Bab 65: Su Ruoyan, hari ini kau nyaris tidak bisa pulang (Bagian Pertama)
Sesaat setelah kembali, Chen Feng langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres. Sepanjang jalan, ia berpapasan dengan beberapa rekan kerja yang sedang keluar, di antaranya beberapa rekan pria yang akrab dengan Zhang Xiaofeng bahkan saling memberi isyarat mata dan berbisik sesuatu secara diam-diam.
Ckrek!
Chen Feng tiba di depan ruang karaoke, lalu mendorong pintu berat itu.
Begitu masuk, hanya tinggal Zhang Xiaofeng dan Chen Danni di dalam ruangan. Dalam cahaya remang-remang, Zhang Xiaofeng sedang menindih Chen Danni dengan paksa.
Chen Danni sendiri berusaha melawan sekuat tenaga, berteriak-teriak minta tolong.
Wajah Chen Feng seketika menjadi dingin.
Dalam sekejap, ia melesat masuk, meraih tubuh Zhang Xiaofeng yang menindih Chen Danni, lalu menariknya ke atas.
“Chen Feng? Apa-apaan kamu? Keluar dari sini sekarang juga!” Zhang Xiaofeng langsung menoleh dan membentak marah.
Wuss!
Chen Feng mengangkat tangan dan melempar Zhang Xiaofeng seperti boneka kain ke arah dinding!
Bugh!
Kepala Zhang Xiaofeng menghantam dinding peredam suara yang empuk, membuatnya pusing dan limbung.
Chen Danni pun buru-buru bangkit, berlari ke belakang Chen Feng dan bersembunyi, “Chen Feng, tolong aku! Chen Feng, cepat selamatkan aku!”
“Chen Feng, dasar kamu! Ini urusanku dengan Danni, tidak ada hubungannya denganmu! Dasar kurang ajar, cepat pergi!” Zhang Xiaofeng berusaha bangkit, menunjuk ke arah Chen Feng.
“Kalau memang Danni melakukannya dengan sukarela, memang tak ada urusan denganku. Tapi kalau dia tidak rela, maka ini urusanku! Bagaimanapun juga, Danni masih keluarga Chen! Mau menindas dia? Harus tanya dulu, aku setuju atau tidak!” sahut Chen Feng dengan suara dingin.
“Aku tidak mau! Aku tidak mau! Chen Feng, ayo kita pergi! Cepat keluar dari sini!” Chen Danni seperti kelinci yang ketakutan, menarik tangan Chen Feng dan buru-buru pergi.
“Chen Feng, tunggu saja! Kalau besok kamu tidak dipecat, aku bukan Zhang!” teriak Zhang Xiaofeng dengan suara kesal dari belakang.
Karena sudah minum, Chen Feng tidak membawa mobil. Ia pun mengantar Chen Danni ke pinggir jalan untuk naik taksi dan mengantarnya pulang.
Baru saja mereka naik ke dalam taksi, Xu Xuanwen yang sedang mencari Chen Feng kebetulan melihat mereka.
“Jadi, ternyata perempuan yang kamu suka itu Chen Danni...” gumam Xu Xuanwen sambil menatap taksi yang pergi menjauh.
Beberapa belas menit kemudian, taksi berhenti di depan gedung apartemen Chen Danni.
Chen Danni yang mabuk dan ketakutan itu sepanjang perjalanan terus memeluk lengan Chen Feng, tubuhnya gemetar hebat.
Chen Feng khawatir terjadi sesuatu, jadi ia mengantarkan Danni sampai ke atas.
Ia mengetuk pintu. Yang membukakan pintu adalah Bibi Wang Fengmei.
“Ibu!”
Begitu pintu terbuka, Chen Danni langsung menangis dan memeluk Wang Fengmei.
“Ada apa, Nak? Kenapa kamu menangis?” Wang Fengmei terkejut.
“Tadi kami minum-minum dengan beberapa rekan kerja, dia kebanyakan minum...” jelas Chen Feng menggantikan Danni.
“Chen Feng! Dasar tidak tahu terima kasih! Danni sudah membantu kamu masuk ke perusahaan yang baik, tapi kamu malah tidak melindungi dia di luar? Membiarkan dia mabuk sampai seperti ini? Dasar kamu anak tidak berguna! Danni seharusnya tidak perlu memperkenalkanmu kerja! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Danni, aku tidak akan memaafkanmu!” Wang Fengmei langsung memaki-maki.
“Bibi, sebaiknya tanya langsung saja pada Danni. Saya pamit dulu.” Chen Feng menggeleng, tak ingin berdebat lebih jauh, lalu berbalik pergi.
Chen Feng menuruni tangga, sementara Wang Fengmei masih saja memaki, “Chen Feng dasar pecundang, kamu memang sengaja ingin melihat Danni dipermalukan!”
“Ibu, bukan begitu...” Chen Danni berusaha menjelaskan di tengah tangisnya.
“Kamu juga, sebagai perempuan, ngapain minum-minum sebanyak itu di luar? Kalau tidak kuat, suruh saja Chen Feng yang minum! Dia sudah kamu bantu masuk kerja, kalau dia bantu kamu minum sedikit kenapa?” Wang Fengmei berbalik memarahi Danni.
Chen Feng sudah sampai di bawah, menggeleng pelan, lalu segera pergi.
...
Sesampainya di kontrakan, Miaomiao sudah tidur. Su Ruoyan sedang membereskan mainan Miaomiao di kamar.
Melihat Chen Feng pulang, Su Ruoyan tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh.
Sepertinya ia tidak begitu suka Chen Feng keluar malam-malam...
Terlebih lagi, pulang dengan bau alkohol...
Dia tadi malam pergi melakukan apa? Minum dengan siapa? Ada perempuan? Berduaan dengan perempuan?
Ah, sudahlah! Dia bebas pergi ke mana saja dan minum dengan siapa saja, apa urusannya denganku? Bukankah kami sudah bercerai? Itu semua haknya!
Su Ruoyan menggeleng, lalu menoleh ke Chen Feng dan berkata, “Baju Miaomiao sudah aku cuci. Mainan juga sudah dibereskan. Aku pulang dulu.”
Selesai berkata demikian, ia pun melangkah ke pintu.
“Ruoyan!”
Chen Feng baru saja masuk, Su Ruoyan hendak keluar, sehingga mereka berdua sempat berpapasan di pintu yang sempit itu.
“A...ada apa?” Su Ruoyan gugup, tak berani menatap mata Chen Feng.
“Terima kasih...” Tatapan Chen Feng luruh pada Su Ruoyan di depannya, wanita yang paling ia cintai. Ia tak kuasa menahan gejolak di dadanya dan spontan mendekat.
“Aku... aku ini hanya ibu Miaomiao. Tidak perlu berterima kasih,” ucap Su Ruoyan sambil menunduk.
“Bukan hanya soal Miaomiao. Semua yang pernah kamu lakukan untukku, segala penderitaan, segala luka, air mata yang pernah kamu tumpahkan untukku... semuanya, terima kasih!” Suara Chen Feng berat menahan emosi.
Su Ruoyan terdiam.
Lama kemudian, ia menggeleng kuat-kuat, “Itu semua sudah berlalu. Jangan dibahas lagi.”
Usai berkata demikian, Su Ruoyan langsung keluar, langkah kaki diiringi ketukan sepatu hak yang menuruni tangga.
“Ruoyan...” Chen Feng tak kuasa menahan diri dan mengejar ke luar.
“Aku bawa mobil sendiri.” Su Ruoyan mengacungkan kunci mobil tanpa menoleh, lalu berjalan makin cepat.
“Meong——”
Tiba-tiba, Xiao Jiu entah dari mana muncul, berlari ke kaki Chen Feng, menatap ke arah Su Ruoyan yang menuruni tangga, lalu mengeong dengan nada penuh makna.
“Xiao Jiu?” Chen Feng menunduk.
“Meong——”
Xiao Jiu mendongak mengeong lagi. Namun Chen Feng merasa, wajah kucing itu seperti menyiratkan ejekan.
Tentu saja, Chen Feng tak mengerti ekspresi kucing, hanya menebak saja.
“Kau ikuti mobilnya, pastikan dia sampai rumah dengan selamat! Kalau terjadi apa-apa padanya, aku akan bertanya padamu!” Chen Feng menunjuk ke arah mobil Su Ruoyan dan memerintah Xiao Jiu.
Dengan Xiao Jiu mengawasi, Chen Feng jadi lebih tenang soal keamanan Su Ruoyan yang pulang larut malam.
“Meong?” Mata Xiao Jiu menyipit, sorot matanya penuh protes dan enggan.
“Ayo, cepat pergi!” Chen Feng membentak pelan.
“Meong——”
Xiao Jiu akhirnya melompat turun, mengibaskan ekornya dengan pasrah.
Di pinggir jalan, Su Ruoyan sudah duduk di kursi kemudi Audi A6 warna perak. Ia mengenakan sabuk pengaman, tetapi lama tak kunjung menyalakan mesin.
Nafasnya memburu, dadanya naik turun, wajahnya memerah.
Butuh waktu lama sebelum ia mampu menenangkan diri, lalu bergumam pelan, “Su Ruoyan, Su Ruoyan, tadi kamu hampir saja tak bisa pulang!”
Dari atas, Chen Feng yang melihat mobil Su Ruoyan belum juga jalan, menelepon, “Ada masalah dengan mobil? Biar aku turun membantu.”
“Tidak, tidak! Jangan turun, aku sebentar lagi berangkat!” Su Ruoyan buru-buru menutup telepon, menyalakan mobil, dan perlahan melaju pergi.
Chen Feng menggeleng, masuk ke dalam rumah, lalu baru sadar ada kantong belanjaan di atas meja.
Di dalamnya, ada setelan jas.
Jas itu sangat pas, bahkan panjang celananya sudah dipotong sesuai ukuran Chen Feng.
Jelas, ini adalah hadiah dari Su Ruoyan yang membelinya ketika berbelanja bersama Fang Xueping siang tadi.
Hati Chen Feng hangat dipenuhi rasa syukur.
Ternyata, ia masih ada di hati Su Ruoyan!
Karena gembira, ia bahkan langsung mencoba setelan jas itu, bercermin ke sana kemari, enggan melepasnya meski sudah larut malam!
Hingga lama kemudian, Xiao Jiu kembali dengan napas terengah, mengeong memberitahu bahwa Su Ruoyan sudah selamat sampai rumah. Barulah Chen Feng melepas jas itu.
...
Keesokan paginya, setelah mengantar Miaomiao ke sekolah, Chen Feng masuk kantor seperti biasa—dan tentu saja terlambat.
“Chen Feng, Pak Luo dan Pak Zhang bilang setelah sampai kamu harus segera ke ruang HRD. Wajah mereka berdua kelihatan tidak senang. Hati-hati ya,” bisik resepsionis dengan ramah saat melihat Chen Feng datang.
Chen Feng mengangguk dan menuju ruang HRD.
“Nah, akhirnya datang juga? Coba lihat, hari ini kamu terlambat berapa lama...” Zhang Xiaofeng dengan bangga mengambil ponsel, “Pas dua puluh menit! Chen Feng, aku sudah bilang, kalau hari ini kamu tidak dipecat, aku bukan Zhang!”
“Chen Feng, aku sudah cek absensimu. Sepuluh hari sejak masuk, tak pernah kamu datang tepat waktu, juga tak pernah pulang sesuai jam! Sesuai aturan perusahaan, kamu harus dipecat! Kali ini aku benar-benar tak bisa menolongmu!” tambah Manajer HRD Luo Wei, menggeleng dengan nada tegas.