Bab 35 Saat yang Paling Tepat
Halaman (1/3)
Meskipun Fu Lei adalah orang yang telah mengalami begitu banyak pertempuran, baru kali ini ia ditindih orang lain.
Ketakutan itu sungguh bukan main. Demi mempertahankan harga diri dan bokongnya sampai titik darah penghabisan, ia merangkak dan berguling meninggalkan hotel, lalu malam itu juga langsung terbang pulang ke negerinya.
Mengingat kejadian itu saja sudah membuatnya sial setengah mati.
Melihat Fu Lei tampaknya mulai mengingat kejadian tersebut, senyum di mata Tai Chu semakin lebar. “Seperti kata pepatah, malapetaka bermula dari ucapan. Meskipun pada akhirnya kau tidak berhasil memiliki tubuh orang itu, janji yang sudah kau ucapkan tetap harus ditepati.”
Fu Lei begitu emosional sampai suaranya melengking. “Jelas-jelas dialah yang mengambil keuntungan dariku! Dia menyamar sebagai perempuan untuk menipuku.”
Kalau malam itu ia tidak melawan sekuat tenaga, mungkin orang tersebut sudah berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.
Mata Zhao Tiantian langsung membelalak. Ia hanya tahu bahwa akan ada tontonan menarik, tetapi tidak menyangka tontonan itu akan semeriah ini.
Jadi, dia yang diserang balik?
Apakah lagu tentang bunga seruni yang layu sudah dinyanyikan?
Pada saat itu, Zhao Tiantian sudah melupakan kesedihannya. Matanya berkilat penuh kegembiraan.
Cepat, ceritakan detailnya!
Tai Chu mengamati Fu Lei dari atas ke bawah. “Kau benar-benar menemukan lawan yang sulit. Melihat jimat-jimat pembawa sial di sekujur tubuhmu saja, sudah jelas orang itu tidak mungkin melepaskanmu.”
Fu Lei terdiam. “...”
Jimat apa? Pembawa sial apa? Tidak bisakah kau menjelaskannya dengan lebih terang?
Mengetahui bahwa Fu Lei tidak dapat melihatnya, Tai Chu mengangkat tangan dan menjentikkan jarinya pelan.
Detik berikutnya, Fu Lei mendapati udara di sekelilingnya, dengan dirinya sebagai pusat, beriak aneh membentuk lapisan-lapisan gelombang yang menyebar ke luar.
Sesudah itu, tali-tali yang dipenuhi ukiran rune aneh muncul mengitari tubuhnya, seolah-olah ia telah diikat berlapis-lapis.
Jika diperhatikan dengan saksama, setiap simbol itu tampak seperti wajah-wajah yang terpelintir dan mengerikan, melekat kuat di tubuhnya.
Tai Chu memalingkan wajah dengan jijik. Ilmu santet semacam ini pada mulanya hanyalah hasil sampingan dari penelitian kaum mistikus terhadap metode kultivasi. Karena dianggap tidak layak diwariskan, sang pencipta menyingkirkannya seluruhnya dari metode tersebut.
Bagaimanapun, para kultivator menyukai segala sesuatu yang bersih, megah, dan indah. Benda-benda buruk rupa yang tidak pantas dipertontonkan seperti itu biasanya menjadi hal pertama yang disingkirkan.
Jika ada bangsa lain yang datang untuk meminta petunjuk dan belajar, mereka akan memberikan metode-metode tidak berguna itu kepada mereka.
Semua itu sebenarnya hanyalah karya setengah jadi. Tak disangka, orang-orang tersebut justru mempelajari sedikit kulit luarnya lalu mendirikan aliran mereka sendiri. Pantas saja hasilnya berkembang menjadi sesuatu yang menjijikkan seperti ini. Melihatnya saja sudah terasa membawa sial.
Tubuh Fu Lei menegang kaku seperti sebatang kayu. Detik berikutnya, ia mulai berteriak histeris dan berlari mengelilingi ruangan, berusaha melepaskan belenggu mengerikan itu.
Namun, seiring gerakannya, rune-rune tersebut malah mengembun menjadi sebuah kepala tengkorak yang mengejar Fu Lei dengan liar, seolah-olah sewaktu-waktu akan menggigit tubuhnya.
Tubuh Zhao Tiantian sedikit meringkuk. Pemandangan itu memang cukup menakutkan, tetapi ia benar-benar bersemangat!
Rasanya seperti sebuah pintu menuju dunia baru telah terbuka di hadapannya—atau lebih tepatnya, ia telah menemukan panggilan hidupnya.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Xing Liu diam-diam mengawasi Fu Lei, menunggu kesempatan untuk menjegalnya. Ia selalu membalas dendam sebelum hari berganti.
Tai Chu memandangi Fu Lei yang melompat ke sana kemari dengan senyum lebar, sambil mengagumi rumahnya sendiri.
Bagus. Struktur rumah ini cukup baik. Ia bisa memasang formasi penghimpun energi spiritual di dalamnya, lalu menambahkan formasi pengikat makhluk abadi dan formasi pengacau jiwa di luar, untuk memastikan siapa pun yang tersesat masuk ke rumah ini tidak akan pernah bisa keluar.
Selera Fu Lei juga lumayan. Dekorasi rumahnya cukup sederhana.
Andai saja Fu Lei tidak berteriak dan melompat-lompat di sampingnya, semuanya akan jauh lebih baik.
Akhirnya, ketika Fu Lei kembali melompat ke sisi Tai Chu, Xing Liu menjulurkan kakinya dan menjegalnya.
Fu Lei semula hanya terkapar di dekat kaki Tai Chu dengan tatapan kosong. Namun, ia kemudian tiba-tiba melompat bangun. “Guru, selamatkan aku!”
Setelah menyadari dengan begitu jelas bahwa dirinya terkena ilmu santet, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berteriak minta tolong!
Tai Chu menatapnya dengan tenang. “Belum waktunya.”
Ekspresi Fu Lei seketika berubah serius. “Guru, apakah masih ada sesuatu yang kurang?”
Sikap Guru yang kini tidak tersenyum dan tidak bercanda itu sungguh mirip dengan para pertapa sakti yang tinggal jauh dari dunia, membuat hatinya ikut terasa berat.
Mendengar perkataannya, Tai Chu mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Benar.”
Jantung Fu Lei seakan berhenti berdetak sesaat. “Katakan saja. Apa pun itu, akan kucari dan kubawa kemari.”
Sambil berbicara, ia mengeluarkan ponsel, berniat mengerahkan semua sumber daya yang dapat ia gunakan.
Setelah melihat rune-rune itu dengan mata kepala sendiri, ia kini percaya sepenuhnya kepada Tai Chu. Bahkan jika Tai Chu memintanya mengambil bintang di langit, ia akan mencari segala cara untuk memetiknya. Bagaimanapun juga, nyawanya adalah yang paling penting.
Tatapan Tai Chu melembut. “Balik nama rumah ini.”
Sebelum rumah itu resmi berpindah kepemilikan, ia menolak melakukan apa pun.
Jari Fu Lei yang sedang menelusuri daftar nomor telepon mendadak kaku. Sudut bibir dan matanya terus berkedut.
Guru memang benar-benar seorang Guru. Meminta sesuatu pun dilakukan dengan begitu lugas dan penuh keyakinan.
Karena hari sudah terlalu larut dan tidak ada yang bisa dilakukan, Tai Chu memutuskan untuk membiarkan Fu Lei menginap. Semua urusan baru akan dibicarakan besok.
Begitu mendengar kata “besok”, rambut Fu Lei serasa berdiri. Setiap malam ia selalu mengalami berbagai mimpi aneh. Kini ia sudah mengalami trauma terhadap tidur dan benar-benar tidak ingin melewatinya lagi.
Fu Lei memandang Tai Chu penuh harap. “Guru, tidak bisakah malam ini juga? Aku takut kalau terlalu lama ditunda, tubuhku akan terkena dampaknya.”
Tai Chu menyeringai kepadanya. “Tenang saja. Tubuhmu sudah berada di ambang kehancuran. Satu malam tidak akan mengubah apa pun. Lagi pula, waktunya memang belum tepat.”
Kondisi tubuh ini nyaris tidak mungkin memburuk lagi. Yang tersisa hanyalah menunggu kematian.
Mental Fu Lei semakin tegang. “Waktu seperti apa yang Guru perlukan? Bisakah diciptakan dengan usaha manusia?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Ia bersedia melakukan apa saja.
Tai Chu menjawab singkat, “Aku harus menunggu sampai rumah ini resmi berpindah kepemilikan.”
Ini sangat penting.
Ingkar janji sering kali terjadi hanya dalam sekejap.
Mereka jelas-jelas sedang melakukan transaksi yang sudah lunas dan selesai. Mengapa ia harus memercayai janji orang asing?
Fu Lei masih hendak berbicara ketika tengkuknya tiba-tiba dipukul keras.
Pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya oleng. Saat hampir jatuh, ia berbalik secara refleks, lalu mendapati bahwa orang yang memukulnya ternyata adalah Xing Liu.
Wajah Xing Liu saat itu sedingin seorang pembunuh. “Sekarang kau boleh beristirahat.”
Kalau memungkinkan, ia bahkan ingin membuat orang ini tidur untuk selama-lamanya.
Fu Lei terdiam. “...”
Jangan-jangan ia telah mengundang serigala masuk ke rumahnya sendiri?
Xing Liu menarik salah satu kaki Fu Lei dan menyeretnya ke toilet di lantai dasar. Setelah itu, pandangannya beralih kepada Zhao Tiantian, tetapi Zhao Tiantian langsung merebahkan diri di sofa. “Aku mengantuk. Aku tidur dulu.”
Lehernya kecil dan rapuh, tidak tahan menerima pukulan Xing Liu tadi.
Xing Liu memiringkan kepala. Tuan baru saja memintanya menyiapkan sebuah kamar untuk Zhao Tiantian, tetapi mengapa perempuan ini lebih suka tidur di sofa?
Fu Lei bangun setelah tidur nyenyak semalaman. Dengan tak percaya, ia merangkak keluar dari toilet.
Ia ternyata tidak bermimpi...
“Kenapa kau ada di sini?”
Perempuan ini sebenarnya punya masalah apa? Wajahnya hampir menempel ke wajahnya.
Mengapa begitu bangun ia langsung berhadapan dengan wajah Xing Liu?
Xing Liu memiringkan kepala menatapnya. “Chu Chu menyuruhku datang untuk mengawasimu. Katanya, kalau kau bangun, kau harus keluar membeli sarapan.”
Fu Lei terdiam. “... Membeli sarapan?”
Pasti ia salah dengar. Mana mungkin pelanggan sekaligus pasien seperti dirinya disuruh membeli sarapan?
Xing Liu menggeleng. “Chu Chu sudah mengatakannya dengan jelas. Pilihannya hanya dua: pergi membeli sarapan atau segera enyah.”
Chu Chu juga sudah menjelaskannya dengan sangat terang. Rumah itu boleh dipertahankan ataupun tidak, uang selalu bisa dicari, tetapi Fu Lei adalah tipe orang yang suka diperlakukan keras. Jangan pernah terlalu sopan kepadanya.
Fu Lei terdiam. “...”
Bukankah ini masih rumahnya?