Yanjiao di kehidupan sebelumnya memang bahagia, mengapa setelah terlahir kembali ia memilih Yan Boxue?
Siapa pun yang memiliki mata dapat melihat bahwa kedua lelaki itu benar-benar bagaikan langit dan bumi.
Mungkinkah ada bagian dalam novel yang luput dari perhatiannya?
Atau mungkin kebahagiaan Yun Yanjiao hanya merupakan anggapan sang penulis, sedangkan dirinya sendiri sebenarnya tidak bahagia?
Saat sedang memikirkannya, He Zhihao mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
Melihat Lin Ruxue menatapnya begitu saksama, seolah-olah mampu menembus isi hatinya, ujung telinga He Zhihao seketika memerah. Ia melepaskan tangan Lin Ruxue dan mengalihkan pandangan.
“Biar aku yang mengangkatnya. Kau istirahat saja.”
Lin Ruxue baru tersadar bahwa sikapnya tadi mungkin agak tidak sopan.
Bagaimanapun, di zaman ini, menatap seorang pria dengan tatapan kosong seperti itu memang tidak pantas dan mudah menimbulkan salah paham.
Ia tidak menyangka He Zhihao juga bisa merasa malu. Saat tersipu dan salah tingkah, rupanya ia akan menjadi seperti ini. Walaupun membelakanginya, Lin Ruxue tetap dapat melihat kegugupannya, seakan-akan ia terus mencari sesuatu untuk dikerjakan.
Jelas-jelas ia hendak mengangkat baskom, tetapi begitu menyentuhnya, entah teringat sesuatu, ia kembali menarik tangan. Setelah mengusap telinga, ia mencoba mengangkat baskom itu lagi. Namun, saat menyadari tatapan dari sudut mata Lin Ruxue, ia kembali memutar tubuh.
Ia tampak sangat sibuk, padahal sebenarnya tidak melakukan apa-apa.
Lin Ruxue menyaksikan tingkahnya dengan penuh minat, lalu menggeleng sambil tersenyum.
Pemuda yang menarik.
Dengan penuh ketertarikan, ia menunggu cukup lama hingga panekuk jagung itu akhirnya diletakkan di hadapannya.
Melihat salah satu tangan He Zhihao tidak leluasa digunakan, ia mengulurkan tangan untuk menerimanya.
Mengingat kegugupan He Zhihao yang aneh tadi, tiba-tiba muncul keinginan untuk menggodanya. Ia sengaja mengulurkan tangan dan berpura-pura tidak sengaja menyentuh jari-jari He Zhihao.
Saat jari mereka bersentuhan, He Zhihao seolah tersengat listrik dan langsung melepaskan tangannya.
Ia hendak menarik tangan, tetapi khawatir Lin Ruxue akan terkena panas. Karena itu, ia buru-buru kembali menggenggam baskom tersebut.
Melihat tingkahnya yang kelabakan, Lin Ruxue hampir tak kuasa menahan tawa.
“Aku akan mengambil sumpit.”
He Zhihao berbalik untuk mengambil sumpit dan saus kedelai. Setelah beberapa saat, barulah ia duduk di depan meja kayu dan mengembuskan napas lega perlahan.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Lin Ruxue diam-diam meliriknya. He Zhihao menundukkan kepala sambil memakan panekuk jagung, matanya terarah ke bawah dan sama sekali tidak memandangnya. Lin Ruxue pun memahami situasinya. Karena takut ia merasa canggung, ia segera mencari bahan pembicaraan.
“Panekuk ini enak. Masakanmu bagus.”
“Dulu, saat masih di rumah, aku pernah memasak beberapa kali.”
Panekuk jagung itu dibungkus bersama daun bawang besar. Kedua sisinya berwarna cokelat keemasan, rasanya harum dan renyah. Baru beberapa kali memasak, He Zhihao sudah dapat membuatnya sebaik ini. Lin Ruxue tak kuasa mengacungkan ibu jari.
“Kau benar-benar hebat.”
“Kalau kau suka, makanlah lebih banyak. Kelak aku akan sering memasakkannya untukmu.”
“Tidak perlu. Tunggu sampai lenganmu sembuh dulu. Lagi pula, ujian masuk perguruan tinggi sudah dekat. Kau harus lebih banyak belajar dan jangan sampai mengabaikan pendidikanmu.”
He Zhihao menatap Lin Ruxue yang tersenyum di sudut matanya, lalu mengangguk sambil tersenyum.
“Baik.”
Mereka makan sambil berbincang dan tertawa. Setelah selesai, panekuk yang tersisa dan bubur tepung kembali dibiarkan hangat di dalam panci untuk menunggu kepulangan Lin Cuihua.
Lin Ruxue hendak mencuci mangkuk, tetapi He Zhihao menahannya.
“Kau kerjakan saja urusanmu. Biar aku yang mencuci.”
“Tanganmu sedang tidak leluasa.”
Keduanya memegang tepi mangkuk dan saling berebut untuk mengerjakannya. Saat itulah pintu kayu berderit terbuka. Sebelum Lin Ruxue sempat melihat siapa yang datang, suara bentakan telah terdengar dari luar dan perlahan menggema hingga ke halaman dalam.
“Aku baru tahu kenapa kau memutuskan pertunangan kita! Ternyata kau menyembunyikan lelaki lain! Lin Ruxue, jelaskan kepadaku, siapa sebenarnya pria ini?”
Mendengar suara Yan Boxue, Lin Ruxue melepaskan tangannya. Wajahnya yang semula cerah berubah muram di depan mata.
Ia menggulung lengan bajunya dan berbalik hendak menghadapi lelaki itu.
He Zhihao melihatnya. Sebelum Lin Ruxue bertindak gegabah, ia menahan lengannya dan diam-diam menggeleng.
Lin Ruxue tidak berkata apa-apa. Setelah memberikan tatapan yang menenangkan kepada He Zhihao, ia meninggalkan tungku dan melangkah cepat menghampiri Yan Boxue.
“Ini rumahku. Aku mau menyembunyikan siapa pun, itu urusanku. Apa pedulimu? Kalau kau memang begitu senggang, lebih baik kau bersihkan semua jamban di pintu masuk desa. Dengan begitu, setidaknya orang-orang masih akan mengenang jasamu.”
Yan Boxue menggertakkan gigi karena marah.
“Kenapa ucapanmu begitu kasar?”
“Bukankah kau bilang aku tidak pernah bersekolah menengah atas dan tidak berpendidikan? Kau benar sekali. Orang tak berpendidikan memang kasar, bukan? Terlebih lagi, aku hanya kasar kepada orang-orang tertentu.”
“Lin Ruxue!”
Yan Boxue menunjuknya. Urat-urat di dahinya berdenyut keras.
Halaman (3/3)