Bab 27: Jimat Kenangan—Ingatan yang Memilukan

Eu faço adivinhações, você come melancia, a verdadeira milhã metafísica ganha tanto que dá loucura. Velho Ferro Xuanyuan 2367kata 2026-08-01 03:14:40

Ucapan Taichu sama sekali tidak menyisakan harga diri bagi pasangan suami istri keluarga Luo. Wajah keduanya tampak semakin pucat dan hancur, namun ayah Luo masih menyimpan secercah harapan di dalam hatinya: "Di mana keberadaan putriku sekarang?"

Memang ini adalah kesalahan mereka, silakan saja jika ingin memaki, tetapi setidaknya biarkan mereka menemukan anak mereka.

Taichu menatap Liu Heng: "Itu harus ditanyakan kepada menantu pilihan kalian yang luar biasa itu, apakah dia mau mengatakannya atau tidak. Yang bisa kuberitahukan padamu adalah, orang ini harus dicari di dalam tanah."

Suara Liu Heng yang sedari tadi dibungkam oleh Taichu di tenggorokannya, kini meledak dalam kepanikan dan kemarahan.

Namun, tepat pada saat itu, belenggu di tenggorokannya terlepas seketika. Suaranya terdengar jelas di telinga semua orang: "Aku tidak melakukan apa-apa! Aku juga tidak tahu di mana Luo Wan berada!"

Sudut bibir Taichu terangkat membentuk lengkungan: "Apa kau benar-benar merasa jika kau tidak mengakuinya, maka hal itu tidak pernah terjadi? Istrimu masih terus bergelayut di punggungmu menemanimu!"

Suara Liu Heng meninggi lagi, dia mengulurkan tangan untuk menepuk punggungnya sendiri: "Kau bohong! Itu tidak mungkin!"

Mata berwarna amber Taichu menatap tajam ke arah Liu Heng: "Sudah lupa dengan apa yang kau perbuat sendiri? Luo Wan akan sedih jika kau begini. Jika tidak percaya, biarkan dia yang memberitahumu sendiri."

Kesadaran Liu Heng sempat goyah. Tanpa sadar ia menunduk, dan mendapati sepasang lengan melingkar di lehernya, seolah-olah ada seseorang yang sedang digendongnya.

Pikiran Liu Heng sedikit kacau.

Dua tahun terakhir ini, ia selalu merasa sesak napas. Ia pernah memeriksakannya ke rumah sakit, namun hasil pemeriksaan menunjukkan semuanya baik-baik saja.

Pada akhirnya, dokter hanya mendiagnosisnya menderita radang tenggorokan kronis dan depresi tingkat awal.

Saat ini, tiba-tiba ada perasaan lega yang muncul di hatinya. Ternyata ada seseorang yang mencekik lehernya, pantas saja dokter tidak bisa menemukan apa pun.

Tepat saat ia berpikir demikian, tiba-tiba terdengar suara Luo Wan di telinganya, suara yang penuh ketakutan namun terselip rasa bahagia: "Suamiku, akhirnya kau merasakan keberadaanku."

Ia sudah menunggu hari ini sangat lama.

Suara itu memicu emosi kejam yang terpendam di lubuk hati Liu Heng yang paling dalam. Ia lupa bahwa Luo Wan sudah meninggal. Ia menarik lengan Luo Wan, menyeret sosok itu dari punggungnya ke depan, lalu menendang perut Luo Wan dengan keras: "Wanita jalang, gara-gara kau yang menyedot keberuntunganku, aku jadi selalu sial dalam segala hal."

Ingatan itu mulai bertumpang tindih. Sosok Luo Wan yang ada di hadapannya kini telah menyatu dengan ingatan tentang Luo Wan di masa lalu, bahkan menariknya masuk ke dalam memori tersebut.

Hari itu cuacanya tampak sangat cerah, kontras dengan suasana hatinya yang suram.

Karena nilai akademis yang bagus dan latar belakang keluarga yang cukup terpandang, sejak kecil ia selalu menjadi "anak tetangga" yang dibanggakan. Namun setelah terjun ke masyarakat, anak yang berprestasi sepertinya justru sering dikucilkan, membuatnya merasakan keputusasaan yang mendalam.

Meski tidak bekerja di instansi yang sama, Luo Wan juga seorang pegawai negeri. Beberapa tahun ini, kariernya melesat bagaikan roket hingga mencapai jabatan eselon IV.

Setiap kali atasan menegurnya, mereka selalu membawa-bawa nama Luo Wan dan menyuruhnya untuk banyak belajar dari sang istri.

Apa yang bisa diandalkan oleh seorang wanita untuk naik jabatan jika bukan karena hal-hal kotor? Lagi pula, saat pertama kali bersamanya pun Luo Wan sudah tidak suci, jadi hal semacam itu pasti sangat mudah baginya.

Tuhan tahu betapa setiap malam saat awal menikah, ia selalu merasa jijik hingga tidak bisa tidur.

Jika bukan karena pekerjaan Luo Wan yang cukup menjanjikan, ia tidak akan sudi menelan harga diri dan hidup bersama wanita seperti itu.

Kini, atasan justru menyuruhnya belajar dari Luo Wan. Mengapa ia harus belajar dari seorang wanita jalang? Jangan-jangan atasannya juga punya hubungan gelap dengan Luo Wan?

Semakin dipikirkan, semakin ia merasa muak. Ia ingin sekali mencincang Luo Wan menjadi berkeping-keping.

Luo Wan terhempas ke tanah. Ia mengenakan gaun putih dengan air mata yang membasahi wajahnya, tampak sangat menyedihkan. Namun, hal itu justru semakin memicu sisi kejam dalam diri Liu Heng.

Liu Heng mengangkat kakinya dan menendang perut Luo Wan dengan keras: "Untuk siapa kau memasang tampang seperti itu? Di sini tidak ada selingkuhanmu!"

Semakin dipikirkan, Liu Heng semakin geram. Sekarang semua tetangga memuji-muji Luo Wan, ia tidak tahu berapa banyak pria simpanan yang dimiliki wanita ini.

Melihat Liu Heng yang sudah tenggelam dalam dunianya sendiri dan melakukan gerakan menendang serta memukul ke arah udara kosong, ibu Luo ingin segera maju untuk melerai, namun dilarang oleh tatapan mata Taichu: "Apa kalian tidak ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putri kalian?"

Tubuh ibu Luo gemetar. Apa maksud sang ahli? Apakah ini penderitaan yang harus dialami putrinya?

Taichu dengan tenang mengeluarkan ponsel untuk merekam video pengakuan spontan Liu Heng. Jimat ingatan ini memang barang bagus. Meski terasa sia-sia digunakan pada sampah seperti Liu Heng, demi menonton pertunjukan, tidak perlu terlalu perhitungan.

Melihat pasangan keluarga Luo yang masih tertegun, Taichu menatap Fu Lei yang berada di belakang mereka: "Bantu hubungi polisi, hasilnya akan segera keluar."

Fu Lei yang tiba-tiba dipanggil langsung mengangguk berulang kali: "Baik, baik."

Ahli ini tidak hanya sakti, tetapi kemampuannya juga cukup menakutkan.

Luo Wan tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman Liu Heng, ia terus memohon sambil menahan sakit. Namun, Liu Heng tidak berniat melepaskannya, malah semakin brutal: "Di kantormu ada begitu banyak staf yang punya latar belakang dan pengalaman, kenapa hanya kau yang dipromosikan? Katakan padaku, dengan siapa kau tidur? Dasar wanita tidak tahu malu!"

Saat Liu Heng mulai main tangan dengan kejam, Luo Wan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Namun, rambutnya justru dijambak oleh Liu Heng: "Dasar jalang, memelihara rambut panjang dan mewarnainya seperti ini, bukankah hanya untuk menggoda pria? Hari ini aku akan memotong rambutmu, lihat saja apa lagi yang akan kau gunakan untuk menggoda pria lain!"

Sambil berkata demikian, ia menyeret Luo Wan yang sudah sekarat menuju kamar tidur.

Ia tidak hanya ingin memotong rambut Luo Wan, tetapi juga ingin mengukir kata "Jalang" di tubuhnya, agar tidak ada lagi yang berani mengatakan bahwa Luo Wan lebih hebat darinya.

Melihat Liu Heng yang dengan wajah kejam menarik-narik udara kosong sambil menghentakkan kaki di tempat, semua orang yang melihatnya mengeluarkan suara erangan. Pria ini tampak sopan, mengapa bisa sekejam itu?

Itu adalah istrinya sendiri!

Pasangan keluarga Luo sudah menangis tersedu-sedu. Mereka teringat bahwa putri mereka pernah berkali-kali meminta pertolongan, mengatakan bahwa Liu Heng sering memukulnya dan ingin menceraikan pria itu.

Bagaimana mungkin bercerai? Suami istri harus saling menghormati dan menyayangi. Jika ada yang tidak menyenangkan, seharusnya dibicarakan baik-baik. Perceraian tidak akan menyelesaikan masalah apa pun.

Tindakan Liu Heng memang salah, tapi Wanwan sendiri pasti juga punya masalah, kalau tidak, mengapa Liu Heng tidak memukul orang lain?

Mereka selalu dikenal sebagai pasangan teladan di mata orang lain, reputasi mereka sangat baik. Jika putri mereka bercerai, di mana mereka harus menaruh muka?

Oleh karena itu, setiap kali putrinya pulang ke rumah, mereka selalu mengantarnya kembali.

Mereka mengira kekerasan yang dimaksud hanyalah perselisihan kecil, siapa sangka binatang seperti Liu Heng ini ternyata memukuli putri mereka hingga hampir mati.

Mengapa Wanwan anak bodoh ini tidak memberi tahu mereka saja!

Liu Heng benar-benar tenggelam dalam ingatannya. Setelah masuk ke kamar, ia melemparkan Luo Wan ke lantai dengan kasar dan meraih gunting.

Luo Wan memanfaatkan kesempatan itu untuk merangkak bangun dan berlari terhuyung-huyung keluar.

Ia sudah kehilangan segalanya, rambut adalah satu-satunya harga diri yang tersisa.

Liu Heng yang sudah kehilangan akal sehat tidak mungkin membiarkan buruannya lolos begitu saja. Ia segera mengejar dengan membawa gunting.