Bab 80: Pikiran Para Kerabat
Dalam grup WeChat keluarga Su, suasana sempat terdiam sesaat. Masing-masing anggota keluarga memperbesar foto-foto kontrak yang telah dibagikan, meneliti dengan seksama setiap detailnya.
Tentu saja, angka-angka penting dalam kontrak itu telah disamarkan oleh Su Ruoyan. Setelah keheningan singkat, grup WeChat pun langsung riuh dengan berbagai komentar.
“Ruoyan memang hebat! Benar-benar anak kebanggaan keluarga Su! Aku sudah tahu, Ruoyan pasti bisa!”
“Kali ini Ruoyan benar-benar sukses besar! Nanti jangan lupa sama keluarga ya!”
“Perusahaan Angin Asap memilih Ruoyan, itu adalah keberuntungan mereka!”
“Ruoyan sungguh luar biasa, berani dan punya tekad. Kalian yang muda-muda harus banyak belajar dari Ruoyan! Lihat dia, lalu bandingkan dengan kalian!”
Semua kerabat segera mengirimkan pujian dan sanjungan.
Barusan mereka semua melihat sendiri, kontrak itu benar-benar nyata!
Di atasnya terdapat stempel resmi Perusahaan Angin Asap!
Mana mungkin itu palsu?
Tak ada yang menyangka, perusahaan kecil milik Su Ruoyan yang baru saja berdiri dengan modal terdaftar hanya dua puluh juta, sungguh mampu memanfaatkan peluang dan berhasil menggaet raksasa seperti Perusahaan Angin Asap, bahkan sampai menandatangani kontrak kerja sama!
Walaupun angka-angka penting dalam kontrak telah disamarkan, namun dari berbagai klausul yang tak tertutup, jelas terlihat bahwa syarat-syarat yang diberikan oleh Perusahaan Angin Asap sangat menguntungkan.
Perusahaan milik Su Ruoyan mungkin tak butuh waktu lama untuk menjadi bintang baru di industri properti Kota Jiang.
Sekejap saja, para kerabat keluarga Su mulai memikirkan hal lain.
“Ayo, kita pergi ke rumah si bungsu!”
“Tian Ci, ikut Ibu ke rumah Paman keempatmu!”
“Kita harus cepat, kalau terlambat bisa-bisa hanya kebagian sisa saja!”
Kerabat keluarga Su pun segera beranjak keluar rumah, bergegas menuju rumah Su Jianming.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu di rumah Su Jianming.
“Eh? Kakak, kenapa datang ke sini?”
“Kakak kedua? Kakak ketiga? Kalian juga datang?”
“Tian Ci, Yu Ting, ayo masuk, duduklah!”
Su Jianming dan Jiang Liping sempat kebingungan, tak paham mengapa semua orang tiba-tiba datang.
“Adik keempat, begini, menurutku perusahaan Ruoyan itu sangat bagus! Punya prospek cerah! Hanya saja, modalnya masih kurang, lihat saja, modal terdaftarnya hanya dua puluh juta! Untuk hidup biasa, dua puluh juta memang besar, tapi untuk membuka usaha, jumlah itu sangat minim! Contohnya, setelah dapat kontrak, pasti harus menjamu pihak Perusahaan Angin Asap, kan? Pimpinan mereka pasti harus dijamu di tempat paling mewah, sekali buka botol saja bisa puluhan juta!” tutur Su Jiangong, kakak tertua, dengan nada membujuk.
“Kakak, benar juga yang kau bilang, tapi keluarga kami sudah tidak punya uang lagi! Koleksi antikku tidak bisa dijual! Aku sudah janji mau memamerkannya di pameran bersama!” Su Jianming hanya memikirkan koleksi barang antiknya.
“Jianming, kata pepatah, bersatu kita teguh. Kita ini keluarga, tak pantas membiarkan Ruoyan berjuang sendirian! Kami para paman juga harus mendukung! Yang kurang saat ini hanya modal, jadi mari kita pikirkan bersama! Aku masih punya simpanan, tak banyak, sekitar lima puluh juta. Aku niatkan untuk Ruoyan, tanpa bunga, sebagai penyertaan modal!” ujar Su Jianye, kakak kedua.
“Aku bisa menambah tiga puluh juta! Keempat, jangan bilang aku tak membantu nanti!” sahut Su Jianan, kakak ketiga.
“Aku masih bisa kumpulkan hingga seratus juta! Nanti tinggal ditukar dengan saham yang sesuai, aku percaya Ruoyan tak akan merugikan keluarga sendiri!” ucap Su Jiangong sambil mengeluarkan kartu ATM.
Kini Su Jianming dan Jiang Liping akhirnya paham maksud kedatangan semua orang.
Wajah Jiang Liping seketika berubah masam, “Jadi, kalian semua melihat anak kami sukses, langsung datang ingin kebagian hasilnya?”
Su Jiangong buru-buru berkata, “Adik ipar, jangan salah paham! Kami hanya ingin membantu Ruoyan yang sudah susah payah mencapai ini! Dengan modal dua puluh juta saja, jangankan mulai proyek Tianjie Kota Jiang, sewa kantor, rekrut karyawan, biaya operasional, dalam sebulan pasti habis! Nanti, kalau uang habis, proyek tak jalan, kontrak dengan Perusahaan Angin Asap pun otomatis batal!”
“Kami keluarkan uang bukan hanya untuk saham, tapi juga siap membantu! Dengan kami, banyak biaya bisa dihemat, tak perlu rekrut banyak orang! Dan kalau rugi, kita juga ikut rugi!” sahut kerabat lain beramai-ramai.
“Ini…” Jiang Liping agak ragu, meski masuk akal juga.
“Tapi proyek ini Ruoyan yang dapat, seharusnya dia dapat porsi saham lebih besar!” ujar Su Jianming.
Su Jiangong berkata, “Memang benar, proyek ini Ruoyan yang dapat, jadi harus dapat saham lebih banyak. Begini, aku taruh seratus juta, kakak kedua lima puluh juta, kakak ketiga tiga puluh juta, ditambah modal awal Ruoyan dua puluh juta, total dua ratus juta. Seharusnya, pembagian saham begini: aku 50%, kakak kedua 25%, kakak ketiga 15%, keluarga kalian 10%.”
“Tapi karena proyek ini Ruoyan yang dapat, dia harus dapat lebih banyak saham. Aku potong 5% dari bagianku, kakak kedua 3%, kakak ketiga 2%, total 10% saham untuk Ruoyan, tanpa harus keluar uang. Jadi, porsi saham jadi: aku 45%, kakak kedua 22%, kakak ketiga 13%, keluarga kalian 20%.”
“Keluarga kalian hanya keluar 10% modal, tapi dapat 20% saham, ini sudah sangat menguntungkan!”
Penjelasan panjang lebar dari Su Jiangong itu terdengar meyakinkan.
Su Jianming dan Jiang Liping jadi tergoda. Tak hanya masalah modal teratasi, mereka juga mendapat tambahan 10% saham tanpa keluar uang, jelas tak ada ruginya!
“Adik keempat, pepatah bilang seorang pahlawan butuh bantuan. Apa kau pikir kami datang hanya ingin kebagian untung? Begini saja, meski aku sudah pensiun bertahun-tahun, hubungan di Dinas Pertanahan masih banyak!”
“Di Satpol PP aku masih ada kenalan, bisa membantu urusan izin!” tambah Su Jianye.
“Aku akrab dengan beberapa pemasok bahan bangunan, nanti pasti lancar urusan pasokan!” timpal Su Jianan.
“Aku bisa bantu Ruoyan dalam manajemen! Tak mungkin Ruoyan harus mengurus semua urusan lapangan sendirian!” kata Su Tianci.
“Aku lulusan jurusan keuangan, bisa bantu urus pembukuan! Urusan keuangan sebaiknya dipegang keluarga, kalau sampai diluar, nanti uang perusahaan bisa habis dibawa kabur!” saut Su Yuting.
...
“Bagaimana kalau tunggu Ruoyan pulang dulu, baru dibicarakan lagi?” ujar Su Jianming dan Jiang Liping, makin lama makin merasa masuk akal, namun tetap ragu.
“Adik keempat, kau masih tak percaya pada kami? Sungguh, kami jadi kecewa! Sudah repot-repot datang membantu, malah dicurigai?”
“Hari ini kami bawa uang, kalian tak mau, nanti kalau perusahaan kehabisan modal, jangan salahkan kami!”
“Sebenarnya kami yang rugi! Sudah keluar banyak uang, saham pun tak sesuai! Diberi 10% saham gratis pun kalian tolak!”
“Kau kan kepala keluarga, masa hal begini saja tak bisa putuskan? Baru saja pensiun, sudah linglung begini?”
Kerabat keluarga Su serempak menggelengkan kepala dan bicara keras-keras.
Su Jianming mendengarnya hingga wajahnya memerah.
“Sudah, cukup! Aku yang putuskan, begini saja! Nanti Ruoyan pulang, biar aku yang bicara dengannya!” Su Jianming menepuk meja, berdiri dan memutuskan dengan tegas.
“Nah, begitu dong, adik keempat memang punya keberanian, Ruoyan pasti mewarisi keberanian itu makanya hebat!”
“Benar, kepala keluarga seharusnya tegas!”
Para kerabat langsung gembira, berebut menyerahkan kartu ATM masing-masing kepada Su Jianming.
“Mulai sekarang, mari kita bersama-sama membesarkan Perusahaan Properti Su, makin maju dan berkembang!”
Su Jianming yang menggenggam hampir dua ratus juta di tangan, seketika merasa penuh semangat, seolah kembali muda dua puluh tahun!
“Adik keempat, sekarang kita semua ini pemegang saham, selanjutnya sebaiknya kita tentukan dulu jabatan seperti ketua dewan, direktur utama, dan sebagainya,” usul Su Jiangong sambil duduk di sofa.
“Hah?” Su Jianming tertegun.
Saat itu, Jiang Liping akhirnya sadar, buru-buru masuk ke kamar mandi untuk menelepon Su Ruoyan, “Ruoyan, cepat pulang, kalau tidak, ayahmu akan menjual seluruh perusahaanmu!”