Bab 26 Mengambil Jalan Berlawanan
He Zhihao mengajukan pertanyaan kepada Lin Ruxue, "Jika kau pergi menuntutnya, apakah Xu Feng akan mengakui bahwa ia telah mengambil uang itu?"
"Tidak akan," jawab Lin Ruxue spontan.
Xu Feng adalah seorang lintah darat. Orang seperti itu ingin sekali membawa semua barang bagus dari rumah orang lain ke rumahnya sendiri. Memintanya mengembalikan apa yang sudah ia telan jauh lebih sulit daripada membunuhnya.
Oleh karena itu, Lin Ruxue tidak berniat bernegosiasi dengan baik-baik untuk meminta uang itu kembali; ia ingin langsung melawannya. Fakta bahwa Xu Feng telah mengambil uang itu sudah jelas. Jika ia bisa mengembalikannya, baiklah. Jika tidak, maka mereka akan langsung berhadapan. Ia harus memaksanya untuk mengembalikan semuanya tanpa sisa.
He Zhihao tersenyum lembut. "Karena ia tidak akan mengaku, pergi menemuinya hanya akan membuatmu merugi dan justru membuat dirimu sendiri marah."
"Katakan rencanamu," ujar Lin Ruxue, ingin mendengar saran apa yang ia miliki.
He Zhihao menatap ibu dan anak itu dengan pandangan tenang dan ekspresi serius, lalu berkata perlahan, "Lakukan sebaliknya. Tutup semua jalan keluarnya, buat ia tak punya pilihan lain selain menyerahkan uang itu sendiri."
Lin Ruxue tertegun sejenak. Ia bertukar pandang dengan Lin Cuihua, bingung cukup lama karena masih belum mengerti apa yang sebenarnya ingin dilakukan pria itu.
Lin Cuihua merasa bingung. "Zhihao, bagaimana cara menutup jalannya? Pakai batu atau bata?"
Lin Ruxue langsung bertanya, "To the point saja, beri tahu aku apa yang harus kulakukan."
Mendengar ucapan ibu dan anak itu, mata He Zhihao yang hitam dan lembut melengkung membentuk senyuman. "Bibi, Ruxue, yang saya maksud dengan melakukan sebaliknya dan menutup jalan keluarnya bukanlah menutup jalan secara harfiah, melainkan membuat masalah ini menjadi besar."
Lin Ruxue menatapnya penuh harap, menunggu kelanjutannya.
Lin Cuihua kemudian bangkit untuk menuangkan air bagi He Zhihao dan putrinya. "Basahi tenggorokanmu dulu, lanjutkan bicaranya."
Di tengah penantian ibu dan anak itu, He Zhihao menyampaikan sarannya.
"Kata-kata saja tidak cukup, segala sesuatu harus berdasarkan bukti. Langkah pertama, pergilah ke kantor pos untuk mendapatkan bukti. Setelah itu, bawa bukti tersebut ke kantor polisi. Kiriman uang selama delapan belas tahun bukanlah jumlah yang sedikit, totalnya sudah bisa dikategorikan sebagai tindak pidana. Dengan begitu, hukum akan menghukum mereka, dan mereka pun terpaksa harus mengembalikan uang itu. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."
Begitu He Zhihao menyelesaikan ucapannya, Lin Cuihua terdiam seribu bahasa. Sebagai seorang wanita desa yang telah hidup hampir empat puluh tahun, ia belum pernah terpikir untuk melapor ke pihak berwenang, apalagi harus menjebloskan kerabat sendiri ke penjara. Ia merasa bingung, sulit menerima, dan diliputi keraguan.
"Tapi, bagaimanapun juga Xu Feng adalah bibi kedua Xue'er. Kalau ia sampai benar-benar dipenjara..."
Ucapan itu terpotong oleh putrinya. Lin Ruxue menggebrak meja dengan keras. "Ide bagus, lakukan sesuai katamu."
Lin Cuihua menatap putrinya dengan bingung. Menyadari apa yang dikhawatirkan ibunya, Lin Ruxue menggandeng lengannya untuk menenangkan.
"Bu, aku tahu apa yang Ibu khawatirkan. Tapi coba Ibu pikir baik-baik, bagaimana kita bertahan hidup selama bertahun-tahun ini? Saat kita makan ampas dan sayuran, mereka tidak pernah membantu kita. Mereka melihat kita hampir mati kelaparan sementara mereka menikmati makanan mewah dengan uang yang dikirim Ayah. Kita berdua hampir mati kelaparan berkali-kali."
Mengingat masa lalu, kenangan itu muncul di benaknya seolah baru terjadi kemarin. Bagaimana mungkin Lin Cuihua melupakannya?
Setelah putrinya besar, ia mulai menjahit pakaian untuk orang lain sehingga kondisi ekonomi keluarga membaik. Namun, sebelum anaknya berusia enam tahun, kehidupan mereka jauh lebih buruk daripada orang bodoh di ujung desa. Ia menjalani masa kehamilan hingga melahirkan sendirian. Anaknya lahir prematur dan hampir meninggal di musim dingin tahun itu. Karena kekurangan gizi, putrinya menjadi sangat kurus dan lemah. Ia tidak ingat berapa banyak malam ia harus menggendong anaknya berobat, lalu diusir oleh dokter karena tidak punya uang. Akhirnya, ia terpaksa pergi ke gunung belakang untuk mencari obat sendiri. Untungnya ia memahami sedikit ilmu pengobatan, sehingga setelah bertahun-tahun merawat, kondisi tubuh anaknya berangsur membaik.
Namun, sejak awal, kakek dan bibi kedua Xue'er bersikap sangat dingin seperti orang asing. Mereka tidak pernah peduli saat anak itu sakit, bahkan merampas jatah makanan yang ia kumpulkan dengan dalih bahwa mereka berdua adalah orang asing yang tidak pantas memakan jatah keluarga Gu.
Paman kedua sebenarnya ingin membantu, namun ia tidak punya hak bicara dan tidak berani ikut campur. Setiap kali ia berniat membantu, Xu Feng akan segera mengetahuinya, lalu menyerbu ke rumah dan memukuli Lin Cuihua.
Meski sudah lama berlalu, Lin Cuihua tidak melupakan satu pun kejadian itu. Walaupun hatinya mendendam, ia merasa tidak tega jika harus membawa masalah ini ke kantor polisi.
Lin Cuihua tersadar dari rasa sakit masa lalunya, menatap putrinya dengan tatapan kosong, lalu mengusap punggung tangan anaknya. "Ibu tahu, kau menderita selama bertahun-tahun ini. Tapi mereka adalah kerabatmu, dan Ayahmu masih hidup. Jika ia tahu kita melakukan ini, ia akan marah."
"Bu!" Lin Ruxue meninggikan suaranya, merasa gemas dengan sikap ibunya. "Kita hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Mereka menyembunyikannya secara diam-diam, itu tidak ada bedanya dengan merampok. Lagipula, mereka tidak pernah menganggap kita sebagai keluarga. Kalau Ayah marah karena hal ini, maka ayah yang tidak masuk akal seperti itu tidak perlu kita harapkan!"
Suara Lin Ruxue terdengar dingin dan tajam, setiap katanya penuh penekanan. Apa gunanya hubungan darah jika di dunia ini banyak kerabat yang berlindung di balik status kekeluargaan namun berperilaku seperti binatang? Lin Ruxue tidak bisa mentoleransi hal itu.
"Xue'er..." Lin Cuihua ingin bicara lagi, namun melihat putrinya yang teguh dan tampak marah, ia menelan kembali kata-katanya.
Kelemahan Lin Cuihua jauh melebihi apa yang dibayangkan Lin Ruxue. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menangani masalah ini sendiri.
"Bu, serahkan masalah ini padaku, Ibu tidak perlu ikut campur. Aku sudah merancang beberapa pola pakaian. Tolong bantu aku memotong kain yang kubeli tadi, besok kita mulai menjahit."
Karena pendapat ibu dan anak itu tidak sejalan, Lin Ruxue mencoba mencairkan suasana. Ia takut emosinya yang meledak-ledak akan memicu pertengkaran. Ia tidak ingin melukai hati ibunya; setelah begitu banyak penderitaan yang mereka lalui, tidak layak jika hubungan mereka rusak hanya karena orang-orang sampah itu.
Lin Cuihua tidak lagi membahas soal Xu Feng. Ia mengangguk, namun sebelum pergi, ia menatap putrinya dengan khawatir. "Ibu khawatir kalau kau pergi sendirian."
Lin Ruxue yang terbiasa mandiri merasa mampu menangani masalah kecil ini. "Aku bisa melakukannya."
"Aku akan menemaninya."
Suara Lin Ruxue dan He Zhihao terdengar bersamaan. Keduanya serempak menoleh ke arah satu sama lain, lalu saling tersenyum.
Setelah dua hari berinteraksi, Lin Cuihua merasa He Zhihao adalah pemuda yang stabil. Ia mengangguk, merasa jauh lebih tenang. "Zhihao, aku titip Xue'er. Tolong jaga dia baik-baik agar tidak diganggu orang lain."
Satu kalimat itu membuat perasaan Lin Ruxue campur aduk. Meski Lin Cuihua tidak setuju dengan keputusannya, hatinya tetap memikirkan keselamatan anaknya.
He Zhihao menangkap ekspresi ibu dan anak itu, lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Jangan khawatir, Bibi, saya akan melindungi Ruxue."
Setelah Lin Cuihua pergi, Lin Ruxue dan He Zhihao duduk bersama untuk membahas detail pengumpulan bukti besok. He Zhihao bahkan membuat daftar rencana yang sangat rinci, membuat Lin Ruxue terpana.
Ini... terlalu mendetail.
He Zhihao melipat kertas rencana itu dan meletakkannya di tangan Lin Ruxue. "Hanya dengan rencana yang matang kita bisa bertindak dengan baik. Istirahatlah lebih awal, besok kita pergi bersama."